Archives
Archive for August, 2009
-
Menang dalam arena opini publik, menang pula di pengadilan
August 20, 2009
Oleh: Retno Nindya Prastiwi
“In order to win court of law, you have to win court of public opinion.” Guna menang dalam sidang pengadilan, Anda harus memenangkan opini publik. Ungkapan ini dilontarkan oleh Ong Hock Chuan, salah seorang pembicara dalam Talk HukumOnline di Mayapada Tower yang bertemakan ‘Litigation PR: Theory and Reality.”
Tanpa mengecilkan independensi sistem peradilan terutama di Indonesia, ucapan ini mengingatkan kita kepada kasus Prita melawan Omni International Hospital. Kasus yang merebak beberapa waktu lalu ini menarik simpati publik terhadap Prita sedemikian besarnya dan akhirnya pengadilan memutuskan status tidak bersalah kepada Prita.
-
@ndorokakung follow the journalists, not the organizations, because of their reputations and authorities
August 19, 2009
Oleh: Nena Brodjonegoro
Serangkaian pernyataan-pernyataan yang menggelitik muncul di Twitter siang hari ini, dari @ndorokakung. @ndorokakung, yang juga adalah seorang jurnalis, menuliskan berbagai hal yang sangat menarik tentang masa depan media dan pers Indonesia – terutama dengan semakin menjamurnya penggunaan media baru (internet, Twitter, Facebook) di dunia dan Indonesia.
Di bawah ini adalah rangkaian tweets dari @ndorokakung, mulai dari yang terawal hingga terkini, yang bisa menjadi titik awal diskusi tentang media dan pers Indonesia.
-
Irawan Santoso, Sang Pemenang Hattrick di AAS
August 14, 2009
Oleh: Pasha Safira Havid
Fiat Justitia Ruat Caelum—Hukum harus ditegakkan walau langit akan runtuh. Kalimat itu menjadi salah satu judul entri blog Irawan Santoso. Menelusuri blognya, tampak jelas betapa Irawan demikian menggemari bidang yang ia geluti dalam dunia jurnalisme Indonesia: masalah hukum. Ia sendiri dengan gamblang mengatakan, “Bukan jurnalis sembarangan. tapi jurnalis yang ngerti hukum.”
Dengan keseriusan, dedikasi, dan semangat yang demikian tinggi, tak heran apabila Irawan berhasil keluar sebagai pemenang selama tiga tahun berturut-turut di ajang Anugerah Adiwarta Sampoerna (AAS) pada tahun 2006, 2007, dan 2008. Satu-satunya wartawan yang pernah meraih prestasi ini.
Irawan mengukuhkan jejak langkahnya sebagai jurnalis ketika ia mengikuti ajang penganugerahan jurnalistik Anugerah Adiwarta Sampoerna tahun 2006. Walaupun itu adalah kali pertamanya mengikuti AAS, Irawan langsung dinobatkan sebagai jurnalis terbaik untuk kategori feature sosial lewat karyanya “Misteri Suap Probosutedjo” di majalah FORUM Keadilan.
Tahun berikutnya Irawan kembali mengikuti AAS, dan kembali dinobatkan sebagai pemenang untuk kategori feature hukum melalui tulisan “TIME Kalah MA Dibelah” yang dimuat di majalah Ombudsman, tempatnya bekerja saat itu.
Setelah dua tahun berturut-turut berhasil menjuarai ajang AAS di dua kategori berbeda, Irawan kembali membuktikan kepiawaiannya dalam dunia jurnalistik di AAS 2008. Dengan judul karya “Merindukan Advokat Pejuang,” Irawan menjuarai AAS 2008 di kategori humaniora hukum. Karyanya dimuat di majalah Mahkamah, dimana hingga kini ia menjabat sebagai pemimpin redaksi.
