dsc_1191.jpg
dsc_1341.jpg
dsc_1287.jpg
dsc_1274.jpg
img_1479.jpg
img_1543.jpg
img_9312.jpg
img_9308.jpg
img_9281.jpg
img_9280.jpg
img_9252.jpg
img_9239.jpg
img_9236.jpg
img_9225.jpg
2.jpg
1.jpg
img_9312.jpg
img_9312_0.jpg
dsc_1134.jpg
dsc_1123.jpg
dsc_1192.jpg
dsc_1189.jpg
dsc_1236.jpg
dsc_1211.jpg
dsc_1269.jpg
dsc_1266.jpg
dsc_1245.jpg
dsc_1280.jpg
dsc_1274.jpg
dsc_1299.jpg
dsc_1289.jpg
dsc_1319.jpg
dsc_1314.jpg
dsc_1353.jpg
dsc_1340.jpg
dsc_1335.jpg
dsc_0979.jpg
picture-7.png
 
 
Info

Panitia Penyelenggara AAS 2009 dapat dihubungi melalui telepon 021-72789833 atau melalui email di aas@maverick.co.id

KomunitasSudah jadi anggota?
Login
Login dengan Facebook:
Pengunjung terakhir
Powered by Sociable!

Berlangganan info AAS

Ketik alamat email Anda:

Delivered by FeedBurner

Shout!



Jurnalis & Twitter: Pribadi Atau Profesional? 03/07/09

Oleh: Waraney

Rekan wartawan, apakah Anda punya account di Twitter? Kalau punya, apakah Anda menggunakannya hanya untuk kepentingan pribadi, atau juga untuk membantu pekerjaan Anda sebagai wartawan?

Serangan teroris di Mumbai, India, dan demonstrasi-demonstrasi yang dipicu dugaan kecurangan pemilihan umum di Iran hanyalah sedikit dari sekian banyak contoh kasus yang menunjukkan bahwa ada saat-saat tertentu dimana social media dapat mengisi kekosongan yang ditinggalkan oleh media-media konvensional.

Dalam krisis politik di Iran, dengan semakin ketatnya kontrol pemerintah terhadap akses informasi dari dalam dan keluar negeri, serta semakin terbatasnya gerak-gerik wartawan dalam dan luar negeri, satu-satunya sumber dan saluran informasi bagi publik dan media massa adalah social media.

Twitter homepage

Peran Twitter, yang dulu hanya dianggap sebagai satu dari sekian banyak microblogging tools, telah semakin berkembang menjadi alat komunikasi yang terbukti mampu menerobos sensor pemerintah. Pihak oposisi di Iran yang berusaha memberitahu dunia luar atas peristiwa-peristiwa terbaru di negaranya banyak yang menggunakan Twitter.

Dengan semakin besarnya peran social media dalam kehidupan masyarakat modern saat ini, bagaimana reaksi organisasi-organisasi media, baik yang besar maupun yang kecil terhadap fenomena ini?

Julie Posetti dalam Media Shift membahas fenomena ini dengan mendalam. Wawancara yang dilakukannya dengan wartawan-wartawan dari media-media massa di Australia dan negara-negara lain dapat memberikan masukan tentang bagaimana media massa dapat menyikapi social media.

Some media outlets are making tweeting almost compulsory for their journalists but others are much more cautious, or even ban journalists from tweeting on the job. The Wall Street Journal, The New York Times, Bloomberg, and AP (among others) have all introduced policies covering social media, partly in response to problems resulting from the unique mix of personal and professional information in the zone. Some of these policies have been criticized for missing the point of social media - humanized interaction - and too rigidly regulating journalists’ tweeting.

But in Australia, journo -tweeting is largely unregulated by media outlets. None of the 25 Australian journalists I interviewed for this study (from Fairfax, News Ltd, ABC, ACP, Sky News and a range of smaller outlets) was aware of such a policy in their workspace. According to some of the interviewees, management ignorance could account for the absence of such policies. When asked why he thought his Australian employer didn’t have a policy like the WSJ, one journalist responded, “They just don’t get it.”

Posetti juga memberikan 20 tips bagi wartawan yang ingin menggunakan Twitter.

Bagaimana dengan media massa di Indonesia? Apakah ada rekan-rekan wartawan yang bisa berbagi pengalaman tentang penggunaan social media dalam menjalankan tugasnya?




Leave a Reply