- Hanny
on Video: Testimoni Pemenang Anugerah Adiwarta Sampoerna 2009 - Hanny
on AAS 2009 - The Jakarta Globe - Hanny Kusumawati on Serba-Serbi: AAS Punya Cerita
- Revdy Iwan Syahputra
on Serba-Serbi: AAS Punya Cerita - Anugerah Adiwarta Sampoerna - on RUU Rahasia Negara: Setelah Direvisi. Masihkah Dipertanyakan?
- Adhi Kusumaputra
- Algooth
- Andi Muhyidin
- Andrew Greene
- Anugerah “Nugie” Perkasa
- Asep Setiawan
- Bagja Hidayat
- Eddy Mesakh
- Ika Maya
- Jarar Siahaan
- Jurnalis NTT
- Kelik M. Nugroho
- Manda La Mendol
- Marwan Azis
- Merry Magdalena
- Okky P. Madasari
- Pepih Nugraha
- Ratna “Atta” Ariyanti
- Samiaji Bintang
- Taufik Hidayat
- Wienda Parwitasari
- Zaky Yamani
- Zeynitta Gibbons
Minggu lalu, pada hari Kamis, 7 Januari 2010, Badan Pekerja Pemilihan Anggota Dewan Pers memilih 9 orang yang menjadi anggota Dewan Pers periode 2010-2013. Setelah melalui proses pemilihan selama kurang lebih sebulan, sejak akhir tahun 2009, kesembilan orang tersebut pun dipilih. Sembilan orang tersebut mewakili 3 unsur, yaitu jurnalis, pengusaha media, dan masyarakat umum.
Tiga orang yang terpilih mewakili pengusaha media adalah Bambang Harymurti, Margiono, dan Bekti Nugroho. Dari perwakilan masyarakat umum yang terpilih adalah Bagir Manan, Agus Sudibyo dan Wina Armada Sukardi. Sementara itu dari perwakilan pengusaha media ada ABG Satria Naradha, M. Ridlo Eisy, dan Zulfiana Lubis.
Para anggota Dewan Pers berharap agar anggota yang baru terpilih ini dapat semakin membawa aspirasi pers ke arah yang lebih baik. Hadirnya Bagir Manan yang juga adalah mantan Ketua Mahkamah Agung turut memberikan harapan agar konflik yang berhubungan dengan pers tidak diproses secara hukum pidana, tetapi dengan berdasarkan pada UU Pers.
Atas terpilihnya kesembilan orang anggota baru Dewan Pers, Anugerah Adiwarta Sampoerna mengucapkan selamat! Semoga pers di Indonesia akan terus meningkat kualitasnya.
Menyedihkan. Itu kalimat pertama yang muncul di benak saya ketika membaca catatan akhir tahun 2009 Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Pers di Jakarta, Rabu (30/12/2009) yang menyatakan telah terjadinya peningkatan drastis pada jumlah tindakan kekerasan terhadap pers di tahun 2009 dibandingkan tahun sebelumnya.
Direktur Eksekutif LBH Pers Hendrayana menyatakan bahwa sepanjang tahun 2008, tercatat bentuk kekerasan fisik terhadap jurnalis sebanyak 10 kasus dan nonfisik sebanyak 7 kasus. Sementara pada 2009, bentuk kekerasan fisik yang menimpa jurnalis
Beberapa kejadian tekanan baik secara fisik maupun nonfisik terhadap pers yang masih kita ingat diantaranya adalah kasus wartawan Makassar, Upi Asmaradhana, yang terancam masuk penjara setelah melakukan kritik terhadap pernyataan yang dilontarkan oleh pejabat kepolisian setempat.
Kemudian, juga ada kasus penganiayaan jurnalis Sinar Harapan di Papua, Odeo Data Julia Vanduk ketika sedang menjalankan tugas jurnalistiknya. Tindakan kekerasan terhadap pers yang paling tragis justru terjadi di awal tahun 2009 ketika wartawan Radar Bali, AA Narendra Prabangsa, terungkap dibunuh terkait dengan pemberitaannya atas sejumlah proyek di Dinas Pendidikan Kabupaten Bangli.
Waktu terus berlalu, lembaran demi lembaran telah dilalui. Coretan demi coretan telah memenuhi, kadang bergitu berarti, kadang tanpa makna, atau hanya sedikit makna.
Semoga di tahun ini setiap lembaran memiliki makna, dan setiap lembaran bermanfaat.
Selamat tahun baru 2010. Semoga tahun ini membawa lebih banyak sukses untuk kita semua.

