Dewan Juri 2006

PROFIL JURI FINAL AAS 2006

1. Rosihan Anwar

Sosok pria yang lahir 74 tahun silam di Kubang Nan Dua, Sumatera Barat ini dikenal sebagai orang yang tegas dan jelas tentang sikap-sikapnya terhadap pers Indonesia. Rosihan memang selalu menjadi bagian dari sejarah pers Indonesia. Ia selalu menjadi narasumber bagi perkembangan pers Indonesia. Karenanya, sebutan sebagai ‘man of conscience and of culture’ yang diberikan oleh Jakob Oetama terasa tepat disandangnya.

Selepas lulus dari pendidikan AMS di Yogyakarta, Rosihan muda menempa kemampuan jurnalistiknya dengan mengikuti berbagai workshop tentang jurnalistik baik di dalam negeri maupun di luar negeri, termasuk di Yale University dan School of Journalism di Columbia University, New York, AS. Melalui pendidikan yang diikutinya, pengalaman-pengalaman yang dilaluinya serta sikapnya yang tegas dan jelas, Rosihan besar sebagai salah satu wartawan yang disegani di dunia pers Indonesia.

Insan pers yang pernah di satu saat menyatakan bahwa wartawan itu haruslah orang pintar ini juga dikenal sebagai ensiklopedi berjalan. Dari muda hingga kini, Rosihan tak terikat dengan notes ataupun catatan-catatan kecil. Ia selalu mengingat semuanya di dalam benaknya, untuk kemudian dituliskannya kembali ke dalam berita yang akurat.

2. Faisal Basri

Ayah dari sepasang anak ini ternyata tidak hanya piawai dalam menulis di kolom surat kabar, tetapi juga piawai dalam menulis puisi, terutama puisi-puisi kristis. Faisal adalah orang yang sangat sadar bahwa lewat menulis hatinya bisa sedikit lapang dengan himpitan. Karena itu, Faisal dengan leluasa dapat mengritik masalah-masalah ekonomi yang menurut kata hatinya tidak benar.

Pria yang sehari-harinya sibuk sebagai dosen program Pasca-Sarjana Fakultas Ekonomi UI dan Rektor Universitas Perbanas di Jakarta ini menyelesaikan pendidikan sarjananya di Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia pada tahun 1985. Langsung setelahnya, ia melanjutkan pendidikannya ke Vanderbilt University di Amerika dan lulus tahun 1988.

3. Effendi Ghazali

Pria lajang yang setiap minggunya tampil di acara Republik BBM ini adalah orang yang gemar bertutur. Kepiawaiannya dalam bertutur ini sudah ia miliki sejak muda. Karenanya, bukan sesuatu yang mengherankan jika seorang Effendi muda pernah menjadi pelawak kampus.

Perjalanannya di dunia tulis-menulis diawalinya saat ia menjadi seorang koresponden di sebuah media olahraga. Namun begitu, ia tidak pernah menjadi wartawan tetap di sebuah media. Pengalamannya yang hanya menjadi seorang koresponden tidak membuatnya mempunyai kendala saat harus menulis di media cetak untuk bidang komunikasi.

Selain menjadi pengajar di program pasca-sarjana Departemen Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia, pria yang meraih gelar doktor komunikasinya dari Cornell University New York ini juga mengajar di beberapa universitas lain serta sering menjadi pembicara dalam diskusi-diskusi komunikasi.

4. Sumohadi Marsis

Mas Sumo, begitu orang akrab menyapanya, adalah seorang wartawan olahraga senior yang justru secara tidak sengaja berkecimpung dalam dunia olahraga. Pada awalnya Mas Sumo adalah seorang wartawan musik yang dikirim oleh kantornya untuk mengikuti sebuah pelatihan wartawan olahraga. Berawal dari situ, Sumohadi berkarya dan besar sebagai wartawan olahraga.

Sosok ayah dari enam anak yang telah berusia 62 tahun ini menyatakan bahwa olahraga memang selalu disenanginya sejak kecil, namun musik adalah bagian dari hidupnya. Dengan pertimbangannya sendiri, ia memilih olahraga sebagai mata pencarian dan bermain musik sebagai hobi untuk mengisi jiwa. Salah satu pencapaian sekaligus pemberian terbaiknya dalam dunia olahraga adalah dengan mendirikan tabloid olahraga BOLA di tahun 1984, sebuah tabloid olahragaterbesar di Indonesia.

Kini, meski ia telah pensiun, Mas Sumo tetap mengabdikan dirinya di bidang olahraga sebagai wakil bidang organisasi KONI (Komite Olahraga Nasional Indonesia) Pusat. Ia juga menulis buku yang berjudul ‘Enaknya Wartawan olahraga’ sebagai wujud rasa bahagianya selama menjadi wartawan olahraga.

5. Oscar Motulloh

Berangkat dari seorang fotografer yang ‘nyeni’, Oscar Motulloh pertama kali masuk ke dunia foto jurnalis untuk meliput sesuatu yang keras, yakni olahraga. Setelah ‘kenyang merekam segala aneka momen olahraga yang dinamis, Oscar mulai memanjakan jiwa seninya. Ia mulai banyak menjelajah ke wilayah-wilayah yang jarang disentuh orang dan berbagi pesan lewat foto. Oscar yang tak banyak bicara ini ternyata sangat komunikatif lewat setiap hasil jepretan fotonya.

