Archive for May, 2009

Jurnalis Harus Buktikan Kemampuan Menulis

Friday, May 22nd, 2009

Oleh: Dody

Rabu (20/5) kemarin, Panitia Anugerah Adiwarta Sampoerna mengadakan acara media luncheon untuk sosialisasi penyelenggaraan AAS kepada media cetak dan online. Awalnya, panitia mendapatkan konfirmasi 6 media yang akan hadir pada siang itu, namun sayang karena adanya penugasan mendadak dari media ditambah dengan macetnya jalanan akibat hujan yang mengguyur deras, hanya 1 jurnalis yang hadir yaitu Hendri Firzani, Redaktur Hukum dan Olahraga Gatra.

Tetapi, memang bukan AAS namanya kalau diskusi tidak bisa berjalan dengan seru. Dihadiri oleh Mas Yosep Adi Prasetyo (Stanley) sebagai perwakilan dari dewan juri semifinal media cetak dan online AAS 2009 dan Ibu Niken Rahmad, Direktur Komunikasi PT HM Sampoerna Tbk., siang itu kita membicarakan banyak hal menarik. (more…)

Waktunya Serius Menggarap Pasar Online?

Tuesday, May 19th, 2009

Oleh: Dody

Tiga minggu lalu Kompas menurunkan artikel, “Sirkulasi Surat Kabar Terus Turun“, mengutip data Biro Audit Sirkulasi Amerika Serikat yang menyatakan bahwa sirkulasi harian rata-rata surat kabar (di Amerika Serikat) turun 7,1 persen pada Oktober 2008-Maret 2009 dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun 2007-2008. Minggu ini, The Economist menurunkan artikel tentang topik yang sama, bisnis media massa (cetak, TV, dan radi0) di Amerika Serikat (serta beberapa negara lain) yang mengalami penurunan, baik dalam hal readership/audience, staf yang dipekerjakan, maupun pemasukan iklan. (more…)

Jurnalis Televisi: Adakah Pesan Anda Tersampaikan?

Friday, May 15th, 2009

Oleh: Adis

“Sebuah tayangan televisi bercerita melalui gambar dan suara. Proses pengambilan gambar dan pengemasan akhir gambar tersebut akan menentukan apakah konsep cerita anda tersampaikan atau tidak,” demikian komentar Arswendo Atmowiloto mengenai penilaian karya jurnalistik televisi dalam ajang Anugerah Adiwarta Sampoerna (AAS) 2009, saat berbincang santai dengan beberapa rekan jurnalis televisi.packaging dari sebuah tayangan televisi mau tidak mau menjadi pertimbangan utama dalam penilaian selain tentunya jalan cerita yang menarik,” tambahnya. (more…)

Marselli Sumarno Bicara Soal TV dan Antasari Azhar

Thursday, May 14th, 2009

Panitia Anugerah Adiwarta Sampoerna hari Rabu kemarin (13/05), mengadakan acara media luncheon di King’s Palace, One Pacific Place, Jakarta. Acara ini dihadiri oleh dua orang anggota Dewan Juri AAS, Arswendo Atmowiloto dan Marselli Sumarno, serta Niken Rahmad (Director of Communications, PT HM Sampoerna, Tbk), Elvira Lianita (External Communication Manager, PT HM Sampoerna, Tbk), Dimas Novriandi (External Communication Executive, PT HM Sampoerna, Tbk), Tyas Sumarto, Abbas Yahya (News Producer, SCTV), Edi (Producer, SCTV), Ramdan Malik (Executive Producer, TPI), Imam Rismanto (Producer, Trans TV), dan Yudha Baster (Megaswara TV).

Sambil menunggu undangan yang lain datang, kami sempat mewawancarai Marselli Sumarno, dan pendapatnya tentang karya jurnalistik TV yang baik dan liputan TV tentang kasus Antasari Azhar dapat dilihat dalam video berikut ini:

Jurnalisme Warga vs Jurnalisme Profesional, Apakah Perlu Diperdebatkan?

Thursday, May 14th, 2009

Oleh: Dody

Perdebatan apakah blogger bisa disebut jurnalis atau bukan mungkin hampir sama dengan perdebatan antara ayam dengan telur. Walaupun banyak yang menganggap perdebatan sudah tidak lagi relevan, banyak juga yang menganggap masih.

