Archives
-
Anugerah PFI, Semarakkan Ajang Penghargaan bagi Jurnalis
February 17, 2010
Setelah kesuksesan beberapa ajang penghargaan yang ditujukan bagi perkembangan dunia jurnalistik tanah air, seperti misalnya Anugerah Adiwarta Sampoerna yang tahun ini memasuki penyelenggaraannya yang kelima, satu lagi ajang penghargaan bagi jurnalis muncul ke permukaan. Namanya Anugerah Pewarta Foto Indonesia (PFI).
Di tahun pertama penyelenggaraannya, ajang ini diminati oleh tak kurang dari 300 fotografer dari beragam media di seluruh Indonesia. Tak kurang dari 10.000 karya foto, baik yang telah dipublikasikan di media mereka masing-masing maupun yang belum, masuk ke meja panitia yang seluruhnya adalah anggota Pewarta Foto Indonesia.
Hadiah yang diperebutkan tak kalah menariknya. Trophi dan uang tunai sebesar Rp. 7 juta untuk pemenang pertama, Rp. 6 juta untuk pemenang kedua, dan Rp. 5 juta untuk pemenang ketiga siap untuk digondol oleh pemenang, diluar satu hadiah khusus yaitu Foto Terbaik yang akan mendapatkan satu buah kamera digital lengkap.
Galeri Nasional pun menjadi saksi malam penganugerahan Anugerah PFI pada tanggal 13 Februari silam. Total ada 8 kategori yang dilombakan, yaitu Seni & Budaya, Sosial, Olahraga, Hukum, Ekonomi, Politik, Foto Esai, serta Foto Terbaik.
Crack Palinggi, ketua panitia yang juga fotografer kantor berita Reuters, mengatakan ide awal pembuatan anugerah ini adalah untuk menghidupkan kembali sebuah penghargaan dengan tiga format acara sekaligus yaitu, perlombaan, pameran, dan pembuatan buku. “Pertama dan terakhir kalinya ada acara dengan format seperti ini adalah waktu tahun 1989 yang diadakan oleh PWI,” ujar Crack, yang juga beberapa kali menjadi pemenang kategori foto berita yang diselenggarakan Anugerah Adiwarta Sampoerna.
Menurut Crack, dari total 10.000 karya foto yang masuk, panitia kemudian mensortirnya dan sisanya hanya tinggal 3.026 karya yang dinilai oleh dewan juri yang terdiri dari Seno Gumira (seniman), Oscar Motulloh (LKBN Antara), Enny Nuraheni (Reuters), Kemal Jufri (freelance), dan Julian Sihombing (Kompas). Dua dari juri tersebut, yaitu Seno Gumira dan Oscar Motulloh juga menjabat anggota dewan juri Anugerah Adiwarta Sampoerna.
Dari penilaian juri-juri tersebut, muncullah nama-nama pemenang, diantaranya Rahmad Suryadi, fotografer Harian Seputar Indonesia koresponden Sumatera Utara pemenang kategori Sosial, Yudhi Sukma Wijaya dari Harian Jakarta Globe pemenang kategori Ekonomi, Made Nagi dari EPA pemenang kategori Seni & Budaya, Agus Susanto dari Kompas pemenang kategori Olahraga, Trisnadi dari Associated Press pemenang kategori Politik, PJ Leo dari The Jakarta Post pemenang kategori Hukum, dan Desmunyoto P Gunadi dari Jurnal Nasional pemenang kategori Foto Esai. Sementara untuk Foto Terbaik diraih Trisnadi dari Associated Press.
Selain malam penganugerahan, publik dapat menyaksikan foto-foto yang dilombakan melalui acara pameran yang diselenggarakan juga di tempat yang sama berlangsung hingga tanggal 7 Maret 2010.
Mudah-mudahan, dengan semakin banyaknya muncul ajang penghargaan jurnalistik, maka jurnalis tanah air akan semakin terdorong untuk menghasilkan karya-karya yang berkualitas sehingga di kemudian hari, mampu mendorong pertumbuhan masyarakat Indonesia yang berkualitas pula. Bagaimana pendapat rekan-rekan?
