Archive for September, 2009

Paling Suka Dengan Narasumber Lokal

Tuesday, September 29th, 2009

Oleh: Dody Rochadi

Profil: Bambang Sulistyo

Menulis cerita yang bersifat investigatif memang membawa kenangan tersendiri. Dari sekian banyak rekan-rekan jurnalis yang bercerita mengenai pengalaman mereka mengumpulkan data dan menulis, tidak sedikit yang mengatakan bahwa cerita investigatif kadang-kadang membuat adrenalin mereka terpompa.

Betapa tidak, selama mengumpulkan data, mereka harus menemui beragam hal-hal yang jarang mereka temui dalam pekerjaan mereka sehari-hari. Begitulah yang dialami Bambang Sulistyo, jurnalis majalah berita mingguan Gatra, ketika proposalnya disetujui oleh dewan redaksi dan dia harus berangkat ke Bangka untuk membuat tulisan mengenai penambangan timah di daerah tersebut.

Alhasil, selama 10 hari, banyak sekali pengalaman-pengalaman baru yang didapatnya di tempat tersebut. “Saya sangat suka ketika mengobrol dengan narasumber-narasumber lokal. Banyak pengalaman dan wawasan yang saya dapat,” kenangnya. Selain itu, tambahnya, dia juga berkesempatan untuk menyaksikan proses pengolahan timah, mulai dari penambangan hingga pengiriman.

picture-11 (more…)

Selamat Idul FItri 1430 H

Thursday, September 17th, 2009

Tak terasa bulan Ramadhan akan terlewati dan sekali lagi kita bertemu dengan hari yang penuh suci dan fitrah, hari raya Idul Fitri.

Mungkin untuk teman-teman jurnalis, bulan Ramadhan setiap tahunnya merupakan tantangan. Saat deadline mendekat, memburu narasumber, menyusun kalimat demi kalimat untuk laporan agar siap cetak untuk keesokan harinya padahal fisik dan mental sendiri sedang diuji oleh puasa Ramadhan. Tidak hanya menahan lapar dan haus namun juga menahan emosi, hawa nafsu dan berbagai macam pikiran dan tindakan negatif. Bulan Ramadhan ini sendiri pastinya diharapkan dapat menjadikan kita sebagai manusia yang lebih baik dan dapat mengambil hikmah dari kejadian apapun di sekitar kita.

Kita semua berharap agar bulan Ramadhan ini bisa membuat kita menjadi manusia yang lebih baik dalam hal apapun. Saatnya membalik lembaran baru dan memulai semuanya dengan hati yang bersih dan penuh maaf.

Kami dari panitia Anugerah Adiwarta Sampoerna mengucapkan Selamat Idul Fitri 1430 H. Taqaballahu minal wa minkum, minal aidzin wal faidzin. Mohon maaf lahir dan batin.

Gambar yang Bercerita

Thursday, September 17th, 2009

Profil: Yuniadhi Agung

Oleh: Dwija Hiradisti

A picture tells a thousand stories. Gambar bisa bercerita banyak. Sebuah gambar bisa membuat kita merasa senang ataupun sedih. Lewat sebuah gambar kita juga bisa melihat sebuah peristiwa dan sejarah. Yuniadhi Agung adalah satu diantara banyak pewarta foto di Indonesia yang sehari-hari berusaha menangkap peristiwa lewat lensa kameranya.

Agung, demikian ia akrab disapa, telah puluhan tahun berkecimpung dalam dunia fotografi. Sejak tahun 2002, ia menjadi pewarta foto di Harian Kompas. Pengalamannya selama 7 tahun di harian terbesar di Indonesia itu membawanya pada berbagai peristiwa nasional yang menjadi sorotan masyarakat.

aktivitas-perekonomian-terhambat-yuniadhi-a-1

(more…)

RUU Rahasia Negara: Aspirasi, Proteksi dan Revisi

Tuesday, September 15th, 2009

Oleh: Nena Brodjonegoro

Sekarang sudah hampir dua minggu polemik tentang RUU Rahasia Negara berlangsung di banyak media, baik cetak, online, juga siar. Setelah direvisi, ternyata RUU Rahasia Negara masih menuai banyak diskusi dan perdebatan. Pemerintah pun akhirnya tidak bisa lagi menutup telinga atas aspirasi masyarakat, terutama dari kalangan pers, yang meminta agar RUU tersebut tidak lantas diberlakukan sebagai UU yang mengikat sebelum dibahas dengan lebih mendalam.