Pria kelahiran Medan 28 tahun silam ini menyebut Anugerah Adiwarta Sampoerna sebagai Pulitzer-nya Indonesia. Menurutnya, jaminan keputusan pemenang dan tingkat independensi di ajang ini berbeda dengan ajang serupa lainnya, terutama dalam hal pemilihan pemenang. Tidak ada wartawan yang bisa memprediksi kemenangannya karena dewan juri yang terlibat tidak hanya berasal dari kalangan wartawan, tapi juga para praktisi, sehingga terdapat dissenting opinion (istilah hukum untuk perbedaan pendapat).Bagi Irawan, kemenangan hattrick di ajang AAS ini merupakan suatu pembuktian diri tersediri baginya. Selanjutnya, ketika ditanya apakah ia percaya diri akan kembali menjadi jawara di tahun ini, Irawan tidak mengiyakan tetapi ia tentunya berharap namanya akan kembali diperhitungkan.
Kiprah dan dedikasi Irawan di bidang jurnalisme hukum Indonesia sudah tidak diragukan lagi. Dengan latar belakang pendidikan sebagai sarjana hukum, di Universitas Sumatera Utara dikombinasikan dengan ketertarikan terhadap dunia jurnalisme, Irawan berhasil menorehkan jejaknya sebagai jurnalis/blogger hukum ternama di Indonesia.
-
70% dari 1,000 Media di Indonesia Dalam Kondisi Tidak Sehat
August 12, 2009
Oleh: Nena Brodjonegoro
Beberapa waktu yang lalu Wakil Ketua Dewan Pers Sabam Leo Batubara menyatakan bahwa sebanyak 70 persen dari 1000 media yang ada di Indonesia berada dalam kondisi “tidak sehat“. Menurut Leo, ketidaksehatan tersebut dapat dilihat dari beberapa hal, antara lain tidak menaati Undang-undang Pers, pemberitaan yang tidak berdasar pada fakta, tidak memberikan pencerahan bagi para pembacanya, serta tidak melakukan prosedur check-and-balance dalam pemberitaannya.
Sebagai pekerja media, wajar apabila pernyataan itu terasa menohok. Namun, pada saat yang sama, kondisi ini dapat menjadi cambuk bagi dunia pers Indonesia untuk terus maju. Sebuah artikel di blog milik Maverick mengemukakan beberapa hal yang bisa dilakukan oleh masyarakat untuk meningkatkan kualitas pers di Indonesia, antara lain dengan menghormati integritas media dan menjadi watchdog dari media itu sendiri.
Bagaimana dengan para pekerja media sendiri?
Sebenarnya berbagai hal telah dilakukan untuk terus meningkatkan kualitas pers Indonesia dan mendorong keterlibatan masyarakat dalam melakukan hal tersebut. Masing-masing media tentunya telah menerapkan sebuah sistem pengembangan keterampilan jurnalistik bagi para wartawannya serta sistem penyuntingan guna memastikan kualitas dan ketepatan berita.
-
15 Hari Mencari Tulisan
August 11, 2009
Profil: Muhlis Suhaeri, Borneo Tribune
Oleh: Dody Rochadi
Mengikuti pelatihan jurnalisme investigasi yang diadakan oleh Perhimpunan Pengembangan Media Nusantara (PPMN) dibawah naungan 68H Utan Kayu merupakan anugerah tersendiri untuk seorang Muhlis Suhaeri. Betapa tidak? Setelah proposalnya disetujui, ia mendapat dana dari lembaga tersebut untuk membuat tulisan investigasi. Bukan hanya itu. Hasil tulisannya tersebut kemudian berhasil membawanya menang di ajang penghargaan jurnalistik bergengsi Anugerah Adiwarta Sampoerna (AAS) 2008 dengan judul “The Lost Generation” untuk kategori investigasi sosial.
Menurut Muhlis yang saat ini bekerja sebagai redaktur di Borneo Tribune, sebuah harian lokal di Kalimantan, ia membutuhkan waktu hingga 15 hari berkeliling Kalimantan Barat hingga ke Singkawang, perbatasan Malaysia-Indonesia, hanya untuk dapat menyelesaikan satu karya investigasinya tersebut. Untunglah, kerja kerasnya tidak sia-sia. “Saya sangat bangga sekaligus puas bahwa karya saya dihargai oleh orang lain,” ujarnya.



