Archive for July, 2009

Serba-serbi: Aplikasi Kreatif

Monday, July 27th, 2009

Memasuki tahun yang keempat, kelihatannya peserta AAS makin kreatif dalam mengirimkan karyanya. Bukan hanya dalam kualitas karyanya saja, tetapi juga dalam “metode” pengiriman aplikasi. Berikut ini adalah daftar kreativitas para peserta yang sudah diterima panitia sampai hari ini.

Untuk aplikasi berupa foto, salah seorang peserta mengirimkan foto yang sudah dicetak di dalam sebuah amplop. Biasa saja? Tunggu dulu, ternyata ketika amplop tersebut akan dibuka, ada sebuah penggaris sepanjang 30cm yang ditempelkan di bagian belakang foto untuk menahan agar foto tersebut tidak terlipat. Cara sederhana yang kreatif dan efektif bukan?

Penggaris dan USB flash disc yang diterima panitia

Penggaris dan USB flash disc yang diterima panitia

Ada juga salah seorang peserta yang mengirimkan aplikasi berupa artikel berita di dalam sebuah USB-flash disc! Walaupun yang diminta dari panitia hanya berupa soft copy, yang kebanyakan dikirimkan melalui email, rupanya peserta yang satu ini memilih jalan pasti untuk langsung mengirimkan dokumennya lewat flash disc…

(more…)

Kabar Terbaru tentang AAS

Thursday, July 23rd, 2009

Halo rekan jurnalis!

Hingga hari ini panitia sudah mendapatkan sejumlah aplikasi untuk berbagai kategori dan dari berbagai media. Terdapat 144 jurnalis yang berpartisipasi serta 133 artikel berita. Di bawah ini adalah rincian aplikasi artikel berita yang sudah diterima panitia:

  • Liputan Kemanusiaan ((86): Sosial (32), Seni & Budaya (23), Politik (4), Hukum (10), Ekonomi & Bisnis (7), dan Olahraga (6)
  • Liputan Investigatif (47): Sosial (18), Seni & Budaya (12), Politik (5), Hukum (4), Ekonomi & Bisnis (8), dan Olahraga (-)

Selain aplikasi artikel berita, panitia juga sudah menerima 248 aplikasi foto, yang terdiri atas kategori Politik (27), Ekonomi & Bisnis (36), Seni & Budaya (37), Hukum (31), Sosial (88), dan Olahraga (25). Sementara itu, sudah diterima 9 aplikasi berita televisi, yaitu dari RCTI (1), TV One (1), Metro TV (2), dan Trans TV (5).

deretan aplikasi di kantor panitia

deretan aplikasi di kantor panitia

Hingga saat ini, media yang paling banyak mengajukan aplikasi adalah Femina dengan 16 kandidat (terima kasih!), namun untuk kategori liputan investigatif di bidang Olahraga masih belum terdapat satu pun aplikasi.

Ayo, rekan jurnalis! Kirimkan lagi karya Anda, atau rekomendasikan rekan Anda untuk mengirimkan karyanya - baik berupa artikel berita, liputan televisi, maupun foto. Untuk periode kedua ini, panitia menerima karya Anda yang diterbitkan sampai dengan tanggal 15 September 2009, dan batas akhir penerimaan adalah tanggal 30 September 2009.

Jangan ragu untuk mengirimkan karya Anda dan mari bersama majukan dunia jurnalisme Indonesia!

Kiprah Jurnalis dan Kampanye #indonesiaunite

Tuesday, July 21st, 2009

Oleh: Snezana

Jika Anda rajin berada di Twitter, Anda pasti melihat banyaknya twitterers Indonesia yang mencantumkan tulisan “#indonesiaunite” di status update-nya selama beberapa hari terakhir ini. Insiden bom Mega Kuningan menjadi pemicu “kampanye” Indonesia Unite tersebut, yang intinya mengajak para pengguna twitter yang peduli dengan insiden tersebut untuk bersatu melawan terorisme.

#indonesiaunite

Indonesia Unite memang adalah salah satu bentuk ekspresi kecintaan terhadap tanah air kita ini. Tetapi seperti yang dikatakan oleh Unspun, jika Indonesia Unite hanya dicantumkan pada status update Twitter belaka, apalah artinya gerakan Indonesia bersatu ini.

Alangkah baiknya apabila gerakan yang dimulai dari Twitter bisa dikembangkan lebih lanjut menjadi hal-hal yang lebih konkrit. Sebenarnya hal ini tidaklah sulit dan tidak perlu mulai dari hal yang besar. Contohnya seperti yang dilakukan oleh Silvia Galikano, salah seorang jurnalis Harian Nasional.

