Archives
-
Kesederhanaan Warnai Ulang Tahun ke-26 The Jakarta Post
April 28, 2009
Today, The Jakarta Post marks its 26th anniversary. There are no celebrations – not even a reception that we usually have to express our thanks to our readers. Last year we celebrated our Silver Jubilee in grand style. This year we mark our anniversary in times of a financial crisis. So, instead of a reception, we wish to reflect on this day by sharing a few thoughts with readers.
Di atas adalah paragraf pertama dari tajuk rencana The Jakarta Post yang memberitahukan para pembacanya bahwa koran berbahasa Inggris itu tidak akan menggelar perhelatan apapun dalam merayakan ulang tahunnya yang ke-26. Berbeda dengan perayaan tahun lalu (kebetulan saya datang atas undangan teman), perayaan ulang tahun perak salah satu media milik Gramedia ini dirayakan dengan sangat meriah, dengan panggung berisi musisi jazz kenamaan dalam dan luar negeri, free flow minuman, serta undangan yang begitu banyak sehingga membuat sesak ballroom salah satu hotel papan atas di kawasan Mega Kuningan. Tapi, tahun ini, The Jakarta Post merayakan ulang tahunnya hanya dengan “berbagi ide dan pemikiran” kepada pembaca.
Tapi itulah hidup. Pante rei, menurut filsafat Yunani, yang artinya bahwa segalanya bergerak, segalanya mengalir, dan segalanya berubah karena perubahan merupakan tanda kehidupan. Sah-sah saja.
Nah, saya sempat ngobrol dengan Arief Suhardiman, salah satu peserta AAS yang sudah bekerja di The Jakarta Post selama 14 tahun dan sekarang menjadi Redaktur Foto. Bagi Mas Arief, salah satu kenangan paling berkesan yang dimilikinya selama bekerja di The Jakarta Post adalah ketika pelaksanaan Pemilihan Umum di Aceh saat Gerakan Aceh Merdeka (GAM) masih ada. Dia adalah wartawan lokal pertama yang berhasil mengambil gambar inong balee, sebutan untuk perempuan Aceh yang ikut berperang yang terdiri dari janda-janda pejuang GAM beserta anak-anak mereka, yang sedang memegang senjata.
Setiba di Jakarta, kira-kira hanya dalam waktu 2 minggu, Arief mendengar kabar bahwa di Aceh, fotonya tersebut diperbanyak dengan cara difotokopi dan dijual dengan harga Rp.3.000. Uang yang terkumpul digunakan untuk membantu perjuangan GAM. Hal yang sama juga terjadi di Jakarta. Fotonya diperbanyak dan digunakan sebagai backdrop serta poster acara-acara pertunjukan yang berkaitan dengan pelanggaran HAM. “Saya cuma bisa pasrah. Memang saya bisa berbuat apa,” selorohnya.
Ke depan, dia berharap The Jakarta Post senantiasa memberikan yang terbaik, khususnya dengan meningkatnya persaingan di antara media berbahasa Inggris. Harapannya adalah agar media tempatnya bekerja saat ini dapat terus memberikan informasi yang berguna sehingga dapat menjadi referensi bagi masyarakat luas.
Selamat ulang tahun The Jakarta Post!