Menurut Wikipedia, perdebatan apakah blogger itu jurnalis atau bukan dapat dikatakan berbarengan dengan perkembangan blog di Amerika Serikat tahun 1999. Saat itu, aktivis asal Seattle melakukan demonstrasi terhadap pertemuan WTO yang sedang berlangsung di kota itu. Para aktivis tahu bahwa satu-satunya cara aksi mereka dapat diketahui orang banyak dan diliput oleh media adalah dengan memblokir jalan. Berita yang muncul kemudian adalah para aktivis dipaksa untuk menyingkir, namun tidak ada satupun berita yang memuat alasan mereka melakukan hal semacam itu. Dari situlah, para aktivis kemudian mencari alternatif media lain. Nah, sejak saat itu, penyebaran informasi dan berita yang dilakukan oleh “masyarakat biasa” mulai berkembang dengan bantuan internet, diantaranya melalui blog, chatroom, dan message boards.

Kemudian, di Korea Selatan, OhmyNews dengan motonya “Setiap Warganegara adalah Jurnalis” menjadi terkenal dan sukses setelah menjalankan konsep citizen journalism. Didirikan pada tanggal 22 Pebruari 2000 oleh Oh Yeon-ho, OhmyNews memiliki pegawai lebih kurang 40 orang yang bekerja sebagai reporter dan editor, atau 20% dari total jumlah pegawai seluruhnya. Sisa pegawainya adalah kontributor-kontributor lepasan yang sebagian besar adalah masyarakat biasa. OhmyNews saat ini memiliki sekitar 50.000 kontributor dan mendapatkan pengakuan sebagai media yang mampu merubah kondisi politik Korea Selatan yang sebelumnya konservatif.

(more…)

Janganlah Hilang..

Friday, May 8th, 2009

Oleh: Dody

Ada sebuah artikel menarik hari ini (Jum’at, 08 Mei 2009) di Kompas yang ditulis oleh Seno Gumira Ajidarma, salah seorang juri AAS, menyoal pentingnya penghargaan terhadap hasil karya jurnalistik agar setiap tulisan memiliki kedalaman makna.

08-05-09-kompas

"Janganlah Hilang.." oleh Seno Gumira Ajidarma, Kompas, 08/05-2009.

Bisnis Media Yang Sehat & Kebebasan Pers

Wednesday, May 6th, 2009

Oleh: Adis

Di tahun 2008, dunia jurnalistik Indonesia dipenuhi oleh kehadiran 1.008 perusahaan media cetak, 150 perusahaan media televisi, dan 2.000 perusahaan radio. Data tersebut disampaikan oleh Wakil Ketua Dewan Pers, Leo Batubara, dalam diskusi memperingati 10 Tahun Kebebasan Pers, Selasa (5/5).

Pertumbuhan perusahaan-perusahaan media ini seharusnya bisa menjadi pembuktian dari pengaplikasian UU Pokok Pers Nomor 40 Tahun 1999, dimana kebebasan pers menjadi sesuatu yang bisa diwujudkan di Indonesia. Sayangnya, pertumbuhan tersebut tidak dibarengi dengan persiapan yang matang. Kehadiran pemain-pemain baru dalam dunia jurnalistik kita agaknya tidak diperkuat dengan kemampuan untuk mempertahankan diri dalam kompetisi bisnis yang semakin ketat. Belum lagi jika ditinjau dari angka perolehan iklan yang signifikan, dimana kebanyakan media-media ini tidak memenuhi syarat.

Dewan Pers pun akhirnya mengklaim bahwa hanya sekitar 30 persen dari jumlah perusahaan media tersebut yang berada dalam kondisi ’sehat bisnis’.

(more…)

AAS Kunjungi The Jakarta Post

Wednesday, May 6th, 2009

Hari Selasa, 5 Mei 2009, panitia Anugerah Adiwarta Sampoerna (AAS) bertandang ke kantor redaksi The Jakarta Post dan mendapat kehormatan bertemu dengan Meidyatama Suryodiningrat (Dimas), Wakil Pemimpin Redaksi, Primastuti Handayani (Yani), Redaktur Pelaksana, dan Arief Suhardiman (Arief), Redaktur Foto, yang juga peserta AAS tahun 2007.

