<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<!-- generator="wordpress/2.3.1" -->
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	>

<channel>
	<title>Anugerah Adiwarta Sampoerna</title>
	<link>http://anugerahadiwarta.org</link>
	<description></description>
	<pubDate>Thu, 11 Dec 2008 14:33:57 +0000</pubDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.3.1</generator>
	<language>en</language>
			<item>
		<title>Ini Dia! Para Pemenang Anugerah Adiwarta Sampoerna 2008!</title>
		<link>http://anugerahadiwarta.org/2008/12/11/ini-dia-para-pemenang-anugerah-adiwarta-sampoerna-2008/</link>
		<comments>http://anugerahadiwarta.org/2008/12/11/ini-dia-para-pemenang-anugerah-adiwarta-sampoerna-2008/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 11 Dec 2008 14:22:38 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Hanny</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Dari Dewan Juri]]></category>

		<category><![CDATA[Jurnalis]]></category>

		<category><![CDATA[Tentang AAS]]></category>

		<category><![CDATA[pemenang anugerah adiwarta sampoerna 2008]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://anugerahadiwarta.org/2008/12/11/ini-dia-para-pemenang-anugerah-adiwarta-sampoerna-2008/</guid>
		<description><![CDATA[Malam Anugerah Adiwarta Sampoerna (AAS) 2008 baru saja berlangsung dengan sukses. Dalam acara yang digelar di Hotel Crowne Plaza Jakarta dan baru berakhir pada pukul 22:00 WIB ini, AAS 2008 secara resmi mengumumkan nama-nama jurnalis terbaik di tahun penyelenggaraan ketiga ini.
Mereka adalah:

Silvia Galikano dari Koktail (Jurnal Nasional) untuk kategori humaniora bidang seni dan budaya, dengan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Malam Anugerah Adiwarta Sampoerna (AAS) 2008 baru saja berlangsung dengan sukses. Dalam acara yang digelar di Hotel Crowne Plaza Jakarta dan baru berakhir pada pukul 22:00 WIB ini, AAS 2008 secara resmi mengumumkan nama-nama jurnalis terbaik di tahun penyelenggaraan ketiga ini.</p>
<p>Mereka adalah:</p>
<ol>
<li>Silvia Galikano dari Koktail (Jurnal Nasional) untuk kategori humaniora bidang seni dan budaya, dengan karya berjudul ”Misinya Menulis”</li>
<li>Priyombodo dari Kompas untuk kategori foto berita bidang seni dan budaya, dengan karya berjudul ”Terbakar”</li>
<li>Lasti Kurnia dari Kompas untuk kategori humaniora bidang olah raga, dengan karya berjudul ”Special Olympics: Beprestasi untuk Mengubah Dunia”</li>
<li>Crack Palinggi dari Reuters untuk kategori foto berita bidang olah raga, dengan karya berjudul ”Untuk Indonesia”</li>
<li>Muhlis Suhaeri dari Borneo Tribune (Pontianak) untuk kategori reportase investigatif bidang sosial, dengan karya berjudul ”The Lost Generation”</li>
<li>Marta Nurfaidah dari Harian Surya (Surabaya) untuk kategori humaniora bidang sosial, dengan karya berjudul ”Kehidupan Pengungsi Sampit di Pasar Keputran”</li>
<li>Crack Palinggi dari Reuters untuk kategori foto berita bidang sosial, dengan karya berjudul ”Polusi”</li>
<li>Hendri Firzani dari Gatra untuk kategori reportase investigatif bidang hukum, dengan karya berjudul ”Nelayan Asing Menjarah Laut, Menebar HIV/AIDS”</li>
<li>Irawan Santoso dari majalah Mahkamah untuk kategori humaniora bidang hukum, dengan karya berjudul ”Merindukan Advokat Pejuang”</li>
<li>Prasetyo Utomo dari Antara untuk kategori foto berita bidang hukum, dengan karya berjudul ”Sumpah Al-Amin</li>
<li>Arsadi Laksamana dari Modus Aceh untuk kategori reportase investigatif bidang politik, dengan karya berjudul ”Tiga Tahun MOU Adakah yang Berubah?”</li>
<li>Tjipta Lesmana dari majalah Telstra untuk kategori humaniora bidang politik, dengan karya berjudul ”Pers Nasional: Antara Roh dan Kinerja”</li>
<li>Wahyu Setiawan dari Koran Tempo untuk kategori foto berita bidang politik, dengan karya berjudul ”Tekanan Politik”</li>
<li>Yeni H. Simanjuntak dari Bisnis Indonesia untuk kategori reportase investigatif bidang ekonomi/bisnis, dengan karya berjudul ”Menyoal Dana Investasi”</li>
<li>Marlini Hasan Pontoh dari Femina untuk kategori humaniora bidang ekonomi/bisnis, dengan karya berjudul ”Meraup Triliunan Rupiah Lewat Gagasan”</li>
<li>Achmad Ibrahim dari Associated Press untuk kategori foto berita bidang bidang ekonomi/bisnis, dengan karya berjudul ”Hancur”</li>
<li>Anastasya Putri dan Anto Sukma dari Liputan 6 Siang SCTV untuk kategori karya jurnalistik televisi terbaik, dengan karya berjudul ”Profil: Salomina Berjuang Meraih Pendidikan”</li>
</ol>
<p>Jika pada tahun 2006 Dewan Juri AAS memutuskan tak ada pemenang untuk kategori foto berita bidang ekonomi/bisnis, dan di tahun 2007 kategori hardnews bidang ekonomi/bisnis juga belum berhasil menelurkan pemenang, tahun 2008 ini Dewan Juri memutuskan belum ada pemenang untuk kategori reportase investigatif bidang seni dan budaya serta bidang olah raga.</p>
<p>”Meskipun karya-karya yang masuk sudah cukup baik secara keseluruhan, namun menurut kami masih ada beberapa elemen yang belum lengkap, seperti kekuatan dan akurasi data, dalam karya-karya tersebut untuk dapat disebut sebagai karya reportase investigatif, khususnya di bidang seni dan budaya serta olah raga. Kami harap, hal ini dapat memotivasi para jurnalis untuk terus meningkatkan kualitas karya-karyanya,” kata Effendi Gazali, Dewan Juri Final AAS 2008.</p>
<p> Irawan Santoso dari Majalah Mahkamah tahun ini berhasil keluar sebagai pemenang AAS 2008, setelah juga keluar menjadi pemenang pada tahun 2006 dan 2007. Kesuksesan ini mencatatatkan jurnalis hukum itu sebagai jurnalis yang sudah tiga kali berturut-turut memenangkan ajang kompetisi jurnalistik bergengsi ini. Di 2008, Irawan Santoso juga menjadi jurnalis dengan jumlah nominasi terbanyak, karena 4 buah karya jurnalistiknya berhasil menjadi nominasi AAS tahun ini.</p>
<p> Tahun ini,  Crack Palinggi dari Reuters juga menorehkan prestasi dengan langsung menyabet gelar pemenang untuk dua kategori sekaligus, yaitu kategori foto berita bidang sosial dan olah raga. Hal yang sama juga pernah terjadi pada AAS tahun 2006, di mana Adi Marsiela dari Suara Pembaruan menyabet dua gelar sekaligus dalam kategori hardnews bidang sosial dan bidang seni dan musik.</p>
<p>Seluruh pemenang AAS 2008 masing-masing mendapatkan trofi, sertifikat, dan uang tunai sebesar Rp. 18 juta rupiah, sedangkan para finalis mendapatkan sertifikat dan uang tunai sebesar Rp. 3 juta rupiah.</p>
<p>Selain mengumumkan nama-nama pemenang AAS 2008, tahun ini juga diberikan penghargaan khusus bagi Jurnalis Muda Berbakat—penghargaan bagi jurnalis muda berusia di bawah 25 tahun dengan pengalaman jurnalistik kurang dari 2 tahun, yang dimenangkan oleh Novia Liza dari Pantau Aceh, yang berhasil meraih trofi, sertifikat, dan uang tunai sebesar Rp. 3 juta rupiah.</p>
<p>Di samping itu, penghargaan khusus bagi media paling partisipatif dengan jumlah wartawan dan karya paling banyak yang diikutsertakan dalam AAS 2008 diraih oleh Kompas dan RCTI.</p>
<p>”Bersyukurlah para jurnalis saat ini yang mendapat kesempatan untuk mengirimkan karya terbaiknya. Apalagi, untuk kategori televisi yang baru pertama kali dilombakan langsung disediakan pula penghargaan khusus untuk media yang partisipatif. Sayangnya, tidak semua jurnalis televisi mengirimkan karya-karyanya. Ayolah kita manfaatkan ajang ini,” kata Arswendo Atmowiloto, anggota dewan juri televisi AAS 2008.</p>
<p>Niken Rachmad, Direktur Komunikasi PT HM Sampoerna Tbk., yang ditemui setelah acara berlangsung menjelaskan, ”Kami sangat bangga karena tahun ini antusiasme rekan-rekan media masih sangat tinggi. Hal ini terlihat dari banyaknya karya-karya yang masuk, meskipun tahun ini kami sudah membatasi jumlah karya dari masing-masing jurnalis. Kami juga merasa sangat senang karena kualitas karya yang masuk meningkat pesat, dan tentunya karya tersebut memiliki dampak sosial yang besar.”</p>
<p>Tahun ini, AAS 2008 menerima 1.057 karya yang dikirimkan oleh 274 jurnalis dari sedikitnya 100 media yang beroperasi di Indonesia. Media-media yang merajai nominasi tahun ini adalah Kompas dengan 6 finalis, Gatra dengan 5 finalis, dan 4 finalis dari Pantau (Aceh dan Jakarta).</p>
<p>SELAMAT UNTUK PARA PEMENANG!</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://anugerahadiwarta.org/2008/12/11/ini-dia-para-pemenang-anugerah-adiwarta-sampoerna-2008/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Apakah Anda Salah Satu Finalis AAS 2008?</title>
		<link>http://anugerahadiwarta.org/2008/12/05/apakah-anda-salah-satu-finalis-aas-2008/</link>
		<comments>http://anugerahadiwarta.org/2008/12/05/apakah-anda-salah-satu-finalis-aas-2008/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 05 Dec 2008 07:10:54 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Hanny</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Dari Dewan Juri]]></category>

