dsc_1191.jpg
dsc_1341.jpg
dsc_1287.jpg
dsc_1274.jpg
img_1479.jpg
img_1543.jpg
img_9312.jpg
img_9308.jpg
img_9281.jpg
img_9280.jpg
img_9252.jpg
img_9239.jpg
img_9236.jpg
img_9225.jpg
2.jpg
1.jpg
img_9312.jpg
img_9312_0.jpg
dsc_1134.jpg
dsc_1123.jpg
dsc_1192.jpg
dsc_1189.jpg
dsc_1236.jpg
dsc_1211.jpg
dsc_1269.jpg
dsc_1266.jpg
dsc_1245.jpg
dsc_1280.jpg
dsc_1274.jpg
dsc_1299.jpg
dsc_1289.jpg
dsc_1319.jpg
dsc_1314.jpg
dsc_1353.jpg
dsc_1340.jpg
dsc_1335.jpg
dsc_0979.jpg
picture-7.png
 
 
Info

Panitia Penyelenggara AAS 2009 dapat dihubungi melalui telepon 021-72789833 atau melalui email di aas@maverick.co.id

KomunitasSudah jadi anggota?
Login
Login dengan Facebook:
Pengunjung terakhir
Powered by Sociable!

Berlangganan info AAS

Ketik alamat email Anda:

Delivered by FeedBurner

Shout!



Jurnalis Televisi: Adakah Pesan Anda Tersampaikan? 15/05/09

Oleh: Adis

“Sebuah tayangan televisi bercerita melalui gambar dan suara. Proses pengambilan gambar dan pengemasan akhir gambar tersebut akan menentukan apakah konsep cerita anda tersampaikan atau tidak,” demikian komentar Arswendo Atmowiloto mengenai penilaian karya jurnalistik televisi dalam ajang Anugerah Adiwarta Sampoerna (AAS) 2009, saat berbincang santai dengan beberapa rekan jurnalis televisi.packaging dari sebuah tayangan televisi mau tidak mau menjadi pertimbangan utama dalam penilaian selain tentunya jalan cerita yang menarik,” tambahnya.

Beberapa rekan jurnalis tampak antusias bertanya kepada dewan juri tentang tips dan trik dalam memenangkan ajang ini. Arswendo kemudian mengambil contoh karya jurnalistik televisi yang menjadi juara pada AAS 2008 berjudul “Profil: Salomina Berjuang Meraih Pendidikan.” Menurut Arswendo, karya ini memiliki nilai visual yang paling kuat bila dibandingkan dengan karya finalis lainnya.

Mengenai tidak adanya pembatasan tema dalam dua kategori lomba AAS (Liputan Investigatif dan Dokumenter), Marselli Soemarno, melihatnya sebagai kesempatan bagi para jurnalis televisi dalam berkreasi. Dosen Fakultas Film dan televisi Institut Kesenian Jakarta yang baru pertama kalinya menjadi juri dalam ajang AAS ini juga sangat mendukung diadakannya ajang penghargaan bagi insan jurnalis khususnya jurnalis televisi.

Selain berdiskusi seputar penyelenggaraan AAS, bincang-bincang santai kali ini juga membahas tentang sulitnya menemukan tayangan dokumenter murni yang lepas dari nilai-nilai komersialisme dalam program-program televisi saat ini. Arswendo dan Marselli sepakat bahwa hal itu memang sulit dihindari, namun justru disitulah peranan jurnalis televisi untuk tetap menghasilkan tayangan yang berkualitas dan sarat informasi bagi masyarakat.

Berbeda dengan penerimaan karya bagi kategori cetak/on-line dan foto yang dibagi menjadi dua periode, penerimaan karya jurnalistik televisi yang telah ditayangkan antara 2 Oktober 2008 - 15 September 2009, ditunggu oleh panitia AAS sampai dengan 30 September 2009 (cap pos).

Kami tunggu dan selamat berkarya!




Leave a Reply