Sang Bohemian - Titik Qomariyah, Surabaya Post

2nd -Titik Qomariyah

Pemenang 2 kategori feature bidang Hukum

Pekan kemarin, penyanyi legendaris Surabaya, Gombloh, serasa hidup kembali.

Untuk kesekian kalinya, spiritnya kembali dibangkitkan melalui momen Surabaya Full Music yang berlangsung di Gedung Cak Durasim. Gombloh (bersama Leo Kristi) memang bukan hanya ikon musik rakyat (balada) yang dimiliki Surabaya, tapi juga Indonesia. Banyak sekali yang bisa dikenang dari seorang Gombloh, mulai karakter pribadinya yang unik (dan bohemian), musikalitasnya yang membahana, sampai “menyerahnya” dia kepada komersialisasi industri musik. Kini, semua orang mengenal Gombloh melalui lagu-lagunya

yang “klasik” dan “abadi” seperti Kebyar-Kebyar, Hong Wilaheng, atau lagu-lagunya yang “komersial” dan “instan” seperti Kugadaikan Cintamu atau Apel. Seperti apa karakter atau spirit Gombloh yang membuatnya terus dikenang?

Pagi hari, 12 Juli 1948. Keluarga besar Slamet yang tinggal di sebuah desa di Jombang ribut. Di kandang belakang rumah, yang beratap ilalang, bertanah becek dan bau kotoran menyengat, keluarga ini sibuk menimang-nimang, mengelus kepala dan punggung seekor binatang berkaki empat yang akan disembelih untuk pesta hajatan keluarga. Sapi itu bernama Gombloh, yang sebenarnaya merupakan binatang kesayangan keluarga. Kebutuhan menggelar pesta membuat keluarga Slamet terpaksa menyembelih Gombloh.

“Gombloh kate dibeleh, Gombloh kate dibeleh, he sa’aken rek Gombloh kate dibeleh,” begitu orang-orang mengelus pangkal lehernya dan berucap berulang-ulang.

Pada saat yang sama, di salah satu bilik rumah keluarga Slamet, seorang perempuan sedang bertaruh untuk melahirkan anaknya. Dia adalah Fatukah, ibu jabang bayi yang kemudian juga diberi nama Sudjarwoto Sumarsono. Tetapi keluarganya lebih suka memanggilnya dengan Gombloh, sebagai kenangan atas sapi kesayangan keluarga yang terpaksa dikorbankan. Sampai remaja hingga dewasa, nama Gombloh ternyata lebih dikenal ketimbang nama aslinya. Gombloh sendiri lebih nyaman menggunakan nama bakas sapi kesayangan keluarganya itu.

“Saya tidak ingat waktu itu ada hajatan apa, yang saya ingat semua orang bahagia tertawa-tawa. Saat itulah adik saya dilahirkan,” kata Siti Ahlifa, kakak kedua Gombloh yang kini tinggal di Jl. Kamboja.

Saat dijumpai, Siti mengenang adiknya sembari duduk di atas kursi panjang yang busanya sudah tidak utuh lagi. Dia terlihat bangga bangga menceritakan masa lalu adiknya yang cerdas. Nilainya selalu bagus dan mendapat ranking kelas. “SMA-nya saja di SMAN 5, kuliahnya di Arsitektur ITS. Sayang tidak sampai sarjana, karena pada semester delapan dia meninggalkan bangku kuliah, memilih hidup di jalan, ngamen sebagai musisi bersama gitarnya,” kenang Siti.

Tentu orangtuanya marah bukan kepalang. Dosen-dosennya di ITS juga berkali-kali membujuk Gombloh agar kuliahnya yang tinggal dua semester diselesaikan. Tetapi anjuran itu hanya melintas di kepalanya saja. “Saya ingat bapak memintanya sekolah, tapi adik saya tidak mau, dia memilih jadi penyanyi. Dulu kalau latihan sampai sembunyi-sembunyi karena bapak nggak setuju dia jadi musisi,” kenangnya.

Sejumlah doosennya pun siap memberi dispensasi dan mengizinkan Gombloh mengikuti ujian, meski absennya kelewat batas maksimal. Maklum, Gombloh dikenal suka membolos sampai berminggu-minggu.

