- Hanny
on Video: Testimoni Pemenang Anugerah Adiwarta Sampoerna 2009 - Hanny
on AAS 2009 - The Jakarta Globe - Hanny Kusumawati on Serba-Serbi: AAS Punya Cerita
- Revdy Iwan Syahputra
on Serba-Serbi: AAS Punya Cerita - Anugerah Adiwarta Sampoerna - on RUU Rahasia Negara: Setelah Direvisi. Masihkah Dipertanyakan?
- Adhi Kusumaputra
- Algooth
- Andi Muhyidin
- Andrew Greene
- Anugerah “Nugie” Perkasa
- Asep Setiawan
- Bagja Hidayat
- Eddy Mesakh
- Ika Maya
- Jarar Siahaan
- Jurnalis NTT
- Kelik M. Nugroho
- Manda La Mendol
- Marwan Azis
- Merry Magdalena
- Okky P. Madasari
- Pepih Nugraha
- Ratna “Atta” Ariyanti
- Samiaji Bintang
- Taufik Hidayat
- Wienda Parwitasari
- Zaky Yamani
- Zeynitta Gibbons
Oleh: Dody
Kemarin, saya membaca sebuah artikel di Kompas mengenai perlunya diwacanakan kembali penyelenggaraan Hari Sastra Nasional (HSN) guna menghidupkan karya sastra di tanah air. Apakah memang karya sastra dalam negeri sedang tidak bergairah sehingga perlu dihidupkan? Seingat saya sih justru belakangan ini makin banyak buku-buku sastra, baik itu novel, puisi, ataupun prosa, yang diterbitkan. Dan, yang menggembirakan lagi, makin banyak pula penulis-penulis baru yang bermunculan. Namun, mohon maaf kalau ingatan saya salah.
Lalu, saya ngobrol-ngobrol sama teman saya yang kebetulan anggota salah satu komunitas pecinta puisi di Jakarta mengenai hal ini. Tanpa kami sadari, obrolan berlanjut menyoal jurnalisme sastrawi. Apa lagi ini, pikir saya. Jurnalisme sastrawi, menurut teman saya, secara sederhana adalah penulisan yang mendalam mengenai suatu hal atau kasus menggunakan pendekatan bahasa sastra. Dulu sempat ada beberapa media yang menggunakan gaya penulisan ini, tapi sekarang sudah jarang sekali.
Lalu mengapa tidak ada lagi media yang mau menulis dengan gaya jurnalisme sastrawi? Di salah satu edisi online majalah Pantau, ditulis bahwa berbeda dengan reportasi harian, penulisan gaya jurnalisme sastrawi layaknya seseorang menuturkan cerita adegan demi adegan dengan sangat detil. Hal ini dimungkinkan karena penulis biasanya membutuhkan waktu lama, bisa berbulan-bulan dengan riset yang tidak main-main. Mungkin saja media sudah lama meninggalkan gaya penulisan seperti ini agar berita yang disajikan tidak basi. Atau juga karena kesibukan wartawan yang amat banyak tidak mungkin untuk menugaskan satu atau dua orang hanya untuk menulis satu berita dalam waktu yang sangat lama. Tapi, mungkin, akan menyenangkan juga jika sesekali kita masih bisa membaca berita dengan gaya cerita. Selain memberi rasa baru, hal itu juga membuat kita merasa memiliki sesuatu yang dibanggakan sebagai bangsa Indonesia yang kaya akan karya sastra buatan tangan anak bangsa.
Bagaimana menurut rekan-rekan?
Oleh Dody.
“Sirkulasi Surat Kabar Terus Turun”, sebuah judul artikel di Kompas hari ini (28/4), menceritakan kemerosotan jumlah sirkulasi harian rata-rata surat kabar di Amerika sebesar 7,1 persen pada Oktober 2008-Maret 2009 dibandingkan periode yang sama tahun 2007-2008. Penyebab utamanya adalah krisis finansial yang membuat pemasangan iklan di surat kabar menurun serta menurunnya jumlah pembaca media cetak karena mulai beralih ke media online. Baca selengkapnya …
Today, The Jakarta Post marks its 26th anniversary. There are no celebrations – not even a reception that we usually have to express our thanks to our readers. Last year we celebrated our Silver Jubilee in grand style. This year we mark our anniversary in times of a financial crisis. So, instead of a reception, we wish to reflect on this day by sharing a few thoughts with readers.
Di atas adalah paragraf pertama dari tajuk rencana The Jakarta Post yang memberitahukan para pembacanya bahwa koran berbahasa Inggris itu tidak akan menggelar perhelatan apapun dalam merayakan ulang tahunnya yang ke-26. Berbeda dengan perayaan tahun lalu (kebetulan saya datang atas undangan teman), perayaan ulang tahun perak salah satu media milik Gramedia ini dirayakan dengan sangat meriah, dengan panggung berisi musisi jazz kenamaan dalam dan luar negeri, free flow minuman, serta undangan yang begitu banyak sehingga membuat sesak ballroom salah satu hotel papan atas di kawasan Mega Kuningan. Tapi, tahun ini, The Jakarta Post merayakan ulang tahunnya hanya dengan “berbagi ide dan pemikiran” kepada pembaca.
Tapi itulah hidup. Pante rei, menurut filsafat Yunani, yang artinya bahwa segalanya bergerak, segalanya mengalir, dan segalanya berubah karena perubahan merupakan tanda kehidupan. Sah-sah saja.
