Archives
Archive for May, 2009
-
Janganlah Hilang..
May 08, 2009
Oleh: Dody
Ada sebuah artikel menarik hari ini (Jum’at, 08 Mei 2009) di Kompas yang ditulis oleh Seno Gumira Ajidarma, salah seorang juri AAS, menyoal pentingnya penghargaan terhadap hasil karya jurnalistik agar setiap tulisan memiliki kedalaman makna.
-
Bisnis Media Yang Sehat & Kebebasan Pers
May 06, 2009
Oleh: Adis
Di tahun 2008, dunia jurnalistik Indonesia dipenuhi oleh kehadiran 1.008 perusahaan media cetak, 150 perusahaan media televisi, dan 2.000 perusahaan radio. Data tersebut disampaikan oleh Wakil Ketua Dewan Pers, Leo Batubara, dalam diskusi memperingati 10 Tahun Kebebasan Pers, Selasa (5/5).
Pertumbuhan perusahaan-perusahaan media ini seharusnya bisa menjadi pembuktian dari pengaplikasian UU Pokok Pers Nomor 40 Tahun 1999, dimana kebebasan pers menjadi sesuatu yang bisa diwujudkan di Indonesia. Sayangnya, pertumbuhan tersebut tidak dibarengi dengan persiapan yang matang. Kehadiran pemain-pemain baru dalam dunia jurnalistik kita agaknya tidak diperkuat dengan kemampuan untuk mempertahankan diri dalam kompetisi bisnis yang semakin ketat. Belum lagi jika ditinjau dari angka perolehan iklan yang signifikan, dimana kebanyakan media-media ini tidak memenuhi syarat.
Dewan Pers pun akhirnya mengklaim bahwa hanya sekitar 30 persen dari jumlah perusahaan media tersebut yang berada dalam kondisi ‘sehat bisnis’.
-
AAS Kunjungi The Jakarta Post
Hari Selasa, 5 Mei 2009, panitia Anugerah Adiwarta Sampoerna (AAS) bertandang ke kantor redaksi The Jakarta Post dan mendapat kehormatan bertemu dengan Meidyatama Suryodiningrat (Dimas), Wakil Pemimpin Redaksi, Primastuti Handayani (Yani), Redaktur Pelaksana, dan Arief Suhardiman (Arief), Redaktur Foto, yang juga peserta AAS tahun 2007.
Kunjungan ini merupakan salah satu dari serangkaian aktivitas yang dilakukan oleh panitia AAS dalam mensosialisasikan penyelenggaraan AAS 2009 kepada media-media. Khusus untuk The Jakarta Post, kunjungan tersebut sekaligus untuk mensosialisasikan bahwa AAS dari awal selalu membuka kemungkinan media berbahasa asing untuk ikut serta dalam ajang ini.
Dalam kunjungan yang bersifat informal tersebut, juga didiskusikan berbagai hal menarik, mulai dari dunia penganugerahaan di bidang jurnalistik hingga support yang diberikan oleh The Jakarta Post terhadap jurnalisnya yang ingin ikut kompetisi semacam ini. “Kami di sini (The Jakarta Post) mendukung wartawan kami untuk ikut kompetisi-kompetisi jurnalistik seperti AAS ini,” ujar Dimas.
-
Kebebasan Pers Dilanda Krisis?
May 05, 2009
Oleh: Dody
Tidak banyak yang tahu bahwa tanggal 3 Mei kemarin diperingati di seluruh dunia sebagai Hari Kebebasan Pers. Freedom House, sebuah lembaga yang dibentuk di Amerika pada tahun 1941 khusus mengangkat isu-isu kebebasan dan demokrasi global, dalam sebuah surveinya mengungkapkan fakta adanya ancaman besar terhadap kebebasan media di 195 negara, terlebih di wilayah Asia Timur, pecahan negara Uni Soviet, Timur Tengah, dan Afrika Utara.
Menurut Direktur Eksekutif Freedom House, Jennifer Windsor, kebebasan pers saat ini sedang dalam posisi yang terancam akibat tekanan dari pemerintah dan aktor-aktor kuat lainnya serta dari krisis ekonomi global. “Media adalah benteng pertahanan pertama dari demokrasi sebuah negara. Kelemahan pers akan memberikan dampak yang signifikan terhadap sistem demokrasi jika jurnalis tidak memiliki kemampuan untuk menjalankan peran pengawasannya,” ujar Jennifer.
Yang paling menyedihkan, hasil survei tersebut juga menunjukkan keprihatinan kebebasan pers di beberapa negara di Asia Pasifik, seperti meningkatnya kekerasan terhadap jurnalis di Kamboja, meningkatnya pengaruh pemerintah Beijing terhadap media di Hongkong. Sementara itu di Taiwan, media menghadapi tekanan dari pemerintah, dimana Srilangka dan Afghanistan bahkan mengalami kemunduran.
-
Tiga Foto Pemenang Pulitzer Prize di Mata Dua Juri AAS
May 04, 2009
Oleh: Dody
Firman Ichsan dan Ray Bachtiar Drajat, keduanya juri Anugerah Adiwarta Sampoerna untuk bidang fotografi, memberikan komentar atas tiga buah foto karya Damon Winter dari The New York Times, yang baru-baru ini memenangkan Pulitzer Prize untuk kategori feature photography.
Foto 1
Firman Ichsan:
Foto profil ini didukung oleh situasi (hujan) dan lampu sorot dari belakang (menghasilkan rim light di sekitar objeknya). Jarak yang mendekat (oleh lensa) selain berhasil merekam sorot wajah sekaligus menangkap butiran air, menghadirkan suasana yang terasa berat; menyuguhkan keseriusan dan kerja keras Obama. Meskipun tentunya Winter memiliki banyak kesempatan (waktu pidato), namun demikian ia berhasil menghadirkan (diri) Obama (saat itu) dengan baik.
Ray Bachtiar Drajat:
Winter sebagai seorang pewarta foto memang berhasil menyampaikan image Obama sebagai harapan baru Amerika, setelah presiden sebelumnya yang tidak populer di mata dunia. Foto Obama yang basah kuyup diguyur hujan merupakan foto yang saya anggap paling berhasil. Karena saya dulu adalah wartawan majalah Jakarta-Jakarta yang juga memotret politik, ditambah saat ini menjadi corporate visualizer yang hanya bicara untuk kepentingan brand image perusahaan yang bersangkutan, saya jadi paham benar apa yang dipikirkan Winter.



