Pemenang kategori hardnews bidang Seni dan Musik
Suasana Ballroom Hyatt Regency Bandung, Rabu (30/8) malam itu berbeda dari biasanya. Keheningan begitu terasa tatkala kita memasuki ruangannya. Seorang gadis cilik bergaun panjang berwarna orange tampak berdiri penuh konsentrasi sembari mengapit biolanya di bagian tengah panggung.
Gesekan pertama di atas biola Stradivarius miliknya memberikan tanda bahwa gadis cilik yang memiliki nama Eya Grimonia ini tengah memulai konser amalnya yang bertajuk Summer Time Violin Recital “A Charity for Pangandaran”. Tanpa basa-basi, dia langsung membawakan sebuah komposisi karya komposer Jerman, Johann Sebastian Bach yang pernah hidup antara tahun 1685 hingga tahun 1750.
Partita III BWV 1006 menjadi pilihan Eya untuk memulai konsernya. Dengan rasa percaya diri tinggi yang terpancar dari wajahnya, gadis berusia 11 tahun ini tampak tenang membawakan komposisi yang terdiri dari tiga bagian itu, masing-masing Preludio, Gavotte en Rondeau dan Gigue.
Suara biola yang biasanya terasa menyayat hati, pada bagian pertama konser ini justru terdengar seperti gerakan dansa yang penuh semangat. Di bagian kedua, suasana ceria tersebut masih terasa. Pasalnya, dalam Gavotte en Rondeau, Eya tidak kesulitan untuk memindahkan jemarinya kirinya dan memadukan dengan gesekan ekor kuda yang dipegang di lengan kanannya.
Seting ruangan yang bergaya abad pertengahan lengkap dengan beberapa pilarnya yang menunjukkan tempat dimainkannya musik klasik era itu semakin melengkapi suasana konser tunggal dari siswa kelas 6 SD Santo Yusuf I, Sukajadi, Bandung ini. Komposisi pertama yang dibawakannya itu selesai dalam hitungan waktu sembilan menit.
Tanpa menggunakan partitur dan istirahat, pemusik yang sudah lulus dalam ujian biola grade 8 ABRSM dengan predikat Distinction, ini langsung berduet dengan Carolina S. Yana yang merupakan ibu kandungnya sendiri.
Mereka berdua membawakan komposisi dari Bela Viktor Janos Bartok. Sang ibu duduk di sisi kiri dengan piano di depannya, sedangkan Eya tetap berdiri di tengah panggung. Prima Parte Moderato bagian dari karya Bartok dalam Rhapsody No 1 langsung mengalun lengkap dengan dentingan piano dipadu suara biola dari gesekan tangan Eya selama tujuh menit.
Selesai membawakan komposisi keduanya, Eya sempat turun sejenak dari panggung untuk menanti rekan duetnya yang lain masuk ke atas panggung.. Kali ini putri pertama dari Hery Setyono ini berpasangan dengan Marsella, seorang pengajar dari Sekolah Musik Yamaha yang sudah cukup tinggi jam terbang dalam memainkan piano.
Untuk menyaksikan bagaimana jemari Eya yang juga mahir memainkan piano dan bernyanyi ini, panitia sengaja menampilkan tayangan langsung dari Eya pada dua layar besar yang ditaruh di sisi kiri dan kanan panggung.
Setelah beristirahat selama beberapa menit, Eya pun kembali ke panggung. Kali ini dia membawakan komposisi karya Friedrich Seitz yang memang diciptakan untuk murid-muridnya di pertengahan tahun 1800-an. Setiap muridnya diwajibkan menyelesaikan satu per satu komposisi gubahannya. Eya yang berduet dengan Andrew Sudjana membawakan komposisi Pupil’s concerto No. 4.
Musim Kemarau
Seakan mengenang kondisi Pangandaran yang hancur akibat terjangan tsunami, Eya sengaja membawakan komposisi Four Season Concerto II L’Estate : Der Summer, karya Antonio Vivaldi. Sajian musik klasik yang terdiri dari tiga bagian ini sangat terasa seperti musim kemarau meskipun dibuat oleh komposer yang hidup di negara empat musim.
Suasana angin yang bertiup pelan dipadu suara kicau burung, bisa dibawakan oleh Eya bersama rekan duetnya, Pao Pao Wijaya pada bagian pertama, Allegro non molto. Memasuki bagian kedua dan ketiga, mereka berdua tampak padu dalam titian partitur nada yang menggambarkan kehidupan seorang pengembala yang takut akan petir dan halilintar.
Konser belum berakhir. Pada bagian terakhir, Eya sempat turun untuk melepas gaun panjangnya dan kembali ke panggung dengan setelan baju seperti anak-anak biasanya. Ia membawakan sajian musik etnikcoclasik, perpaduan antara nada etnik, kontemporer dan klasik lengkap dengan perkusi, cello, drum, dan bahkan penyanyi latar.
Konser ini sendiri ditutup juara 4 Kompetisi biola Internasional, 12 th Jounesses Musicales Romania di Bucharest, Mei 2005 itu dengan lagu bersemangat dari Gloria Estefan, 1,2,3. Dari konser ini sendiri terkumpul dana sedikitnya Rp 4,5 juta yang bakal disumbangkan secara langsung kepada para korban tsunami di Pangandaran. “Pangandaran itu menjadi tempat liburan favorit buat Eya,” tutur Hery, ayah Eya.

April 7th, 2008 at 6:34 pm
luar biasa. dahsyat bener nih tulisan adi… juara lagi di