Archives
-
Dewan Juri AAS 2009
April 16, 2009
Dewan Juri Anugerah Adiwarta Sampoerna 2009 terdiri dari tokoh-tokoh yang sudah tidak diragukan lagi kredibilitasnya.
Dewan juri kehormatan:
Rosihan Anwar
Sosok pria yang lahir 86 tahun silam di Sumatera Barat ini dikenal sebagai orang yang bersikap tegas dan jelas terhadap pers Indonesia. Rosihan memang sudah menjadi bagian dari sejarah pers Indonesia. Ia selalu menjadi narasumber bagi perkembangan pers Indonesia. Karenanya, sebutan sebagai ‘man of conscience and of culture‘ yang diberikan oleh Jakob Oetama terasa tepat disandangnya.
Rosihan memulai karier jurnalistiknya sebagai reporter Asia Raya di masa pendudukan Jepang tahun 1943 hingga menjadi pemimpin redaksi Siasati (1947-1957) dan Pedoman (1948-1961). Selama 6 tahun, sejak 1968, ia menjabat Ketua Umum persatuan Wartawan Indonesia (PW) dan pada tahun 1950, bersama rekannya mendirikan Perusahaan Film Nasional (Perfini). Sejak akhir 1981, aktivitasnya di film adalah mempromosikan film Indonesia di luar negeri dan tetap menjadi kritikus film hingga kini.
Selain itu, kegiatannya sampai sekarang adalah menjadi kolumnis Business News yang sudah ia jajaki sejak 1963, dan juga masih aktif sebagai kolumnis Asia Week Hong Kong, serta menjabat sebagai Ketua Dewan Kehormatan PWI Pusat dari tahun 1983. Beliau juga dianggap sebagai salah satu tokoh sastrawan di Indonesia, dan saat ini menjadi dosen tidak tetap di Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia.
——
Dewan juri media cetak/online terdiri dari dewan juri semifinal & final.
Dewan juri semifinal:
1. Yosep Adi Prasetyo (Stanley), juri semifinal bidang jurnalistik
Saat ini menjabat sebagai Direktur Institut Studi Arus dan Informasi (ISAI) Jakarta. Mantan wartawan ini merupakan aktivis LSM sejak mahasiswa, dan ia sangat mengagumi Soe Hok Gie. Selain produktif menghasilkan banyak buku, pria yang akrab disapa Stanley ini juga tercatat sebagai anggota Komnas HAM.
2. Ade Armando, juri semifinal bidang komunikasi
Ade Armando dikenal sebagai seorang ahli komunikasi yang aktif memerangi pornografi. Kebiasaannya sewaktu kecil yang sering menggunting artikel-artikel koran dan menempelnya kembali lalu menulis pengantarnya membawa ia pada dunia jurnalistik. Sejak di bangku kuliah ia bergabung dalam penerbitan mahasiswa Warta UI.
Peraih gelar S2 dari Florida University ini meluangkan waktunya untuk menjadi Juri semifinal AAS 2009 untuk kategori media cetak/online disela-sela kesibukannya menangani Indonesian Broadcasting Commission.
3. Veven SP Wardhana, juri semifinal bidang seni dan budaya
Menulis adalah satu hal yang tidak bisa dipisahkan dari lulusan Fakultas Sastra Universitas Gadjah Mada, Veven Sp. Wardhana. Dimulai dari tujuan untuk mengejar prestise, pengakuan, dan uang, karir menulisnya makin lama makin menanjak. Hingga saat ini ia dikenal sebagai salah satu penulis yang poduktif di Indonesia dengan pemilihan tema unik yang jarang disentuh orang.
Tokoh pemerhati budaya massa ini sering menulis di berbagai media cetak maupun elektronik. Karya-karyanya antara lain :
Cerpen “Memburumu, Waktu Demi Waktu” terbit dalam bahasa Korea, Sinsege Husondeol-i boneon danpyunsoseol seonjib, tayangan televisi skenario sinetron Sang Pengibar, Sang Pengobar (TVRI, 1997), miniseri Nyai Dessy, Nyai Imah (TVRI 1999), skrip Lintasan Sinema Indonesia(1997-2000), RCTI-RCTI (RCTI, 1996-1998), Puan (TVRI 2003-2004). Sebagai praktisi media, ia kini menjadi redaktur di PT Prima Media Pustaka.
