Archives
-
Dewan Juri Televisi
March 26, 2008
PROFIL JURI KATEGORI TELEVISI AAS 2008
1. Arswendo Atmowiloto
Ia adalah penulis dan wartawan Indonesia yang aktif di berbagai majalah dan surat kabar seperti Hai dan KOMPAS. Di tahun 1990, ia juga sempat menjabat sebagai pemimpin redaksi tabloid Monitor, dan dalam jangka waktu tersebut ia juga menghasilkan tujuh buah novel, puluhan artikel, tiga naskah skenario dan sejumlah cerita bersambung.Ia kemudian berhasil menghidupkan tabloid Bintang Indonesia yang sedang kembang kempis. Namun Arswendo hanya bertahan tiga tahun di situ, karena ia kemudian mendirikan perusahaannya sendiri, PT Atmo Bismo Sangotrah, yang memayungi sedikitnya tiga media cetak: tabloid anak Bianglala, Ina (kemudian jadi Ino), serta tabloid Pro-TV. Saat ini selain masih aktif menulis ia juga memiliki sebuah rumah produksi sinetron, bernama Atmo Chidemas Persada.
2. Bambang Harimurty
Di bidang jurnalistik, Bambang memulai karirnya sebagai reporter magang di majalah Tempo pada 14 Maret 1982. Karir tersebut makin ditekuninya setelah ia lulus dari Jurusan Teknik Elektro Institut Teknologi Bandung tahun 1983 dan akhirnya profesi wartawan ia jalani secara total. Demi kepentingan menulis berita, Bambang pernah menjalani tes menjadi calon astronot yang terdiri atas beberapa tahapan dan Bambang masuk menjadi empat finalis yang dikirim untuk menjalani seleksi akhir di Boston, Amerika Serikat.
Pada tahun 1990, ia mendapat beasiswa Fulbright, saat masih bekerja di Tempo, Bambang kuliah di Universitas Harvard dan lulus pada tahun 1991. Setelah lulus, ia menjadi Kepala Biro Tempo di Washington DC dan membuka kantor Tempo di National Press Building.
3. Don Bosco Selamun
Sebagai jurnalis, Don Bosco Selamun mengawali karirnya juga di media cetak. Ia meniti karir di suratkabar Prioritas, sebuah suratkabar yang meski berusia pendek, dianggap menjadi media alternatif pada 1980-an. Ia kemudian ikut juga membidani lahirnya Media Indonesia yang dianggap sebagai penerus Prioritas.
Ketika bisnis televisi menjadi marak dengan munculnya beberapa stasiun televisi pada awal 1990-an, Don Bosco juga merasa tertarik. Ia bergabung dengan SCTV dengan tetap menangani masalah pemberitaan. Dari SCTV, Don Bosco kemudian bergabung dengan Metro TV yang sebenarnya dekat dengan almamaternya di Media Group.Di Metro TV, Don Bosco sempat menjadi Pemimpin Redaksi antara 2004-2005 dan pernah menghadapi masalah berat saat dua wartawannya disandera di daerah konflik di Irak. Saat ini, Don Bosco aktif di Komisi Penyiaran Indonesia (KPI).
4. George Kamarullah
Pada awalnya, George adalah pemain teater, sebelum menjadi sinematografer. Enam film hasil bidikan kameranya, antara lain Selamat Tinggal Jeanette (1987) dan Taksi (1991), diputar di Kine Forum, Taman Ismail Marzuki, 1-7 Februari 2007, dalam acara bertajuk “Body of Work Sinematografi George Kamarullah”. Sebetulnya, dia tidak punya latar belakang pendidikan juru kamera. George muda pernah kuliah di jurusan konstruksi dan administrasi, tapi tak selesai. Dia pernah jadi asisten art and still photography , dan film pertamanya adalah Cinta Pertama (1973).
Pada 1980, George dipercaya menjadi editor dalam film Usia 18. Baru pertama kali menyunting, dia langsung menyabet Piala Citra. Nama George makin melambung sewaktu menjadi penata kamera pada film Tjoet Njak Dhien (1988). Dia menggondol Piala Citra untuk ketiga kalinya setelah Doea Tanda Mata (1985) dan Ibunda (1986). Ia juga memperoleh Golden Crown Award di Seoul lewat film Doea Tanda Mata.