“Setiap foto juga harus memiliki simbolisasi yang kuat. Simbol apa yang ingin disampaikan oleh si pewartafoto harus tampak,” ujar Ray Bachtiar Drajat, juri baru untuk kategori foto berita sesaat sebelum melakukan penjurian final foto. Kemarin (29/10) bertempat di kantor panitia Anugerah Adiwarta Sampoerna, berlangsung penjurian final untuk 658 karya foto yang layak untuk dinilai. Dimulai pukul 11.00 WIB, juri foto AAS 2009 hadir lengkap siang itu: Oscar Motulloh, Firman Ichsan, dan Ray Bachtiar Drajat.
Pada hari Kamis (29 Oktober) kemarin kami para panitia AAS 2009 dan dewan juri telah melaksanakan penjurian final untuk Anugerah Adiwarta Sampoerna 2009 kategori foto berita. Berikut adalah suasana penjurian yang diwarnai diskusi danargumentasi dari 3 juri foto AAS 2009: Firman Ichsan, Oscar Motulloh dan Ray Bachtiar.
Di tengah-tengah ungkapan belasungkawa serta keprihatinan panitia AAS terhadap kejadian dan korban gempa yang terjadi di Sumatera Barat, terbersit rasa salut yang tak terhingga bagi rekan-rekan jurnalis yang masih memiliki semangat yang tinggi untuk tetap mengikuti ajang AAS 2009.
Beberapa nama diantaranya Igooy El Fitra dari Antara Sumatera Barat yang turut mengikrimkan karyanya untuk kategori foto, Revdi Iwan Syahputra dari Padang Ekspress yang mengirimkan karya artikel dan foto, serta Yuniar dari Harian Singgalang yang juga turut serta mengirimkan karya untuk kategori tulisan.
Bahkan, ketika panitia memberitahukan bahwa ada beberapa diantara rekan-rekan yang kelengkapan administrasinya masih kurang, mereka masih menyempatkan diri untuk mengirimkannya ke panitia. Yuniar, misalnya, hanya membutuhkan beberapa hari untuk mengirimkan kembali kelengkapan administrasi yang masih kurang di tengah-tengah terbatasnya koneksi internet akibat kondisi yang masih tidak menentu. Sungguh mengharukan.
Untuk segala kegigihan serta penghargaan rekan-rekan terhadap penyelenggaraan AAS, bukan hanya rekan-rekan jurnalis yang berada di daerah musibah namun juga di seluruh Indonesia, Panitia mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya. Salut sekali lagi!
Yeni Simanjuntak memulai penulusurannya atas kasus dana BKPM pada bulan Agustus 2007. Dengan berbekal data-data yang menurutnya sangat tidak real, ia mencoba mencari alamat sebuah perusahaan yang disebut-sebut sebagai investor dana BKPM senilai 17,13 triliun rupiah. Perjalanannya siang itu tidak membawa hasil karena ternyata alamat yang tertera pada data BKPM yang ia miliki adalah alamat kosong.
Itulah sekelumit cerita dibalik artikel berjudul Menyoal Data Investasi yang berhasil meraih penghargaan Anugerah Adiwarta Sampoerna (AAS) 2008 untuk kategori liputan investigatif. Sang penulis, Yeni Simanjuntak, mengatakan pengalaman dalam menulis artikel tersebut sebagai sesuatu yang berharga dan belum pernah ia lakukan sebelumnya. Selama beberapa hari ia turun ke lapangan menyusuri daerah Menteng Jakarta Pusat untuk mencari alamat perusahaan itu. Bahkan ia mengaku sebagai seorang calon karyawan yang mendapatkan panggilan wawancara kerja.
Kemarin adalah hari terakhir pengiriman karya Anugerah Adiwarta Sampoerna 2009. Saking banyaknya karya yang diterima di hari terakhir, Panitia AAS membutuhkan waktu beberapa hari untuk menghitung berapa jumlah karya yang masuk secara keseluruhan. Namun, yang pasti, Panitia sangat terharu melihat keantusiasan rekan-rekan dalam mengikuti ajang AAS. Betapa tidak, dari mulai siang hingga malam, kantor panitia yang ada di jalan balitung kebayoran baru tidak berhenti-henti menerima rekan-rekan jurnalis yang datang khusus untuk mengantarkan karya mereka. Bahkan, menurut penjaga kantor, hingga menjelang pukul 12 malam, masih ada juga beberapa yang datang. Atas segala jerih payah rekan-rekan untuk ikut dalam AAS, panitia mengucapkan banyak terima kasih dan semoga panitia dapat terus memperbaiki performa sehingga mampu memberikan ajang yang terbaik. Sampai jumpa di Malam Penganugerahaan AAS 2009!

Di hari terakhir batas waktu pengiriman karya Anugerah Adiwarta Sampoerna 2009, panitia kebanjiran karya. Lihat saja tumpukan karya-karya yang ada di meja panitia. Melihat pemandangan tumpukan karya membuat kami justru tambah semangat karena berarti rekan-rekan sangat antusias untuk ikut serta dalam ajang AAS. Kami yakin, tumpukan-tumpukan itu akan terus bertambah hingga malam penutupan nanti seiring bertambahnya antusiasme kami juga.
Jangan lupa kirimkan hasil karya anda! Hari ini adalah hari terakhir pengumpulan karya AAS 2009!
