Archives

  • Dewan Juri Cetak/Online

    March 26, 2008

    PROFIL JURI FINAL AAS 2008

    1. Rosihan Anwar – Jurnalistik

    Sosok pria yang lahir 74 tahun silam di Kubang Nan Dua, Sumatera Barat ini dikenal sebagai orang yang tegas dan jelas tentang sikap-sikapnya terhadap pers Indonesia. Rosihan memang selalu menjadi bagian dari sejarah pers Indonesia. Ia selalu menjadi narasumber bagi perkembangan pers Indonesia. Karenanya, sebutan sebagai ‘man of conscience and of culture’ yang diberikan oleh Jacob Oetama terasa tepat disandangnya. Selepas lulus dari pendidikan AMS di Yogyakarta, Rosihan muda menempa kemampuan jurnalistiknya dengan mengikuti berbagai workshop tentang jurnalistik baik di dalam negeri maupun di luar negeri, termasuk di Yale University dan School of Journalism di Columbia University, New York, AS. Melalui pendidikan yang diikutinya, pengalaman-pengalaman yang dilaluinya serta sikapnya yang tegas dan jelas, Rosihan besar sebagai salah satu wartawan yang disegani di dunia pers Indonesia.

    2. Effendi Gazali – Komunikasi

    Perjalanannya di dunia tulis-menulis diawalinya saat ia menjadi seorang koresponden di sebuah media olahraga. Namun begitu, ia tidak pernah menjadi wartawan tetap di sebuah media. Pengalamannya yang hanya menjadi seorang koresponden tidak membuatnya mempunyai kendala saat harus menulis di media cetak untuk bidang komunikasi. Selain menjadi pengajar di program pasca-sarjana Departemen Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia, pria yang meraih gelar doktor komunikasinya dari Cornell University New York ini juga mengajar di beberapa universitas lain serta sering menjadi pembicara dalam diskusi-diskusi komunikasi.

    3. Oscar Motulloh – Foto berita

    Berangkat dari seorang fotografer yang ‘nyeni’, Oscar Motulloh pertama kali masuk ke dunia foto jurnalis untuk meliput sesuatu yang keras, yakni olahraga. Setelah ‘kenyang merekam segala aneka momen olahraga yang dinamis, Oscar mulai memanjakan jiwa seninya. Ia mulai banyak menjelajah ke wilayah-wilayah yang jarang disentuh orang dan berbagi pesan lewat foto. Oscar yang tak banyak bicara ini ternyata sangat komunikatif lewat setiap hasil jepretan fotonya. Pria yang memilih tetap melajang di usianya yang lebih dari 40 tahun ini memiliki filosofi bahwa foto tak hanya menjadi pelengkap berita, tetapi foto itu sendiri adalah berita. Ia mendirikan Galeri Foto Jurnalistik Antara guna dapat mendidik anak-anak muda yang suka fotografi sekaligus memberi wadah bagi para fotojurnalis muda yang ingin memamerkan karya mereka.

    4. Seno Gumira Ajidarma – Seni dan Budaya

    Ia adalah antitesis dari kedua orangtuanya. Sang ayah dan ibu mendalami ilmu eksak berbeda dengan beliau yang memilih menjadi sastrawan yang sama sekali tidak ada kaitannya dengan ilmu pasti. Ternyata pepatah buah jatuh tak jauh dari pohonnya tak berlaku untuk diri Seno Gumira Adjidarma. Ia menjadi penulis karena ia begitu getol membaca, sehingga dirasanya banyak sekali kalimat-kalimat di kepalanya yang siap untuk dituangkan dalam tulisan. Baginya, kegiatan membaca adalah bagian dari pekerjaan. Semua kegiatannya, membuat ayah dari satu anak ini, sempat berhenti kuliah dan melupakan dunia pendidikan.

    Namun, kemudian tiba-tiba keinginan untuk kuliah muncul lagi dan ia kembali kuliah di IKJ untuk menyelesaikan S1-nya. Kemudian melanjutkannya S2 di Faklutas Filsafat -UI, dan S-3 di Sastra Indonesia UI. Karya-karya Seno sangat digemari dan juga telah meraih berbagai penghargaan, baik di dalam negeri maupun di luar negeri. Karena itu, pria kelahiran Boston 19 Juni tahun 1958 ini, mengatakan tak akan pernah berhenti berkarya.

