dsc_1191.jpg
dsc_1341.jpg
dsc_1287.jpg
dsc_1274.jpg
img_1479.jpg
img_1543.jpg
img_9312.jpg
img_9308.jpg
img_9281.jpg
img_9280.jpg
img_9252.jpg
img_9239.jpg
img_9236.jpg
img_9225.jpg
2.jpg
1.jpg
img_9312.jpg
img_9312_0.jpg
dsc_1134.jpg
dsc_1123.jpg
dsc_1192.jpg
dsc_1189.jpg
dsc_1236.jpg
dsc_1211.jpg
dsc_1269.jpg
dsc_1266.jpg
dsc_1245.jpg
dsc_1280.jpg
dsc_1274.jpg
dsc_1299.jpg
dsc_1289.jpg
dsc_1319.jpg
dsc_1314.jpg
dsc_1353.jpg
dsc_1340.jpg
dsc_1335.jpg
dsc_0979.jpg
picture-7.png
 
 
Info

Panitia Penyelenggara AAS 2009 dapat dihubungi melalui telepon 021-72789833 atau melalui email di aas@maverick.co.id

KomunitasSudah jadi anggota?
Login
Login dengan Facebook:
Pengunjung terakhir
Powered by Sociable!

Berlangganan info AAS

Ketik alamat email Anda:

Delivered by FeedBurner

Shout!



Angie, Antara Masa Lalu dan Masa Depan - Tjahjo Sasongko, Kompas Cyber Media 11/03/08

1st&2nd-Tjahjo Sasongko

Pemenang 2 kategori hardnews bidang Olahraga

 

Nusa Dua - Mantan petenis utama Indonesia, Angelique Widjaja belum memutuskan apakah akan kembali bermain sebagai petenis profesional.

Hal ini diungkapkan Angie saat mengisi acara coaching clinic dalam rangkaian acara turnamen Commonwealth Bank Tennis Classic di Nusa Dua, Bali, Kamis (13/9).

“Saya sekarang sedang mempersiapkan diri untuk SEA Games 2007 mendatang. Itu pun hanya untuk bermain ganda. Setelah itu baru kita lihat apa akan terus bermain,” kata Angie.

Angie absen dari turnamen resmi sejak Januari lalu setelah mengalami cedera berkepanjangan. Ia baru berlatih dua pekan terakhir dan ikut dalam nomor ganda Commonwealth bank Classic bersama Wynne Prakusya dengan status mendapat wild card. Pasangan yang sudah lama tidak berlatih bersama ini tersingkir di babak pertama setelah dikalahkan pasangan China, Ji Chunmei/Shun Shengnan 2-6 6-2 7-10.

“Ini semacam penjajakan saja buat kami. Kalau saya sendiri bola-bolanya sudah dapat, tetapi soal fisik dan penguasaan lapangan memang masih butuh waktu,” kata Angie.

Angie mengaku belum memeutuskan apakah ia akan kembali aktif melakukan tur sebagai pemain profesional usai SEA Games mendatang. “Saya tidak ingin melakukan keputusan secara terburu-buru. Memang banyak yang menyayangkan kalau saya mundur saat usia masih muda seperti ini. Tapi saya tidak ingin mengmabil keputusan, kemudian tidak siap dengan konsekuensinya.”

Namun Angie sendiri tampaknya sudah punya alternatif dunia ynag akan ditekuninya bila tidak lagi menjadi pemain. “Saya tidak tahu, tetapi saat ini saya belajar bisnis dengan membantu papa di bidang perhotelan,” katanya.

Dukungan keluarga
Bagi petenis asal Bandung ini, turnamen tenis di Bali selalu mempunyai tempat istimewa. Nama Angie masuk dalam rekor yang dicatat WTA sebagai petenis dengan peringjkat terendah (579) yang menjadi juara di Bali pada 2001, saat masih bernama Wismilak International.

Karena itulah, meski telah tersingkir di Commonwealth Bank Tennis Classic, Angie masih menyempatkan diri mengisi acara coaching clinic. Ia mau membagi ilmu, terutama bagi anak-anak di bawah usia sepuluh tahun.

Dengan tekun, bersama mantan juara dunia ganda putera, Todd Woodbridge, ia membimbing para pemain muda asal Bali atau putra-putri ekspatriat yang tinggal di Bali, untuk melakukan pukulan dan stroke yang benar.

“Bagi saya, sangat menyenangkan melihat anak-anak ini menyukai tenis. Karena saya selalu mempunyai kenangan manis tentang bagaimana saya mulai belajar tenis,” katanya.

Angie mulai mengenal tenis pada usia dini, 4 tahun. Awalnya ia selalu megganggu kakak-kakanya setiapkali menunggui mereka berlatih tenis di Bandung. Oleh ibunya, ia kemudian diikutkan sekolah tenis FIKS di Bandung.

“Dasarnya saya memang suka olahraga ini. Apalagi kemudian progres saya cukup cepat. Saya kerap loncat kelas di FIKS sehingga satu angkatan dengan pemain-pemain yang lebih tua,” kata Angie. “Kadangkala saya dapat jadwal latihan jam tujuh malam, tapi sudah datang jam satu siang. Kalau pemain yang berlatih istirahat lima menit, saya minta ijin menggunakan lapangan untuk bermain,” katanya.

Angie mengaku keberhasilan seorang petenis memang harus didukung oleh keluarga. “Keluargalah yang mendorong saya mulai berlatih dan kemudian belajar mengatasi pressure saat bertanding. Ini terbawa sampai saya kemudian memutuskan menjadi pemain pro dan melakukan tur,” katanya. “Kalau anak-anak yang belajar tenis ingin berhasil menjadi pemain, dukungan keluarga tentulah menjadi yang utama.”