Nelayan Takut Melaut - Henny Primasari, Berita Pagi

1st - Henny Primasari

Pemenang kategori hardnews bidang Sosial

Tingginya gulungan ombak di perairan Sumsel dalam seminggu terakhir, membuat sebagian nelayan takut melaut. Akibatnya, produksi ikan nelayan menyusut. Seharinya, diperkirakan, tiap satu kapal rugi senilai Rp500 ribu.

Badan Meteorologi dan Geofisika (BMG) Stasiun Klimatologi Kenten, Palembang terus mengimbau pengguna sarana tranportasi laut agar tetap berhati-hati, karena imbas Badai Sepat yang terjadi di timurlaut Pasifik belum sepenuhnya hilang.

Pemantauan wartawan dan juga laporan BMG, ketinggian ombak di perairan Sungai Musi menunjukkan kecenderungan meningkat. Dari semula 2 meter sekitar seminggu yang lalu, ketinggian ombak mulai awal pekan ini bisa mencapai 3 meter.

Pemilik Kapal Nelayan Reja, Warsimin (30) yang ditemui di lokasi galangan kapalnya, Jalan KH Azhari, Kelurahan 11 Ulu, Kecamatan Seberang Ulu II, Senin (20/8), mengeluhkan terjadinya gulungan ombak besar ini. Ia, katanya, pernah menghadapi ombak setinggi 3 meter.

Dalam seminggu terakhir setidaknya ada lima wilayah perairan di Sumsel yang masuk dalam kategori mengkhawatirkan, karena ketinggian ombaknya mencapai 2 hingga 3 meter.

Kelima wilayah itu meliputi Sungsang dan Muarasujian Kabupaten Banyuasin, Sungai Sembilang Kabupaten Musi Banyuasin, Masparai dan Sungai Lumpur Kabupaten Ogan Ilir. Di lima wilayah itu aktivitas penangkapan ikan oleh nelayan diketahui menurun.

“Daerah Masparai dan Sungai Lumpur yang masuk dalam Kabupaten Ogan Ilir merupakan wilayah perairan yang paling kami takuti, karena ketinggian ombaknya mencapai 3 meter, sedangkan ombak di daerah lainnya tak lebih dari 2 meter,” kata Darsa, salah seorang nelayan di Ogan Ilir.

Akibat tingginya gulungan ombak yang kerap muncul dalam tiga hari terakhir, Warsimin mengaku, para nelayan yang menjalankan lima kapal miliknya terpaksa melempar jangkar (berlabuh) di daerah pinggiran sungai. “Kalau tidak bias mati konyol. Memasang jaring juga tidak ada hasilnya karena kondisi jaring membelit, akibat diputar ombak,” ujar pria yang sudah 13 tahun menggeluti pekerjaan menjaring ikan ini.

Tak ayal, akibat dua hari berlabuh jangkar, kerugian beruntun dialami para nelayan. Darsa dan Warsimin mengaku kerugian bisa mencapai Rp500 ribu per kapal dalam satu harinya, dengan taksiran per kapal mendapatkan satu kuintal ikan. “Bila ditaksir satu kapal mendapat satu kuintal ikan, maka pemasukan bisa mencapai Rp1 juta, dipotong biaya solar dan makan lima awak kapal sekitar Rp500 ribu. Berarti satu kapal mengalami kerugian hingga Rp500 ribu,” ucap Darsa.

Menyikapi kondisi cuaca yang selalu mengalami perubahan saat ini, para nelayan meminta kepada BMG agar memberikan informasi langsung kepada mereka. Darsa mengaku kesulitan mendapatkan informasi cuaca ini. Selama ini pihaknya hanya mengandalkan komunikasi langsung dari awak kapal yang ada di laut melalui radio monitor.

“Kalau bisa chanel BMG itu masuk ke SBB (radio monitor-red) kami. Agar bisa diperoleh informasi yang akurat,” katanya.

Hampir senada, Haji Aris (45), salah seorang sopir speedboat jurusan Banyuasin-Mentok mengakui adanya kenaikan ombak yang terjadi sejak beberapa hari terakhir ini. Tetapi, katanya, ombak tersebut tidak terjadi setiap hari dan ketinggiannya hanya mencapai 1,5 meter. Ombak tersebut juga belum mengganggu aktivitas transportasi di Sungai Musi sehingga pelayaran masih berjalan dengan normal.

“Ombak tinggi hanya sekitar dua hari sekali. Tingginya juga hanya 1,5 meter. Saya juga belum menemui kendala yang berarti karena kenaikan ombak tersebut,” ujar Haji Aris.

Hal yang berbeda dikatakan Camat Sungsang Banyuasin II, Kabupaten Banyuasin Drs Mulyadi. Menurutny,a ombak di daerah Sungsang masih normal seperti sebelumnya dan belum terjadi adanya ombak tinggi seperti yang diberitakan. Bahkan dikatakan Mulyadi, saat ini ketinggian ombak di perairan Sungsang hanya sekitar 0,5 meter saja. Selain itu, para sopir speedboat maupun nelayan belum ada yang mengeluhkan tingginya ombak ini.

“Ombak saat ini masih normal hanya sekitar 0,5 meter saja. Sama sekali tidak ada ombak besar seperti yang diberitakan. Para sopir speedboat dan nelayan juga masih melakukan aktivitasnya seperti biasa,” ungkap Mulyadi.

Sementara itu, ancaman angin akibat Badai Sepat ini tidak membuat kapal cepat tujuan Palembang-Batam, Palembang-Bangka, atau Palembang-Tanjung Pandan Belitung berhenti beroperasi. Kapal-kapal tersebut bahkan menyiapkan armada tambahan, sebagai antisipasi melonjaknya penumpang saat Lebaran nanti.