    5. Sumohadi Marsis – Olah raga

    Mas Sumo, begitu orang akrab menyapanya, adalah seorang wartawan olahraga senior yang justru secara tidak sengaja berkecimpung dalam dunia olahraga. Pada awalnya Mas Sumo adalah seorang wartawan musik yang dikirim oleh kantornya untuk mengikuti sebuah pelatihan wartawan olahraga. Berawal dari situ, Sumohadi berkarya dan besar sebagai wartawan olahraga.

    Sosok ayah dari enam anak yang telah berusia 62 tahun ini menyatakan bahwa olahraga memang selalu disenanginya sejak kecil, namun musik adalah bagian dari hidupnya. Dengan pertimbangannya sendiri, ia memilih olahraga sebagai mata pencarian dan bermain musik sebagai hobi untuk mengisi jiwa. Salah satu pencapaian sekaligus pemberian terbaiknya dalam dunia olahraga adalah dengan mendirikan tabloid olahraga BOLA di tahun 1984, sebuah tabloid olahraga terbesar di Indonesia.

    Kini, meski ia telah pensiun, Mas Sumo tetap mengabdikan dirinya di bidang olahraga sebagai wakil bidang organisasi KONI (Komite Olahraga Nasional Indonesia) Pusat. Ia juga menulis buku yang berjudul ‘Enaknya Wartawan olahraga’ sebagai wujud rasa bahagianya selama menjadi wartawan olahraga.
    6. Faisal Basri – Ekonomi/bisnis

    Ayah dari sepasang anak ini ternyata tidak hanya piawai dalam menulis di kolom surat kabar, tetapi juga piawai dalam menulis puisi, terutama puisi-puisi kristis. Faisal adalah orang yang sangat sadar bahwa lewat menulis hatinya bisa sedikit lapang dengan himpitan. Karena itu, Faisal dengan leluasa dapat mengritik masalah-masalah ekonomi yang menurut kata hatinya tidak benar.
    Pria yang sehari-harinya sibuk sebagai dosen program Pasca-Sarjana Fakultas Ekonomi UI dan Rektor Universitas Perbanas di Jakarta ini menyelesaikan pendidikan sarjananya di Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia pada tahun 1985. Langsung setelahnya, ia melanjutkan pendidikannya ke Vanderbilt University di Amerika dan lulus tahun 1988.

    7. Francisia SSE Seda Ph. D. – Sosial

    Adalah seorang sosiolog Universitas Indonesia, Depok. Ia memperoleh gelar Ph.D dari University of Wisconsin, AS. Mengambil spesialisasi pada kajian perempuan, putri dari Frans Seda ini aktif dalam pelbagai penelitian maupun menulis buku dan artikel tentang perempuan di Indonesia.

    8. Indria Samego – Politik

    Pengamat politik dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) ini merupakan lulusan Fakultas Ilmu Politik Universitas Gadjah Mada dan melanjutkan pendidikannya ke Australia. Sejak 2000 ia diangkat menjadi Penasehat Ahli Kapolri hingga saat ini. Ia juga pernah menjabat sebagai Center for Information and Development Studies (CIDES).

    9. Harkristuti Harkirsnowo – Hukum

    Praktisi hukum yang sempat menjadi pengacara kondang ini sekarang menjadi birokrat dengan menjabat Direktorat Jenderal Perlindungan Hak Asasi Manusia, Departemen Hukum dan HAM. Lulusan Fakultas Hukum Universitas Indonesia tahun 1979 ini juga meraih program master dan program doktoralnya di Sam Houston State University, Huntsville Tezas Amerika Serikat.

    PROFIL JURI SEMIFINAL AAS 2008

    1. Yosep Adi Prasetyo atau (Stanley) – Jurnalistik

    Saat ini menjabat sebagai Direktur Institut Studi Arus dan Informasi (ISAI) Jakarta. Mantan wartawan ini merupakan aktivis LSM sejak mahasiswa. Stanley yang begitu mengagumi Soe Hok Gie ini, kini juga produktif menghasilkan banyak buku.

    2. Ade Armando – Komunikasi

    Adalah seoraang dosen FISIP Universitas Indonesia sekaligus pengamat media. Ade sebelumnya adalah anggota Komisi Penyiaran Indonesia. Ia mengenyam pendidikan pasca sarjana studi kependudukan di Florida State University, AS.

