dsc_1191.jpg
dsc_1341.jpg
dsc_1287.jpg
dsc_1274.jpg
img_1479.jpg
img_1543.jpg
img_9312.jpg
img_9308.jpg
img_9281.jpg
img_9280.jpg
img_9252.jpg
img_9239.jpg
img_9236.jpg
img_9225.jpg
2.jpg
1.jpg
img_9312.jpg
img_9312_0.jpg
dsc_1134.jpg
dsc_1123.jpg
dsc_1192.jpg
dsc_1189.jpg
dsc_1236.jpg
dsc_1211.jpg
dsc_1269.jpg
dsc_1266.jpg
dsc_1245.jpg
dsc_1280.jpg
dsc_1274.jpg
dsc_1299.jpg
dsc_1289.jpg
dsc_1319.jpg
dsc_1314.jpg
dsc_1353.jpg
dsc_1340.jpg
dsc_1335.jpg
dsc_0979.jpg
picture-7.png
 
 
Info

Panitia Penyelenggara AAS 2009 dapat dihubungi melalui telepon 021-72789833 atau melalui email di aas@maverick.co.id

KomunitasSudah jadi anggota?
Login
Login dengan Facebook:
Pengunjung terakhir
Powered by Sociable!

Berlangganan info AAS

Ketik alamat email Anda:

Delivered by FeedBurner

Shout!



Menyiasati Perkembangan Media Online Dengan KompasPhone 08/06/09

Oleh: Waraney

Karakteristik pembaca media online memang lebih sulit diduga dibandingkan dengan pembaca media konvensional. Asumsi yang dibuat tentang pembaca saat ini mungkin tidak berlaku lagi tiga bulan yang akan datang. Walaupun pembaca media online, terutama yang perorangan, terbiasa mengonsumsi berita secara gratisan, bukan berarti mereka tak bersedia membayar biaya ekstra untuk berita yang mereka butuhkan. Menurut The Economist, media harus bisa mengkombinasikan free content, pemasukan dari skema berlangganan khusus, dan pemasukan dari iklan.

Di Indonesia, sebagian media online mulai bersiap-siap meniadakan biaya berlangganan, dan sepenuhnya bergantung pada iklan. Paling tidak menurut artikel di Bisnis Indonesia, 3 Juni lalu. Menurut Ahmad Mukhlis Yusuf, Presiden Direktur Perum Lembaga Kantor Berita Nasional (LKBN) Antara, pemasukan dari biaya berlangganan hanya memberikan kontribusi kurang dari 10%. Untuk memaksimalkan pendapatan dari iklan, media online harus menentukan target segmen pembaca dan kemudian mencari pengiklan yang cocok dengan segmen tersebut.

03-06-09_bisnis_indonesia

Inilah yang dilakukan Kompas.com dengan KompasPhone-nya. Rabu (3/6) lalu, Kompas bekerja sama dengan PT Telkom meluncurkan KompasPhone, featured phone dengan jaringan CDMA yang bernuansa Kompas, mulai dari logo di handset hingga kemasannya. Aplikasi Kompas sudah terintegrasi di dalamnya, dan pemakai tak perlu melakukan instalasi apapun dan dapat mengakses berita dari Kompas dan Kompas.com tanpa harus membuka aplikasi lainnya. Produk ini dijual seharga Rp325.000, dan Telkom menargetkan penjualan sampai 111.000 unit dalam tiga bulan.

Kompas bekerjasama dengan PT Telkom meluncurkan KompasPhone, Rabu (3/5/09)
Kompas bekerjasama dengan PT Telkom meluncurkan KompasPhone, Rabu (3/5/09)

Menurut Director of Consumer PT Telkom Indonesia I Nyoman G Wiryanata, target yang disasar adalah pelanggan Flexi yang fanatik dan haus akan berita, tetapi karena suatu hal tidak mempunyai waktu untuk membaca koran. Selain itu, target pasar lainnya adalah mereka yang mempunyai mobilitas tinggi tapi butuh informasi.

Dengan meluncurkan produk ini, Kompas telah menentukan pelanggan mana yang menjadi sasarannya, dan mengambil langkah-langkah awal untuk menyiasati perubahan-perubahan yang terjadi di industri media saat ini.

Siapa yang akan menyusul Kompas.com, dan langkah inovasi apa yang kira-kira akan diambil oleh media-media lainnya?




One Response to “Menyiasati Perkembangan Media Online Dengan KompasPhone”

  1. Anugerah Adiwarta Sampoerna - Says:

    [...] sebaik-baiknya, antara lain mengambil langkah-langkah inovatif seperti yang sudah Kompas dengan KompasPhone-nya. Kalau media cetak sebesar Kompas bisa gesit bergerak menghadapi perubahan, apalagi media-media [...]

Leave a Reply