(more…)

Materi Baru Kuliah Jurnalisme: Menggunakan Social Media

Friday, July 17th, 2009

Oleh: Snezana

Artikel yang baru saja selesai saya baca ini sungguh menarik. Ceritanya tentang apa dan bagaimana materi pengajaran di sekolah-sekolah jurnalisme mengenai penggunaan social media dalam jurnalisme. Kebutuhan untuk mengintegrasikan social media dan jurnalisme dirasa semakin perlu saat ini. Hal ini dapat dilihat dari, antara lain, penunjukan Jennifer Preston sebagai social media editor oleh The New York Times dan menjamurnya akun-akun Twitter dari berbagai media berita seperti Kompas, Jakarta Globe, dan CNN. Social media seolah menjadi the media.Karena itu, sekolah-sekolah jurnalisme di Amerika Serikat mulai mengajarkan tentang hal tersebut, dan di bawah ini adalah 10 hal yang diajarkan, diambil dari artikel yang ditulis oleh Vadim Lavrusik, mahasiswa Columbia University Graduate School of Journalism, tersebut.

1. Mempromosikan Isi Berita - Hal ini penting bagi jurnalis untuk melibatkan audiensnya dan untuk menunjukkan pada mereka apa yang sedang Anda beritakan. Misalnya, memperbarui status Twitter Anda dengan berita yang sedang Anda liput. Hal ini sudah dilakukan oleh beberapa jurnalis, antara lain oleh Anderson Cooper.

2. Melakukan Wawancara - Wawancara bisa dilakukan melalui email, instant messanger, Facebook, atau yang paling populer di Amerika Serikat, Skype. Wawancara melalui Skype mempunyai keuntungan, yaitu dapat direkam dan ditampilkan pada situs berita, serta dapat mewawancara narasumber yang berada di lain kota atau negara.

(more…)

Media Online, Jawaban Industri Media Masa Depan?

Thursday, July 16th, 2009

Oleh: Dody Rochadi
Setelah beberapa waktu lalu sempat muncul pembahasan soal menurunnya pamor media cetak di seluruh dunia yang ditandai dengan bangkrutnya beberapa media besar internasional, seperti kelompok media besar AS, Tribune,  dan mulai beralihnya beberapa media cetak ke versi online, sebuah artikel di Kompas kemarin yang bertajuk “Perpindahan ke Media Online sebagai Inovasi” sepertinya memberikan secercah harapan bagi industri media di tanah air.
Dalam seminar yang diadakan oleh Serikat Penerbit Suratkabar (SPS) Pusat di Jakarta, Selasa (14/7) dengan tema “Media Industry Review 2009 Belajar dari Kebangkrutan Koran-koran di Amerika Serikat dan Iklan Media Cetak Semester II 2009”, disimpulkan bahwa perpindahan surat kabar menjadi media online seharusnya dilakukan bukan sebagai strategi jalan keluar dari ancaman kebangkrutan, melainkan harus dilihat sebagai inovasi atau terobosan bisnis. Dengan demikian, keberadaan surat kabar bisa tetap bertahan dengan penambahan pembaca lewat media online-nya.

Situs online The New York Times - situs berita dengan jumlah unique visitor terbesar tahun 2008

Situs online The New York Times - situs berita dengan jumlah unique visitor terbesar tahun 2008

Saya setuju sekali dengan kesimpulan diatas. Tidak bisa dipungkiri, di masa mendatang, kebutuhan akan distribusi informasi yang semakin cepat dengan akses mudah pastinya semakin meningkat. Salah satu yang mampu menjawab kebutuhan tersebut adalah media online. Industri media tanah air harus mampu menyikapi perkembangan ini dengan bijak. Artinya, sudah saatnya mereka berbenah diri dan mulai berpikir untuk membuat inovasi-inovasi baru yang sesuai dengan kebutuhan jaman. Kompas dan Kontan, contohnya, yang sudah cukup lama “memanjakan” pembaca dengan versi epaper-nya, tidak perlu khawatir akan kehilangan pembaca versi cetak media mereka.

(more…)

Kreatif jadi Jurnalis

Wednesday, July 15th, 2009

Oleh: Snezana

Menjadi jurnalis ternyata tidak hanya membutuhkan rasa ingin tahu, pantang menyerah, dan keinginan untuk memberitakan berbagai informasi kepada masyarakat luas. Ternyata, menjadi jurnalis juga membutuhkan kreatifitas dalam mencari berita! Kreatifitas di sini tentunya bukan kreatifitas dalam arti negatif, tapi kreatifitas positif dalam mencari berita. Jika narasumber ternyata sulit didekati, panggung acara sudah dipenuhi oleh rekan jurnalis lain, maka dekatilah speaker!! Suara yang direkam juga cukup jelas, dan yang pasti Anda tidak perlu berdesakan dengan puluhan rekan jurnalis lain.

picture-13

Bagaimana dengan Anda, apakah Anda mau berbagi cerita kreatif Anda dalam mencari berita, rekan pers?

