dsc_1191.jpg
dsc_1341.jpg
dsc_1287.jpg
dsc_1274.jpg
img_1479.jpg
img_1543.jpg
img_9312.jpg
img_9308.jpg
img_9281.jpg
img_9280.jpg
img_9252.jpg
img_9239.jpg
img_9236.jpg
img_9225.jpg
2.jpg
1.jpg
img_9312.jpg
img_9312_0.jpg
dsc_1134.jpg
dsc_1123.jpg
dsc_1192.jpg
dsc_1189.jpg
dsc_1236.jpg
dsc_1211.jpg
dsc_1269.jpg
dsc_1266.jpg
dsc_1245.jpg
dsc_1280.jpg
dsc_1274.jpg
dsc_1299.jpg
dsc_1289.jpg
dsc_1319.jpg
dsc_1314.jpg
dsc_1353.jpg
dsc_1340.jpg
dsc_1335.jpg
dsc_0979.jpg
picture-7.png
 
 
Info

Panitia Penyelenggara AAS 2009 dapat dihubungi melalui telepon 021-72789833 atau melalui email di aas@maverick.co.id

KomunitasSudah jadi anggota?
Login
Login dengan Facebook:
Pengunjung terakhir
Powered by Sociable!

Berlangganan info AAS

Ketik alamat email Anda:

Delivered by FeedBurner

Shout!



Gelar Kedua Banjarbaru - Bastian Alkaf, Mata Banua 17/03/08

Pemenang kategori hardnews bidang Olahraga

RANTAU-Predikat sebagai basis petinju Kalimantan Selatan, kembali dibuktikan Banjarbaru di Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) VII. Mereka sukses mengumpulkan empat mendali emas dari sebelas nomor yang dipertandingkan, menuai tiga perak dan satu perunggu.

Tapin pun memboyong empat emas. Namun, tuan rumah kalah dalam perbendaharaan perak dan perunggu sehingga harus puas sebagai runner up. Prestasi Banjarbaru sendiri merupakan kali kedua berhasil mereka rengkuh, setelah meraih gelar serupa di Porda VI 2002. Kala itu, mereka mmemboyong lima emas.

Di partai final yang berlangsung di Alun-Alun Basimban, Selasa (25/7) malam, pintu emas Banjarbaru dibuka Raflin T di kelas 45 kilogram. Ia menang angka atas Asad Adha dari Banjarmasin.

Emas berikutnya disumbangkan Firmansyah dari kelas 60 kilogram. Ditonton sang ibu dari bawah ring, ia menang angka dengan meyakinkan atas petinju Banjarmasin, Rahmatullah.

Di kelas 69 kilogram, giliran Suratman yang menyumbangkan emas untuk Banjarbaru. Petinju yang sempat diragukan kemampuannya ini seakan ingin membuktikan ia belum habis di atas ring. Ia hanya membutuhkan tiga ronde untuk menang KO atas Fauzi Risman dari Banjarmasin.

Satu emas Banjarbaru direngkuh Simon T di kelas 75 kilogram tanpa harus melancarkan pukulan sedikit pun. Ia menang unfight atas petinju Hulu Sungai Selatan, Mus Mulyadi.

Seperti telah diberitakan, Mus Mulyadi menderita cedera leher usai melakoni pertarungan semifinal melawan petinju Kotabaru, Yurianto. Ia dinyatakan menang diskualifikasi, namun tidak memiliki kesempatan untuk mendapat emas. Petinju yang berdomisili di Padang Batung Kandangan tersebut divonis absen bertinju selama kurang lebih tiga bulan.

Seharusnya, Banjarbaru bisa menambah satu lagi melalui Teguh Budi Susanto yang bertarung di kelas 81 kilogram saat bertemu petinju Tapin, Untung. Sejak bel ronde pertama dibunyikan, Teguh yang unggul postur terus merangsek sang lawan hingga beberapa kali tersudut ke pojok ring.

Di 1 menit 56,09 detik ronde pertama berjalan, Teguh terlihat memukul bagian kepala belakang Untung di sudut merah hingga terjatuh dan tidak sadarkan diri. Seketika petugas medis menyeruak ke atas ring dan memberikan pertolongan pertama. Beberapa saat kemudian, Untung digotong ke Rumah Sakit Datu Sanggul Tapin.

Pasca kejadian tersebut, ratusan penonton koor berteriak agar petinju tuan rumah dimenangkan, karena mereka menganggap Teguh telah bertindak di luar prosedur pertarungan. Benar saja, semua hakim juri menyatakan Untung menang dengan diskualifikasi.

Usai keputusan tersebut, Teguh Budi terlihat sangat kesal. Ia sempat membuang pelindung gigi ke luar ring. Mata petinju yang menyumbang satu emas di Porda VI ini terlihat memerah. Kendati berusaha dihibur rekan-rekannya, ia tetap saja tidak mampu menghilangkan rasa kesal.

“Saya merasa ditipu dengan keputusan tersebut. Ketika wasit memperingatkan saya agar menghindari memukul kepala bagian belakang, baru Untung terjatuh dan berguling-guling kesakitan. Jadi, kesakitan itu serasa sebuah rekayasa dan berada di atas angin dengan berpura-pura kesakitan,” ungkap Teguh.

Kekesalan pria kelahiran 3 Desember 1982 ini masih terlihat menjelang pengalungan medali. Ia tampak sesekali memukul dan menendang pojok ring dan tidak memperlihatkan rasa puas dengan medali perak di tangan.