Banyak pihak yang menduga bahwa jika RUU Rahasia Negara ini diberlakukan, Indonesia akan kembali menjadi negara otoriter seperti di masa Orde Baru, di mana kebebasan pers diberangus oleh pemerintah. Kekhawatiran ini terungkap dengan jelas pada editorial Media indonesia hari ini. Dengan RUU yang sekarang, banyak hal akan termasuk dalam definisi ‘rahasia negara’, seperti struktur organisasi TNI, bahkan APBN.

picture-1

Menurut J. Kristiadi dalam analisisnya di harian Kompas hari ini, ada beberapa kelemahan dalam RUU tersebut, yaitu: 1) proses penyusunan tidak disertai kajian akademik yang komprehensif dan mendalam; 2) banyak ketentuan bertabrakan dengan UU Keterbukaan Informasi Publik, UU Pers, dan UU HAM; 3) menurup akses publik melakukan kontrol terhadap negara serta memandulkan kebebasan pers, berpotensi pelanggaran dan menghambat penuntasan kasus HAM; 4) menghambat pemberantasan korupsi di Indonesia; 5) rentan disalahgunakan melindungi pejabat pemerintah dari perbuatan korup; dan 6) tidak mengatur pengecualian yang sangat diperlukan dalam kondisi tertentu.

Berbagai pihak sudah menyuarakan pendapatnya mengenai pembahasan ulang RUU Rahasia Negara ini. DPR menyatakan bahwa hal ini terserah pada pemerintah, apakah akan menarik RUU ini dari pembahasan di DPR, Presiden melalui Juru Bicaranya menyatakan bahwa ia menginginkan UU ini diperbaiki sebelum disahkan.

Pertanyaannya, apakah setelah diperbaiki dan direvisi RUU Rahasia Negara ini akan mampu mengakomodasi aspirasi dari berbagai kalangan masyarakat, serta memenuhi tujuannya untuk memproteksi kedaulatan negara? Bagaimana menurut Anda, rekan media?

RUU Rahasia Negara: Setelah Direvisi. Masihkah Dipertanyakan?

Thursday, September 10th, 2009

Saat ini wacana yang sedang hangat dibicarakan di kalangan pers adalah mengenai RUU Rahasia Negara dan bagaimana RUU ini diperkirakan dapat mempengaruhi kebebasan pers di Indonesia.

Adanya RUU ini tentunya bukan tanpa alasan. Pemerintah sendiri bersikap preventif untuk mencegah bocornya rahasia negara ke khalayak luas yang akibatnya malah merugikan negara sendiri. Namun sanksi yang ditentukan oleh RUU itu sendiri dinilai memberatkan beberapa kalangan di dunia pers, terutama perusahaan media massa skala kecil dan/atau menengah sehingga secara langsung tak langsung malah akan merugikan dunia pers itu sendiri dikarenakan denda yang bisa mencapai miliaran rupiah.

(more…)

Makna Anugerah Herawati Diah Untuk Jurnalis Perempuan

Tuesday, September 8th, 2009

Oleh: Nena Brodjonegoro

Beberapa waktu yang lalu panitia Anugerah Adiwarta mengumumkan adanya sebuah anugerah khusus bagi jurnalis perempuan dalam ajang Anugerah Adiwarta, yaitu Anugerah Herawati Diah. Anugerah Herawati Diah sebenarnya pertama kali diselenggarakan tahun 2008 oleh Yayasan Gerakan Pemberdayaan Swara Perempuan (GPSP), dengan mengangkat tema lingkungan hidup. Tahun ini, Anugerah Adiwarta bekerja sama dengan Yayasan GPSP dan bersama-sama menyelenggarakan Anugerah Herawati Diah.

Adanya anugerah khusus bagi jurnalis perempuan mempunya makna tersendiri. Hal ini menunjukkan bahwa kiprah jurnalis perempuan sudah semakin meningkat dan semakin terlihat di konstelasi pers dan jurnalistik Indonesia. Selain itu, kehadiran para jurnalis perempuan juga berarti bahwa perempuan juga mampu berkarya di bidang pekerjaan yang sebelumnya dianggap ranah “laki-laki”, yang membutuhkan ketahanan fisik dan rentan terhadap kekerasan. (more…)

Media dapat bantu menekan jumlah korban bencana

Friday, September 4th, 2009

Oleh: Retno Nindya Prastiwi

Bencana kadang dapat membuat kita mengulas kembali langkah kita selama ini dan apa yang bisa kita perbaiki di masa yang akan datang. Dari sudut pandang media massa, bencana kerap mengingatkan kita betapa pentingnya peran jurnalisme dan media massa sebagai penyedia informasi bagi khalayak luas. Informasi ini mencakup berita berkenaan dengan dampak bencana maupun, yang tak kalah penting, informasi tentang sosialisasi sistem peringatan dini–yang sangat mungkin dapat membantu menekan dampak dan jumlah korban suatu bencana.

