Nyoo Kim Bie: Potret Jasa yang Tersia - Titik Qomariyah, Surabaya Post

1st-Titik Qomariyah

Pemenang kategori feature bidang Olahraga

Ruang tamunya sederhana. Dindingnya dihiasi berbagai potret kuno hitam-putih. Di meja dan lemari yang jarang disentuh, berjajar medali, piagam, dan piala berbagai ukuran. Nyoo Kim Bie, tokoh kita ini, biasanya duduk di kursi. Dalam balutan kaos putih dan celana pendek cokelat, tanpa alas kaki, dia menikmati angin. Memandang sederet mawar putih, melati dan teratai yang belum lagi mekar. Begitu yang dia lakukan setiap hari, sejak namanya tak lagi mengusik orang untuk peduli. Sepi dan sendirinya Kim Bie –begitu nama panggilannya—menjadi potret buram para atlet yang pernah berjasa, dan kini terlupa, tersia-sia.

Rumah berpagar besi cokelat itu tampak sederhana, jauh dari nama besarnya yang disebut-sebut media internasional sebagai the double ghost (hantu nomor ganda). Maklum, bersama Tan King Gwan dan pasangannya yang lain, Kim Bie sempat mendominasi nomor ganda bukutangkis internasional.

Namun, masa-masa itu telah lama berlalu. Kini, ia sering bersendiri di rumah kecilnya, yang hanya dibatasi halaman mungil dari jalan raya. Teras rumahnya terpaksa ditinggikan sekitar 40 cm untuk menghindari banjir yang kerap menggenangi kawasan Jl. Pucang Jajar Tengah, lokasi rumahnya.

Masuk ke rumah Kim Bie, kita seolah menyusuri lorong waktu kembali ke masa lalu. Di ruang tamu, satu set kursi model kuno dengan bantalan beludru abu-abu menyapa kita. Ada juga sebuah meja tamu yang bagian bawahnya dipenuhi album dengan potret kono, hitam putih. Cara menempelkanya pun pakai perekat glukol, sementara pembatasnya adalah kertas minyak putih yang sudha berubah kekuning-kuningan.

Di sudut ruangan, sebuah meja kecil lain, lebih kecil, menampung sejumlah piala yang diraih Kim Bie dari kejuaraan bulu tangkis tingkat nasional maupun internasional. Ada pula beberapa lencana dan medali yang digantungkan pada pita merah dan hijau. Itu belum semuanya. “Selain piala-piala ini, masih banyak lainnya yang saya simpan di lemari. Sementara piagamnya, kalau dipasang di dinding, bisa penuh dindingnya,” kata Kim Bie.

Sayang, Kim Bie tak lagi hidup di masa lalu. Lelaki 87 tahun ini hidup di masa kini, di zaman serba mahal dan serba susah. Dan, menghadapi zaman ini, ia hanya memiliki pensiun dari Bank Mandiri. Jumlahnya, Rp 700 ribu per bulan.

Sekadar untuk makan, itu pun bila irit, angka ini cukup. Namun, tentu kebutuhan Kimbie tak hanya itu. Apalagi istrinya, Sisca Setiadharma, saat ini dirawat di RS Vincentius A Paulo (RKZ) akibat komplikasi darah tinggi dan diabetes yang diderita sejak beberapa tahun terakhir. “Hidup zaman sekarang itu serba mahal. Kalau nggak punya duit, susah mau apa-apa. Apalagi kami sudah tua begini, sering sakit. Berobat, kan, butuh duit juga. Belum lagi keperluan lain, bayar listrik dan air,” urai Kim Bie.

Beruntung, sejak Juli lalu Gubernur Jatim, Imam Utomo memberikan pensiun dengan angka yang sama. Total angka ini pun belum cukup memenuhi kebutuhannya hingga standar yang layak

Namun, semangat atlet yang pantang menyerah masih mengalir dalam tubuh Kim Bie. Pekerjaan apa pun, selama halal, ia lakoni agar jangan sampai menggantungkan diri pada belas kasih para dermawan. Setiap Jumat-Sabtu dia menjadi pelatih bulutangkis anak-anak di Lapangan Ngagel Jaya. Dari sanalah dia mendapat tambahan pendapatan.

Meski harus memenuhi semua kebutuhannya sendiri, dia mengaku bangga masih dapat bekerja sebagai pelatih bulu tangkis. Dia sama sekali tidak menyesal di masa tuanya belum bisa beristirahat, malah harus pontang-panting berjuang bertahan hidup.