4. Atal Depari, juri semifinal bidang olah raga
Kiprah Atal S Depari dalam dunia olahraga Indonesia memang sudah tidak perlu dipertanyakan lagi. Saat ini beliau tercatat sebagai Kepala Biro Media dan Humas KONI Pusat serta Ketua Seksi Wartawan Olahraga (SIWO PWI). Dedikasinya untuk memajukan nama Indonesia, khususnya dalam bidang olahraga, di mata international terlihat dari keterlibatannya dalam ajang Asian Beach Games 2008.
5. Elvin G Masassya, juri semifinal bidang ekonomi/bisnis
Dikenal sebagai pakar perbankan Indonesia serta kolumnis di berbagai media massa nasional, Elvyn juga aktif menjadi pembicara di berbagai talk show dan seminar. Setelah menjadi petinggi di dua bank nasional ternama, Elvyn kini menjabat sebagai Direktur Investasi PT Jamsostek. Meskipun demikian, beliau tetap melakukan kegiatan yang menjadi hobinya, yaitu menyanyi.
Tidak banyak orang yang tahu bahwa Elvyn telah menekuni hobinya ini hingga menghasilkan tiga buah album. Album keempatnya akan segera dirilis dalam waktu dekat dan semua hasil penjualan dari album-albumnya akan Ia serahkan untuk membantu pengobatan di sebuah klinik di daerah Tangerang.
6. Debra Yatim, juri semifinal bidang sosial
Aktivis, jurnalis, kolumnis, pembuat film dokumenter, dan pendiri tiga buah NGO di Indonesia. Begitulah seorang Debra Yatim dikenal. Kerja kerasnya dalam memimpin organisasi-organisasi sosial dalam rekonstruksi Aceh pasca tsunami dan gempa Jogjakarta menganugerahinya penghargaan Media Leadership Award 2007 versi Internews Network, Washington USA.
Melalui Visi Anak Bangsa, salah satu NGO yang dipimpinnya, Debra Yatim berkerja sama dengan Internews mengkampanyekan efek dua bencana terbesar Indonesia dengan membuat serangkaian pengumuman publik melalui berbagai macam media seperti billboard, video musik, sampai komik.
Wanita berdarah Aceh – Manado ini juga dikenal sebagai moderator, presenter, dan pakar komunikasi dengan pemikiran yang tegas dalam bidang feminisme dan hak asasi manusia.
7. Rocky Gerung, juri semifinal bidang politik
Saat ini menjadi pengajar filsafat di Universitas Indonesia dan aktif di Perhimpunan Indonesia Baru. Pria berusia 49 tahun ini sudah aktif dalam kegiatan politik sejak mahasiswa. Ia merupakan alumnus IMADA, Ikatan Mahasiswa Djakarta, sebuah organisasi mahasiswa beraliran sosialis demokrat dan didirikan pada tahun 1955. Tahun 2009 ini adalah kali ketiganya menjabat sebagai anggota dewan juri Anugerah Adiwarta Sampoerna.
8. Adrianus Meliala, juri semifinal bidang hukum
Pria berusia 42 tahun ini dikenal sebagai pakar kriminolog Indonesia. Latar belakang pendidikannya antara lain dua gelar master jurusan Psikologi Sosial dan Hukum Kriminologi, serta gelar Doktor Kriminologi dari Queensland University.
Pada tahun 2006, ia ditunjuk sebagai pengajar tetap Jurusan Kriminologi FISIP Universitas Indonesia. Selain bekerja dalam bidang akademis, Adrianus Meliala juga bekerja sama dengan institusi seperti Kepolisian Republik Indonesia baik sebagai pengajar ataupun konsultan kriminologi.
——
Dewan juri final:
1. Abdullah Alamudi, juri final bidang jurnalistik
Abdullah Alamudi terpilih menjadi anggota Dewan pers untuk periode 2006-2009 pada September 2006. Ia dipercayakan menjadi Ketua Komisi Pengaduan Masyarakat dan Penyegakan Etika Jurnalistik. Alamudi telah menghabiskan sekitar 43 tahun lebih dari kariernya di bidang jurnalistik atau yang berhubungan dengan media sejak kembali dari studinya di Universitas Tasmania, Australia, setelah memenangkan beasiswa Colombo Plan, tahun 1961 – 1964.
