Tak terasa, malam penganugerahan Anugerah Adiwarta Sampoerna 2009 semakin dekat. Hal ini menimbulkan flashback akan peristiwa-peristiwa yang terjadi di belakang. Memang, setiap tahunnya, penyelenggaraan AAS selalu diwarnai oleh berbagai hal yang berbeda dan itu yang memberi nuansa tersendiri baik bagi panitia, juri, maupun peserta.
Dari sisi karya yang dikirim peserta, misalnya, selalu ada peserta yang mengirimkan karyanya secara kreatif sehingga memunculkan senyum di wajah para panitia. Selain karya, ada beberapa peserta yang juga mengirimkan CV mereka dengan gaya yang berbeda-beda.
Bukan hanya peserta, panitia penyelenggara pun mempunyai segudang pengalaman unik dalam penyelenggaraan AAS 2009 ini. Salah satu contoh adalah pada saat penjurian foto. Hampir setiap tahunnya panitia akan bersiap-siap untuk pulang larut malam dari sekretariat pada hari sebelum penjurian foto final karena banyaknya karya foto yang dikirim. Selain itu kami juga harus ekstra hati-hati menyusunnya agar tidak merusak foto dan memudahkan penjurian.
Tahun ini panitia memutuskan untuk menggunakan lembar papan dan styrofoam sebagai tempat untuk menampilkan foto ketimbang dinding. Namun, saking banyaknya foto, kaca jendela pun tak luput dari sasaran penempelan.
Penempelan ke lembaran papan adalah satu kesibukan sendiri, namun menaruh setiap foto ke dalam bingkai karton putih agar foto terhindar dari perekat serta paku pines, adalah kesibukan lain. Napas lega bersama-sama dikeluarkan oleh panitia setelah akhirnya berhasil menyelesaikan semuanya pada pukul 12 malam lewat.
Esok paginya, ketika kami tiba kembali di sekretariat, jantung kami berhenti mendadak ketika salah satu anggota panitia memberitahukan bahwa sebagian besar foto-foto yang sudah disusun rubuh. Terbayang kerja keras semalam harus terulang lagi, namun kali ini pastinya dengan tenaga yang lebih ekstra mengingat hari itu adalah hari penjurian foto. Untungnya, salah satu tim telah sejak pagi datang ke kantor dan sudah mulai merapihkan sehingga hari itu penjurian foto final berlangsung dengan lancar.
Kemudian, ada lagi kesibukan yang harus dijalani oleh Panitia setiap tahunnya. Untuk seluruh karya tulis dan online, Panitia harus memasukkannya ke dalam folder-folder berdasarkan 6 bidang yang ada dan mengirimkannya ke juri-juri. Terbayang berapa jumlah halaman yang harus dicetak dan difotokopi! Belum lagi hal-hal kecil yang seringkali membuat Panitia gemas seperti kesalahan penyusunan halaman oleh petugas fotokopi sehingga ribuan lembar kertas harus disusun ulang. Wah, benar-benar pengalaman tak terlupakan…
Semua untaian kisah dan pengalaman itu semakin memberi makna bagi penyelenggaraan Anugerah Adiwarta Sampoerna. Kesulitan yang dihadapi panitia, juri, dan peserta merefleksikan bahwa upaya untuk mendorong peningkatan kualitas jurnalistik di Indonesia membutuhkan kerja keras. Namun, kami semua tetap optimis dan penuh semangat dalam bekerja, terlebih ketika kami juga mengingat betapa besar apresiasi yang diberikan oleh rekan-rekan kepada AAS.
Kami tidak lupa ketika banyak rekan-rekan yang datang ke kantor panitia hanya untuk menyerahkan karya, bahkan ada beberapa diantaranya yang menyerahkan detik-detik menjelang pukul 12 malam. Kami juga ingat beberapa rekan jurnalis yang meskipun daerahnya sedang tertimpa musibah, namun tetap optimis mengirimkan karya mereka ke panitia. Semuanya ini membuat kami berharap mudah-mudahan AAS telah dapat memberikan kontribusi nyata bagi perkembangan jurnalistik di Indonesia.
Tags: kisah AAS, penjurian, serba-serbi


November 12th, 2009 at 9:58 am
Sukses selalu bos….kalau membaca serba-serbi panitia AAS 2009, aku jadi senyum-senyum sendiri. Pasalnya, apa yang bos rasakan pernah aku alami, tapi, itulah dinamikanya hehehehhee….
Oya, kalau aku di Padang saat ini kalau diceritakan, pasti bos-bos di sini pada terharu, bahkan berurai air mata (hahahaha).
Padang sudah hancur lebur. Tak ada lagi Mall, Hotel Berbintang di Kota nan tacinto ini, semuanya rata dengan tanah. Gempa 30 September dengan kekuatan 7,9 SR seakan kiamat kecil bagi kota kami. Ribuan orang tewas, ribuan rumah hancur, 3 kampung tertimbun dan telah menjadi kuburan massal, dan banyak lagi kedukaan lainnya…..
Bahkan, kami saat ini bekerja di tenda darurat…tapi tugas kami sebagai Jurnalis di koran harian tetap jalan.
Mohon dukungan morilnya ya bos…..biar kami bisa bangkit seperti sedia kala…MERDEKA hehehhehhe…..
Salam Sukses bos, dari Padang.
November 16th, 2009 at 9:06 am
mas iwan, terus semangat, ya. kami turut prihatin dengan apa yang terjadi di padang. salut melihat semangat Anda dan kawan-kawan yang masih setia menjalankan tugas jurnalistik dengan fasilitas yang seadanya, namun dengan semangat yang membara! teriring doa kami untuk Anda dan kawan-kawan di sana.