Pesta Demokrasi dan Demokrasi Pers

Thursday, July 9th, 2009

Oleh: Snezana

Pasal kekerasan terhadap pekerja pers bukanlah hal baru. Tetapi alangkah ironisnya ketika Indonesia sedang merayakan Pesta Demokrasi tanggal 8 Juli 2009, salah satu pemberitaan yang mewarnai surat kabar hari itu adalah adanya teror terhadap wartawan di Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur (NTT).

Kornelis Rahalaka, direktur dan wartawan di majalan bulanan Diaspora yang berkedudukan di Labuan Bajo, Manggarai Barat, hari Selasa 7 Juli kemarin melaporkan adanya kasus teror terhadapnya kepada Polres Manggarai Barat.

Bentuk teror yang diterimanya antara lain SMS ancaman dan datangnya belasan preman ke rumahnya sambil menggedor-gedor, melempari atap dengan batu dan berteriak-teriak. Teror ini diterimanya berkaitan dengan pemberitaannya mengenai pemberian izin penambangan di Batugosok, NTT.

Sebelum teror terhadap Rahalaka, sudah beberapa kali terjadi kasus teror dan kekerasan terhadap jurnalis, antara lain kasus Julia (Juni 2009), Obby (Februari 2008), Agus dan Heri (Mei 2005), dan yang paling menggemparkan, Udin (Agustus 1996).

70661_demo_wartawan_di_sejumlah_daerah_tolak_kekerasan_thumb_300_225

(more…)

Media dongkrak antusiasme masyarakat terhadap Pemilu 2009

Tuesday, July 7th, 2009

Oleh: Snezana

During a campaign the air is full of speeches — and vice versa.

Demikian bunyi sebuah kutipan yang tampaknya dapat menggambarkan pendapat kebanyakan masyarakat berkenaan dengan pelaksanaan Pemilu 2009. Selama masa kampanye, udara dipenuhi oleh berbagai pidato — dan sebaliknya, pidato tersebut kerap dianggap penuh dengan udara kosong.

Namun demikian, menjelang Pemilihan Umum Presiden dan Wakil Presiden   (Pilpres) 2009 ini, pandangan ini cenderung bergeser. Walaupun sebagian masyarakat masih merasa kurang puas dengan jalannya Pemilu Legislatif (Pileg) serta kampanye Pilpres, namun Pilpres kali ini mendapat tanggapan yang cukup positif dan lebih memberikan harapan. Selain itu,  kelihatannya antusiasme masyarakat meningkat pada Pilpres kali ini sehingga jumlah Golput bisa ditekan hingga lebih rendah ketimbang jumlah golput pada Pileg 2009 yang mencapai 40%.

pemilu

Meningkatnya antusiasme masyarakat pada Pilpres ini tidak terlepas dari peran media massa selama masa kampanye dan pemilihan, baik legislatif maupun presiden-wakil presiden. Liputan media massa membantu memberikan informasi pada masyarakat, terutama pada Pilpres, melalui, misalnya, publikasi visi dan misi serta siaran langsung debat capres dan cawapres. (more…)

Jurnalis & Twitter: Pribadi Atau Profesional?

Friday, July 3rd, 2009

Oleh: Waraney

Rekan wartawan, apakah Anda punya account di Twitter? Kalau punya, apakah Anda menggunakannya hanya untuk kepentingan pribadi, atau juga untuk membantu pekerjaan Anda sebagai wartawan?

Serangan teroris di Mumbai, India, dan demonstrasi-demonstrasi yang dipicu dugaan kecurangan pemilihan umum di Iran hanyalah sedikit dari sekian banyak contoh kasus yang menunjukkan bahwa ada saat-saat tertentu dimana social media dapat mengisi kekosongan yang ditinggalkan oleh media-media konvensional.

Dalam krisis politik di Iran, dengan semakin ketatnya kontrol pemerintah terhadap akses informasi dari dalam dan keluar negeri, serta semakin terbatasnya gerak-gerik wartawan dalam dan luar negeri, satu-satunya sumber dan saluran informasi bagi publik dan media massa adalah social media.

Twitter homepage

(more…)

[back to top]