Pria kelahiran Makassar, Sulawesi Selatan ini sudah berkecimpung dalam semua bidang jurnalistik: dari kantor berita, surat kabar dan majalah, sampai radio dan televisi. Karirnya dimulai dari reporter junior di Associated Press Biro Jakarta lalu ke Kyodo, ABC/Radio Australia, NHK (radio/televisi Jepang), sampai menjadi staf redaksi pada harian Pedoman, asisten koresponden AFP, dan Managing Editor Unicef News, Producer BBC, Koresponden/Wartawan Tempo, Koordinator koresponden The Jakarta Post sampai Redaktur Pelaksana Warta Ekonomi dan Wakil Pemimpin Redaksi Bisnis Indonesia.
Selain karirnya dalam bidang jurnalistik, ternyata Ayah dari dua anak ini pernah berperan sebagai kepala polisi Mesir dalam film “Ayat-Ayat Cinta” yang diproduksi tahun 2007.
Beberapa penghargaan pun telah diraihnya, antara lain penghargaan dari pemerintah Australia sebagai Distinguished Australian Alumni pada Februari 2009, penghargaan dari pemerintah Amerika Serikat untuk 12 Years of Faithful Service pada Februari 2001, dan Meritorious Honor Award dari United States Information Agency/USIS Jakarta pada tahun 1991.
2. Effendi Gazali, juri final bidang komunikasi
Effendi Gazali adalah seorang tokoh Indonesia yang terkenal dengan acara yang digagasnya yaitu Republik Mimpi yang merupakan parodi dari Indonesia dan para presidennya. Perjalanannya di dunia tulis-menulis diawalinya saat ia menjadi seorang koresponden di sebuah media olahraga. Namun begitu, ia tidak pernah menjadi wartawan tetap di sebuah media. Pengalamannya yang hanya menjadi seorang koresponden tidak membuatnya mempunyai kendala saat harus menulis di media cetak untuk bidang komunikasi.
Ia pun kini selain menjadi pengajar di program pascasarjana Departemen Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Indonesia, pria yang meraih gelar doktor komunikasinya dari Cornell University New York ini juga mengajar di beberapa universitas lain serta sering menjadi pembicara dalam diskusi-diskusi komunikasi.
Beliau juga aktif dalam kegiatan-kegiatan organisasi dan pernah menjabat sebagai Ketua Kesatuan Aksi Mahasiswa Pascasarjana Universitas Indonesia (Wacana UI) 1998; kemudian Anggota Presidium, dan saat ini ia menjabat sebagai Deputi Ketua Umum Ikatan Sarjana Komunikasi Indonesia (ISKI), Anggota International Communication Association (ICA) dan menjadi salah satu anggota dewan juri final Anugerah Adiwarta Sampoerna sejak 2006 hingga kini.
3. Seno Gumira Ajidarma, juri final bidang seni dan budaya
Seno Gumira Ajidarma adalah seorang penulis dari generasi baru di sastra Indonesia, yang lahir di Boston Amerika Serikat 51 tahun yang lalu dan dibesarkan oleh kedua orang tuanya di Yogyakarta. Seno mulai terkenal karena tulisannya tentang situasi di Timor Timur tempo dulu. Tulisannya itu dituangkan dalam trilogy buku Saksi Mata (kumpulan cerpen), Jazz Parfum, dan Insiden (roman), dan Ketika Jurnalisme Dibungkam, Sastra Harus Bicara (kumpulan esai).
Pada tahun 1970an, Seno mendirikan ‘pabrik tulisan’ yang menerbitkan buku-buku puisi dan menjadi penyelenggara acara-acra kebudayaan. Pada saat itu pula iya mulai bekerja sebagai wartawan lepas pada surat kabar Merdeka. Tidak lama kemudian, ia menerbitkan majalah kampus yang bernama Cikini dan majalah fim yang bernama Sinema Indonesia, yang kemudian ia lanjutkan dengan penerbitan mingguan Zaman dan terakhir ikut menerbitkan kembali majalah berita Jakarta-Jakarta pada tahun 1985.
