- Hanny
on Video: Testimoni Pemenang Anugerah Adiwarta Sampoerna 2009 - Hanny
on AAS 2009 - The Jakarta Globe - Hanny Kusumawati on Serba-Serbi: AAS Punya Cerita
- Revdy Iwan Syahputra
on Serba-Serbi: AAS Punya Cerita - Anugerah Adiwarta Sampoerna - on RUU Rahasia Negara: Setelah Direvisi. Masihkah Dipertanyakan?
- Adhi Kusumaputra
- Algooth
- Andi Muhyidin
- Andrew Greene
- Anugerah “Nugie” Perkasa
- Asep Setiawan
- Bagja Hidayat
- Eddy Mesakh
- Ika Maya
- Jarar Siahaan
- Jurnalis NTT
- Kelik M. Nugroho
- Manda La Mendol
- Marwan Azis
- Merry Magdalena
- Okky P. Madasari
- Pepih Nugraha
- Ratna “Atta” Ariyanti
- Samiaji Bintang
- Taufik Hidayat
- Wienda Parwitasari
- Zaky Yamani
- Zeynitta Gibbons
Oleh: Waraney
Rekan wartawan, apakah Anda punya account di Twitter? Kalau punya, apakah Anda menggunakannya hanya untuk kepentingan pribadi, atau juga untuk membantu pekerjaan Anda sebagai wartawan?
Serangan teroris di Mumbai, India, dan demonstrasi-demonstrasi yang dipicu dugaan kecurangan pemilihan umum di Iran hanyalah sedikit dari sekian banyak contoh kasus yang menunjukkan bahwa ada saat-saat tertentu dimana social media dapat mengisi kekosongan yang ditinggalkan oleh media-media konvensional.
Dalam krisis politik di Iran, dengan semakin ketatnya kontrol pemerintah terhadap akses informasi dari dalam dan keluar negeri, serta semakin terbatasnya gerak-gerik wartawan dalam dan luar negeri, satu-satunya sumber dan saluran informasi bagi publik dan media massa adalah social media.
Peran Twitter, yang dulu hanya dianggap sebagai satu dari sekian banyak microblogging tools, telah semakin berkembang menjadi alat komunikasi yang terbukti mampu menerobos sensor pemerintah. Pihak oposisi di Iran yang berusaha memberitahu dunia luar atas peristiwa-peristiwa terbaru di negaranya banyak yang menggunakan Twitter.
Dengan semakin besarnya peran social media dalam kehidupan masyarakat modern saat ini, bagaimana reaksi organisasi-organisasi media, baik yang besar maupun yang kecil terhadap fenomena ini?
Julie Posetti dalam Media Shift membahas fenomena ini dengan mendalam. Wawancara yang dilakukannya dengan wartawan-wartawan dari media-media massa di Australia dan negara-negara lain dapat memberikan masukan tentang bagaimana media massa dapat menyikapi social media.
Some media outlets are making tweeting almost compulsory for their journalists but others are much more cautious, or even ban journalists from tweeting on the job. The Wall Street Journal, The New York Times, Bloomberg, and AP (among others) have all introduced policies covering social media, partly in response to problems resulting from the unique mix of personal and professional information in the zone. Some of these policies have been criticized for missing the point of social media - humanized interaction - and too rigidly regulating journalists’ tweeting.
But in Australia, journo -tweeting is largely unregulated by media outlets. None of the 25 Australian journalists I interviewed for this study (from Fairfax, News Ltd, ABC, ACP, Sky News and a range of smaller outlets) was aware of such a policy in their workspace. According to some of the interviewees, management ignorance could account for the absence of such policies. When asked why he thought his Australian employer didn’t have a policy like the WSJ, one journalist responded, “They just don’t get it.”
Posetti juga memberikan 20 tips bagi wartawan yang ingin menggunakan Twitter.
Bagaimana dengan media massa di Indonesia? Apakah ada rekan-rekan wartawan yang bisa berbagi pengalaman tentang penggunaan social media dalam menjalankan tugasnya?