		<category><![CDATA[Jurnalis]]></category>

		<category><![CDATA[Tentang AAS]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://anugerahadiwarta.org/2008/12/05/apakah-anda-salah-satu-finalis-aas-2008/</guid>
		<description><![CDATA[Bertempat di Restoran Kembang Goela, Jakarta, pukul 10-12 siang tadi, Dewan Juri AAS 2008 yang diwakili oleh Effendi Gazali, Oscar Motuloh, Don Bosco Selamun, dan Niken Rachmad, mengumumkan nama-nama finalis AAS 2008.
Siapa saja mereka?
Dan apakah Anda salah satunya? Silakan melihat daftar di bawah ini, ya!
Kategori Reportase Investigatif bidang Seni dan Budaya 

Calo Sekolah Minta Rp [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Bertempat di Restoran Kembang Goela, Jakarta, pukul 10-12 siang tadi, Dewan Juri AAS 2008 yang diwakili oleh Effendi Gazali, Oscar Motuloh, Don Bosco Selamun, dan Niken Rachmad, mengumumkan nama-nama finalis AAS 2008.</p>
<p>Siapa saja mereka?</p>
<p>Dan apakah Anda salah satunya? Silakan melihat daftar di bawah ini, ya!</p>
<p><u><strong>Kategori Reportase Investigatif bidang Seni dan Budaya </strong></u></p>
<ol>
<li>Calo Sekolah Minta Rp 6 Juta - Apriandi Landa dari Tribun Timur (Makassar)</li>
<li>Pesona di Balik Kemistisan Cikondang - Novianti Nurulliah dari Pikiran Rakyat (Bandung)</li>
<li>Sebuah Anomali - Hasief Ardiasyah dari Rolling Stone Indonesia</li>
</ol>
<p><u><strong>Kategori Humaniora bidang Seni dan Budaya </strong></u></p>
<ol>
<li>Khanduri Laot - Novia Liza dari Pantau (Aceh)</li>
<li>Misinya Menulis - Silvia Galikano dari tabloid Koktail (Jurnas)</li>
<li>Miss. Tjitjih, Siapa Peduli Kamu? - Rusman dari tabloid Koktail (Jurnas)</li>
</ol>
<p><u><strong>Kategori Foto Berita bidang Seni dan Budaya </strong></u></p>
<ol>
<li>Atraksi Memikat Si Tubuh Mini - Boy Harjanto dari Indo Pos</li>
<li>”Beruang Kutub” di Kota - Agus Susanto dari Kompas</li>
<li>Terbakar - Priyambodo dari Kompas</li>
</ol>
<p><u><strong>Kategori Reportase Investigatif bidang Olah Raga </strong></u></p>
<ol>
<li>Liga Super Belum Siap, Ditunda Saja - Ingki Rinaldi dari Kompas (Surabaya)</li>
<li>Mengapa Nurdin Sulit Digusur - Gunarso dari Suara Merdeka (Semarang)</li>
<li>Perempuan Pengawas Atlet Pria - Tjahjo Sasongko dari Kompas Cyber Media</li>
</ol>
<p><u><strong>Kategori Humaniora bidang Olah Raga </strong></u></p>
<ol>
<li>Mau Tionghoa, Jawa, Batak, di Lapangan Kita Indonesia  - R. Hikmat Soeriatanuwijaya dari Jurnal Nasional</li>
<li>Pemain Muda Racikan Eropa  -  Hendri Firzani dari Gatra</li>
<li>Special Olympics: Berprestasi untuk Mengubah Dunia  -  Lasti Kurnia dari Kompas</li>
</ol>
<p><u><strong>Kategori Foto Berita bidang Olah Raga </strong></u></p>
<ol>
<li>Melayang -   Andika Wahyu Widyantoro dari Antara</li>
<li>Untuk Indonesia  -  Crack Palinggi dari Reuters</li>
<li>Wajah Sepak Bola Indonesia  -  Farid Adi Fandi dari Jawa Pos (Surabaya)</li>
</ol>
<p><u><strong>Kategori Reportase Investigatif bidang Sosial </strong></u></p>
<ol>
<li>Melepas Jerat Racun Rokok Anak Indonesia  - Astari Yanuarti dari Gatra</li>
<li>The Lost Generation -   Muchlis Suhaeri dari Borneo Tribune (Pontianak)</li>
</ol>
<p><u><strong>Kategori Humaniora bidang Sosial</strong></u></p>
<ol>
<li>Kehidupan Pengungsi Sampit di Pasar Keputran  -  Marta Nurfaidah dari Surya (Surabaya)</li>
<li>Keluarga Pelarian  -  Basilius Triharyanto dari Pantau (Jakarta)</li>
<li>Saya Warga Dunia -   Astaria Elanda dari Femina</li>
</ol>
<p><u><strong>Kategori Foto Berita bidang Sosial</strong></u></p>
<ol>
<li>Dampak Pemanasan Global  -  Aya Sugianto dari Metro Banjar</li>
<li>Polusi  -  Crack Palinggi dari Reuters</li>
<li>Tragedi Zakat 1  -  Musyawir dari Antara</li>
</ol>
<p><u><strong>Kategori Reportase Investigatif bidang Politik</strong></u></p>
<ol>
<li>Casino Royale: Awas, Ada Proposal Judi di Bintan  -  Irawan Santoso dari Mahkamah</li>
<li>Perang Jenderal Tua  -  Irawan Santoso dari Suara LSM</li>
<li>Tiga Tahun MOU Adakah yang Berubah? -   Arsadi Laksamana dari Modus (Aceh)</li>
</ol>
<p><u><strong>Kategori Humaniora bidang Politik </strong></u></p>
<ol>
<li>Aceh di Mata ICG -   Samiaji Bintang dari Pantau (Aceh)</li>
<li>Parlok dalam Bayangan Teror dan Intimidasi -   Martha Andival dari Modus (Aceh)</li>
<li>Pers Nasional: Antara Roh dan Kinerja  -  Tjipta Lesmana dari Majalah Telstra</li>
</ol>
<p><u><strong>Kategori Foto Berita bidang Politik </strong></u></p>
<ol>
<li>Mobil Plat Merah Dirusak  -  Didit Majalolo dari Suara Pembaruan Pengamanan VVIP  -  Agus Susanto dari Kompas</li>
<li>Tekanan Poltik -   Wahyu Setiawan dari Koran Tempo</li>
</ol>
<p><u><strong>Kategori Reportase Investigatif bidang Hukum </strong></u></p>
<ol>
<li>Nelayan Asing Menjarah Laut, Menebar HIV/AIDS  -  Hendri Firzani dari Gatra</li>
<li>Perang Tiada Akhir  -  Irawan Santoso dari MahkamahRaja Properti Tergilas Dana -   Hendri Firzani dari Gatra</li>
</ol>
<p><u><strong>Kategori Humaniora bidang Hukum </strong></u></p>
<ol>
<li>Merindukan Advokat Pejuang  -   Irawan Santoso dari Mahkamah</li>
<li>Srikandi Penentang Korupsi  -  M. Subchan Soleh dari Surabaya Post</li>
<li>Yang Berjuang Setelah Yap  -  Samiaji Bintang dari Pantau (Aceh)</li>
</ol>
<p><u><strong>Kategori Foto Berita bidang Hukum </strong></u></p>
<ol>
<li>Reformasi MA  - Desmunyoto P. Gunadi dari Jurnal Nasional</li>
<li>Sumpah Al Amin -   Prasetyo Utomo dari Antara</li>
<li>Terancam Hukuman Mati  -  Amston Probel dari Koran Tempo</li>
</ol>
<p><u><strong>Kategori Reportase Investigatif bidang Ekonomi / Bisnis </strong></u></p>
<ol>
<li>Dua Kubu Berperang, Petani Jadi Korban  -  Heru Pamuji dari Gatra</li>
<li>Menguak Tabir Desa Ekologi di Balik Proyek Sibayak  -  Erwinsyah dari Medan Bisnis</li>
<li>Menyoal Data Investasi  -  Yeni H. Simanjuntak dari Bisnis Indonesia</li>
</ol>
<p><u><strong>Kategori Humaniora bidang Ekonomi/Bisnis </strong></u></p>
<ol>
<li>1001 Cara Petani Tembakau Madura Kejar Harga  -  Masuki M. Astro dari LKBN Antara (Jatim)</li>
<li>Meraup Triliunan Rupiah Lewat Gagasan -   Marlini Hasan Pontoh dari Femina</li>
<li>Women in Luxury  -  Maria Dominique dari Majalah Clara</li>
</ol>
<p><u><strong>Kategori Foto Berita bidang Ekonomi/Bisnis </strong></u></p>
<ol>
<li>Antre Minyak Tanah  -  Vidayyub Ahmad dari Seputar Indonesia (Makassar)</li>
<li>Berebut Minyak Goreng  -  Raditya Helabumi dari Kompas Jatim</li>
<li>Hancur -   Achmad Ibrahim dari Associated Press</li>
</ol>
<p><u><strong>Kategori Televisi</strong></u></p>
<ol>
<li>Cara Instan Lulus Ujian - Nirzam Fahmi dan Erlangga Reza dari TransTV</li>
<li>Ketapang: Surga bagi Cukong-cukong Kayu - Levianner Silalahi dan Hariyo Februarianto dari RCTI</li>
<li>Profil: Salomina Berjuang Meraih Pendidikan - Anastasya Putri dan Anto Sukma dari SCTV</li>
<li>Warisan Rasinah - Ramdan Malik dan Rusdi Hidayat dari TPI</li>
</ol>
<p>Segenap Panitia AAS 2008 mengucapkan selamat bagi para finalis AAS 2008&#8211;ayo, aktifkan telepon Anda, karena dalam waktu dekat, Panitia akan menghubungi Anda untuk mengabarkan mengenai hal ini dan mengatur jadwal keberangkatan Anda ke Jakarta (bagi yang berada di luar kota) untuk menghadiri Malam Anugerah Adiwarta Sampoerna 2008 pada 11 Desember mendatang.</p>
<p>Sampai jumpa!</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://anugerahadiwarta.org/2008/12/05/apakah-anda-salah-satu-finalis-aas-2008/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Siapa Sajakah Finalis AAS 2008?</title>
		<link>http://anugerahadiwarta.org/2008/12/03/siapa-sajakah-finalis-aas-2008/</link>
		<comments>http://anugerahadiwarta.org/2008/12/03/siapa-sajakah-finalis-aas-2008/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 03 Dec 2008 01:29:46 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Hanny</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Jurnalis]]></category>

