- Hanny
on Video: Testimoni Pemenang Anugerah Adiwarta Sampoerna 2009 - Hanny
on AAS 2009 - The Jakarta Globe - Hanny Kusumawati on Serba-Serbi: AAS Punya Cerita
- Revdy Iwan Syahputra
on Serba-Serbi: AAS Punya Cerita - Anugerah Adiwarta Sampoerna - on RUU Rahasia Negara: Setelah Direvisi. Masihkah Dipertanyakan?
- Adhi Kusumaputra
- Algooth
- Andi Muhyidin
- Andrew Greene
- Anugerah “Nugie” Perkasa
- Asep Setiawan
- Bagja Hidayat
- Eddy Mesakh
- Ika Maya
- Jarar Siahaan
- Jurnalis NTT
- Kelik M. Nugroho
- Manda La Mendol
- Marwan Azis
- Merry Magdalena
- Okky P. Madasari
- Pepih Nugraha
- Ratna “Atta” Ariyanti
- Samiaji Bintang
- Taufik Hidayat
- Wienda Parwitasari
- Zaky Yamani
- Zeynitta Gibbons
Pemenang kategori feature bidang Olahraga
Pertanyaan tersebut tetap saja layak dilontarkan di tengah bergulirnya Liga Sepak Bola Indonesia 2006 yang hingga kini telah memasuki awal putaran kedua. Apa pasal? Klub-klub peserta liga telah mengeluarkan dana miliaran rupiah demi partisipasi mereka. Namun, benarkah ada kontribusi terhadap sepak bola Indonesia dari liga kita?
Sejak awal kompetisi, dominasi pemain asing di hampir semua klub sudah terasa. Kuota lima pemain impor tiap klub benar-benar membuat kontestan liga mengisi posisi-posisi penting di line up mereka, seperti striker dan playmaker, dengan pemain-pemain asal Amerika Latin dan Afrika. Belakangan, pemain asal Thailand juga mengisi skuad beberapa klub. Tentu, klub harus merogoh kocek agak dalam untuk mentransfer mereka.
Celakanya, biaya kontrak dan gaji pemain-pemain asing ditu dibiayai dana APBD kota atau provinsi, yang antara lain berasal dari pajak rakyat. Ini memang konsekuensi yang harus ditanggung dari pendanaan klub yang belum bisa mandiri sehingga manajemen klub harus meminta uluran tangan dari APBD.
Lihatlah Persija Jakarta Pusat. Tim ”Macan Kemayoran” ini meski hanya berhasil menggondol gelar runners-up Liga dan Copa Indonesia 2005 tetap memperoleh kucuran dana signifikan untuk menunjang kegiatan selama 2006. Gubernur DKI Suityoso pada tahun anggaran ini menyalurkan dana sekitar Rp. 20 miliar untuk kesebelasan yang kini dilatih Rahmad Dharmawan itu.
Catatan Kompas menyebutkan,belanja Persija untuk musim 2006 tergolong tinggi. Sejumlah pemain asing direkrut untuk mengganti skuad lama yang dinilai gagal. Ada striker Frank Seator yang dikontrak di awal musin. Pelatih Arcan Iurii juga harus angkat koper, diganti Rahmad, sehingga ada konsekuensi ongkos kontrak pelatih juga.
Dani Anwar, anggota DPRD DKI dari Fraksi Partai Keadilan Sejahtera (PKS), mengatakan, dengan alokasi sebesar itu, per bulan Persija menerima dana operasional Rp. 1,8 miliar. ”Mau diapakan dana sebesar itu?” katanya dalam berbagai kesempatan. Menurut Dan, dana untuk Persija belum mendesak karena masih banyak proyek lain yang harus dibiayai.
Tak hanya Persija yang gelimang uang APBD. Tim-tim lain, kecuali yang dibiayai perusahaan seperti Pupuk Kaltim(Bontang), Semen Padang (Padang), dan Arema (Malang), juga hidup dari duit rakyat. PSS Sleman hingga akhir putaran pertama sudah menelan Rp. 5 miliar, dan hingga akhir musim diperkirakan menghabiskan Rp.11 miliar. PSIS Semarang setali tiga uang, dengan Rp 12 miliar.
Tergantung Pemain Asing
Untuk tim Grup II (Timur) Persik Kediri juga sudah dianggarkan menerima Rp 12 miliar dari APBD Kota Kediri sepanjang tahun 2006. Ada juga suara kritis dari Fraksi Partai Demokrat DPRD setempat, Ahmad Salis. Ia mengungkapkan, sejauh ini tidak ada pertanggungjawaban atas dana miliaran rupiah yang digunaan Persik itu.
”Ini berbeda dengan proyek-proyek lain yang ada pertanggungjawaban di hadapan dewan. Saya sedang mengecek apakah benar kalau pos anggaran yang masuk bantuan sosial itu memang tidak perlu ada pertanggungjawabannya.Menurut saya harusnya juga ada,” katanya.
Sama dengan Persija, Persik pun akhirnya bergantung kepada pemain asing. Sejumlah posisi penting di tim ”Macan Putih” pun diisi skuad impor, seperti striker Christian Gonzales, gelandang Leonardo Gutterez dan Ebi T Sukore, serta playmaker Danilo Fernando.
Adakah protes dari masyarakat terkait penggunaan dana APBD untuk kebutuhan klub sepak bola ini? Sejauh ini memang hanya sebagian kecil anggota DPRD saja yang mempertanyakan efektivitas pendanaan itu. Selebihnya, nyaris tidak ada. Padahal, setidaknya sekitar 40-50 persen dari dana klub itu masuk ke kantong pemain asing.
Pertanyaan yang kemudian muncul, yakni Liga Indonesia untuk Siapa? Untuk tim nasional kita, jelas bukan. Karena banyak pemain lokal yang jarang jadi starter gara-gara kalah bersaing dengan skuad asing. Untuk pembinaan pemain muda juga bukan.
Sebab, nyata-nyata, pemain muda yang serius dan berbekal modal tak sedikit dibina dari bawah, jarang ditampilkan di liga profesional. Pertimbangannya, klub tidak berani mengambil risiko kalah. Tak pelak, the winning team-lah yang sering diturunkan, dan itu berarti tampilnya pemain senior dan skuad asing. Pemain muda, emang gue pikirin?