Pekerjaan sebagai wartawan dijalanin Seno sambil tetap menulis cerpen dan esai. Seno kembali ke kampus di Institut Kesenian Jakarta dan menamatkan studinya dua tahun kemudian. Setelah sempat diperbantukan di tabloid Citra pada akhir 1993, ia kembali diminta memimpin majalah Jakarta-Jakarta. Hingga kini Seno telah menerbitkan belasan buku yang terdiri dari kumpulan sajak, kumpulan cerpen, kumpulan esai, novel, dan karya nonfiksi. Dengan prestasinya yang luar biasa dalam bidang penulisan cerita pendek, Seno telah mendapat beberapa penghargaan untuk cerpen-cerpennya sejak 1977 lalu hingga 1997.
4. TD Asmadi, juri final bidang olah raga
Dalam karier sebagai jurnalis, ia pernah diminta untuk membidani surat kabar-surat kabar daerah (Persda) milik PT Gramedia, kemudian ia juga sempat singgah ke Tabloid BOLA, sebelum akhirnya kembali menjadi redaktur olahraga Harian Kompas hingga pensiun. Lewat kebugarannya, Kang TDA yang asli Cirebon ini, tak bisa diam setelah pensiun. Ia bergabung ke LPDS dan memberi pelatihan-pelatihan jurnalistik di beberapa universitas di daerah-daerah.
5. Faisal Basri, juri final bidang ekonomi/bisnis
Ayah dari sepasang anak ini ternyata tidak hanya piawai dalam menulis di kolom surat kabar, tetapi juga piawai dalam menulis puisi, terutama puisi-puisi kritis. Faisal adalah orang yang sangat sadar bahwa lewat menulis hatinya bisa sedikit lapang dari himpitan. Karena itu, Faisal dengan leluasa dapat mengritik masalah-masalah ekonomi yang menurut kata hatinya tidak benar.
Pria yang sehari-harinya sibuk sebagai dosen program pascasarjana Fakultas Ekonomi (FE) Universitas Indonesia dan Rektor Universitas Perbanas di Jakarta ini menyelesaikan pendidikan sarjananya di FE UI pada tahun 1985. Langsung setelahnya, ia melanjutkan pendidikannya ke Vanderbilt University di Amerika dan lulus tahun 1988.
6. Francisia Seda, juri final bidang sosial
Adalah seorang sosiolog Universitas Indonesia, Depok. Ia memperoleh gelar Ph.D dari University of Wisconsin, AS. Mengambil spesialisasi pada kajian perempuan, putri dari Frans Seda ini aktif dalam pelbagai penelitian maupun menulis buku dan artikel tentang perempuan di Indonesia. Ia telah menjadi anggota dewan juri Anugerah Adiwarta Sampoerna dalam kategori sosial sejak tahun 2007.
7. Indria Samego, juri final bidang politik
Nama Indria Samego bukanlah nama yang asing bagi masyarakat Indonesia. Beliau adalah seorang pengamat politik yang telah mendapatkan gelar sarjana Ilmu Politik Fisip Politik Universitas Gadjah Mada tahun 1975. Ia kemudian melanjutkan studi pascasarjananya di Universitas Flinders di Australia Selatan, Adelaide tahun 1989, dan berhasil menyelesaikan Ph.D nya dalam Asian Studies di Universitas yang sama pada tahun 1992.