		<category><![CDATA[Tentang AAS]]></category>

		<category><![CDATA[finalis AAS 2008]]></category>

		<category><![CDATA[konferensi pers]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://anugerahadiwarta.org/2008/12/03/siapa-sajakah-finalis-aas-2008/</guid>
		<description><![CDATA[Penasaran dengan nama-nama yang terpilih sebagai finalis AAS 2008?  Anda tak perlu menunggu sampai malam penganugerahan tanggal 11 Desember 2008 untuk itu.
Bertempat di resto Kembang Goela, panitia penyelenggara AAS 2008 akan mengadakan jumpa pers pada hari Jum&#8217;at 5 Desember, 2008.  Selain mengumumkan 57 nama finalis, panitia juga akan berbincang-bincang mengenai penghargaan bagi jurnalis muda berbakat, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Penasaran dengan nama-nama yang terpilih sebagai finalis AAS 2008?  Anda tak perlu menunggu sampai malam penganugerahan tanggal 11 Desember 2008 untuk itu.</p>
<p>Bertempat di resto Kembang Goela, panitia penyelenggara AAS 2008 akan mengadakan jumpa pers pada hari Jum&#8217;at 5 Desember, 2008.  Selain mengumumkan 57 nama finalis, panitia juga akan berbincang-bincang mengenai penghargaan bagi jurnalis muda berbakat, sebuah kategori penghargaan yang baru dimunculkan tahun ini.</p>
<p>Beberapa juri yang akan hadir pada jumpa pers ini adalah Effendi Gazali, Oscar Matuloh dan Don Bosco Selamun.  Para juri telah bekerja keras membaca dan mempelajari 1.057 karya.  Bukan pekerjaan mudah!</p>
<p>Dan seperti tahun-tahun sebelumnya, penjurian AAS 2008 dilakukan secara &#8220;blind judging&#8221;.  Artinya, para juri tidak mengetahui nama dan asal media peserta saat mereka melakukan penilaian.  Ini dilakukan agar obyektifitas dapat terjaga dan penghargaan tertinggi akan diberikan kepada karya terbaik.</p>
<p>Kira-kira berapa banyak ya finalis dari Jakarta maupun daerah yang akan lolos ke babak final? Penasaran kan? Jawabannya bisa di dapat diacara jumpa pers ini nanti.</p>
<p>Bagi yang ingin hadir, jangan lupa konfirmasi dulu ya! Silahkan menghubungi panitia (Nadia/Pasha) di nomor 021-727 89833.</p>
<p>Ditunggu kehadirannya ya….</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://anugerahadiwarta.org/2008/12/03/siapa-sajakah-finalis-aas-2008/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Yang Paling Ditunggu-tunggu!</title>
		<link>http://anugerahadiwarta.org/2008/11/26/yang-paling-ditunggu-tunggu/</link>
		<comments>http://anugerahadiwarta.org/2008/11/26/yang-paling-ditunggu-tunggu/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 26 Nov 2008 10:46:26 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Hanny</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Tentang AAS]]></category>