Pria yang memilih tetap melajang di usianya yang lebih dari 40 tahun ini memiliki filosofi bahwa foto tak hanya menjadi pelengkap berita, tetapi foto itu sendiri adalah berita. Ia mendirikan Galeri Foto Jurnalistik Antara guna dapat mendidik anak-anak muda yang suka fotografi sekaligus memberi wadah bagi para fotojurnalis muda yang ingin memamerkan karya mereka.

6. Bens Leo

Liputannya ke Jepang untuk meliput Festival Pop Song se-dunia telah menjadi titik awal yang sangat baik bagi perjalanan karir Bens Leo ke depannya. Melalui laporannya di media massa, Bens muda telah menjadi salah satu wartawan musik muda yang paling kritis. Bens tidak hanya menulis kritik musik, namun ia juga siaran di radio Amigos yang khusus mewawancarai artis musik.

Kelebihan Bens, yang kemudian menjadi ciri dari liputan mapun wawancaranya, adalah kedekatannya dengan artis sehingga semua informasi yang diberikan olehnya terasa eksklusif karena ia sendiri menjadi bagian dari para artis itu sendiri. Hal ini yang membuat informasi yang diberikannya selangkah lebih maju dari wartawan musik media lain.

Bens bisa leluasa bergaul dengan semua nara sumbernya. Hingga kini, ayah dari seorang putra ini masih terus menjalin hubungan baik dengan artis-artis lama maupun baru, dari Titiekpuspa sampai Ariel- Peter Pan.

7. Yenny Abdisuryaningati

Yenny mendirikan sebuah Yayasan Persahabatan Indonesia Kanada. Ini merupakan titik awal hubungannya dengan pihak luar negeri. Yayasan tersebut pada perkembangannya berubah menjadi yayasan yang tidak hanya berkaitan dengan unsur persahabatan antara Indonesia dan Kanada. Akhirnya, Yenny pun membuat Yayasan Penguatan Partisipasi, Inisiatif, dan Kemitraan Masyarakat (YAPPIKA). Sayangnya, yayasan ini tidak bertahan lama. Saat ini, Yenny aktif dalam Aliansi Masyarakat Sipil untuk Demokrasi.

 

PROFIL JURI SEMIFINAL AAS 2006

1. Dedy Nur Hidayat Ph.D

Ia merupakan dosen FISIP Universitas Indonesia sekaligus Ketua Program Pascasarjana Komunikasi FISIP UI. Mendapat gelar Ph.D dari UNiversity of Wisconsin, AS pada 1994. Dedy banyak menulis artikel baik di media massa lokal maupun luar negeri.

2. Yoseph Adi Prasetyo atau Stanley

Saat ini menjabat sebagai Direktur Institut Studi Arus dan Informasi (ISAI) Jakarta. Mantan wartawan ini merupakan aktivis LSM sejak mahasiswa. Stanley yang begitu mengagumi Soe Hok Gie ini, kini juga produktif menghasilkan banyak buku.

3. Dr Raksaka Mahi

Ia merupakan Wakil Dekan Akademik Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia. Memperoleh gelar Ph D Keuangan Public Labor, Regional, dan Modelling Economic dari University of Illinois pada 1996. Sejak mahasiswa, ia suka menulis dan memimpin beberapa penerbitan mahasiswa. Saat ini merupakan staf ahli pada Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian RI.

4. Francisia SSE Seda Ph. D.

Ia adalah seorang sosiolog Universitas Indonesia, Depok. Ia memperoleh gelar Ph.D dari University of Wisconsin, AS. Mengambil spesialisasi pada kajian perempuan, putri dari Frans Seda ini aktif dalam pelbagai penelitian maupun menulis buku dan artikel tentang perempuan di Indonesia

5. Firman Ichsan

Dikenal sebagai fotografer model di masanya dulu. Kini, ia lebih banyak menekuni diri untuk mengamati foto dibanding mengambil foto itu sendiri. Ia sering menjadi juri foto untuk lomba-lomba foto baik di Indonesa maupun di luar negeri. Terkahir, ia menjadi juri foto di Belanda.

6. Sam Lantang

Wartawan senior dunia olah raga nasional. Saat ini selain aktif di dunia jurnalistik, beliau juga aktif di Komite Olahraga Nasional Indonesia.

7. Sukaharjana

Dikenal sebagai penulis musik yang sangat kritis. Ia telah menghasilkan beberapa buku musik yang kemudian menjadi literatur di sekolah-sekolah musik. Bahkan, mantan dosen di IKJ ini penah mendirikan sebuah pelatihan pemahaman musik yang ditujukan untuk para wartawan yang terkena rotasi ke bidang musik di perusahaannya. Kini, ia mendirikan sebuah tempat studi dan orientasi musik assemble di Jakarta.

Leave a Reply

[back to top]