“Waktu itu dosennya bilang, sudalah Mbloh, mlebuo kuliah. Ikut ujian gak usah mikir absen, nanti saya yang tanggung jawab. Saya berani memberi jaminan karena kamu pintar. Kalau selain kamu saya tidak akan memberi jaminan. Tapi adik saya tetap nggak mau, dia itu keras kalau punya mau,” cerita Siti.

Keluarganya pun menyerah dan membiarkan Gombloh berkelana, tidur di bedeng, emperan Bengkel Muda Surabaya (sekarang Bioskop Mitra 21). Melihat kelakuannya. keluarganya sempat memintanya pulang, tetapi Gombloh menolak dan tetap tinggal di sana bersama rekan-rekannya. Laki-laki ini memang kears hati, meski tubuhnya kurus tinggi dan terkesan rapuh. Sifatnya juga pendiam. Dia tak pernah menceritakan masalah pribadi kepada keluarganya. Semua disimpan sendiri. Dimarahi pun hanya diam, duduk membungkuk dan menunduk hingga emaknya selesai bicara. Setelah itu dia pergi berhari-hari.

Jam pulang yang tidak beraturan membuat keluarganya tidak pernah menutup pintu belakang rumah. Jam berapa pun pulang, tidak terdengar suara kakinya berayun. Hanya kata, ”Apak-apak, Pak aku Pak” atau “Mak-mak, mak!” Kalimat itulah yang dia teriakkan hingga tiga kali sampai ibunya bangun dan menemuinya. Jika pulang, biasanya dia tidur beberapa hari, minum kopi dan makan masakan ibunya sebanyak-banyaknya.

Keluarganya tidak heran bila malam hari mendengar ribut orang memasak di tengah malam. Itu suara emaknya yang memasak untuk anak kesayangan yang tidak mudah ditaklukkan. Kebiasaan itu berulang bertahun-tahun sampai dia dikenal, bahkan setelah dia menikah dengan Wiwik Sugiarti, istrinya.

Jika hatinya sedang baik, diam-diam matanya menerawang di sela kepulan api dari lintingan tembakau. Dia lalu mengucapkan kata-kata pelan-pelan, lalu meminta kertasm pensil atau pulpen. Begitu “prosesinya” dalam mengarang lagu.

Ketika menciptakan lagu Ki Hajar Dewantoro dan lagu itu mulai tenar diputar di radio, seorang saudara memintanya membuatkan lagu untuk mengenang TNI AL yang gagah perkasa di tengah samudera. Seminggu kemudian, Gombloh muncul dan tersenyum sambil menyodorkan kalimat. “Saya sudah membuat lagu, judulnya Dewa Ruci,” begitu dia berkata sambil tertawa.

Bukan hanya saudaranya yang bekerja sebagai TNI AL yang dibuatnya bahagia dengan lagu. Para keponakan dan tetangganya yang masih anak-anak pun dibuat girang setelah diajak rekaman lagu Berita Cuaca sebagai backing vocal.

“Setelah rekaman saya diberi sangu sepuluh ribu. Wuh senengnya setengah mati, sudah diajak nyanyi diberi uang lagi. Zaman segitu siapa yang nyangoni sepuluh ribu,” cerita Titin, keponakannya.

Jumbo Si Anak hilang

Hingga Gombloh meninggal, masih banyak pertanyaan terkait dirinya yang tidak terjawab. Ketika dia meluncurkan lagu Kugadaikan Cintamu dan Apel yang menjadi hit di mana-mana, banyak orang melihatnya “mengkhianati” musikalitasnya sendiri dan berkompromi dengan industri musik. Saat itu, Gombloh memang seperti berbelok arah dengan menciptakan banyak lagu cinta picisan. Maklum sejak dekade 1983, dia dikenal sebagai penyanyi balada dan pecipta lagu nasionalis dan bernuansa social atau lingkungan.

Ada pula cerita hidup pribadi yang juga tak terjawab, yaitu terkait anak biologisnya dari perempuan berdarah Prancis. Jumbo, begitu Gombloh biasa menyebut dan membangga-banggakan namanya. Potretnya pernah ditunjukkan sekilas pada beberapa saudara. Siti, sang adik, mengaku pernah bertemu Jumbo sekali di Jakarta.

“Sampai sekarang kami tidak tahu di mana Jumbo, tidak ada kontak lagi setelah Gombloh meninggal. Adik saya juga tidak pernah menunjukkan alamat Jumbo pada kami. Jangakankan alamat, nama perempuan itu saja dia rahasiakan. Kalau ditanya hanya tersenyum,” cerita Siti.