    3. Firman Ichsan – foto berita

    Dikenal sebagai fotografer model di masanya dulu. Kini, ia lebih banyak menekuni diri untuk mengamati foto dibanding mengambil foto itu sendiri. Ia sering menjadi juri foto untuk lomba-lomba foto baik di Indonesia maupun di luar negeri. Terkahir, ia menjadi juri foto di Belanda.

    4. Veven SP Wardhana – Seni dan Budaya
    Sambil berkarya, ia masih terus menjadi wartawan di sederet media di Jakarta yang menyangkut hiburan dan budaya sampai kemudian ia aktif di beberapa LSM, termasuk Pantau dan ISAI, setelah terakhir kali ia menjadi redaktur situs Gramedia-Majalah di tahun 2003. Pria beranak tiga ini, akhirnya kini menjadi Senior Adviser untuk bidang pendidikan, informasi, dan komunikasi Good Governance in Population Administration sebuah LSM Jerman.

    5. TD Asmadi – Olah raga

    Dalam karier sebagai jurnalis, ia pernah diminta untuk membidani surat kabar-surat kabar daerah (Persda) milik PT Gramedia, kemudian ia juga sempat singgah ke Tabloid BOLA, sebelum akhirnya kembali menjadi redaktur olahraga Harian Kompas hingga pensiun. Lewat kebugarannya, Kang TDA yang asli Cirebon ini, tak bisa diam setelah pensiun. Ia bergabung ke LPDS dan memberi pelatihan-pelatihan jurnalistik di beberapa universitas di daerah-daerah.

    6. Mohammad Ikhsan – Ekonomi dan Bisnis

    Pada tahun 1988, lulusan Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia ini melanjutkan pendidikan S2 jurusan ekonomi moneter dan ekonomi internasional di Vanderbilt University, AS pada tahun 1991, serta pendidikan doktoral
    di Fakultas Ekonomi University of Illinois, AS pada 1998.
    Ia mengawali karir sebagai pengajar di Fakultas ekonomi Universitas Indonesia pada 1987. Sejak Desember 2001, ia mendapat tugas tambahan di almamaternya tersebut sebagai ketua Lembaga Pengembangan Ekonomi dan Masyarakat (LPEM) FEUI. Mohamad Ikhsan saat ini juga menjadi staf ahli Menko Perekonomian RI.

    7. Debra Yatim – Sosial

    Aktivis yang mengenyam pendidikan jurnalistik di Melbourne ini, sebelumnya memang dikenal sebagai aktivis Koalisi Perempaun, Jurnal Perempuan dan Perempuan Peka, terakhir ia juga mendirikan Visi Anak Bangsa. Gerakannya yang mengagumkan adalah ketika tragedi tsunami terjadi, ia langsung meluncurkan media berbahasa setempat yang khusus memberi informasi tentang Aceh dan masyarakat di sana. Debra memang sangat peka, akan apa yang harus dilakukannya. Sebagai jurnalis, sebelum belajar sekaligus menjadi jurnalis di Australia (salah satunya sebagai penyiar ABC), ia juga pernah menjadi wartawan di Majalah Eksekutif. Sekembalinya ke Indonesia ia menjadi wartawan di beberapa media di antaranya The Jakarta Pos dan Media Indonesia.

    8. Rocky Gerung – Politik
    Saat ini menjadi pengajar filsafat di Universitas Indonesia dan aktif di Perhimpunan Indonesia Baru. Pria berusia 47 tahun ini sudah aktif dalam kegiatan politik sejak mahasiswa. Ia merupakan alumnus IMADA, Ikatan Mahasiswa Djakarta, sebuah organisasi mahasiswa beraliran sosialis demokrat dan didirikan pada tahun 1955.

    9. Adrianus Meliala – Hukum

    Pria berusia 40 tahun ini dikenal sangat kritis, apalagi pergaulannya sehari-hari sebagai pengajar Program Pascasarjana Kajian Ilmu Kepolisian Universitas Indonesia telah membuatnya selalu bergaul soal kejahatan dan kepolisian. Berangkat dari pengalamannya di suratkabar kampus, saat kuliah pun ia magang di Majalah Berita Editor sejak tahun 1987 sampai 1991. Karenanya, dunia tulis menulis sudah tak asing lagi bagi lulusan UI tahun 1990 ini.

Comments are closed.