Archives



  • @ndorokakung follow the journalists, not the organizations, because of their reputations and authorities

    August 19, 2009

    Oleh: Nena Brodjonegoro

    Serangkaian pernyataan-pernyataan yang menggelitik muncul di Twitter siang hari ini, dari @ndorokakung. @ndorokakung, yang juga adalah seorang jurnalis, menuliskan berbagai hal yang sangat menarik tentang masa depan media dan pers Indonesia – terutama dengan semakin menjamurnya penggunaan media baru (internet, Twitter, Facebook) di dunia dan Indonesia.

    Di bawah ini adalah rangkaian tweets dari @ndorokakung, mulai dari yang terawal hingga terkini, yang bisa menjadi titik awal diskusi tentang media dan pers Indonesia.

    picture-11

    Tweets di atas dapat dikategorikan menjadi dua, yaitu yang berkaitan dengan positioning media dan peran jurnalis. @ndorokakung yang sangat aktif di dunia maya, baik sebagai blogger dan tweeps, mulai mempertanyakan bagaimana media dan pers Indonesia harus melangkah di masyarakat yang mulai aktif dan kritis secara digital ini.

    Berkaitan dengan positioning media, ia berpendapat bahwa koran-koran di Indonesia belum menggunakan situs online-nya secara optimal dan efektif. Menurutnya koran-koran seharusnya menjadikan situs online-nya sebagai media untuk berita-berita yang cepat berganti dan bukan hanya sebagai “tempat membuang” berita dari koran cetak. Berkaitan dengan itu, maka koran cetak harus mampu menawarkan berita-berita yang lebih mendalam – seperti majalah, sementara situs online harus mampu menjadi tempat terbentuknya komunitas bukan sekadar tempat menampilkan berita saja.

    Bagi @ndorokakung, peranan jurnalis di masyarakat Indonesia yang going digital ini sangat penting dan bahkan bisa jadi lebih penting dari media sendiri. Jurnalis harus siap melakukan aktivitas jurnalisme melalui berbagai wadah – tidak melulu cetak dan edisi online, tapi juga lewat Twitter dan misalnya, mengunggah video atau foto lewat telepon genggam yang saat ini sudah semakin mendukung konektivitas.

    Informasi yang beredar lebih cepat harus dapat ditangkap – dan diinformasikan kembali kepada khalayak luas melalui berbagai platform social media – sehingga kredibilitas jurnalis dan media tersebut juga meningkat. Peranan jurnalis sebagai distributor informasi menjadi sentral, dan bahkan @ndorokakung menyatakan bahwa (di Twitter), sebaiknya yang diikuti adalah jurnalis dan bukan organisasi berita, karena jurnalis memiliki reputasi dan otoritas yang lebih dapat dipertanggungjawabkan. Karena itu juga, menurutnya jurnalis sebaiknya tidak lagi menjadi “prosesor informasi”, melainkan “contextualizer” yang memperkaya informasi yang diberitakan.

    Melihat pernyataan-pernyataan tersebut, kelihatannya wajah pers dan media Indonesia dalam beberapa tahun ke depan akan berubah – apabila memang hal-hal tersebut benar menjadi kenyataan. Adanya beberapa jurnalis yang aktif di Twitter, seperti @ndorokakung dan @budip, serta mulai banyaknya komentar di artikel-artikel berita online, atau bahkan para jurnalis media tradisional yang mengacu kepada media baru sebagai sumber beritanya, menunjukkan bahwa ada kecenderungan ke arah pembentukan komunitas melalui situs berita online dan peranan aktif jurnalis lewat berbagai platform social media.

    Media online pun mungkin akan terus meningkat perannya, karena kemampuannya merilis berita dan informasi secara real time dan dapat diakses dari berbagai lokasi. Karenanya, pembicaraan mengenai dikenakannya biaya untuk berlangganan koran online mulai menjadi wacana. Bagaimana model berlangganan tersebut masih perlu dipikirkan matang-matang. New York Times yang sebelumnya bebas diakses mulai memberlakukan akses khusus untuk anggota yang mendaftarkan diri untuk berlangganan, sama halnya dengan Kompas cetak versi online.

    Bagaimanakah masa depan pers dan media Indonesia? Apakah media baru akan mengubah media Indonesia menjadi baru? Atau ini hanya masalah waktu?

    * terima kasih kepada @ndorokakung untuk inspirasinya

     

2 Responses to “@ndorokakung follow the journalists, not the organizations, because of their reputations and authorities”

  • ndoro memang selalu memberikan inspirasi :) mungkin perlu bikin diskusi nih, ndor, soal journalists going digitally social ;) menarik.

    kemaren ketemu wartawan yang ngaku sebel ga bisa nulis in-depth karena cuma disuruh nulis straight news. banyak berita yang ga bisa ter-capture secara lengkap, padahal dia udah wawancara dan nge-riset.

    wartawan lain bilang, “makanya, buka blog. tulisan yang lengkap dan panjangnya ditulis di blog aja.”

    the future is here.

Leave a Reply

Name (required)
Mail (will not be published) (required)
Website