		<category><![CDATA[Malam Anugerah Adiwarta Sampoerna]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://anugerahadiwarta.org/2008/11/26/yang-paling-ditunggu-tunggu/</guid>
		<description><![CDATA[Tiba waktunya bagi kami untuk mengumumkan kapan malam final Anugerah Adiwarta Sampoerna 2008 akan dilaksanakan.
Bertempat di Hotel Crowne Plaza, Jakarta, Kamis 11 Desember 2008, 19 dari 57 finalis kategori foto berita, humaniora, reportase investigatif dan televisi, akan terpilih sebagai pemenang.
Jumlah akhir karya yang diterima oleh panitia adalah sebanyak 1.057 buah, dengan jumlah peserta sebanyak 274 [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Tiba waktunya bagi kami untuk mengumumkan kapan malam final Anugerah Adiwarta Sampoerna 2008 akan dilaksanakan.</p>
<p>Bertempat di Hotel Crowne Plaza, Jakarta, Kamis 11 Desember 2008, 19 dari 57 finalis kategori foto berita, humaniora, reportase investigatif dan televisi, akan terpilih sebagai pemenang.</p>
<p>Jumlah akhir karya yang diterima oleh panitia adalah sebanyak 1.057 buah, dengan jumlah peserta sebanyak 274 orang. Sekali lagi kami ucapkan terima kasih kepada rekan-rekan wartawan dan juga media tempat Anda bekerja, atas dukungannya untuk AAS 2008.</p>
<p>Nah, kami yakin sekarang teman-teman wartawan sudah tidak sabar lagi untuk mengetahui siapa saja yang terpilih sebagai finalis.</p>
<p>Ditunggu, ya, kabar dari kita selanjutnya!</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://anugerahadiwarta.org/2008/11/26/yang-paling-ditunggu-tunggu/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Periode II AAS Ditutup!</title>
		<link>http://anugerahadiwarta.org/2008/11/03/344/</link>
		<comments>http://anugerahadiwarta.org/2008/11/03/344/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 03 Nov 2008 15:57:18 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Hanny</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Tentang AAS]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://anugerahadiwarta.org/2008/11/03/344/</guid>
		<description><![CDATA[Hai!
Periode kedua masa pengiriman naskah Anugerah Adiwarta Sampoerna (AAS) 2008 sudah usai. Tepatnya, ditutup pada Jumat, 31 Oktober lalu. Harapan Panitia, rekan-rekan yang setia membuka blog AAS ini, jangan sampai kelupaan untuk mengirimkan naskahnya.
Sampai hari Senin (3/11) siang, sudah masuk 807 karya untuk semua kategori. Artinya, jumlah itu termasuk naskah tulis maupun foto. Namun, untuk [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Hai!</p>
<p>Periode kedua masa pengiriman naskah Anugerah Adiwarta Sampoerna (AAS) 2008 sudah usai. Tepatnya, ditutup pada Jumat, 31 Oktober lalu. Harapan Panitia, rekan-rekan yang setia membuka blog AAS ini, jangan sampai kelupaan untuk mengirimkan naskahnya.</p>
<p>Sampai hari Senin (3/11) siang, sudah masuk 807 karya untuk semua kategori. Artinya, jumlah itu termasuk naskah tulis maupun foto. Namun, untuk karya yang dikirimkan melalui pos dilihat berdasarkan cap pos terakhir pada 31 Oktober, maka diperkirakan panitia masih akan menerima karya-karya lagi di saa-saat terakhir di pekan ini. Angka itu pun pasti akan terus bergerak naik.</p>
<p>Jumlah karya yang masuk memang bisa menjadi tolok ukur keberhasilan penyelenggaraan AAS di setiap tahunnya. Jika di tahun pertama AAS tahun 2006, terkumpul sekitar 700 karya, maka di tahun 2007 meningkat drastis menjadi sekitar 2000 karya. Kenaikan lebih dari 300 persen ini, jelas menggembirakan. Namun, angka 807 karya yang sementara ini masuk di saat-saat terakhir, juga bukan berarti kemerosotan.</p>
<p>Panitia dan juga para juri, saat memutuskan beberapa batasan di penyelenggaraan AAS tahun 2008, telah memperkirakan adanya penurunan ini. Untuk tahun ini, dua kategori yang ditawarkan jelas berbeda dari tahun lalu. Jika tahun lalu hard news dan feature, tahun ini para wartawan ditantang untuk mengirimkan karya terbaiknya untuk jenis penulisan humaniora dan jurnalisme investigasi.</p>
<p>Selain tantangan baru tersebut, sobat wartawan juga ‘dipaksa’ untuk menyeleksi dulu karya-karya terbaiknya yang akan diikutsertakan di ajang AAS tahun ini. Jika tahun lalu tak ada batasan jumlah dari seorang wartawan untuk mengirimkan karyanya, tahun ini dibatasi menjadi dua saja untuk satu kategori di satu bidang. Jadi, memang pasti menurun jumlahnya dibanding tahun lalu.</p>
<p>Jika dilihat dari jumlah medianya, tahun ini yang sudah tercatat berpartisipasi dalam AAS 2008 adalah 101 media dari berbagai pelosok Indonesia.</p>
<p>Apapun dan bagaimanapun, data-data statistik tersebut adalah sebuah gambaran dari antusiasme peserta. Namun, yang selalu menjadi perhatian para juri adalah peningkatan kualitas karya para peserta. Di tahun lalu, para juri tersenyum cerah, karena menurut mereka karya yang masuk di tahun 2007 jauh lebih baik dibanding tahun 2006. Kini, harapannya tentu jauh lebih baik lagi dari tahun 2007, apalagi kategorinya kini sudah diperberat.</p>
<p>Pengumuman finalis dan pemenang akan keluar pada bulan Desember mendatang, jadi saat ini, bersantailah dulu. Yakinkan diri Anda bahwa karya yang telah Anda kirimkan adalah karya-karya terbaik. Apakah Anda akan termasuk menjadi salah satu finalis AAS 2008? Tunggu telepon kami di awal bulan Desember, ya!</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://anugerahadiwarta.org/2008/11/03/344/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Masihkah Wartawan Takut Pada Bayangan?</title>
		<link>http://anugerahadiwarta.org/2008/08/26/masihkah-wartawan-takut-pada-bayangan/</link>
		<comments>http://anugerahadiwarta.org/2008/08/26/masihkah-wartawan-takut-pada-bayangan/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 26 Aug 2008 02:07:44 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Hanny</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Dari Dewan Juri]]></category>