Pemantauan di Pelabuhan Boom Baru 3 Ilir, kemarin, aktivitas pelayaran berlangsung normal. Hanya Kapal Ekspress Bahari 5B yang tidak beroperasi, karena masih dalam perawatan (dock di 8 Ilir), sejak 15 hari lalu.

Terkait dengan ketinggian ombak yang sudah mencapai lebih dari 2 meter, Rudi, salah satu karyawan Expres Bahari mengatakan, sampai saat ini pihaknya belum mengambil langkah apa pun. Pasalnya belum ada pemberitahuan apa pun sehubungan dengan cuaca, termasuk ancaman badai, baik dari Badan Meteorologi maupun Kantor Pusat Ekspress Bahari. “Kalau memang ada pemberitahuan dan Adpel mewajibkan kapal tidak beroperasi, kami siap mematuhi, tapi sampai saat ini belum ada,” ucapnya.

Senada dengan Kepala Operasional PT Barelang Surya Gemilang Basuki. Ia mengatakan, sampai saat ini belum ada imbauan dari Syahbandar terkait dengan tingginya ombak dan kencangnya angin. “Kalau ke Batam memang lewat laut lepas, tapi melalui pulau-pulau kecil, sehingga diperkirakan kalau datang ombak atau angin kencang kapal kami bisa berlindung,” ucapnya.

Terhadap kondisi cuaca yang masih tak bersahabat ini, BMG Stasiun Klimatologi Kenten, Palembang melalui Kepala Seksi Data dan Informasi Ir Ishak Jauhari, tetap meminta masyarakat, terutama pengguna transportasi laut berhati-hati, pasalnya Badai Sepat yang terjadi belum sepenuhnya hilang. “Badai Sepat yang terjadi kemarin masih ada, tentu kalau masih ada imbasnya ke wilayah kita masih cukup besar. Karena itu kami imbau kepada masyarakat tetap berhati-hati,” ucap Ishak.

Ishak memaparkan, embusan angin imbas Badai Sepat terus terpantau melalui data pantau BMG, Stasiun Klimatologi Kenten, Palembang terus berfluktuasi dan mengalami peningkatan jauh dari kecepatan angin normal antara 2 hingga 4 knot. “Dalam data jelas menyatakan, bahwa kondisi angin dalam tiga hari terakhir sangat kencang dan puncaknya terjadi pada 16 Agustus lalu dengan kecepatan angin menembus 18 knot. Kondisi terjadinya badai ini diperkirakan hingga tiga hari kedepan, karena itu kami minta kepada pengguna sarana tranportasi laut tetap berhati-hati karena kecepatan data kecepatan angin yang kami dapatkan itu merupakan nilai di darat yang memiliki banyak hambatan, kalau di laut berarti bisa lebih dari angka itu,” tegasnya.

Menyangkut permintaan chanel BMG ke radio panggil nelayan, Ishak menyarankan agar para nelayan segera mengusulkan kepada bagian navigasi laut, Dinas Perhubungan.

Sementara itu, Said Albar, Kasubdin Hubla ASDP dan KA Dishub Palembang mengatakan, pihaknya belum menerima laporan dari nakhoda terhadap kondisi cuaca di laut. Hingga Senin (20/8), pelayaran masih berjalan normal. Aspek keselamatan pelayaran menurutnya, ditangani oleh Administratur Pelabuhan (Adpel) Palembang.

“Belum ada pemberitahuan dari syahbandar terkait dengan kondisi cuaca yang terjadi. Bila pihak Adpel sudah memberikan pemberitahuan untuk menunda pemberangkatan kapal, maka akan segera kita tindaklanjuti,” ujarnya.

Sementara Kepala Adpel Palembang M Effendi Syarief mengatakan, Adpel telah berkali-kali memberikan maklumat kepada nahkoda kapal agar lebih berhati-hati menghadapi situasi cuaca yang berubah-ubah ini. Selain kepada perusahaan, maklumat juga diberikan kepada asosiasi perusahaan pelayaran. Maklumat terakhir diberikan pada 5 Juli 2008, isinya agar para nahkoda meningkatkan keselamatan pelayaran sehubungan dengan kondisi cuaca yang selalu berubah.

Dalam maklumat tersebut, diinstruksikan agar para nakhoda terus memperhatikan berita cuaca dari BMG, sebelum melakukan pelayaran. Mereka juga harus memperhatikan penyusunan muatan dan pengikatan kurbuk lashing kurtup, serta memperhatikan stabilitas kapal. Adpel juga menginstruksikan kepada kapal yang memuat penumpang, untuk tidak melebihi kapasitas yang diizinkan.

“Instruksi itu sudah jelas, nahkoda harus memperhatikan berita cuaca. Nakhoda bertanggungjawab penuh atas keselamatan kapal, adalah keputusannya untuk tidak berlayar saat kondisi cuaca tidak memungkinkan,” ujarnya.

Syahnan, Kabid Umum Adpel menambahkan, peringatan langsung diberikan terus menerus. Selain itu informasi cuaca dari BMG terus diberikan kepada perusahaan pelayaran dan navigasi serta seluruh stakeholder pelayaran.

“Mereka harus proaktif dan terus memantau perubahan cuaca. Keselamatan pelayaran merupakan suatu kebutuhan, sehingga sudah sewajarnya mereka aktif menjaga keselamatan pelayaran, tidak mesti harus menunggu maklumat dari Adpel untuk waspada,” ujar Syahnan.

Leave a Reply

[back to top]