Archives
-
Siaran Pers 29 Juli 2011
August 03, 2011
SIARAN PERS
Liputan Penyidikan Harus Mampu Ungkap Fakta Dibalik Cerita
Anugerah Adiwarta Sampoerna Gelar Lokakarya Jurnalistik Investigasi di Ambon
Ambon, 29 Juli 2011 – Anugerah Adiwarta Sampoerna (AAS) bekerjasama dengan Dewan Pers hari ini menggelar lokakarya Kode Etik Jurnalistik untuk Jurnalisme Investigasi di Ambon yang merupakan kota terakhir dari rangkaian penyelenggaraan lokakarya jurnalistik investigasi di 5 kota yaitu Pontianak, Surabaya, Makassar, Palembang, dan Ambon. Lokakarya ini dihadiri oleh 30 jurnalis dari 30 media, lokal dan nasional, di Ambon dimana peserta mempelajari teknik pengungkapan jurnalisme investigasi dari narasumber-narasumber kompeten, Bagja Hidayat, redaktur majalah Tempo dan juga pemenang AAS 2009, serta Budi Setyarso, pengajar di Lembaga Pers Dr. Soetomo (LPDS). Rangkaian lokakarya ini merupakan komitmen AAS untuk mendorong tumbuhnya karya-karya peliputan penyidikan berkualitas untuk penghargaan tahunan AAS.
Liputan penyidikan, atau jurnalisme investigasi, menjadi sangat penting bagi kehidupan masyarakat, bukan hanya di Indonesia, namun juga di seluruh dunia. Tujuan utama dari liputan penyidikan adalah membongkar kasus yang ditutup-tutupi atau permasalahan lain yang menyangkut kepentingan umum yang tidak transparan. Melalui liputan penyidikan, masyarakat dapat mengetahui informasi-informasi tentang apa yang sebenarnya terjadi di balik cerita-cerita yang berkembang di media dan masyarakat.
Sayangnya, keberadaan liputan penyidikan di media saat ini justru semakin menurun jumlah dan kualitasnya. ”Saat ini kecenderungannya adalah media hanya menampilkan hal-hal yang ada di permukaan, bukan informasi-informasi yang ada dibalik itu. Padahal, justru itu yang dibutuhkan oleh masyarakat,” ujar Ade Armando, pengamat komunikasi yang juga juri AAS.
Selain waktu pengerjaan yang cukup lama dan biaya yang cukup besar, tantangan lain bagi media dalam membuat liputan penyidikan adalah adanya ancaman dari pihak yang tidak berkenan dengan laporan tersebut. Baru-baru ini, Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Pers melansir data kasus kekerasan pers. Mulai Januari hingga Juli 2011, tercatat 66 kasus kekerasan terhadap pers, jumlah ini meningkat tajam dibanding tahun sebelumnya, yaitu 61 kasus untuk sepanjang tahun 2010. Diantara kasus kekerasan terberat yang mengakibatkan terbunuhnya wartawan terjadi ketika wartawan sedang melakukan liputan penyidikan, seperti kasus wafatnya Alfrets Mirulewa, jurnalis Tabloid Pelangi yang diduga kuat dibunuh karena mencoba mengungkap kasus kelangkaan bahan bakar minyak (BBM) di Pulau Kisar, Maluku Barat Daya, atau kasus kematian Muhammad Syaifullah, kepala biro Kompas di Kalimantan yang diduga dibunuh setelah sebelumnya menulis tentang tidak eloknya bisnis batubara di Kalimantan Timur.
Namun demikian, Ade menyatakan bahwa ditengah tantangan yang sedemikian besar, jurnalis dan media tidak boleh gentar. ”Media harus tetap terus semangat dalam melakukan liputan penyidikan agar publik dapat mendapatkan informasi yang sebenar-benarnya,” tegasnya.
Ade menambahkan, untuk semakin memacu tumbuhnya liputan penyidikan, juga dibutuhkan apresiasi-apresiasi bagi jurnalis atau media. ”Disinilah pentingnya peran ajang penghargaan, seperti Anugerah Adiwarta Sampoerna, agar jurnalis dan media merasa dihargai karya-karyanya sehingga akan mendorong tumbuhnya karya-karya jurnalistik berkualitas yang mampu memainkan peranannya dengan benar di tengah-tengah masyarakat,” ujarnya.
Untuk mendorong tumbuhnya karya-karya liputan penyidikan berkualitas, sejak dua tahun belakangan ini, Anugerah Adiwarta Sampoerna melakukan serangkaian strategi, diantaranya adalah dengan menyelenggarakan lokakarya di beberapa kota di seluruh Indonesia mengenai bagaimana menulis liputan penyidikan yang berkualitas, diskusi-diskusi yang membahas pentingnya liputan penyidikan, hingga memberikan penghargaan tertinggi bagi pemenang liputan penyidikan di AAS. ”Tujuan kami adalah untuk mendorong munculnya karya-karya liputan penyidikan yang berkualitas di media,” ujar Dody Rochadi, Ketua Panitia AAS 2011.
Secara terpisah, Ketua Komisi Hubungan AntarLembaga, Dewan Pers, Bekti Nugroho menyatakan, munculnya liputan penyidikan yang berkualitas menjadi bukti bahwa pers mampu menjalankan fungsi kontrol sosial dengan baik. Karena itu, Dewan Pers mendukung upaya-upaya yang dilakukan berbagai pihak untuk meningkatkan profesionalisme wartawan dalam melakukan liputan penyidikan. “Saat ini, Dewan Pers memberi perhatian yang cukup besar terhadap persoalan profesionalisme wartawan dengan melakukan banyak pelatihan untuk wartawan. Penataan wartawan atas Kode Etik Jurnalistik menjadi salah satu fokus kami,” ungkap Bekti.
———–
Mengenai Anugerah Adiwarta Sampoerna
Anugerah Adiwarta Sampoerna (AAS) merupakan sebuah ajang penghargaan dan kompetisi bergengsi bagi para jurnalis Indonesia. Ajang ini diadakan oleh PT HM Sampoerna Tbk. untuk mengapresiasi karya-karya jurnalistik, yang diharapkan dapat memotivasi para jurnalis untuk terus meningkatkan kualitas karya mereka. Ajang Anugerah Adiwarta Sampoerna merupakan program tahunan PT HM Sampoerna Tbk. yang pertama kali diluncurkan pada tahun 2006. Untuk penyelenggaraan tahun ini, setiap peserta wajib mengirimkan karya yang sudah dipublikasikan di media selama periode 1 November 2010 hingga 1 Oktober 2011.
Untuk informasi lebih lanjut, silakan hubungi:
PANITIA PENYELENGGARA ANUGERAH ADIWARTA SAMPOERNA 2011
Maverick ? Jl. Balitung III Nomor 8 Kebayoran Baru – Jakarta 12110 ? Tel. (021) 727 898 33 ? Fax. (021) 727 898 34 ?Email: aas@maverick.co.id ?Blog: http://anugerahadiwarta.org/