Guyonan Khas Mas Wendo Penuhi Suasana Penjurian Final TV AAS 2009

Setelah melalui diskusi yang alot selama lebih dari 2 jam, akhirnya dewan juri final Anugerah Adiwarta Sampoerna 2009 untuk karya televisi berhasil memilih 2 finalis dan 1 karya pemenang masing-masing untuk kategori Dokumenter dan Investigatif.

Bertempat di kantor PT HM Sampoerna pada hari Senin (16/11), lima orang dewan juri final televisi yaitu Arswendo Atmowiloto, George Kamarullah, Marseli Sumarno, Fetty Fajriati, serta Niken Rachmad (mewakili PT HM Sampoerna) hadir pada penjurian terakhir ini. Bambang Harymurti yang juga merupakan anggota dewan juri berhalangan hadir, namun beliau bersedia melakukan penjurian lewat telepon; sehingga lengkaplah sudah seluruh dewan juri hari itu.

picture-7

Dimulai pukul 15.00 WIB, penjurian pada awalnya berlangsung lancar tanpa hambatan. Hampir seluruh dewan juri sepakat tanpa perdebatan yang berarti dalam memilih lima terbaik dari masing-masing kategori. Perdebatan mulai terlihat ketika dewan juri harus memilih 3 karya terbaik dari masing-masing kategori. Sungguh pengalaman yang tidak ada duanya bisa berada di tengah orang-orang yang kompeten dan berpengalaman.

Untuk mengusir kepenatan, Mas Arswendo membuat suasana menjadi hidup sore itu dengan membuat lelucon di tengah-tengah perdebatan yang lumayan sengit. Perdebatan semakin memuncak ketika Mas Arswendo harus memilih pemenang untuk kategori Investigatif. Kesimpulan saya, memang tidak mudah menentukan finalis dan pemenang untuk karya-karya yang berkualitas, bahkan bagi orang-orang sekaliber juri-juri AAS. Tinggal dua karya yang tersisa untuk ditentukan menjadi pemenang kategori investigatif. Tiga juri memilih karya yang berbeda dengan tiga juri lainnya. Imbang. Hal ini yang membuat perdebatan semakin seru.

picture-6

“Tahun ini, karya-karya yang masuk paling bagus dibanding tahun-tahun sebelumnya, karena kesadaran ikut sertanya sudah jauh lebih merata,” demikian diakui Arswendo Atmowiloto.

Pendapat sedikit berbeda disampaikan oleh anggota dewan juri yang lain, George Kamarullah. “Karya-karya tahun ini ada peningkatan, keberagaman tapi content -nya kurang dalam. Mungkin jurnalis TV masih terpatok pada kejar tayang. Banyak sekali hal2 disekeliling kita yang terabaikan,” ujarnya. Namun, ia menambahkan bahwa dengan pesatnya perkembangan pertelevisian, AAS menjadi penting. Diharapkan ajang ini bisa jadi tolak ukur program-program investigasi yang belum banyak ada di televisi.

Tak lupa, masing-masing juri juga mengeluarkan alasan-alasan memilih karya tersebut sebagai dasar penilaian. Melihat alasan-alasan yang dikeluarkan semakin membuat saya yakin bahwa juri-juri tersebut memang orang-orang yang tepat dalam memilih pemenang. Dan tentu saja, karya yang dipilih pun adalah karya yang terbaik diantara yang terbaik.

Jam menunjukkan pukul 17.00 lebih ketika akhirnya, nama-nama finalis dan pemenang berhasil ditentukan. Wajah lega terlihat dari seluruh dewan juri dan panitia yang hadir sore itu. Siapa pemenangnya? Jangan lupa hadir di Malam Anugerah Adiwarta Sampoerna 3 Desember 2009 mendatang, ya!

Sampai bertemu di cerita mengenai penjurian cetak dan online, rekan-rekan!

Tags: , , , , , , , ,

Leave a Reply

[back to top]