Masih ingat kebakaran besar Depo Pertamina Plumpang? Saat itu koran Jakarta Globe mendapatkan info terbaru mengenai kebakaran tersebut melalui akun Twitter milik mereka, @jakartaglobe. Secara aktif mereka mencari informasi dari para pengguna Twitter dan memberikan laporan pandangan mata dari saksi yang berada di tempat kejadian. Sebelum berita tersebut ditampilkan di timeline Twitter @jakartaglobe, mereka melakukan cek silang dengan narasumber untuk mengecek validitasnya.
Jika ada @jakartaglobe di Indonesia, di kancah internasional juga terdapat @BreakingNews (Breaking News Online). Secara berkala, mereka menampilkan berita-berita terkini yang terjadi di berbagai belahan dunia. Sumbernya tentu saja dari pemberitaan para pengguna Twitter yang tersebar di berbagai penjuru dunia. Sama seperti @jakartaglobe; sebelum @BreakingNews menampilkan berita, mereka mengadakan cek silang mengenai informasi yang didapatkan kepada narasumber.
Perkembangan dunia internet memang tak lepas dari dunia jurnalistik. Kasus-kasus di atas menunjukkan bagaimana dunia jurnalistik dapat bersinergi dengan masyarakat luas. Berbagai berita dan informasi bisa menyebar lebih cepat, langsung dari narasumber lingkaran pertama. Masih ingat, kan, bagaimana Daniel Tumiwa yang berada di lokasi ledakan bom Marriot melaporkan ledakan tersebut lewat akun Twitter-nya?
Keterlibatan jurnalis di berbagai media web 2.0 seperti Twitter kini menjadi semakin relevan. Dengan berkecimpung bersama masyarakat umum di sana, mereka bisa cepat mendapatkan berbagai informasi. Faktor-faktor seperti kemacetan atau akses menuju tempat kejadian terkadang menghalangi wartawan mendapatkan berita secara cepat.
Lewat web 2.0, laporan dari saksi mata yang berada di tempat kejadian dapat lekas “disiarkan”, sementara wartawan dan juru kamera masih berada di perjalanan. Media bisa mengontak langsung saksi mata tersebut lewat Twitter, misalnya, dan meminta nomor telepon saksi mata.
Yang perlu diingat, tidak semua informasi bisa langsung diambil melalui komunikasi langsung dengan masyarakat awam. Kehadiran langsung wartawan dan juru kamera profesional tetap dibutuhkan. Informasi yang masuk juga harus disaring dengan saksama. Validitas informasi yang diberikan narasumber juga harus bisa dipertanggungjawabkan.
Namun web 2.0 dan aplikasi-aplikasinya memang memungkinkan sinergi yang lebih antara jurnalis dan masyarakat luas. Para jurnalis dapat menggunakan sarana web 2.0 ini untuk memperluas jejaring informasi dan narasumbernya.
Tidak hanya Jakarta Globe dan Breaking News saja yang berada di Twitter. Berikut adalah beberapa media/news agencies yang mempunyai akun Twitter.
Metro TV - http://twitter.com/metro_tv
Kantor Berita Antara - http://twitter.com/antaranews
SWA Media - http://twitter.com/swamediainc
Kompas Dot Com - http://twitter.com/kompasdotcom
BBC Indonesia - http://twitter.com/bbcindonesia
Macworld ID - http://twitter.com/MacworldID
Warta Ekonomi - http://twitter.com/WartaEkonomi
Kompasiana - http://twitter.com/kompasiana
DetikInet - http://twitter.com/detikInet
VIVA News - http://twitter.com/VIVAnewsGroup
CHIP Indonesia - http://twitter.com/chiponlineid
Harian Global (Medan) - http://twitter.com/HarianGlobal
Okezone - http://twitter.com/okezonenews
CNN World - http://twitter.com/CNNWorld
CNN Breaking News - http://twitter.com/cnnbrk
Fortune Magazine - http://twitter.com/FortuneMagazine
NY Times - http://twitter.com/nytimes
Newsweek - http://twitter.com/Newsweek
TIME - http://twitter.com/TIME
BBC Business - http://twitter.com/bbcbusiness
Tags: jurnalisme, twitter, web
