Archives



  • Waktunya Serius Menggarap Pasar Online?

    May 19, 2009

    Oleh: Dody

    Tiga minggu lalu Kompas menurunkan artikel, “Sirkulasi Surat Kabar Terus Turun“, mengutip data Biro Audit Sirkulasi Amerika Serikat yang menyatakan bahwa sirkulasi harian rata-rata surat kabar (di Amerika Serikat) turun 7,1 persen pada Oktober 2008-Maret 2009 dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun 2007-2008. Minggu ini, The Economist menurunkan artikel tentang topik yang sama, bisnis media massa (cetak, TV, dan radi0) di Amerika Serikat (serta beberapa negara lain) yang mengalami penurunan, baik dalam hal readership/audience, staf yang dipekerjakan, maupun pemasukan iklan.

    Artikel tersebut mengutip data dari American Society of News Editors yang menyatakan bahwa jumlah karyawan newsroom turun 15% selama dua tahun terakhir. Ini masih ditambah dengan turunnya jumlah orang di AS yang menonton siaran berita malam tiga stasiun besar (ABC, CBS, dan NBC), dari 30% di awal 1990an menjadi 16%. Survei Pew Research Centre juga menunjukkan bahwa sejak 1994 jumlah orang di AS yang mendengarkan siaran berita radio turun dari 47% menjadi 35%, dan jumlah pembaca surat kabar turun dari 58% menjadi 34%. Pada saat yang bersamaan, jumlah pelanggan internet dan TV kabel meningkat, dan di tahun 2008, untuk pertama kalinya ada lebih banyak orang yang mengkonsumsi berita nasional dan internasional dari internet dari yang mendapatkannya di surat kabar.

    Ini tidak hanya terjadi di AS, tapi juga di negara lainnya, paling tidak di Inggris dan Perancis. Paul Zwillenberg dari perusahaan konsultan OC&C menyatakan bahwa hampir 70 surat kabar di Inggris tutup sejak awal 2008. Surat kabar The Independent dan Evening News Standard menggantungkan diri pada pelanggan dari luar negeri, sedangkan surat kabar-surat kabar di Perancis mengandalkan pada tambahan subsidi dari pemerintahnya.

    Upaya media-media tersebut untuk merambah pasar online juga tampaknya kurang sukses. Ini tak lain disebabkan oleh tingkat pemasukan dari online advertising yang masih sangat rendah. Selama ini konsumen lebih suka membaca berita di internet secara gratisan, dan media rela memberikan hal tersebut karena berpikir pemasukan dari iklan akan menutup biaya operasional. Siapa yang menyangka bahwa business model seperti itu ternyata salah?

    Konsumen pindah ke dunia online, biaya operasi yang meningkat, krisis ekonomi yang tak kunjung membaik, dan pemasukan dari iklan yang semakin menurun. Bagaimana menyikapi ini?

    Kelompok media News Corp milik Rupert Murdoch baru-baru ini menyatakan bahwa mereka akan segera menerapkan sistem pembayaran bagi materi-materi online mereka.

    Bagaimana dengan Indonesia? Sampai saat ini jumlah pengguna internet memang belum banyak, akibat keterbatasan bandwith dan fasilitas terkait lainnya. Jumlah pembaca surat kabar pun masih lebih banyak daripada pengguna internet. Tapi tak ada salahnya untuk bersiap-siap, bukan? Apakah media massa Indonesia harus menunggu sampai terjadi krisis seperti yang dialami saudara-saudaranya di luar sana, atau sudah waktunya memikirkan strategi untuk menghadapi perkembangan ini?

     

One Response to “Waktunya Serius Menggarap Pasar Online?”

Leave a Reply

Name (required)
Mail (will not be published) (required)
Website