		<category><![CDATA[Diskusi Soal Media]]></category>

		<category><![CDATA[Jurnalis]]></category>

		<category><![CDATA[Tentang AAS]]></category>

		<category><![CDATA[debra yatim]]></category>

		<category><![CDATA[media indonesia]]></category>

		<category><![CDATA[opini]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://anugerahadiwarta.org/2008/08/26/masihkah-wartawan-takut-pada-bayangan/</guid>
		<description><![CDATA[Ya, inilah judul artikel opini Ibu Debra Yatim&#8211;anggota dewan juri Anugerah Adiwarta Sampoerna bidang sosial, yang telah dimuat di harian Media Indonesia dan versi online-nya dapat dibaca di sini.
Dalam artikel ini Ibu Debra kembali mempertanyakan masih sedikitnya karya-karya reportase investigatif di masa sekarang ini&#8211;pada era di mana pers justru telah jauh lebih bebas pasca reformasi.
Masihkah [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Ya, inilah judul artikel opini Ibu Debra Yatim&#8211;anggota dewan juri Anugerah Adiwarta Sampoerna bidang sosial, yang telah dimuat di harian Media Indonesia dan versi online-nya dapat dibaca di <a href="http://mediaindonesia.com/index.php?ar_id=MjE0NTk=">sini</a>.</p>
<p>Dalam artikel ini Ibu Debra kembali mempertanyakan masih sedikitnya karya-karya reportase investigatif di masa sekarang ini&#8211;pada era di mana pers justru telah jauh lebih bebas pasca reformasi.</p>
<p style="font-weight: bold; text-align: center" id="title">Masihkah Wartawan Takut Pada Bayangan?</p>
<p style="text-align: center"><span style="font-style: italic">&#8220;Sedihnya, bahkan dalam era reformasi seperti sekarang ini karya jurnalisme investigatif masih tetap sedikit&#8230;&#8221;</span></p>
<p>&#8220;Wartawan kita rata-rata takut pada bayangan bergerak yang ditimbulkan pohon yang ditiup angin.&#8221; Perkataan itu sering diucapkan Amir Daud-—redaktur majalah <em>Tempo, The Jakarta Post, Bisnis Indonesia</em>, dan terakhir penasihat redaksi di harian <em>Media Indonesia</em>&#8211;untuk menganalogikan jurnalisme investigatif. &#8220;Begitu terpana mereka pada bayangan, sehingga mereka tidak terpikir untuk memeriksa pohon itu sendiri, apalagi sang angin.&#8221;</p>
<p>Pada masanya, Amir Daud tidak mendorong anak buahnya untuk mempraktikkan jurnalisme investigatif atau peliputan penyidikan menurut istilah Atmakusumah. Namun, dalam kata-kata Amir dapat kita tarik kesimpulan bahwa beliau tahu suatu hal yang sangat penting bagi para wartawan untuk melakukan investigasi dalam berbagai peristiwa yang berdampak pada kehidupan masyarakat. Beliau menganjurkan para wartawan untuk tidak berhenti pada kulit luar sebuah permasalahan saja; apalagi jika sekadar ‘kulit’ itu saja telah membuat mereka takut.</p>
<p>Tetapi apa mau dikata; selama 50 tahun pertama berdirinya republik ini, pers masih berupaya untuk tidak mendatangkan murka orde yang tengah berkuasa. Pada masa itu, sebuah ancaman pamungkas cukup ampuh untuk membuat para wartawan di seluruh Tanah Air patuh pada garis komando. Ancaman itu bernama pembredelan.</p>
<p>Wartawan yang merindukan praktik jurnalisme investigatif di negeri ini sama saja dengan pungguk merindukan bulan. Mereka hanya dapat terbit air liurnya ketika membaca reportase perihal pengungkapan jual-beli informasi spionase di balik Negeri Tirai Besi yang membuat PM Inggris mengundurkan diri, dan tentu saja kasus jurnalisme investigatif paling terkenal saat itu: pembeberan yang dilakukan Carl Bernstein dan Bob Woodward dari <em>The Washington Post</em> yang ikut andil dalam menggulingkan Presiden Richard Nixon di Amerika Serikat.</p>
<p>Dari perspektif kita di Tanah Air, rekan-rekan wartawan di negara Barat ini telah langsung memeriksa &#8216;pohon&#8217;, dan bahkan &#8216;angin&#8217; yang bertiup di sekitar pohon; tidak semata terpaku ataupun takut terhadap bayangannya saja. Sementara di negeri ini, kala itu wartawan bahkan enggan untuk sekadar mempertanyakan kesahihan komando mengenai pers yang harus bersifat &#8216;perjuangan&#8217;, &#8216;Pancasilais&#8217;, dan &#8216;pro-pembangunan&#8217;—yang kesemuanya hanyalah eufemisme untuk jurnalisme yang dipasung.</p>
<p>Meskipun demikian, bukan berarti di Indonesia tidak pernah ada karya jurnalisme investigatif yang mampu membongkar kasus besar. Hanya jumlahnya yang sedikit, membuat referensi mengenai jurnalisme investigatif terus menggunakan contoh yang itu-itu saja.</p>
<p>Contoh paling terkenal ialah reportase yang dilakukan harian <em>Indonesia Raya</em> mengenai komite keramahtamahan dalam pelaksanaan Konferensi Asia-Afrika (KAA) di Bandung pada tahun 1955. Liputan yang membuat pemimpin redaksi Mochtar Lubis masuk penjara itu berhasil mengungkapkan praktik penyodoran PSK kepada anggota delegasi internasional oleh Indonesia sebagai tuan rumah. Harian yang sama juga sempat menyingkap praktik korupsi Pertamina di bawah pimpinan Ibnu Sutowo pada 1970-an.</p>
<p>Wartawan Bondan Winarno juga pernah menulis dua karya jurnalisme investigatif yang kemudian dibukukan mengenai kejanggalan-kejanggalan seputar tenggelamnya Tampomas II di Selat Makasar pada awal 1980-an, dan yang kedua mengenai kasus praktik-praktik tak patut di penambangan emas Busang, Kalimantan Timur, oleh perusahaan Bre-X.</p>
<p>Menariknya, karya-karya inspirasional ini justru dapat muncul dan menarik perhatian publik pada era saat pers terbungkam. Hal ini tentunya meninggalkan sebuah pertanyaan besar bagi kita semua: Jika sekarang adalah era reformasi, di mana kebebasan pers dijunjung tinggi, mengapa tetap sedikit sekali lahir karya-karya jurnalisme investigatif?</p>
<p>Andreas Harsono, wartawan dan anggota Investigative Reporters and Editors, Inc, pernah berkata, &#8220;Investigasi membutuhkan wartawan dengan kemampuan khusus. Mereka lebih gigih, tak mudah menyerah, lebih biasa bekerja dalam diam, daya tembusnya lebih tinggi, punya kemampuan khusus semisal akuntan forensik, mobilitasnya lebih tinggi, kerjanya luar biasa keras, dan kebanyakan adalah bujangan sehingga punya waktu banyak dan punya nasib baik (<em>good luck</em>).”</p>
<p>Sayangnya, dalam era reformasi di Indonesia, ketika semua sekat terhadap pers diluruhkan, masyarakat justru dibuat salah kaprah oleh media massa sendiri yang memberikan julukan pembeberan kehidupan pribadi beberapa orang selebriti sebagai reportase investigasi. Tabloid atau surat kabar yang memuat liputan <em>in-depth</em> juga menjuluki liputan itu &#8216;investigasi&#8217;. Padahal, menggunakan istilah dosen komunikasi Triyono Lukmantoro, sebenarnya yang mereka sajikan hanyalah <em>talking journalism</em>; atau jurnalisme bercakap-cakap semata. Kerap, wartawan-wartawan ini bahkan tidak bertemu langsung dengan narasumber, dan hanya mewawancarai mereka lewat telepon.</p>
<p>Meskipun demikian, bukan berarti <em>straight news</em>, bahkan <em>talking news</em>, tak punya tempat lagi dalam jurnalisme dewasa ini. Boleh jadi, memang hanya sedikit sekali wartawan yang bisa melakukan investigasi karena rutinitas dan dikejar <em>deadline</em>, padahal surat kabar dan siaran berita di televisi juga radio harus tetap muncul setiap hari, bahkan beberapa kali dalam sehari.</p>
<p>Bila kita analogikan, <em>straight news</em> merupakan hidangan cepat saji yang belum tentu berdaging tebal, apalagi bergizi. Agar kemampuan mengunyahnya bisa terlatih, yang dibutuhkan masyarakat adalah hidangan yang dapat digigit, tidak boleh lembek, harus agak keras, dan mengandung bumbu dalam jumlah yang pas. Hidangan itu adalah jurnalisme investigatif.</p>
<p>Penulisan karya jurnalisme investigatif memang bukan perkara mudah. Dalam sebuah jurnalisme investigatif, fakta dan riset menjadi alat yang sangat penting, sebagaimana dikatakan dosen komunikasi Dr Dedy Mulyana, &#8220;Jurnalisme investigatif merupakan satu bidang garapan pers Indonesia yang kini tengah diuji coba. Melalui investigasi, pers kini mulai melaporkan hal-hal yang sengaja disembunyikan dari amanat masyarakat. Pers diminta untuk mencari fakta-faktanya. Riset menjadi alat penting pers untuk mempertanggungjawabkan penyelidikannya. Sebab dalam pelaporan investigatif, berbagai pihak dapat menuntut media karena, antara lain, pencemaran nama baik (libel).”</p>
<p>Oleh karena itu, jurnalisme investigatif memang membutuhkan waktu yang lama untuk rampung. Stamina yang cukup tinggi dari wartawan yang mengerjakannya, ketersediaan biaya yang tidak kecil dari media, serta dukungan tim untuk melakukan riset dan verifikasi fakta juga mengambil peran penting.</p>
<p>Di era reformasi ini, sudah waktunya lahir karya-karya jurnalisme investigatif baru di Indonesia; apalagi mengingat begitu banyaknya kasus penyimpangan terhadap kepercayaan publik yang patut diungkap. Untuk melakukan tugas yang tidak mudah dan mengandung risiko ini, para wartawan juga tidak bisa hanya dibekali kemampuan teknis-metodologis semata. Mereka, dan juga media tempat mereka bekerja, perlu mendapatkan apresiasi karena telah mempraktikkan jurnalisme investigatif ini.</p>
<p>Di tingkat internasional, lembaga seperti The Kurt Schorck Awards in International Journalism, Euromed Heritage Journalistic Award, IWMF Courage in Journalism Awards, serta puluhan lembaga sejenis lainnya tahu persis perlunya apresiasi terhadap karya-karya investigatif agar dunia jurnalisme tetap mempraktikkannya. Lembaga-lembaga ini secara tetap menyediakan dana penghargaan bagi para wartawan yang menjalankan profesinya dengan integritas dan dedikasi tinggi; untuk memotivasi lahirnya karya-karya jurnalisme investigatif baru yang bermutu.</p>
<p>Di Indonesia, beberapa lembaga dan perusahaan pun telah menyadari pentingnya apresiasi terhadap karya-karya jurnalisme investigatif dengan menghadirkan ajang penghargaan jurnalistik bergengsi yang memberikan apresiasi bagi karya-karya jurnalisme investigatif terbaik di Indonesia; misalnya Mochtar Lubis Award, serta Anugerah Adiwarta Sampoerna yang digelar salah satu perusahaan besar di Indonesia.</p>
<p>Dengan adanya dukungan dari berbagai lembaga dan perusahaan ini, kini adalah tugas pers sebagai tiang demokrasi yang keempat, untuk menjalankan fungsinya secara baik dan benar: turut menegakkan demokrasi dan mencerdaskan kehidupan masyarakat Indonesia.***</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://anugerahadiwarta.org/2008/08/26/masihkah-wartawan-takut-pada-bayangan/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Makna Berita (dulu berita itu upacara, kini emosinya) oleh Arswendo Atmowiloto</title>
		<link>http://anugerahadiwarta.org/2008/08/12/makna-berita-dulu-berita-itu-upacara-kini-emosinya-oleh-arswendo-atmowiloto/</link>
		<comments>http://anugerahadiwarta.org/2008/08/12/makna-berita-dulu-berita-itu-upacara-kini-emosinya-oleh-arswendo-atmowiloto/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 12 Aug 2008 08:41:52 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Hanny</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Dari Dewan Juri]]></category>

