Archives
-
Jurnalisme Investigasi: Trik & Pengalaman Para Wartawan
April 28, 2011
Judul Buku: Jurnalisme Investigasi: Trik & Pengalaman Para Wartawan
Penulis: Dandhy Dwi Laksono
Penerbit: Kaifa, Jakarta
Cetakan: Pertama, Juni 2010
Tebal: 436 halamanReview:
Konon, investigasi itu seperti seks. Sebagian orang lebih suka langsung mempraktikkannya daripada berlama-lama membicarakan teorinya. Buku ini tak membuang-buang waktu membahas definisi ”jurnalisme investigasi” dengan mengutip berbagai literatur, melainkan langsung mengupas tuntas teknik-teknik membuat liputan investigasi: bagaimana menyamar atau memburu narasumber kasus-kasus berat, seperti pembunuhan aktivis HAM, kasus pembalakan hutan, dan banyak lagi.
Contoh-contoh kasusnya diambil dari pengalaman para wartawan Indonesia sehingga pembaca tidak merasa berjarak dibandingkan bila contoh yang dipaparkan adalah pengalaman wartawan-wartawan asing (seperti pada banyak buku tentang jurnalisme investigasi lain). Ketika membeberkan pengalaman orang lain, tak lupa ia juga menyandingkannya dengan pengalamannya sendiri di lapangan, seperti ketika melakukan sejumlah liputan investigatif saat masih bekerja di RCTI. Nyaris seluruh ”rahasia” meliputi trik hingga teknik investigasi yang dilakukan tim RCTI dibuka oleh Dandhy.
Di Indonesia, liputan Jurnalisme Investigasi (JI) lebih banyak muncul sebagai sesuatu yang sporadis, dilakukan hanya sewaktu-waktu, karena dipicu kemunculan sebuah peristiwa. Faktor penyebabnya banyak: ”vested interest” pemilik media, kurangnya sumber dana, ketidaktahuan mengenai pentingnya dan strategisnya JI dalam sebuah negara demokratis, hingga lemahnya kemampuan teknis para awak media. Jika penyebabnya adalah faktor yang disebutkan terakhir, buku yang ditulis Jurnalis Terbaik Jakarta (2008) untuk liputan investigasi Pembunuhan Munir dari Aliansi Jurnalis Independen (AJI) ini, adalah obat penawarnya.
Investigasi kerap menjadi barang mewah karena diidentikkan sebagai produk yang mahal. Itu berlaku pada hampir seluruh media: cetak, radio, dan televisi. Dandhy menggugah kesadaran itu, bahwa jurnalisme investigasi wajib dihidupkan di media massa untuk dua hal. Pertama, di negeri ini banyak sekali kasus yang membutuhkan investigasi untuk membuat kasus tersebut terang benderang. Semakin tinggi kepentingan publik atas sebuah kasus, investigasi adalah niscaya. Kedua, investigasi sesungguhnya merupakan aset bagi media massa. Kian getol sebuah media mengadakan liputan investigasi dan menguak banyak tabir dalam selaksa kasus, pembaca makin terpikat untuk menikmati hasil liputan dari media bersangkutan. Dengan cara itu, kredibilitas media tersebut bakal terdongkrak di depan publik. Lebih dari itu, media bersangkutan bisa pula meraup untung secara ekonomis.