Masih segar dalam ingatan kita kita bagaimana Jakarta diguncang gempa pada hari Rabu (2 September 2009) lalu di mana pusat gempa ternyata terletak di Tasikmalaya dan berkekuatan 7.3 SR dan gempa susulan yang berkekuatan 6 SR melanda Bandung. Gempa itu sendiri mengakibatkan kerusakan besar dan bertambahnya daftar korban jiwa.

Dari begitu banyak berita duka yang terdapat di media massa, terbersit satu artikel mengenai keprihatinan akan minimnya sosialisasi Sistem Peringatan Dini di website Kompas.

aas1

(more…)

Akankah RUU Rahasia Negara Membelenggu Kebebasan Pers?

Thursday, September 3rd, 2009

Oleh: Nena Brodjonegoro

Salah satu alasan Anda membaca tulisan ini saat ini, di blog milik Anugerah Adiwarta Sampoerna, mungkin adalah karena Anda percaya dengan kebebasan informasi. Banyaknya blog, dan situs berita online yang menawarkan berita terkini, juga termasuk penerapan dari kebebasan informasi ini. Seiring dengan dijunjungnya kebebasan informasi, kebebasan pers pun turut menjadi satu hal yang penting di masyarakat Indonesia, bahkan adalah salah satu hal yang membuat Indonesia lebih unggul dibandingkan negara tetangga seperti Singapura dan Malaysia.

picture-20

Kebebasan pers di Indonesia memang masih berada dalam tahap “pembentukan diri”, masih mencari bentuk yang pas, yang bisa mengakomodir banyak pihak - pemerintah, masyarakat, dan pekerja pers sendiri. Pemerintah melakukan bagiannya dengan meniadakan SIUPP di tahun 1998, dan merancang berbagai undang-undang seperti UU Pers, UU Keterbukaan Informasi Publik, dan yang terbaru, UU Rahasia Negara yang menuai banyak protes.

UU Rahasia Negara yang sedang digodok oleh pemerintah dan direncanakan untuk ditetapkan pada bulan Oktober 2009 ini dianggap berpotensi menghambat kebebasan pers. Hal ini karena UU tersebut membatasi media dan masyarakat untuk mendapatkan informasi mengenai hal-hal tertentu yang dianggap sebagai rahasia negara. Kekhawatiran yang muncul adalah bahwa dengan berlakunya UU ini, maka pers dan masyarakat umum tidak lagi dapat mengakses informasi tertentu yang sebenarnya perlu untuk diketahui publik. Misalnya, anggaran belanja daerah, yang dapat menjadi panduan masyarakat untuk mengontrol penggunaan dana oleh pemerintah.

(more…)

Anugerah Herawati Diah di AAS 2009

Wednesday, September 2nd, 2009

Di tahun keempat, ajang kompetisi jurnalistik Anugerah Adiwarta Sampoerna (AAS) melakukan terobosan baru. AAS menggandeng tokoh jurnalis senior Indonesia, Ibu Herawati Diah.

Ibu Herawati memiliki kepedulian tinggi atas perkembangan, eksistensi dan kualitas karya jurnalistik Tanah Air. Semangat ini sama dengan semangat yang juga diusung oleh AAS. Kehadiran beliau menghadirkan satu lagi penghargaan baru, khusus bagi jurnalis perempuan Indonesia. Namanya “Anugerah Herawati Diah”.

*photo credit to Jaya Photography

*photo credit to Jaya Photography

“Kami menyambut baik dan menghargai keikutsertaan Yayasan Gerakan Pemberdayaan Swara Perempuan (GPSP) yang memberikan penghargaan khusus bagi jurnalis perempuan melalui ajang AAS,” kata Niken Rachmad, Communications Director PT HM Sampoerna Tbk.  “Melalui penghargaan ’Anugerah Herawati Diah’, diharapkan akan lebih banyak lagi perempuan Indonesia yang dapat menyumbangkan pikirannya melalui karya-karya jurnalisme. Kami juga berharap jurnalis perempuan generasi kini dapat terinspirasi oleh semangat dan kerja keras Ibu Herawati Diah yang tak kenal lelah.”

(more…)

[back to top]