Butuh Dana Sekolah, Dimas Nekat Menembus Paspampres - Adi Marsiela, Suara Pembaruan

Pemenang kategori hardnews bidang Sosial

Minggu (16/7) mungkin akan menjadi hari bersejarah bagi Dimas Gumilar Taufik (17), siswa kelas III IPS SMA Sandy Putra, Dayeuh Kolot, Bandung. Pada hari itu ia sempat merasakan “cengkeraman” Pasukan Pengamanan Presiden (Paspampres) di area Jambore Nasional 2006, Bumi Perkemahan Letjen (Purn) Dr (HC) Mashudi, Jatinangor, Sumedang.

Dimas memang nekat. Ia sudah mempersiapkan diri menghadap Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), yang membuka Jambore Nasional tersebut. Alasan Dimas yang berlari menghampiri SBY yang berada di podium saat menjadi pembina upacara dalam pembukaan Jambore cukup masuk akal. “Mau minta bantuan langsung ke SBY untuk sekolah,” tuturnya kepada wartawan saat ia masih dikelilingi Paspampres.

Tindakan Dimas itu dilakukannya seusai SBY menandatangani sampul hari pertama Perangko seri Jamnas 2006 dan menyaksikan pertunjukan seni kolosal acara pembukaan Jamnas 2006, Dimas yang mengenakan seragam Pramuka itu tiba-tiba saja berlari dari arah kerumunan pasukan Pramuka di samping kanan panggung ke arah presiden. Hal itu membuat kaget petugas pengamanan dari Paspamres. Untungnya, SBY menghampiri Dimas. Ia pun dirangkul dan diajak berbicara.

“Saya hanya minta Bapak Presiden membantu membayar uang SPP saya. Karena ayah saya menganggur dan tak punya uang untuk membiayai sekolah,” ujarnya.

Dimas sendiri terlihat gemetar dengan mata memerah seperti hendak menangis ketika dua petugas Paspampres merangkul dan membawanya pergi dari dekat podium. Kepada wartawan, warga Sukapirus RT 07/RW 13, Dayeuh Kolot, Kabupaten Bandung itu, menjelaskan dia berlari ke arah Presiden Yudhoyono itu untuk memberikan surat. Dimas sudah mempersiapkan lima lembar kertas yang berisi surat permohonan bantuan pembiayaan sekolah dan sisanya adalah lampiran nilai-nilai yang sudah diraihnya di sekolah. Hal itu karena Dimas tidak mampu untuk membayar biaya sekolahnya sebesar Rp 90 ribu setiap bulan.

Merasa Terdesak

Dimas mengaku sudah mencoba meminta bantuan kepada bagian pariwisata Jamnas 2006 dan Pemerintah Kabupaten Bandung, namun permintaan bantuan itu kurang ditanggapi. Dia merasa terdesak. “Saya sedang bersemangat belajar. Lagi pula Presiden kan harus mendengarkan rakyatnya juga,” ujarnya.

Hingga rombongan Presiden berlalu, Dimas masih diamankan petugas Paspampres. Beberapa senior Pramuka dari daerah lain malah memarahi Dimas yang dianggap tak tahu sopan santun. “Harusnya kamu lapor sama panitia dulu, dong,” ujarnya.

Namun, perlakuan berbeda datang dari seorang pembina pramuka pendamping dari kontingen Surakarta, Sri Murdi Hastuti. Sri malah meminta petugas Paspampres yang tengah “mengawal” Dimas untuk mengabadikan gambar Dimas bersama dengan Sri. “Tolong, Pak, diambilkan fotonya. Saya kagum sama keberanian dan tekad anak ini,” ujarnya di tengah-tengah kerumunan Paspampres dan wartawan.

Menurut Sri, tindakan Dimas itu sangat berani dan menggugah hatinya. “Saya merasa terenyuh dan kagum akan tindakan dia. Mudah-mudahan apa yang diharapkannya bisa menjadi kenyataan,” kata Sri seraya meneteskan air mata.

Presiden Yudhoyono sendiri, ujar juru bicara kepresidenan, Andi Mallarangeng tidak marah kepada Dimas. Malah Presiden, kata Andi, sangat senang menerima hal itu. “Walaupun sempat terkejut awalnya,” papar Andi.

Dimas sendiri, sambung Andi tidak ditahan oleh Paspampres. Mengenai pengamanan yang dilakukan terhadapnya, ia menjelaskan hal tersebut adalah prosedur standar dari Paspampres. “Anaknya tidak ditahan. Surat itu sendiri sudah diberikan kepada staf Presiden untuk ditindaklanjuti.”

Semoga saja, tindakan berani atau nekat dari Dimas itu dapat membantunya untuk menggapai harapannya.

Leave a Reply

[back to top]