		<category><![CDATA[Tentang AAS]]></category>

		<category><![CDATA[Arswendo Atmowiloto]]></category>

		<category><![CDATA[jurnalisme]]></category>

		<category><![CDATA[pers]]></category>

		<category><![CDATA[seputar indonesia]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://anugerahadiwarta.org/2008/08/12/makna-berita-dulu-berita-itu-upacara-kini-emosinya-oleh-arswendo-atmowiloto/</guid>
		<description><![CDATA[Pada 20 Juli 2008 lalu, artikel Arswendo Atmowiloto yang merupakan salah satu anggota Dewan Juri Televisi AAS 2008 dimuat di harian Seputar Indonesia (SINDO).

Dalam artikelnya ini, Arswendo mengemukakan pendapatnya mengenai perubahan cara menyampaikan berita, terutama dalam dunia pertelevisian.
&#8220;Pada era Orde Baru, yang disebut berita adalah upacara. Ada pengguntingan pita, jabat tangan, lalu kutipan kata pembangunan&#8230; [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Pada 20 Juli 2008 lalu, artikel <a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Arswendo_Atmowiloto">Arswendo Atmowiloto</a> yang merupakan salah satu anggota Dewan Juri Televisi AAS 2008 dimuat di harian <a href="http://www.seputar-indonesia.com/">Seputar Indonesia</a> (SINDO).</p>
<p><a href="http://anugerahadiwarta.org/wp-content/uploads/2008/08/20-07-08-seputar-indonesia.jpg" title="20-07-08-seputar-indonesia.jpg"><img src="http://anugerahadiwarta.org/wp-content/uploads/2008/08/20-07-08-seputar-indonesia.jpg" alt="20-07-08-seputar-indonesia.jpg" height="278" width="323" /></a></p>
<p>Dalam artikelnya ini, Arswendo mengemukakan pendapatnya mengenai perubahan cara menyampaikan berita, terutama dalam dunia pertelevisian.</p>
<blockquote><p>&#8220;Pada era Orde Baru, yang disebut berita adalah upacara. Ada pengguntingan pita, jabat tangan, lalu kutipan kata pembangunan&#8230; Kini. lebih memanjakan emosi&#8211;dengan kamera tersembunyi, gerak kamera <em>zoom in-out</em> dengan narasi pada satu sisi.&#8221;</p></blockquote>
<p>Artikel lengkapnya, dapat Anda baca berikut ini:</p>
<p><strong>MAKNA BERITA (dulu berita itu upacara, kini emosinya) </strong></p>
<p>Dalam seminggu ini kita mendengar, membaca, dan melihat beberapa berita. Sebuah radio menyiarkan wawancara penerima bantuan tunai langsung (BLT) di Blitar, Jawa Timur, berupa keluhan warga penerima yang merasa susah karena rumahnya jauh dan harus antre. Beberapa harian dan beberapa stasiun televisi menyiarkan bahwa polisi lalai menjaga Ayin yang bisa berhubungan telepon dengan seorang jaksa, ketika keduanya berada dalam tahanan yang berbeda atau juga berita menjelang pelaksanaan hukuman mati bagi terpidana mati di Tangerang dan Surabaya, lengkap dengan wawancara dan keinginan terakhir. Beberapa media&#8211;lebih sedikit lagi&#8211;memberitakan pemberian anugerah  Mochtar Lubis Award.</p>
<p>Semuanya baik dan benar dari segi kaidah jurnalistik. Beritanya cukup menukik dan berisik (bahasa Thukul Arwana untuk berisi), tapi agak salah bidik karena meniadakan gambaran yang menyeluruh, yang bisa memberi makna berita yang disajikan untuk menjadi peristiwa. Misalnya, kenapa memanjakan penerima BLT, bukankah mereka justru disadarkan telah mendapatkan perhatian istimewa. Kenapa diungkapkan rumahnya jauh dari tempat penerimaan&#8211;kalau dekat, lebih tak masuk akal menerima atau juga keluhan harus antre&#8211;memangnya ia sendiri yang dianggap miskin?</p>
<p>Dengan sedikit kecerdasan dan keluasan wawasan, wartawan sebaiknya menempatkan gambaran yang berimbang. Misal yang lain, penjelasan polisi lali sehingga ada tahanan yang bisa berkomunikasi melalui ponsel. Ini mengaburkan masalah seolah hanya saat itu terjadi. Gambaran yang sebenarnya adalah semua tahanan, napi&#8211;tentu yang &#8220;berdasi&#8221; atau berduit&#8211;bisa melakukan itu, baik diselundupkan atau dibawa petugas maupun pinjam sebentar.  Penggambaran ini akan memungkinkan pelarangan secara menyeluruh, pengawasan, dan bukan lalai sesaat. Misal yang lain, pemanjaan para terpidana mati, hanya dengan kilasan sedikit kenapa sampai ia atau mereka dijatuhi hukuman mati.</p>
<p>Dalam bahasa infotainment yang bebal dan dihafal, setiap ada perceraian selalu dengan pertanyaan: siapa orang ketiga. Agaknya, perubahan cara menyampaikan berita telah bergeser. Pada era Orde Baru, yang disebut berita adalah upacara. Ada pengguntingan pita, jabat tangan, lalu kutipan kata pembangunan. Upacara seremonial dilengkapi dengan gambar, penyampaian, dan kutipan pejabat&#8211;karena yang meresmikan memang pejabat dan bukan rakyat. Kini, lebih memanjakan emosi&#8211;dengan kamera tersembunyi, gerak kamera zoom in-out, dengan narasi pada satu sisi. Kegenitan ini tidak sepenuhnya salah, namun kalau terhenti di sini dan tak menuju ke arah tertentu, jadinya memang hanya terhenti siapa genit atau siapa yang vokal bersuara berkelit.</p>
<p>Syukurlah, di tengah arus pemanjaan emosi ini ada <a href="http://www.lspp.org/mochtarlubisaward/">Mochtar Lubis Awards</a> yang digagas oleh <a href="http://www.lspp.org/">Lembaga Studi Pers dan Pembangunan</a> untuk mengkaji peran wartawan dari sisi profesionalitas, etika, semangat penuh keberanian, dan keadilan. Syukur lagi karena ada lembaga lain yang melakukan ini dan kini masih berjalan. Ada Anugerah Adiwarta Sampoerna (AAS) yang akan memberi penghargaan hadiah dalam bidang jurnalistik, baik media cetak maupun karya televisi. AAS 2008 ini bisa diakses ke <a href="mailto:aas@maverick.co.id">aas@maverick.co.id</a>, juga memberi kesempatan kepada peserta &#8220;independen&#8221; sehingga tidak harus yang sudah &#8220;direstui&#8221; melalui penerbitnya. Ini juga menjadi terobosan dari tata krama yang selama ini ada.</p>
<p>Kalau saja penyertaan penilaian untuk memberi penghargaan kepada wartawan atau calon wartawan berkelanjutan, bisa masih menemukan pengharapan bahwa karya jurnalistik yang berkualitas juga bisa berkuantitas. Bukan hanya pada satu atau dua orang saja, melainkan yang lebih penting, menjadi pegangan dan perbandingan ketika karya-karya pemenang disosialisasikan. Dalam pengertian, juga untuk komunitas yang bukan komunitas pers sehingga lebih paham tugas utama wartawan dan peran jurnalistik di Indonesia. Bukan malah sebaliknya, koran yang meliput lengkap dan berimbang malah jadi salah dan kalah digugat di pengadilan.</p>
<p>Jurnalisme yang memihak pada keberanian dan memperjuangkan keadilan pada dasarnya juga memberi makna atas suatu peristiwa. Memberi gambaran yang lebih menyeluruh dan lebih utuh tentang suatu kejadian yang diolah dan kemudian disajikan. Dari sinilah kita bisa belajar dan maju, mengenai apa yang kita dengar, kita lihat, kita baca. Apakah itu tentang penerima BLT, penggunaan telepon atau crane yang memacetkan jalanan utama, atau anggota DPR berselingkuh dengan tersenyum di depan kamera, atau membaca kutipan kata-kata mutiara, juga dari media online yang demikian banyak. Sebenarnya, untuk tidak mengatakan seharusnya, membuat kita lebih bijak.<img src='http://anugerahadiwarta.org/smilies/yahoo_star.gif' alt='&#40;&#42;&#41;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#40;&#42;&#41;' /></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://anugerahadiwarta.org/2008/08/12/makna-berita-dulu-berita-itu-upacara-kini-emosinya-oleh-arswendo-atmowiloto/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Kesempatan untuk karya-karya jurnalistik televisi independen di ajang bergengsi AAS</title>
		<link>http://anugerahadiwarta.org/2008/07/25/kesempatan-untuk-karya-karya-jurnalistik-televisi-independen-di-ajang-bergengsi-aas/</link>
		<comments>http://anugerahadiwarta.org/2008/07/25/kesempatan-untuk-karya-karya-jurnalistik-televisi-independen-di-ajang-bergengsi-aas/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 25 Jul 2008 02:15:53 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Hanny</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Lain-lain]]></category>