Indria Samego masih sangat aktif dalam kegiatan-kegiatan organisasi berbasis politik. Beliau sejak tahun 1976 hingga kini aktif sebagai peneliti Puslitbang Politik dan Kewilayahan (PPW) LIPI dan juga menjabat sebagai Ketua Dewan Direktur Centre for Information dan Development Studies (CIDES) sejak 1999 hingga ini. Selain itu beliau masih menjabat sebagai Dosen tamu SESKO TNI, staf ahli fraksi TNI/Polri DPR-RI dan penasehat ahli kapolri. Sebelumnya seorang Indria Samego pernah menjabat sebagai asisten wakil president bidang politik dan keamanan, dan sebagai direktur pascasarjana Universitas Jayabaya
8. Harkristuti Harkrisnowo, juri final bidang hukum
Harkristuti Harkrisnowo dikenal luas sebagai seorang yang sangat memperhatikan masalah hak asasi manusia yang kemudian ia pun diangkat menjadi Direktur Jendral Hak Asasi Manusia. Beliau adalah seorang pengacara dan pakar hukum. Ia pernah menjadi anggota Komisi Hukum Nasional dan saat ini tengah menjadi anggota Pusat Studi HAM Fakultas Hukum Universitas Indonesia (FHUI), selain anggota tim peneliti peningkatan mutu pendidikan FHUI.
Wanita kelahiran 53 tahun yang lalu ini senang membaca segala macam buku kecuali politik. Ia juga tercatat sebagai anggota American Criminal Justice Society and American Society of Criminology. Dan diantara beberapa karyanya yang pernah disiarkan secara international termasuk Crime in the Communication Society yang dipublikasikan di International Workshop on Crime di Denpasar pada 1997 silam.
9. Niken Rachmad, Juri perwakilan PT HM Sampoerna Tbk
Niken Rachmad telah dikenal sebagai sosok yang aktif dalam dunia komunikasi. Lulusan fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (MIPA) Universitas Gajah Mada ini pernah menjadi jurnalis dan penyiar untuk Voice of America – Washington DC, serta program officer Radio Australia-Melbourne. Beliau juga berpengalaman sebagai copywriter dan konsultan kreatif pada beberapa perusahaan periklanan, sebelum akhirnya menduduki posisi sebagai Managing Director Ogilvy PR. Saat ini Niken Rachmad menjabat sebagai Head of Corporate Communications PT HM Sampoerna Tbk.
——
Dewan juri bidang foto:
1. Oscar Motuloh, anggota dewan juri foto berita
Berangkat dari seorang fotografer yang ‘nyeni’, Oscar Motulloh pertama kali masuk ke dunia foto jurnalis untuk meliput sesuatu yang keras, yakni olahraga. Setelah ‘kenyang merekam segala aneka momen olahraga yang dinamis, Oscar mulai memanjakan jiwa seninya. Ia mulai banyak menjelajah ke wilayah-wilayah yang jarang disentuh orang dan berbagi pesan lewat foto. Oscar yang tak banyak bicara ini ternyata sangat komunikatif lewat setiap hasil jepretan fotonya.
Pria yang memilih tetap melajang di usianya yang lebih dari 40 tahun ini memiliki filosofi bahwa foto tak hanya menjadi pelengkap berita, tetapi foto itu sendiri adalah berita. Ia mendirikan Galeri Foto Jurnalistik Antara guna dapat mendidik anak-anak muda yang suka fotografi sekaligus memberi wadah bagi para fotojurnalis muda yang ingin memamerkan karya mereka. Oscar adalah anggota dewan juri Anugerah Adiwarta Sampoerna sejak tahun 2006.
2. Ray Bachtiar Dradjat, anggota dewan juri foto berita
Lahir di Bandung 50 tahun yang lalu, Ray Bachtiar Dradjat dikenal sebagai seniman foto multimedia yang mahir berfotomontase. Lulusan Desain Grafis Institut Teknologi Bandung ini sudah menggeluti dunia fotografi selama 24 tahun. Selama bertahun-tahun, Ray dikenal sebagai fotografer di beberapa media terkemuka di Indonesia seperti majalah Femina, Gadis, Jakarta-jakarta, TIARA,dan Fotomedia. Ia juga sempat menulis buku & mensosialisasikan: Memotret dengan kamera Lubang Jarum (pinhole camera) pada tahun 2001 hingga sekarang. Saat ini Komunitas Lubang Jarum Indonesia telah tersebar di lebih dari 15 kota di Indonesia.
3. Firman Ichsan, anggota dewan juri foto berita
Dikenal sebagai fotografer model di masanya dulu. Kini, ia lebih banyak untuk mengamati foto dibanding mengambil foto itu sendiri. Ia sering menjadi juri foto untuk lomba-lomba foto baik di Indonesia maupun di luar negeri. Terakhir, ia menjadi juri foto di Belanda.
