Archives
-
Paling Suka Dengan Narasumber Lokal
September 29, 2009
Oleh: Dody Rochadi
Profil: Bambang Sulistyo
Menulis cerita yang bersifat investigatif memang membawa kenangan tersendiri. Dari sekian banyak rekan-rekan jurnalis yang bercerita mengenai pengalaman mereka mengumpulkan data dan menulis, tidak sedikit yang mengatakan bahwa cerita investigatif kadang-kadang membuat adrenalin mereka terpompa.
Betapa tidak, selama mengumpulkan data, mereka harus menemui beragam hal-hal yang jarang mereka temui dalam pekerjaan mereka sehari-hari. Begitulah yang dialami Bambang Sulistyo, jurnalis majalah berita mingguan Gatra, ketika proposalnya disetujui oleh dewan redaksi dan dia harus berangkat ke Bangka untuk membuat tulisan mengenai penambangan timah di daerah tersebut.
Alhasil, selama 10 hari, banyak sekali pengalaman-pengalaman baru yang didapatnya di tempat tersebut. “Saya sangat suka ketika mengobrol dengan narasumber-narasumber lokal. Banyak pengalaman dan wawasan yang saya dapat,” kenangnya. Selain itu, tambahnya, dia juga berkesempatan untuk menyaksikan proses pengolahan timah, mulai dari penambangan hingga pengiriman.
Bambang senantiasa menyukai eksplorasi lapangan yang membuatnya bertemu dengan banyak orang dan hal. Yang paling berkesan adalah ketika dia harus mencari informasi sendiri lokasi-lokasi penambang-penambang timah liar yang dicari-cari oleh penegak hukum. Disinilah keahlian seorang jurnalis benar-benar teruji bagaimana mendapatkan berita bagaimanapun kondisinya.
Tak jarang, Bambang harus menerima sikap-sikap tidak menyenangkan selama proses pencarian berita dari para penambang liar karena mereka harus bersikap hati-hati sekali terhadap pendatang. “Tak apalah, sikap-sikap mereka masih dalam batas kewajaran kok,” ujar Bambang. Cuma memang yang menyulitkan adalah ketika mereka tidak banyak memberikan komentar ketika ditanya akibat sikap hati-hati tadi.
Akhirnya, setelah melalui proses penulisan dan pengeditan oleh redaktur, dimuatlah tulisan Bambang yang berjudul “Hukum Datang Timah Senang”. Dan tulisan ini pula yang membuat Bambang memenangkan kategori hardnews bidang hukum di ajang Anugerah Adiwarta Sampoerna 2007. Di tahun yang sama, salah satu tulisan Bambang juga memenangkan kategori hardnews untuk bidang seni dan budaya dengan judul “Cipoa, Rekreasi Garing”. “Saya sangat senang sekali waktu saya diberitahu rekan tulisan saya menang di AAS karena waktu malam penganugerahaan, saya sedang berada di luar kota,” ujarnya.
Lalu apa arti AAS bagi seorang Bambang Sulistyo? “AAS, menurut saya, menjadi sebuah tolak ukur bagi jurnalis untuk mengontrol kualitas tulisan-tulisannya,” katanya. Menurutnya, ajang AAS merupakan sebuah ajang penilaian karya jurnalis yang obyektif karena terdapat nama-nama dewan juri yang benar-benar berkualitas di bidangnya masing-masing dan dirinya bangga untuk dapat menang di AAS.
Sekembalinya ke Jakarta dan menerima uang hadiah, Bambang ditagih oleh rekan-rekan satu kantor untuk makan-makan seperti kebiasaan rekan-rekan yang lain ketika menang di suatu ajang penghargaan. “Sisanya bisa saya tabung dan melunasi cicilan motor dan rumah,” ujarnya sambil berseloroh.