Padahal melihat jasanya, sepertinya ia tak layak hidup sesulit ini.

Di masa jaya dulu, tawaran datang dari beragam penjuru. Termasuk dari Belanda, yang menawarinya nilai kontrak mengiurkan dan jaminan hidup di masa tua. Namun, Kim Bie tak mau bertanding di luar bendera merah putih.

“Saya orang kuno, tidak mungkin saya lakukan itu. Saya cinta negeri ini, lahir dan dibesarkan di sini. Sebagai orang kuno, selamanya saya akan tinggal di tanah ini, kota ini, kota Pahlawan. Anda perlu tahu, paling berarti dalam hidup saya kalau bertanding mengenakan kaos merah putih, yang di bagian depannya ada logo benderanya, di sudut sini,” ungkapnya, sambil menunjukkan letak logo yang biasanya berada di bagian kiri.

Dan, inilah ketegaran atlet yang sebenarnya: meski pemerintah tidak memberikan bantuan secara langsung, dia mengaku tidak pernah kecewa. Dengan hanya diundang dalam peringatan hari kemerdekaan, 17 Agustus, ia merasa tak dilupakan.

Lebih dari itu, ia justru merasa sudah cukup dan berterima kasih pada pemerintah yang di tahun 1970-an memberinya hadiah rumah yang dia tempati sekarang. Di rumah itulah semangatnya terpompa bersama dua putrinya Lucy dan Maria Magdalena. “Semua ini sudah cukup, saya sudah tua, mau apa lagi?” katanya.

Pensiunan AL Tanpa Pensiun

Dilihat dari prestasi, Kim Bie termasuk paglawan bulutangkis papan atas. Prestasinya satu level dengan Rudy Hartono yang 8 kali juara All England, Susi Susanti yang menyumbang emas pertama bagi Indonesia di olimpiade, atau Taufik Hidayat yang menjadi andalan kita saat ini.

Namun, nasibnya jauh berbeda. Dan Kim Bie sendiri, sebagai pribadi, sungguh memang beda. Di masa warga keturunan Tionghoa jarang masuk ke ranah di luar ekonomi, Kim bie justru menjadi tentara. Ia adalah pensiunan TNI AL berpangkat Letkol, yang –sungguh sayang— tidak mendapat pensiun hingga kini.

Mengapa tak diurus?

Kim Bie hanya menjawab singkat dan tegas, “Saya tidak tahu mengapa tak memperoleh pensiun. Namun kalau memang tak diberi, saya tak mau minta-minta.”

Kim Bie memang tak perlu minta-minta. Dia sudah seharusnya mendapat pensiun itu karena memang haknya.

Namun, Kim Bie adaah Kim Bie. Daripada mengurus pensiun –yang ia khawatir akan dianggap meminta-minta—lebih baik ia kerja sendiri sebagai pelatih atlet cilik bulu tangkis. “Dari pekerjaan ini saya tak hanya mendapat uang, namun juga kepuasan,” katanya.

Dengan kecintaannya pada negara yang begitu rupa, ia gelisah melihat atlet masa kini yang tampak kurang berdedikasi dan tidak memiliki wawasan kebangsaan. “Atlet sekarang sudah terbiasa dilayani sejak anak-anak. Mereka biasa dimanja, apa-apa yang mereka minta selalu dikabulkan orangtua. Tidak heran jika ada istilah, menjadi atlet untuk mencari uang, atau menang pertandingan untuk merebut iming-iming hadiah,” keluhnya.

Ia juga mengelus dada melihat banyaknya atlet yang hengkang ke luar negeri meski ia tak sepenuhnya menyalahkan mereka.

“Hidup itu pilihan. Mau pilih yang mana, itu terserah. Kalau Tonny Gunawan mau ke sana (Amerika Serikat, Red.) ya silahkan. Sebab negara tersebut memberikan jaminan hidup lebih baik dari yang ada di sini,” ujarnya.

Kim Bie tak menampik dirinya kecewa atas fenomena ini, namun dorongan menghargai keputusan seseorang lebih diutamakannya. “Saya orang kuno, apa pun yang terjadi dengan bangsa ini, saya tetap menghargai. Mungkin itu (hengkang, Red.) yang terbaik bagi mereka. Tapi sebagai orang kuno, saya ingatkan juga bahwa membela negeri ini lebih baik dari mana pun,” ujarnya.

Leave a Reply

[back to top]