		<category><![CDATA[Tentang AAS]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://anugerahadiwarta.org/2008/07/25/kesempatan-untuk-karya-karya-jurnalistik-televisi-independen-di-ajang-bergengsi-aas/</guid>
		<description><![CDATA[Stop press! Belum banyak yang mengetahui bila ajang Anugerah Adiwarta Sampoerna 2008 secara khusus memberikan perhatian terhadap karya-karya jurnalistik televisi independen. Padahal hadiah yang ditawarkan sub-penghargaan ini cukup besar, 9 juta rupiah tunai!
Prinsipnya, sub-penghargaan ini diberikan kepada siapa saja non wartawan seperti pelajar/mahasiswa atau umum yang mengirimkan karya jurnalistik televisinya kepada Panitia AAS. Karya-karya tersebut [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Stop press! Belum banyak yang mengetahui bila ajang Anugerah Adiwarta Sampoerna 2008 secara khusus memberikan perhatian terhadap karya-karya jurnalistik televisi independen. Padahal hadiah yang ditawarkan sub-penghargaan ini cukup besar, 9 juta rupiah tunai!</p>
<p>Prinsipnya, sub-penghargaan ini diberikan kepada siapa saja non wartawan seperti pelajar/mahasiswa atau umum yang mengirimkan karya jurnalistik televisinya kepada Panitia AAS. Karya-karya tersebut bisa berupa berita, talkshow, dokumenter atau investigasi yang belum atau sudah dipublikasikan. Jangan lupa menyertakan surat izin dari media yang pernah menayangkan bagi karya-karya jurnalistik televisi yang sudah dipublikasikan.</p>
<p>Tahun ini, pendaftaran dibatasi hanya untuk 20 pengirim pertama. Apabila Panitia telah menerima 20 karya yang memenuhi syarat, Panitia akan menutup pendaftaran dan menginformasikannya melalui blog <a href="http://anugerahadiwarta.org/">www.anugerahadiwarta.org</a></p>
<p>Bila anda tertarik dan memiliki pertanyaan atau membutuhkan informasi lebih lanjut, jangan ragu-ragu menghubungi Panitia Anugerah Adiwarta Sampoerna di (021) 727 898 33 atau melalui email di aas@maverick.co.id</p>
<p>Jadi, buruan kirimkan karya-karya anda paling lambat 15 Oktober 2008 (cap pos). Kami tunggu karya-karya jurnalistik televisi independen terbaik anda!</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://anugerahadiwarta.org/2008/07/25/kesempatan-untuk-karya-karya-jurnalistik-televisi-independen-di-ajang-bergengsi-aas/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Dicari: Karya Investigasi Jurnalistik Olah Raga!</title>
		<link>http://anugerahadiwarta.org/2008/07/21/dicari-karya-investigasi-jurnalistik-olah-raga/</link>
		<comments>http://anugerahadiwarta.org/2008/07/21/dicari-karya-investigasi-jurnalistik-olah-raga/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 21 Jul 2008 08:33:24 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Hanny</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Tentang AAS]]></category>

		<category><![CDATA[AAS]]></category>

		<category><![CDATA[investigasi]]></category>

		<category><![CDATA[olah raga]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://anugerahadiwarta.org/2008/07/21/dicari-karya-investigasi-jurnalistik-olah-raga/</guid>
		<description><![CDATA[Ya, sampai saat ini Panitia memang masih belum menerima banyak naskah reportase investigasi jurnalistik olah raga yang diikutsertakan dalam AAS 2008.
Mengapa?
Apa karena saat ini dunia olah raga sedang tenang-tenang saja; atau karena memang masih sedikit jurnalis yang melakukan investigasi jurnalistik di bidang olah raga? Atau&#8230; memang yang menulis karya ini belum mengirimkannya kepada Panitia AAS [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Ya, sampai saat ini Panitia memang masih belum menerima banyak naskah reportase investigasi jurnalistik olah raga yang diikutsertakan dalam AAS 2008.</p>
<p>Mengapa?</p>
<p>Apa karena saat ini dunia olah raga sedang tenang-tenang saja; atau karena memang masih sedikit jurnalis yang melakukan investigasi jurnalistik di bidang olah raga? Atau&#8230; memang yang menulis karya ini belum mengirimkannya kepada Panitia AAS 2008? <img src='http://anugerahadiwarta.org/smilies/yahoo_smiley.gif' alt='&#58;&#41;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#41;' /></p>
<p>Jadi, jika Anda merasa pernah menulis karya investigasi jurnalistik olah raga yang bisa diikutsertakan dalam periode II AAS 2008 (dipublikasikan antara 1 Mei 2008 - 15 Oktober 2008), silakan kirimkan kepada kami, ya!</p>
<p>Peluang masih sangat besar, karena naskah untuk kategori ini terbilang masih sedikit jika dibandingkan dengan naskah di kategori-kategori lainnya <img src='http://anugerahadiwarta.org/smilies/yahoo_smiley.gif' alt='&#58;&#41;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#41;' /></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://anugerahadiwarta.org/2008/07/21/dicari-karya-investigasi-jurnalistik-olah-raga/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Mengintip Dapur Admin AAS 2008</title>
		<link>http://anugerahadiwarta.org/2008/06/17/mengintip-dapur-admin-aas-2008/</link>
		<comments>http://anugerahadiwarta.org/2008/06/17/mengintip-dapur-admin-aas-2008/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 17 Jun 2008 09:59:23 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Hanny</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Tentang AAS]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://anugerahadiwarta.org/2008/06/17/mengintip-dapur-admin-aas-2008/</guid>
		<description><![CDATA[Periode I AAS 2008 total telah mengumpulkan 466 aplikasi dari rekan-rekan media! 