——
Dewan juri televisi:
1. Arswendo Atmowiloto, anggota dewan juri televisi
Arswendo Atmowiloto, lahir di Surakarta, Jawa Tengah, 26 November 61 tahun yang lalu, adalah penulis dan wartawan Indonesia yang aktif di berbagai majalah dan surat kabar seperti Hai dan Kompas. Mempunyai nama asli Sarwendo. Nama itu diubahnya menjadi Arswendo karena dianggapnya kurang komersial dan ngepop. Lalu di belakang namanya itu ditambahkannyalah nama ayahnya, Atmowiloto, sehingga namanya menjadi apa yang dikenal luas sekarang.
Arswendo telah mendirikan kemudian mendirikan perusahaannya sendiri, PT Atmo Bismo Sangotrah, yang memayungi sedikitnya tiga media cetak: tabloid anak Bianglala, Ina (kemudian jadi Ino), serta tabloid Pro-TV. Saat ini selain masih aktif menulis ia juga memiliki sebuah rumah produksi sinetron.
2. Bambang Harimurty, anggota dewan juri televisi
Di bidang jurnalistik, Bambang memulai karirnya sebagai reporter magang di majalah Tempo pada 14 Maret 1982. Karir tersebut makin ditekuninya setelah ia lulus dari Jurusan Teknik Elektro Institut Teknologi Bandung tahun 1983 dan akhirnya profesi wartawan ia jalani secara total. Demi kepentingan menulis berita, Bambang pernah menjalani tes menjadi calon astronot yang terdiri atas beberapa tahapan dan Bambang masuk menjadi empat finalis yang dikirim untuk menjalani seleksi akhir di Boston, Amerika Serikat.
Pada tahun 1990, ia mendapat beasiswa Fulbright, saat masih bekerja di Tempo, Bambang kuliah di Universitas Harvard dan lulus pada tahun 1991. Setelah lulus, ia menjadi Kepala Biro Tempo di Washington DC dan membuka kantor Tempo di National Press Building. Saat ini ia juga menjabat sebagai Ketua Komisi Peningkatan Profesionalisme Wartawan dan Pemberitaan Pers.
3. Marselli Sumarno, anggota dewan juri televisi
MARSELLI SUMARNO lahir di Solo, Jawa Tengah pada tanggal 10 Oktober 1956. Ia lulus pada tahun 1980 dari Departemen Sinematografi – Lembaga Pendidikan Kesenian Jakarta (sekarang bernama Fakultas Film & Televisi – Institut Kesenian Jakarta); Dan pada tahun 1994, menyelesaikan studi kesarjanaannya dengan skripsi mengenai Penulisan Skenario.
Di akhir tahun 2006, ia mendapatkan gelar master (dengan nilai A+) dari Institut Seni Indonesia – Surakarta, dengan hasil karya film dokumenter Sang Buddha Bersemayam Di Borobudur.
Sejak tahun 1979 sampai dengan sekarang, ia aktif sebagai pengamat film & televisi lewat tulisan-tulisannya di harian Kompas dan aktif pula sebagai koresponden majalah film Cinemaya (India) dan buku tahunan International Film Guide (Inggris). Puluhan cerita pendek dan sejumlah scenario film Televisi dan Film bioskop telah ditulisnya antara lain Film Malioboro, Tragedi Bintaro, Oom Pasikom.
Karya tulisnya yang telah dibukukan adalah Suatu Sketsa Perfileman Indonesia (1995), Dasar-Dasar Apresiasi Film (1996) dan D.A. Peransi dan Film (1997). Karyanya lainnya termasuk Panji Nusantara (company profile, 2007), Saraswati Inner Studies (company profile, 2008) dan Wajah Seorang Slamet Rahardjo (dokumenter, 2009).
