dsc_1191.jpg
dsc_1341.jpg
dsc_1287.jpg
dsc_1274.jpg
img_1479.jpg
img_1543.jpg
img_9312.jpg
img_9308.jpg
img_9281.jpg
img_9280.jpg
img_9252.jpg
img_9239.jpg
img_9236.jpg
img_9225.jpg
2.jpg
1.jpg
img_9312.jpg
img_9312_0.jpg
dsc_1134.jpg
dsc_1123.jpg
dsc_1192.jpg
dsc_1189.jpg
dsc_1236.jpg
dsc_1211.jpg
dsc_1269.jpg
dsc_1266.jpg
dsc_1245.jpg
dsc_1280.jpg
dsc_1274.jpg
dsc_1299.jpg
dsc_1289.jpg
dsc_1319.jpg
dsc_1314.jpg
dsc_1353.jpg
dsc_1340.jpg
dsc_1335.jpg
dsc_0979.jpg
picture-7.png
 
 
Info

Panitia Penyelenggara AAS 2009 dapat dihubungi melalui telepon 021-72789833 atau melalui email di aas@maverick.co.id

KomunitasSudah jadi anggota?
Login
Login dengan Facebook:
Pengunjung terakhir
Powered by Sociable!

Berlangganan info AAS

Ketik alamat email Anda:

Delivered by FeedBurner

Shout!



Cipoa, Rekreasi Garing - Bambang Sulistyo, Gatra 11/03/08

1st-Bambang Sulistyo

Pemenang kategori hardnews bidang Seni dan Budaya

Teater Mandiri semakin larut dengan praktik-praktik verbal. Lelaki pekerja berambut panjang itu berteriak lantang: ”Pengkhianat itu adalah orang-orang yang suka menimbun-nimbun harta, sementara rakyat-rakyat yang lain merayap dan melata! Pengkhianat itu adalah makelar yang memonopoli, sementara rakyat berbondong-bondong membangun negara!” Kemudian situasi chaos.

Bahasa pamflet yang padat muatan kritik sosial itu tidak dilontarkan seorang demonstran sungguhan. Melainkan pernyataan hasil perancangan dialog yang dikemukakan seorang aktor dalam lakon Cipoa. Teater Mandiri menyajikan ‘’sekeranjang penuh” komentar sosial dalam pertunjukan mereka selama dua hari (22-23 Juni) di Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki, Jakarta.

Cipoa dibuka dengan narasi panjang tentang aksi segerombolan manusia Indonesia menipu Semar (Putu Wijaya), guna meraih sertifikat legal sebagai raksasa yang rakus dan ”haus darah”. Dampak tertipunya Semar diilustrasikan lewat kisah tentang seorang juragan sebuah tambang emas milik kerajaan (Putu Wijaya) yang licik dan doyan menipu para pekerja penggali tambang yang semula lugu.

Suatu ketika, tatkala para penambang pulang untuk beristirahat, sang juragan menemukan bongkahan emas segede gajah. Karena serakah, juragan –salah seorang dari kumpulan manusia yang sudah mendapat sertifikat raksasa dari Semar– itu ingin menguasai harta karun tanpa berbagi.

Dengan bantuan istri (Fien Herman) dan tangan kanannya (Alung Seroja), Juragan memanipulasi kejujuran Mandor Gembrot (Yanto Kribo) untuk menipu para pekerja tambang yang siang-malam banting tulang. ”Ini (bongkahan emas) bukan harta karun yang kita cari-cari itu. Ini adalah harta karun yang baru kita temukan. Jadi, harta karun yang kita cari itu belum ketemu,” kata Juragan mengelabui Mandor dengan mengotak-atik logika kalimat.

Sadar sudah kena tipu jurangannya, para pekerja tambang, yang –secara tidak dinyana– juga berhasil menemukan bongkahan emas segede gajah, berusaha ”menipu” balik juragannya dengan mengatakan bahwa yang mereka temukan adalah batu. Alhasil, Juragan tetap menjual bongkahan itu ke pembeli asing (Arswendi Nasution) yang sama; dengan harga sebongkah batu!

Upaya sutradara dan penulis kawakan, I Gusti Ngurah Putu Wijaya, membawa awak Teater Mandiri berekreasi terus berlanjut. Stempel ”teror mental” lewat praktik teater fisik yang sarat simbol, bertegangan tinggi dan chaos, kian sulit dikenali dalam lakon-lakon terakhir Mandiri.