Kunjungan AAS 2009 ke The Jakarta Post - 1

Primastuti Handayani (Managing Editor) dan Meidyatama Suryodiningrat (Deputy Chief Editor)

Kunjungan ini merupakan salah satu dari serangkaian aktivitas yang dilakukan oleh panitia AAS dalam mensosialisasikan penyelenggaraan AAS 2009 kepada media-media. Khusus untuk The Jakarta Post, kunjungan tersebut sekaligus untuk mensosialisasikan bahwa AAS dari awal selalu membuka kemungkinan media berbahasa asing untuk ikut serta dalam ajang ini.

Dalam kunjungan yang bersifat informal tersebut, juga didiskusikan berbagai hal menarik, mulai dari dunia penganugerahaan di bidang jurnalistik hingga support yang diberikan oleh The Jakarta Post terhadap jurnalisnya yang ingin ikut kompetisi semacam ini. “Kami di sini (The Jakarta Post) mendukung wartawan kami untuk ikut kompetisi-kompetisi jurnalistik seperti AAS ini,” ujar Dimas.

(more…)

Kebebasan Pers Dilanda Krisis?

Tuesday, May 5th, 2009

Oleh: Dody

Tidak banyak yang tahu bahwa tanggal 3 Mei kemarin diperingati di seluruh dunia sebagai Hari Kebebasan Pers. Freedom House, sebuah lembaga yang dibentuk di Amerika pada tahun 1941 khusus mengangkat isu-isu kebebasan dan demokrasi global, dalam sebuah surveinya mengungkapkan fakta adanya ancaman besar terhadap kebebasan media di 195 negara, terlebih di wilayah Asia Timur, pecahan negara Uni Soviet, Timur Tengah, dan Afrika Utara.

Menurut Direktur Eksekutif Freedom House, Jennifer Windsor, kebebasan pers saat ini sedang dalam posisi yang terancam akibat tekanan dari pemerintah dan aktor-aktor kuat lainnya serta dari krisis ekonomi global. “Media adalah benteng pertahanan pertama dari demokrasi sebuah negara. Kelemahan pers akan memberikan dampak yang signifikan terhadap sistem demokrasi jika jurnalis tidak memiliki kemampuan untuk menjalankan peran pengawasannya,” ujar Jennifer.

world-press-freedom-day1

Yang paling menyedihkan, hasil survei tersebut juga menunjukkan keprihatinan kebebasan pers di beberapa negara di Asia Pasifik, seperti meningkatnya kekerasan terhadap jurnalis di Kamboja, meningkatnya pengaruh pemerintah Beijing terhadap media di Hongkong. Sementara itu di Taiwan, media menghadapi tekanan dari pemerintah, dimana Srilangka dan Afghanistan bahkan mengalami kemunduran.

(more…)

Tiga Foto Pemenang Pulitzer Prize di Mata Dua Juri AAS

Monday, May 4th, 2009

Oleh: Dody

Firman Ichsan dan Ray Bachtiar Drajat, keduanya juri Anugerah Adiwarta Sampoerna untuk bidang fotografi, memberikan komentar atas tiga buah foto karya Damon Winter dari The New York Times, yang baru-baru ini memenangkan Pulitzer Prize untuk kategori feature photography.


Foto 1

Barack Obama, oleh Damon Winter. Foto dari www.pulitzer.org.
Barack Obama, oleh Damon Winter. Foto dari www.pulitzer.org.

Firman Ichsan:

Foto profil ini didukung oleh situasi (hujan) dan lampu sorot dari belakang (menghasilkan rim light di sekitar objeknya). Jarak yang mendekat (oleh lensa) selain berhasil merekam sorot wajah sekaligus menangkap butiran air, menghadirkan suasana yang terasa berat; menyuguhkan keseriusan dan kerja keras Obama. Meskipun tentunya Winter memiliki banyak kesempatan (waktu pidato), namun demikian ia berhasil menghadirkan (diri) Obama (saat itu) dengan baik.

Ray Bachtiar Drajat:

Winter sebagai seorang pewarta foto memang berhasil menyampaikan image Obama sebagai harapan baru Amerika, setelah presiden sebelumnya yang tidak populer di mata dunia. Foto Obama yang basah kuyup diguyur hujan merupakan foto yang saya anggap paling berhasil. Karena saya dulu adalah wartawan majalah Jakarta-Jakarta yang juga memotret politik, ditambah saat ini menjadi corporate visualizer yang hanya bicara untuk kepentingan brand image perusahaan yang bersangkutan, saya jadi paham benar apa yang dipikirkan Winter.

(more…)

[back to top]