- Hanny
on Video: Testimoni Pemenang Anugerah Adiwarta Sampoerna 2009 - Hanny
on AAS 2009 - The Jakarta Globe - Hanny Kusumawati on Serba-Serbi: AAS Punya Cerita
- Revdy Iwan Syahputra
on Serba-Serbi: AAS Punya Cerita - Anugerah Adiwarta Sampoerna - on RUU Rahasia Negara: Setelah Direvisi. Masihkah Dipertanyakan?
- Adhi Kusumaputra
- Algooth
- Andi Muhyidin
- Andrew Greene
- Anugerah “Nugie” Perkasa
- Asep Setiawan
- Bagja Hidayat
- Eddy Mesakh
- Ika Maya
- Jarar Siahaan
- Jurnalis NTT
- Kelik M. Nugroho
- Manda La Mendol
- Marwan Azis
- Merry Magdalena
- Okky P. Madasari
- Pepih Nugraha
- Ratna “Atta” Ariyanti
- Samiaji Bintang
- Taufik Hidayat
- Wienda Parwitasari
- Zaky Yamani
- Zeynitta Gibbons
Oleh: Waraney
Karakteristik pembaca media online memang lebih sulit diduga dibandingkan dengan pembaca media konvensional. Asumsi yang dibuat tentang pembaca saat ini mungkin tidak berlaku lagi tiga bulan yang akan datang. Walaupun pembaca media online, terutama yang perorangan, terbiasa mengonsumsi berita secara gratisan, bukan berarti mereka tak bersedia membayar biaya ekstra untuk berita yang mereka butuhkan. Menurut The Economist, media harus bisa mengkombinasikan free content, pemasukan dari skema berlangganan khusus, dan pemasukan dari iklan.
Di Indonesia, sebagian media online mulai bersiap-siap meniadakan biaya berlangganan, dan sepenuhnya bergantung pada iklan. Paling tidak menurut artikel di Bisnis Indonesia, 3 Juni lalu. Menurut Ahmad Mukhlis Yusuf, Presiden Direktur Perum Lembaga Kantor Berita Nasional (LKBN) Antara, pemasukan dari biaya berlangganan hanya memberikan kontribusi kurang dari 10%. Untuk memaksimalkan pendapatan dari iklan, media online harus menentukan target segmen pembaca dan kemudian mencari pengiklan yang cocok dengan segmen tersebut.
Inilah yang dilakukan Kompas.com dengan KompasPhone-nya. Rabu (3/6) lalu, Kompas bekerja sama dengan PT Telkom meluncurkan KompasPhone, featured phone dengan jaringan CDMA yang bernuansa Kompas, mulai dari logo di handset hingga kemasannya. Aplikasi Kompas sudah terintegrasi di dalamnya, dan pemakai tak perlu melakukan instalasi apapun dan dapat mengakses berita dari Kompas dan Kompas.com tanpa harus membuka aplikasi lainnya. Produk ini dijual seharga Rp325.000, dan Telkom menargetkan penjualan sampai 111.000 unit dalam tiga bulan.
Menurut Director of Consumer PT Telkom Indonesia I Nyoman G Wiryanata, target yang disasar adalah pelanggan Flexi yang fanatik dan haus akan berita, tetapi karena suatu hal tidak mempunyai waktu untuk membaca koran. Selain itu, target pasar lainnya adalah mereka yang mempunyai mobilitas tinggi tapi butuh informasi.
Dengan meluncurkan produk ini, Kompas telah menentukan pelanggan mana yang menjadi sasarannya, dan mengambil langkah-langkah awal untuk menyiasati perubahan-perubahan yang terjadi di industri media saat ini.
Siapa yang akan menyusul Kompas.com, dan langkah inovasi apa yang kira-kira akan diambil oleh media-media lainnya?


June 30th, 2009 at 9:00 am
[...] sebaik-baiknya, antara lain mengambil langkah-langkah inovatif seperti yang sudah Kompas dengan KompasPhone-nya. Kalau media cetak sebesar Kompas bisa gesit bergerak menghadapi perubahan, apalagi media-media [...]