Sebagai gantinya, Mandiri membawa praktik lisan yang mudah didengar, strategi blocking yang tidak bikin kening berkerut, tata cahaya yang ramah dipandang mata, serta penataan musik yang tidak lari ke mana-mana. Tapi, anehnya, semakin besar porsi perubahan itu dikemas dalam sebuah lakon, semakin terasa panggung Teater Mandiri kehilangan geregetnya.

Salah satu penyebab merosotnya unsur tantangan dalam menyimak modus verbal Teater Mandiri dalam Cipoa: Putu terlalu murah hati mengasingkan skena-skena teatrikal demi melahirkan peristiwa panggung yang maunya mudah bikin penonton tertawa.

Intensi komedi dalam Cipoa sudah ditegaskan Putu di awal pertunjukan. ”Penonton dilarang tidak tertawa,” kata sutradara berusia 63 tahun itu setelah memperbolehkan penonton menyalakan telepon genggam dan memotret dengan menggunakan lampu kilat selama pertunjukan berlangsung.

Tapi suguhan kelucuan yang ditawarkan sebagian besar diproduksi lewat adegan yang memuat gestur, blocking, dan lisan yang berbau klise (tidak jarang malah terjebak slapstick) serta lontaran celetukan yang sudah lazim didengar masyarakat sehingga tidak lagi terasa segar.

”Cari titik lampu,” kata Juragan, sembari mendorong lawan dialognya untuk bergerak ke bidang panggung yang diterangi cahaya. Dengan itu, Putu mengasingkan sejenak karakternya sebagai Juragan dan sengaja berperan sebagai sutradara yang mengarahkan blocking aktornya.

Meski bukan strategi pemancing tawa yang baru dalam teater, sesekali model pengasingan itu bolehlah; untuk memberi kesan adegan yang rekreatif. Masalahnya, dalam Cipoa, strategi itu seringkali berulang. Misalnya pada penjelasan para aktor tentang double casting, double honor. Atau ketika Rieke Dyah Pitaloka –secara sengaja– mengubah-ubah posisi pingsannya.

Atau pada saat Putu –lagi-lagi– keluar dari karakter Juragan dan memerintahkan para musisi mengulang musik pengiring masuknya Arswendi. ”Musiknya bagus sekali, ulangi!” serunya sengaja bergaya sutradara. Yang tersisa dari pengulangan itu tinggal kelucuan yang terasa canggung dan –meminjam istilah anak kampung sebelah– garing.

Padahal, reputasi Putu Wijaya sebagai penulis, produsen kata-kata yang lihai mengotak-atik logika kalimat, yang cekatan membimbing imajinasi publik lewat praktik personifikasi dan asosiasi, mestinya jadi semacam jaminan bagi hadirnya humor-humor yang lebih cerdas dan berselera dalam lakon-lakon verbal Teater Mandiri.

Beberapa di antaranya memang terekam dalam Cipoa. Misalnya dalam dialog mengelabui seputar perbedaan persepsi –yang tidak seharusnya– antara bongkahan emas ”yang baru ditemukan” dan ”yang sedang dicari”. Atau komentar Semar tentang sosok berkepala botak yang mengaku keturunan raksasa. ”Ini sudah habis atau belum tumbuh,” kata Putu, sembari mengotak-atik kepala yang bersangkutan.

Ada juga jargon menggelitik, ”Berbohong adalah siasat pembangunan, persatuan, dan kesatuan.” Atau paradoks dalam kalimat si Mandor Gembrot, ”Sekarang aku mengerti bahwa aku tidak mengerti.” Dan lumayan kocak; cara Putu mengasosiasikan bentuk fisik cambuk –antara lain– dengan bulu tubuh raksasa dan kemaluan pria.

Sayang, model humor yang cenderung cerdas dan atau simbolik itu dalam Cipoa seperti tenggelam di antara dominasi humor yang garing. Ditambah lagi, ”prosedur lazim” Teater Mandiri dalam menggarap adegan dan dialog berdasarkan kematangan improvisasi, yang jika tanpa diimbangi disiplin berakting dan kontrol yang ketat dari sutradara, berpotensi melahirkan praktik verbal berlebihan dan memuaikan durasi tontonan.

Barangkali, lewat Cipoa, Putu Wijaya dan segenap awak Teater Mandiri memang sedang ingin bergembira, berseloroh, bermain-main dengan tema-tema aktual sembari tetap mempertahankan kegigihan menyuarakan kritik sosial –tanpa peduli seklise apa pun muatannya.

Namun adalah hal yang wajar pula jika ada di antara penonton lakon-lakon Teater Mandiri berharap kiprah rekreatif Putu Wijaya dan kawan-kawan dalam mengusung teater verbal setara dengan pencapaian mereka ketika melakoni teater fisik; teror mental yang multitafsir itu.