Bukan hanya itu keluaraganya pun tidak pernah tahu surat-surat Gombloh dengan perempuan Prancis itu disimpan. Setelah membaca surat, Gombloh selalu melipatnya dan menyelipkannya di sela saku celana.

Konon, perempuan itu dia kenal di Bali. Saat itu keluarganya pun tidak tahu di mana Gombloh tinggal, karena dia pendiam. Hanya beberapa teman yang mengetahui keberadaannya di Pulau Dewata. “Sudah lama sekali kejadiannya, yang saya ingat dia selalu tertawa setelah membaca surat. Sepertinya dia bahagia,” tambah Siti.

Begitu banyak serpihan cerita di seputar Gombloh. Jhon Pai, satu di antara serpihan yang tercecer itu, mengenang Gombloh sebagai orang yang gampang bergaul dan temannya banyak. “Fansnya juga banyak, baik laki-laki maupun perempuan karena dia dekat dengan siapa saja,” katanya.

Saat tur keliling, menurut Jhon, Gombloh lebih suka mengarunginya dengan menumpang bermacam kendaraan baik bus, kereta maupun kendaraanya sendiri, yaitu mobil L-300 hitam yang disulap menjadi putih.

Selain gemar melakukan perjalanan dengan kendaraan pribadi, Gombloh juga dikenal suka membagi nasi bungkus dan rokok. Jika dia datang dan ada anak meringkuk kelaparan, sejumlah uang meluncur dari sakunya. Sekeresek nasipun disantap bersama, begitu kebiasaanya.

Hingga beberapa hari sebelum meninggal pada 9 Januari 1988, dia sempat mengunjungi Bengkel Muda dan menraktir teman-temannya nasi pecel Ketabang Kali langganannya. Beberapa hari kemudian, teman-temannya mendengar kabar Gombloh telah pergi setelah terbatuk dan muntah darah.

“Minggu siang itu pasar-pasar tutup, iring-iringan mobil, motor dan pejalan kaki mengawal ambulan. Lautan manusia berebut menyentuh peti yang seperti berjalan sendiri di atas kepala hingga menyentuh tanah,” kenang Jhon.

Mereka tidak hanya menghormati Gombloh sebagai musisi, tapi juga menghormati cara hidup dan pandangan hidupnya yang selaras dengan lirik lagu-lagunya. Sesuatu yang membuatnya diakui sebagai legenda.

Kembang Kering di Tengah Tembok

Setelah menyusuri jalan setapak, melintas makam-makam tak bertuan, di antara nisan batu abu-abu, kijing-kijing pembatas makam keluar, rumput setinggi lutut, tampak kotak stenlis mengkilap di atas keramik abu. Di bawahnya terbujur jasad Sudjarwoto Sumarsono alias Gombloh, di kompleks Makam Islam Tembok, Gang Makam.

Begitu kering kuburan itu. Hanya makam Gombloh yang dipenuhi kembang sekar kering. Menurut Saiful, penjaga makam, sebulan ini belum ada pengunjung atau keluarga yang mengunjungi makamnya. Bahkan di tengah gempita Surabaya Full Music yang mengaku mengangkat kembali spirit Gombloh, tak ada seorang pun panitia yang mengunjunginya.

“Sepertinya sudah lama tidak ada yang ke mari. Kalau ada yang datang pasti saya tahu. Biasanya keluarganya baru nyekar menjelang puasa atau hari raya,” katanya.

Saiful mengaku terakhir melihat anak Gombloh, Remi, mengunjungi makam tahun lalu menjelang Ramadhan. Itu pun diingat lantaran anak muda itu bergaya ala musisi dengan rambut gondrong dan gelang hitam.

Kuburan itu baru direnovasi 2006 lalu, setelah Gombloh mendapat penghargaan musik dari Jakarta melalui lagu Kebyar-Kebyar. Yang memperbaiki makam tersebut juga bukan keluarganya, tetapi perusahaan musik dari ibukota.

Sejak itu makam penyanyi yang menjadi ikcon Surabaya ini tampak lebih bagus dibanding sebelumnya yang hanya ditutup marmer putih. Marmer itu pun dibangun atas inisiatif pengamen jalanan se-Indonesia dekade 1990-an.

