Archives
Archive for April, 2009
-
Dicari: Tayangan televisi yang berbicara melalui mata, telinga dan hati
April 21, 2009
- Dari kiri ke kanan, rekan-rekan jurnalis TV asik berdiskusi dengan perwakilan dewan juri AAS 2009, Fetty Fajriati dan George Kamarullah
Santai namun sarat dengan diskusi yang menyiratkan antusiasme. Begitulah bincang-bincang ringan yang diselenggarakan Panitia Anugerah Adiwarta Sampoerna (AAS) 2009 pada siang 20 April lalu untuk mensosialisikan kategori televisi. Sembari menikmati hidangan pada sebuah meja bundar melingkar, rekan-rekan jurnalis dari Trans TV, RCTI, Cahaya TV, dan Jak TV juga berbagi saran dan melontarkan berbagai pertanyaan kepada perwakilan juri televisi yang hadir, George Kamarullah dan Fetty Fajriati serta Ibu Niken Rachmad, Direktur Komunikasi PT HM Sampoerna Tbk.
George Kamarullah, sinematografer ternama yang telah menjadi juri kategori televisi sejak AAS 2008 menegaskan pentingnya aspek kejujuran dalam pembuatan karya jurnalistik tv yang akan dilombakan. “Ada baiknya karya yang dilombakan juga menyertakan director’s note atau catatan singkat untuk menjelaskan latar belakang teknis penayangannya,” jelas George. Ia juga ‘menantang’ kreativitas para jurnalis tv, untuk menghasilkan karya terbaik yang mampu menciptakan sebuah sinkronisasi antara audio dan visual sekaligus mengandung nilai moral yang tinggi bagi masyarakat. Sebuah tayangan yang mampu berbicara menyentuh mata, telinga dan hati para pemirsanya.
Senada dengan George, Fetty Fajriati, Wakil Ketua Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) Pusat yang baru tahun ini bergabung dalam jajaran juri kategori televisi AAS, juga mengemukakan besarnya dampak tayangan televisi terhadap kehidupan sosial masyarakat. Ia berharap ajang AAS 2009 dapat memicu tayangan jurnalistik yang berkualitas dan dapat dinikmati oleh semua orang.
Pada AAS 2009, kategori televisi diperluas menjadi dua, yakni liputan investigatif dan dokumenter. Untuk memberikan kesempatan yang seluas-luasnya kepada rekan jurnalis televisi, panitia meniadakan pembatasan jumlah karya yang dikirimkan dan karya ditunggu sampai dengan tanggal 30 September 2009.
-
Formulir Pendaftaran AAS 2009 dalam Word
April 17, 2009
Pendaftaran AAS 2009 untuk periode pertama akan segera ditutup, lho! Jangan lupa untuk mengirimkan aplikasi Anda tepat waktu, ya!
Oh ya, bagi teman-teman jurnalis yang ingin mengirimkan aplikasi lewat e-mail ke aas@maverick.co.id, berikut ini kami sediakan formulir pendaftaran dalam bentuk Microsoft Word, agar lebih mudah untuk diisi dan dikirimkan kembali kepada kami.
Formulir tersebut dapat diunduh dari sini (klik pada tulisan berwarna merah di bawah ini; pilih kategori Anda, apakah untuk Cetak/Online atau untuk televisi):
formulirpendaftaran-cetakdanonline-2009
formulirpendaftaran-televisi-2009
Kami tunggu aplikasinya, ya. Jangan sampai terlewat deadline, lho!
-
Wartawan Rame-rame Jadi Caleg
PEMILIHAN UMUM LEGISLATIF BARU SAJA USAI. Ada sebuah fenomena baru yang muncul di pemilihan umum tahun ini. Banyak wartawan yang (ikut-ikutan) jadi caleg. Fenomena ini sebenarnya sudah mulai dibahas sejak tahun lalu. Di sebuah acara diskusi yang diadakan National Press Club Indonesia (NPCI) bertajuk “Wartawan Menuju Senayan”, 10 Oktober 2008, salah satu calon legislatif dari partai Golkar yang berwajah manis dan sudah tidak asing lagi di mata penonton televisi, Meutia Hafidz, hadir sebagai pembicara. Meutia Hafidz, yang juga pembawa berita Metro TV, dipinang oleh partai Golkar untuk daerah pemilihan Propinsi Sumatera Utara I dengan nomor urut dua.
Meutia tidak sendirian. Dari Daftar Calon Tetap (DCT) yang dikeluarkan oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU), tercatat lebih dari 100 rekan-rekan kita dari media maju sebagai calon anggota legislatif dalam Pemilu 2009, dan 70-80% diantaranya masih aktif sebagai wartawan dan tersebar di seluruh Indonesia. Mereka maju dengan latar belakang yang beda-beda. Ada yang terdorong untuk merubah kondisi Indonesia, tapi banyak juga yang tidak malu-malu bilang bahwa mereka jadi caleg karena ingin meningkatkan kesejahteraan. Manusiawi sekali.
Bagi mereka yang positive thinking alias optimis, mendukung langkah rekan-rekan untuk maju ke ranah politik. Menurut mereka, integritas dan kapasitas seorang jurnalis dapat mengubah kondisi politik kita yang sudah carut marut gak karuan. Caleg wartawan (harusnya) memiliki pemahaman etika politik yang baik sehingga diharapkan mampu menularkan budaya politik yang baik pula di kalangan para elite politik kita yang selama ini terkenal dengan budaya politiknya yang masih dibawah rata-rata.
