Archives



  • “Media Cetak Tidak Akan Mati”

    March 24, 2010

    Itulah sepenggal kesimpulan yang didapat dari acara Diskusi Media bertajuk “Media Cetak vs Media Online: Mampukah Media Cetak Bertahan?” mengawali peluncuran Anugerah Adiwarta Sampoerna 2010, Senin, 22 Maret lalu. Bukan AAS namanya kalau tidak bisa menghadirkan orang-orang yang kompeten. Hadir sebagai pembicara pada siang itu Budiono Darsono, pemimpin redaksi Detik.Com, Ninok Leksono, redaktur senior Kompas, Primus Dorimulu, pemimpin redaksi Suara Pembaruan, Ade Armando, ahli komunikasi yang juga anggota dewan juri AAS serta Andy Noya sebagai moderator.

    print-media-is-deadHadir pada siang hari itu perwakilan dewan juri AAS, diantaranya Arswendo Atmowiloto, Yoseph Adi Prasetyo, Indria Samego, dan TD Asmadi, perwakilan PT HM Sampoerna Tbk., dan media.

    Dimulai sekitar pukul 12.45, diskusi berjalan sangat seru hingga satu jam lebih. Andy Noya benar-benar sangat kampiun dalam memandu jalannya diskusi ditunjang oleh kehebatan masing-masing panelis dalam menyumbangkan wacana-wacana yang sangat menarik seputar tema diskusi. Budiono Darsono dalam pemaparannya mengatakan bahwa kita tidak bisa membandingkan media cetak dengan media online. “Detik (Detik.Com-red) tidak musuhan, justru Detik banyak membantu media cetak. Rekan-rekan jurnalis seringkali menggunakan artikel-artikel dari Detik untuk kemudian diubah dan dipublikasikan di media mereka. Dan ini tidak apa-apa,” ujar Budiono.

    Budiono menambahkan bahwa ancaman bagi media cetak justru datang dari perkembangan gadget-gadget pendukung yang memungkinkan manusia moderen saat ini bisa mengakses informasi dalam bentuk berita, buku, dan lain-lain melalui telepon genggam atau perangkat lainnya. “Apalagi sekarang dengan hadirnya iPad dimana orang lebih leluasa lagi membaca berita,” tambahnya.

    Hal ini diamini oleh Ninok Leksono. Dia mengatakan bahwa kemajuan teknologi memicu perubahan pada gaya hidup dan begitu juga sebaliknya. “Perubahan gaya hidup saat ini memicu hadirnya teknologi-teknologi yang mampu memberikan kemudahan masyarakat dalam mengakses informasi,” ujar Ninok yang juga salah satu pendiri Kompas.Com.

    Primus Dorimulu, sebagai perwakilan dari media cetak mengatakan bahwa dirinya masih percaya bahwa media cetak akan bertahan paling tidak 30-35 tahun ke depan karena media cetak masih akan memiliki pembaca setianya. “Suatu waktu, jika media cetak sudah tidak ada pembacanya, maka kami juga akan swift ke media lain,” ujarnya. Dia mengatakan bahwa saat ini grup medianya sudah menyiapkan orang-orang dan teknologi untuk masuk ke media online dengan kualitas yang baik.

    printvsonlineBerbicara selaku pengamat komunikasi, Ade Armando menegaskan keyakinannya bahwa media cetak tidak akan mati. Masing-masing media memiliki kelebihan dan pembacanya sendiri. Hal yang sulit dilawan oleh media cetak dari online adalah faktor kecepatan. Masyarakat banyak terbantu untuk mendapatkan informasi secara cepat melalui berita-berita online. Kejadian yang terjadi baru beberapa menit, sudah dapat dibaca melalui telepon genggam atau komputer kita. Namun demikian, media cetak juga memiliki kelebihannya. Berita-berita yang dimuat oleh media cetak dapat ditulis lebih detil. Disinilah justru peluang yang harus dilihat oleh media cetak. Mereka harus menampilkan berita-berita yang in-depth atau bersifat investigatif dan human interest. “Jika media cetak masih mengandalkan hard news, maka akan tergerus oleh media online yang menang dengan kecepatannya,” demikian ujar Ade.

    Menurut Ade, hal lain yang perlu dilakukan adalah media cetak perlu merubah format mereka baik secara fisik maupun isi berita. Saat ini terjadi dimana media sedang memformat tayangan dengan sasaran untuk menghibur masyarakat, terima kasih kepada media televisi. Salah satu tayangan yang menghibur adalah yang terkait dengan gaya hidup. Bukan hanya pembaca yang menyukai tayangan gaya hidup, pengiklan juga demikian. “Pengiklan saat ini menyasar media-media yang memiliki segmen khusus dan ini domain media cetak,” ujarnya.

    Akhirnya, sebagai kesimpulan dari diskusi media yang diadakan sebagai rangkaian peluncuran Anugerah Adiwarta Sampoerna 2010 tersebut adalah seluruh panelis sepakat bahwa media cetak tidak akan mati di tengah-tengah persaingan dengan media-media lain, khususnya online. Namun demikian, media cetak juga tidak bisa berdiam diri. Manajemen media cetak harus segera menyadari kelebihan-kelebihan yang dimilikinya. Diantaranya yang bisa dilakukan adalah memperbanyak tulisan-tulisan yang lebih bersifat in-depth atau investigatif. Hal lain yang bisa dilakukan adalah dengan memperbaiki format tampilan media itu sendiri, baik dari sisi ukuran maupun layout agar media terus terlihat fresh dan enak dibaca.

    Lalu, bagaimana pendapat rekan-rekan?

     

No Responses to ““Media Cetak Tidak Akan Mati””

Leave a Reply

Name (required)
Mail (will not be published) (required)
Website