Hari ini, folder-folder karya dari Periode I yang akan dinilai oleh dewan juri semifinal terkirim sudah. Panitia pun baru dapat bernafas (sedikit) lega dan memutuskan bahwa sore ini adalah saat yang tepat untuk bernostalgia.
Mengapa?
Karena ada begitu banyak pengalaman menarik yang dialami Panitia selama [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Periode I AAS 2008 total telah mengumpulkan <strong>466</strong> aplikasi dari rekan-rekan media! <img src='http://anugerahadiwarta.org/smilies/yahoo_smiley.gif' alt='&#58;&#41;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#41;' /></p>
<p><a href="http://anugerahadiwarta.org/wp-content/uploads/2008/06/060620082196.jpg" title="060620082196.jpg"><img src="http://anugerahadiwarta.org/wp-content/uploads/2008/06/060620082196.jpg" alt="060620082196.jpg" height="197" width="289" /></a></p>
<p>Hari ini, folder-folder karya dari Periode I yang akan dinilai oleh dewan juri semifinal terkirim sudah. Panitia pun baru dapat bernafas (sedikit) lega dan memutuskan bahwa sore ini adalah saat yang tepat untuk bernostalgia.</p>
<p>Mengapa?</p>
<p>Karena ada begitu banyak pengalaman menarik yang dialami Panitia selama mengumpulkan ratusan aplikasi dalam periode I AAS 2008 ini.</p>
<p>Panitia mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya pada teman-teman wartawan yang sudah &#8220;membantu&#8221; kami dalam proses pendataan untuk administrasi. Bantuan ini diberikan dengan mengirimkan aplikasi dalam keadaan sangat &#8220;rapi dan apik&#8221;. Pada saat amplop karya dibuka, susunan yang terlihat berturut-turut adalah:</p>
<ul>
<li>formulir yang diisi secara lengkap, tak ada yang dikosongkan</li>
<li>fotokopi ID pers yang disatukan dengan klip dengan formulir pendaftaran</li>
<li>aplikasi/karya yang dilampirkan bersama bukti pemuatan dari media  yang bersangkutan</li>
<li>CD softcopy dari hasil karya tersebut yang ditempeli label nama kandidat dan judul karya yang ada di dalam CD tersebut</li>
</ul>
<p><a href="http://anugerahadiwarta.org/wp-content/uploads/2008/06/060620082193.jpg" title="060620082193.jpg"><img src="http://anugerahadiwarta.org/wp-content/uploads/2008/06/060620082193.jpg" alt="060620082193.jpg" height="185" width="247" /></a></p>
<p>Aduh, setiap kali membuka aplikasi yang rapi seperti ini, Panitia begitu terharu. Apalagi ketika melihat bahwa dokumen yang satu dengan yang lain disatukan dengan menggunakan klip, bukan di-<em>stapler</em>. Penggunaan klip ini sangat membantu, sehingga Panitia tak perlu berkutat membuka <em>stapler</em> yang biasanya cukup beresiko merusak aplikasi para kandidat.</p>
<p>Bagi teman-teman wartawan yang telah berbaik hati mengirimkan aplikasi dengan rapi dan lengkap seperti ini, terima kasih banyak atas pengertiannya! <em>You have no idea how happy you make us feel</em> <img src='http://anugerahadiwarta.org/smilies/yahoo_smiley.gif' alt='&#58;&#41;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#41;' /></p>
<p>Begitu terharunya Panitia, sampai-sampai kami sempat berpikir bahwa di Periode II nanti, mungkin kami harus menyisihkan nama-nama wartawan yang mengirimkan aplikasi paling rapi dan paling lengkap, kemudian mengundinya, dan menghadiahi pemenangnya dengan tiket nonton gratis atau voucher ngopi-ngopi&#8230;</p>
<p>Pengalaman menarik lainnya adalah menerima aplikasi yang berlebih. Ya, mengingat tahun ini setiap peserta hanya boleh mengirimkan dua karya per periode per kategori, ternyata ada juga peserta yang mengirimkan lebih dari dua karya per periode per kategori, kemudian meminta Panitia yang memilihkan karya yang kami anggap paling bagus!</p>
<p>Hal ini juga membuat kami terharu, karena dipercaya memilih dua karya terbaik dari perserta. Meskipun demikian, biasanya kami kembali menelepon peserta dan meminta mereka yang memutuskan dua karya mana yang akan diikutsertakan <img src='http://anugerahadiwarta.org/smilies/yahoo_smiley.gif' alt='&#58;&#41;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#41;' /></p>
<p>Oh ya, dalam Periode I AAS 2008 ini, Panitia juga memperoleh &#8217;suvenir&#8217; berupa beberapa buah penggaris panjang dari teman-teman wartawan. Ya, penggaris panjang ini biasanya digunakan teman-teman fotografer untuk ditempelkan di belakang cetakan foto 10R mereka. Mungkin agar fotonya tidak terlipat secara tidak sengaja ketika dikirimkan.</p>
<p>Jadi, setelah foto-foto di-<em>filing</em>, Panitia memiliki koleksi penggaris yang cukup beragam <img src='http://anugerahadiwarta.org/smilies/yahoo_smiley.gif' alt='&#58;&#41;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#41;' /></p>
<p>Tapi kategori foto memang selalu bisa menyegarkan mata Panitia yang lelah ketika melakukan pendataan. Foto-foto yang dikirimkan bagus-bagus, sehingga begitu membuka amplop foto, biasanya Panitia ber-&#8217;oooh&#8217; dan &#8216;aaah&#8217; sebentar, berkumpul mengagumi karya-karya foto yang dikirimkan tersebut; sebelum beralih kembali menghadap layar komputer dan memasukkan data peserta.</p>
<p><a href="http://anugerahadiwarta.org/wp-content/uploads/2008/06/060620082191.jpg" title="060620082191.jpg"><img src="http://anugerahadiwarta.org/wp-content/uploads/2008/06/060620082191.jpg" alt="060620082191.jpg" height="239" width="181" /></a><a href="http://anugerahadiwarta.org/wp-content/uploads/2008/06/060620082192.jpg" title="060620082192.jpg"><img src="http://anugerahadiwarta.org/wp-content/uploads/2008/06/060620082192.jpg" alt="060620082192.jpg" height="238" width="180" /></a></p>
<p>Untuk teman-teman di Jurnal Nasional&#8211;yang sejak tahun 2006 dan 2007 selalu berhasil memenangkan salah satu kategori AAS, Panitia juga menyampaikan terima kasih yang sebesar-besarnya atas antusiasme dan dukungannya terhadap Panitia AAS tahun ini. Selain berpartisipasi hampir di seluruh bidang kategori, dan menjadi media dengan kandidat terbanyak di Periode I AAS 2008.</p>
<p>&#8220;Terima kasih banyak!&#8221; <img src='http://anugerahadiwarta.org/smilies/yahoo_smiley.gif' alt='&#58;&#41;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#41;' /></p>
<p>Oh ya, berhubung Periode II sudah dimulai, ayo ingatkan teman-teman lain untuk berpartisipasi dalam ajang AAS 2008. Kalau membutuhkan formulir, informasikan saja kepada kami. Mau dikirimkan ke mana, dan berapa banyak? Seratus lembar cukup? <img src='http://anugerahadiwarta.org/smilies/yahoo_smiley.gif' alt='&#58;&#41;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#41;' /></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://anugerahadiwarta.org/2008/06/17/mengintip-dapur-admin-aas-2008/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
	</channel>
</rss>