Bagi Anda yang akrab dengan dunia pers dan jurnalisme pasti sudah tidak asing lagi dengan istilah jurnalisme watchdog atau watchdog journalism. Seperti namanya, jurnalisme watchdog dapat diartikan sebagai jurnalisme yang ditujukan untuk ‘mengawasi’ tokoh dan institusi publik yang fungsinya mempengaruhi kehidupan sosial dan politik, serta untuk mengawasi akuntabilitas mereka.
The Associated Press (AP), di videonya mengenai bagaimana menjalani jurnalisme watchdog, menyatakan bahwa pers harus mampu menjalankan jurnalisme watchdog bagi para tokoh publik, termasuk presiden. Tugas pers adalah untuk mengkritisi dan menuliskan berita secara lengkap bagi masyarakat. Menurut Ron Fournier, Kepala Biro AP Washington, mengkritisi bukan berarti memihak ke salah satu sisi.
Editor Akuntabilitas AP, Jim Drinkard, menambahkan bahwa untuk melakukan hal ini ada dua hal yang perlu dilakukan oleh seorang jurnalis, yaitu mendengarkan dan mengawasi. Kemudian memeriksa kecocokan di antara keduanya. Apakah janji yang diucapkan oleh presiden tersebut benar-benar ditepati? Jika tidak, maka pers harus berani menyatakan bahwa presiden melanggar janjinya.
Walaupun masih terhambat oleh berbagai hal, jurnalisme di Indonesia saat ini kelihatannya pun semakin menuju ke arah jurnalisme watchdog. Pers semakin memegang peranan sebagai the fourth estate di Indonesia, dan hal ini bisa dilihat di Indonesia, dan hal ini bisa dilihat dari pemberitaan-pemberitaan yang ada.
Salah satu contohnya adalah menyoal kasus Bank Century yang sekarang sedang ramai diperbincangkan. Membahas kasus tersebut tidak akan pernah terlepas dari sisi politis yang saat ini masih menjadi rumor di banyak kalangan. Kita katakan rumor karena memang banyak diantara berita-berita yang beredar belum dapat dipastikan kebenarannya.
Yang kita tahu pasti adalah sejak bergulirnya kasus tersebut, media sudah memantau secara intensif dalam rangka memberikan informasi yang benar dan, tentu saja, obyektif kepada masyarakat. Inilah salah satu contoh fungsi jurnalisme watchdog yang dijalankan oleh media.
Dan jika menurut Fournier jurnalisme watchdog seharusnya tidak memihak ke salah satu sisi, hal ini tampaknya masih kurang tepat karena media memiliki publik sebagai pemangku kepentingan dimana hak-haknya perlu media penuhi yaitu mendapatkan informasi yang obyektif dari setiap permasalahan yang ada.
Apakah menurut rekan-rekan media di Indonesia sudah benar-benar menjalankan fungsi jurnalisme watchdog?
Hingga saat ini, Panitia Anugerah Adiwarta Sampoerna 2009 telah menerima lebih dari 750 karya jurnalis dari seluruh Indonesia dengan jumlah pengirim kurang lebih 200 jurnalis. Untuk Liputan Kemanusiaan Cetak dan Online didominasi oleh bidang Sosial dengan 95 karya, sementara untuk Liputan Investigatif juga didominasi oleh bidang yang sama dengan 25 karya. Untuk foto, terjadi persaingan ketat dalam hal jumlah karya yang masuk antara bidang-bidang Politik, Ekonomi & Bisnis, serta Seni dan Budaya dengan karya terbanyak dicapai oleh Seni dan Budaya dengan 65 karya. Sementara untuk televisi, total 27 karya sudah masuk ke meja panitia yang sebagian besar adalah Liputan Investigatif dan TPI, saat ini, sebagai stasiun televisi pengirim karya terbanyak.
Ayo rekan-rekan, kami masih tunggu karya Anda hingga 15 Oktober 2009!
Oleh: Nena Brodjonegoro
Salah satu ciri khas dari Web 2.0, yang juga adalah kekuatan terbesarnya, adalah interaktivitasnya. Salah satu contohnya adalah platform wiki yang memungkinkan penggunanya berkontribusi terhadap isi suatu halaman situs, seperti Wikipedia. (more…)
Oleh: Retno Nindya Prastiwi
Begitu banyak kejadian yang terjadi di Indonesia saat ini dan begitu cepat berita beredar di kalangan publik. Berita yang dengan mudahnya tersebar luas di kalangan masyarakat tentunya karena ditunjang dengan kecepatan teknologi informatika di mana saat ini masyarakat dapat dengan mudah mengakses berita dan menyebarkannya secara lebih luas.
Dalam kasus ini, Twitter, Facebook dan banyak website jejaring sosial lainnya merupakan salah satu pemicu penyebaran berita yang sedemikian cepatnya dan dalam beberapa kejadian mulai mengalahkan media konvensional. Kuncinya? Berbagi berita.
Kalau menggunakan media konvensional, bisa saja kita menyobek artikel dari sebuah majalah atau koran lalu memberikannya kepada orang lain. Namun tentu saja hal itu akan memakan waktu dan apabila kita ingin berbagi dengan orang banyak, tidak dapat dibayangkan berapa banyak majalah dan koran yang harus kita beli untuk menyobek artikel yang ingin kita bagi. Apabila ingin berbagi liputan tayangan di TV, apakah jaman sekarang kita rela menunggu di depan TV dengan recorder dan berbagi kaset VHS?