Ada juga sih yang melihat hal tersebut dengan skeptis. Politik tetap saja politik. Mau wartawan dengan kualitas mental sebaik apapun, kalau sudah masuk pentas politik, mereka akan menjadi sama saja dengan yang lainnya. Apalagi selama masa kampanye kemarin, mereka sudah mengeluarkan dana yang pastinya tidak kecil. Dikhawatirkan, jika mereka terpilih, mereka akan tergoda untuk melakukan korupsi demi mengganti dana kampanye. Hal itu didukung juga oleh kenyataan bahwa nantinya, wewenang mereka akan cukup besar dalam menentukan kebijakan anggaran dana negara.
Kontroversi memang senantiasa mengikuti sesuatu perkembangan baru dimana ada pihak yang setuju dan ada yang tidak. Lumrah. Yang perlu kita lakukan adalah sama-sama menjadi dewasa dan tetap positive thinking menyikapi hal ini. Kalau mengutip teman saya, “Ini kan semua proses” ketika kami berdiskusi mengenai banyaknya calon legislatif yang memasang poster dan spanduk wajah mereka di sepanjang jalan ibukota dan tentunya akan membuat bingung pemilih (hal ini terbukti dengan tingginya angka golput). Yup, mudah-mudahan banyaknya caleg yang berasal dari kalangan wartawan akan memberikan kontribusi positif terhadap proses perubahan kondisi di tanah air. Selamat berjuang, rekan-rekan.
-
Elvyn G. Masassya – Ahli Keuangan yang Melankolis
April 16, 2009
Tenang dan menyenangkan, itulah kesan yang pertama kali didapat ketika bertemu dengan pria kelahiran 8 Juni ini. Obrolan santai dibumbui beberapa lelucon langsung meluncur begitu saja dari mulutnya, menghilangkan kesan serius yang biasanya melekat pada seorang ahli keuangan dan perbankan yang setiap harinya harus berhadapan pada angka-angka yang rumit.Elvyn G. Masassya, kolumnis di berbagai media massa nasional serta pembicara di berbagai talk show dan seminar, dikenal memiliki integritas yang tinggi di bidangnya. Itulah sebabnya, dia senantiasa dipercaya untuk menempati posisi-posisi penting di negara ini. Setelah menjadi petinggi di dua bank nasional ternama, Elvyn kini menjabat sebagai Direktur Investasi PT Jamsostek.
Dan di tengah-tengah kesibukannya yang sangat padat, dia setuju untuk membantu penjurian semi final pada Anugerah Adiwarta Sampoerna 2009 untuk kategori karya tulisan bidang ekonomi/bisnis. Lalu, apa kiatnya untuk mencapai kehidupan yang seimbang?
Ternyata, ia selalu mempertahankan hobinya, yaitu bermain musik dan menyanyi. Kecintaannya pada dunia musik yang telah dirintisnya sejak sekolah, dibuktikan dengan dibangunnya sebuah studio digital di rumahnya. Tak banyak orang yang tahu juga bahwa Elvyn telah membuat album lagu-lagu ciptaan sendiri yang sebagian besar bernuansa melankolis. “Dalam waktu dekat ini saya akan merilis album saya yang keempat. Di album Romantic jazzy collection yang bertajuk Sisi Lain ini saya greedy. Saya yang melakukan semuanya, mulai dari menciptakan dan menyanyikan lagu-lagunya sampai-sampai saya juga yang menjadi produsernya,” ujarnya sambil berseloroh.
Di balik itu semua, terungkap pula bahwa Elvyn memiliki rasa sosial yang tinggi. Semua hasil penjualan dari album-albumnya akan diserahkan ke sebuah klinik di daerah Tangerang sehingga orang-orang yang ingin berobat hanya membayar Rp. 5.000 sudah termasuk pemeriksaan dan obat-obatan. Serasa lengkap sudah kehidupan yang dimiliki oleh ahli keuangan kita yang melankolis ini…
-
Penutupan Periode Pertama AAS 2009 tinggal 7 Hari lagi!
April 13, 2009
Hai,
Untuk mengingatkan rekan-rekan semua, penutupan periode pertama ajang kompetisi jurnalistik Anugerah Adiwarta Sampoerna (AAS) 2009 tinggal tujuh (7) hari lagi, lho!
Karya-karya jurnalistik dalam bidang liputan investigatif, liputan kemanusiaan, maupun foto berita yang telah dipublikasikan selama periode 2 Oktober 2008 – 31 Maret 2009 harus sudah diterima Panitia AAS pada 20 April 2009 (cap pos).
Periode kedua AAS 2009 akan menerima karya-karya jurnalistik yang telah dan akan dipublikasikan selama periode 1 April 2009 – 15 September 2009, dan akan ditutup pada 30 September 2009 (cap pos).
Sedangkan untuk media televisi tanggal publikasi karya adalah antara tanggal 2 Oktober 2008 hingga 15 September 2009. Panitia menerima paling lambat tanggal 30 September 2009 (cap pos).
Kami tunggu karya Anda! Jangan sampai terlewat tenggat waktu periode pertama ini!