“Kalau tidak begitu mungkin makam Gombloh tidak berbeda dengan yang lain.

Saya kira memang layak makamnya lebih bagus dari yang lain, mengingat jasanya sangat besar di bidang musik. Saya sebagai orang kecil sangat kagum padanya,” ceritanya.

Saiful juga mengungkapkan, hampir setahun ini Gombloh luput dari pandangan musisi maupun penjabat lantaran. Terakhir gerombolan pejabat berkunjung ke makamnya pada tahun lalu, setelah makam direnovasi.

Kunjungan paling banyak dilakukan pengemarnya dan wartawan yang memotret makamnya untuk keperluan pemberitaan.

Terakhir makam tersebut dikunjungi 10 wartawan yang memotret nisan cokelat. “Kalau makam ini masih tetap terawat bukan karena apa-apa, tapi karena orang-orang yang peduli Gombloh,” imbuhnya.

Minim Kenangan

Di ruang tamu rumah di Jl. Sutorejo Timur VIII/ 24 yang berpagar putih itu terpajang lukisan laki-laki gondrong dengan alis miring, mata miring, mulut dan hidung gaya yang sama. Serta canting rokok menyerupai ketel kuning oranye karya Setioko. Ada pula seperangkat meja kursi busa hitam, serta bingkai penghargaan dari Persatuan Radio Siaran Nasional Indonesia (PRSNI) dalam ulang tahun ke-XVII, Desember 1991.

Seorang pemuda menunjukkan lima album berdebu, dua diantaranya sudah kehilangan sampul dan tinggal plastik kekuningan. Sedikit lengket, seolah lama tidak disentuh. Ada ploa potret warna terbitan 1980-an, warnanya hampir pudar karena bercak-bercak cairan warna film. Itu foto perkawinan Gombloh dengan Wiwik Sugiarti. Gombloh tampak menyerahkan maskawin dan berdiri mengenakan kemeja putih dilinting sampai pangkal tangan dan sarung kotak-kotak. Sementara Wiwik tampak berkebaya dan berkonde sedang menerima bingkisan.

Dipajang pula foto penampilan Gombloh di panggung pada 1982, serta potret masa lalunya saat bermain de-ngan anaknya, Remy Wicaksono, di Candi Borobudur. Tak ketinggalan po-tret prosesi pemakaman Gombloh. “Hanya ini yang tersisa dari bapak. Tidak ada yang lain, selain piano tua, gitar dan kacamata,” kata Remy.

Begitu minim kenangan yang ditinggalkan musisi besar ini pada anaknya yang lahir di Malang, 1 Maret 1984 ini. Hanya tiga benda tersebut selain lukisan hitam putih pria berambut gondong mengenakan topi di ruang tengah rumahnya.

“Kata ibu barang-barang bapak, seperti kaos, topi atau kaset habis diminta penggemar untuk kenang-kenangan. Jadinya tinggal ini yang ada,” ceritanya.

Kenangan lain yang dia ingat, beberapa bulan sebelum bapaknya meninggal dia dibelikan mainan dalam jumlah besar, seperti kapal-kapalan, mobil, truk serta robot. Namun mainan itu pun sudah tidak tersisa, lantaran dia beranjak dewasa dan ibunya membagikannya pada saudara.

Minimnya kenangan yang ditinggalkan bapaknya itu membuat dia memasang potret Gombloh mengenakan kaos, topi kuning dan berkacamatan hitam pemberian RW 7 pada keluarganya setelah lagu Kebyar-Kebyar diputar 17 Agustus 2006 lalu.

Meski kenangan begitu minim, namun Remy berusaha mengenang almarhum dengan gitar putih yang disimpan di kamarnya. Melalui gitar tersebut bocah yang yatim sejak usia 4 tahun itu mempelajari lagu balada. Lagu pertama yang dia kuasai pada kelas 2 SMA lalu tidak lain Apel, salah satu lagu hit bapaknya.

Dia berjanji akan mempelajari seluruh lagu almarhum. Melalui band Midle of Date (MOD) yang terbentuk 2006 lalu dia berencana melakukan arasemen ulang lagu hits Gombloh. “Tidak tahu selesainya kapan, karena jenis aliran musik saya dan bapak berbeda. Saya suka musik alternatif dan bapak balada. Tapi kalau diaransemen ulang sepertinya bisa diterima,” katanya.

Leave a Reply

[back to top]