Archives
-
Gelar Kedua Banjarbaru – Bastian Alkaf, Mata Banua
March 17, 2008
Pemenang kategori hardnews bidang Olahraga
RANTAU-Predikat sebagai basis petinju Kalimantan Selatan, kembali dibuktikan Banjarbaru di Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) VII. Mereka sukses mengumpulkan empat mendali emas dari sebelas nomor yang dipertandingkan, menuai tiga perak dan satu perunggu.
Tapin pun memboyong empat emas. Namun, tuan rumah kalah dalam perbendaharaan perak dan perunggu sehingga harus puas sebagai runner up. Prestasi Banjarbaru sendiri merupakan kali kedua berhasil mereka rengkuh, setelah meraih gelar serupa di Porda VI 2002. Kala itu, mereka mmemboyong lima emas.
Di partai final yang berlangsung di Alun-Alun Basimban, Selasa (25/7) malam, pintu emas Banjarbaru dibuka Raflin T di kelas 45 kilogram. Ia menang angka atas Asad Adha dari Banjarmasin.
Emas berikutnya disumbangkan Firmansyah dari kelas 60 kilogram. Ditonton sang ibu dari bawah ring, ia menang angka dengan meyakinkan atas petinju Banjarmasin, Rahmatullah.
Di kelas 69 kilogram, giliran Suratman yang menyumbangkan emas untuk Banjarbaru. Petinju yang sempat diragukan kemampuannya ini seakan ingin membuktikan ia belum habis di atas ring. Ia hanya membutuhkan tiga ronde untuk menang KO atas Fauzi Risman dari Banjarmasin.
Satu emas Banjarbaru direngkuh Simon T di kelas 75 kilogram tanpa harus melancarkan pukulan sedikit pun. Ia menang unfight atas petinju Hulu Sungai Selatan, Mus Mulyadi.
Seperti telah diberitakan, Mus Mulyadi menderita cedera leher usai melakoni pertarungan semifinal melawan petinju Kotabaru, Yurianto. Ia dinyatakan menang diskualifikasi, namun tidak memiliki kesempatan untuk mendapat emas. Petinju yang berdomisili di Padang Batung Kandangan tersebut divonis absen bertinju selama kurang lebih tiga bulan.
Seharusnya, Banjarbaru bisa menambah satu lagi melalui Teguh Budi Susanto yang bertarung di kelas 81 kilogram saat bertemu petinju Tapin, Untung. Sejak bel ronde pertama dibunyikan, Teguh yang unggul postur terus merangsek sang lawan hingga beberapa kali tersudut ke pojok ring.
Di 1 menit 56,09 detik ronde pertama berjalan, Teguh terlihat memukul bagian kepala belakang Untung di sudut merah hingga terjatuh dan tidak sadarkan diri. Seketika petugas medis menyeruak ke atas ring dan memberikan pertolongan pertama. Beberapa saat kemudian, Untung digotong ke Rumah Sakit Datu Sanggul Tapin.
Pasca kejadian tersebut, ratusan penonton koor berteriak agar petinju tuan rumah dimenangkan, karena mereka menganggap Teguh telah bertindak di luar prosedur pertarungan. Benar saja, semua hakim juri menyatakan Untung menang dengan diskualifikasi.
Usai keputusan tersebut, Teguh Budi terlihat sangat kesal. Ia sempat membuang pelindung gigi ke luar ring. Mata petinju yang menyumbang satu emas di Porda VI ini terlihat memerah. Kendati berusaha dihibur rekan-rekannya, ia tetap saja tidak mampu menghilangkan rasa kesal.
“Saya merasa ditipu dengan keputusan tersebut. Ketika wasit memperingatkan saya agar menghindari memukul kepala bagian belakang, baru Untung terjatuh dan berguling-guling kesakitan. Jadi, kesakitan itu serasa sebuah rekayasa dan berada di atas angin dengan berpura-pura kesakitan,” ungkap Teguh.
Kekesalan pria kelahiran 3 Desember 1982 ini masih terlihat menjelang pengalungan medali. Ia tampak sesekali memukul dan menendang pojok ring dan tidak memperlihatkan rasa puas dengan medali perak di tangan.