Marselli juga terlibat dalam berbagai kegiatan perfileman nasional, antara lain dalam penjurian Festival Film Indonesia (1984, 1985, 2004 dan 2005), serta terlibat dalam peliputan sejumlah festival film Internasional. Film cerita pertamanya berjudul Sri (2000) yang bertemakan kesetiaan wanita Jawa. Film-film dokumenter yang pernah disutradarainya adalah Mencegah Kebakaran di DKI (1982), Merayakan Bulan Keramat Suro (1978), Jubilium (2000), Mekarnya Agama Buddha di Indonesia (2006) dan Sang Buddha Bersemayam di Borobudur (2006) yang merupakan jenis film dokumenter dan menjadi film dokumenter terbaik Festival Film Indonesia 2007.
Ia pernah menjadi anggota Dewan Kesenian Jakarta (1990-1993), anggota Badan Pertimbangan Perfilman Nasional (periode 2000-2003 dan 2003-2006).
Di almamaternya ia menjadi Ketua Jurusan Filmologi Fakultas Film dan Televisi IKJ (1994-1997 dan 1997-2000), Pembantu Dekan Bidang Kerjasama (2000-2004) dan menjabat sebagai Dekan Fakultas Film & Televisi IKJ (2004-2008). Sampai sekarang ia menjadi pengajar tetap di FFTV-IKJ. Selain itu, ia mengajar di program studi S2 Institut Seni Indonesia-Surakarta dan di STIKOM Interstudi-Jakarta.
Tahun 2008 ia menjadi anggota tim kreatif bagi pengembangan Lembaga Penyiaran Publik TVRI. Selanjutnya di tahun 2009 ia melakukan lokakarya produksi film dokumenter di berbagai stasiun TVRI daerah. Kini ia juga mulai menekuni karya S3-nya, berupa film dokumenter panjang tentang mantan Presiden Soeharto yang berjudul Citizen Soeharto.
4. George Kamarullah, anggota dewan juri televisi
George Kamarullah, pria kelahiran Ternate, 58 tahun silam, mundur sebagai aktor pada tahun 1973. Dari situlah garis nasibnya berbelok, George menjadi sinematografer. Enam film hasil bidikan kameranya. Sebetulnya, dia tidak punya latar belakang pendidikan juru kamera. George muda pernah kuliah di jurusan konstruksi dan administrasi, tapi tak selesai. Dia pernah jadi asisten art and still photography. Baru pada 1976, George mulai betul-betul menekuni pengambilan dan penyuntingan gambar selama lima tahun.
Pada 1980, George dipercaya menjadi editor dalam film pada usia 18. Baru pertama kali menyunting, dia langsung menyabet Piala Citra. Nama George makin melambung sewaktu menjadi penata kamera dan berhasil menggondol tiga Piala Citra serta Golden Crown Award di Seoul.
Sebagai seorang juru kamera, George punya prinsip keras: tidak mau terlibat dalam produksi bila skenarionya jelek dan bintang filmnya tidak disiplin. Ia juga dikenal sebagai juru kamera yang edan di zamannya. Dia orang pertama yang memakai teknik pencahayaan bounching dan kertas kalkir misalnya.
5. Fetty Fajriati, anggota dewan juri televisi
Lulusan Leeds University, Inggris ini pernah bekerja di RCTI sebagai wartawan senior dan pembaca berita. Lepas dari RCTI 2002 lalu, satu-satunya wanita yang masuk sebagai anggota KPI Pusat periode 2007-2010, langsung aktif di Habibie Center sebagai manajer Public Relation di lembaga nirlaba yang didirikan oleh mantan Presiden RI, BJ Habibie. Di waktu yang sama, Dia pun masih menyempatkan dirinya bekerja di RRI Pro sebagai pembawa acara tamu pada program “Jakarta Pagi Ini”.
Sarjana bahasa Inggris dari Universitas Nasional (IKIP) Jakarta lulusan 1993 dan Master ilmu komunikasi dari Universty of Leeds UK 1998 ini juga banyak terlibat dalam pelatihan dan seminar tentang kepemimpinan, jurnalistik dan penyiaran di dalam dan luar negeri. Kepiawaiannya di beberapa bidang ini, membuat Fetty mampu meraih beberapa penghargaan dan prestasi seperti dari The British Council. Saat ini Fetty dipercaya oleh rekan-rekan anggota KPI untuk menempati kursi Wakil Ketua KPI Pusat.






