Terima kasih untuk partisipasi rekan-rekan semua yang sudah mengirimkan karyanya di periode I AAS 2009!
Periode pertama ajang AAS 2009 untuk kategori cetak dan online resmi ditutup. Meskipun tahun ini aplikasi dibatasi hanya 2 karya per jurnalis, per kategori, per periode, ternyata karya-karya yang masuk cukup banyak. Untuk periode pertama ini saja Panitia sudah menerima sekitar 300 karya. Ini pun masih bisa bertambah lagi, karena masih ada tumpukan karya yang baru akan direkap Panitia minggu ini.
Anda mulai bisa mendaftarkan karya Anda yang dipublikasikan sejak 1 April 2009 - 15 September 2009, dan karya-karya ini paling lambat harus sudah diterima Panitia pada 30 September 2009 (cap pos). Untuk media televisi, daftarkan karya Anda yang dipublikasikan antara 2 Oktober 2008 - 15 september 2009. Jangan lupa, untuk karya berupa artikel, Anda juga diminta menyertakan naskah yang sudah diketik di Ms.Word dalam bentuk soft copy (bukan print out).
Bagi rekan-rekan yang “ketinggalan” periode pertama AAS 2009, jangan kuatir, karena periode kedua sudah dibuka. Kami tunggu karya-karyanya ya!
Mengambil tempat di Columbia University, nama-nama penerima penghargaan Pulitzer telah diumumkan Senin siang 20 April lalu. Tak dinyana, surat kabar yang tengah dilanda dampak krisis global, The New York Times, mampu meraih lima Pulitzer sekaligus!
Tahun ini, penghargaan paling bergengsi di dunia jurnalistik AS ini diberikan bagi 14 kategori karya jurnalistik, dan untuk pertama kalinya, lembaga berita online diperbolehkan untuk ikut serta berkompetisi. Memang sudah waktunya, mengingat menjamurnya situs berita online yang dipicu oleh kebutuhan pembaca akan informasi berita yang dapat diakses dimana saja secara real time. Anugerah Adiwarta Sampoerna sendiri telah mempersilakan lembaga berita online untuk ikut berkompetisi sejak pertama kali diselenggarakan tahun 2006.
Yang menarik, prosedur penjurian Pulitzer memungkinkan penilaian ‘no prize’ atau tidak ada pemenang untuk kategori tertentu. Dewan Juri Pulitzer juga dapat mengganti nominasi dari tiap-tiap kategori, dan bahkan memilih kandidat yang tidak dinominasikan sebelumnya. Ini dapat terjadi apabila tiga-perempat suara di Dewan Juri menyetujui keputusan tersebut. Keputusan ‘no prize’ antara lain muncul di tahun 1965 untuk kategori musik, dan di tahun 1993 untuk kategori editorial writing.
Daftar pemenang Pulitzer Prize dapat dilihat di http://www.pulitzer.org/awards/2009.
- Dari kiri ke kanan, rekan-rekan jurnalis TV asik berdiskusi dengan perwakilan dewan juri AAS 2009, Fetty Fajriati dan George Kamarullah
Santai namun sarat dengan diskusi yang menyiratkan antusiasme. Begitulah bincang-bincang ringan yang diselenggarakan Panitia Anugerah Adiwarta Sampoerna (AAS) 2009 pada siang 20 April lalu untuk mensosialisikan kategori televisi. Sembari menikmati hidangan pada sebuah meja bundar melingkar, rekan-rekan jurnalis dari Trans TV, RCTI, Cahaya TV, dan Jak TV juga berbagi saran dan melontarkan berbagai pertanyaan kepada perwakilan juri televisi yang hadir, George Kamarullah dan Fetty Fajriati serta Ibu Niken Rachmad, Direktur Komunikasi PT HM Sampoerna Tbk.
George Kamarullah, sinematografer ternama yang telah menjadi juri kategori televisi sejak AAS 2008 menegaskan pentingnya aspek kejujuran dalam pembuatan karya jurnalistik tv yang akan dilombakan. “Ada baiknya karya yang dilombakan juga menyertakan director’s note atau catatan singkat untuk menjelaskan latar belakang teknis penayangannya,” jelas George. Ia juga ‘menantang’ kreativitas para jurnalis tv, untuk menghasilkan karya terbaik yang mampu menciptakan sebuah sinkronisasi antara audio dan visual sekaligus mengandung nilai moral yang tinggi bagi masyarakat. Sebuah tayangan yang mampu berbicara menyentuh mata, telinga dan hati para pemirsanya.
Senada dengan George, Fetty Fajriati, Wakil Ketua Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) Pusat yang baru tahun ini bergabung dalam jajaran juri kategori televisi AAS, juga mengemukakan besarnya dampak tayangan televisi terhadap kehidupan sosial masyarakat. Ia berharap ajang AAS 2009 dapat memicu tayangan jurnalistik yang berkualitas dan dapat dinikmati oleh semua orang.
Pada AAS 2009, kategori televisi diperluas menjadi dua, yakni liputan investigatif dan dokumenter. Untuk memberikan kesempatan yang seluas-luasnya kepada rekan jurnalis televisi, panitia meniadakan pembatasan jumlah karya yang dikirimkan dan karya ditunggu sampai dengan tanggal 30 September 2009.
Pendaftaran AAS 2009 untuk periode pertama akan segera ditutup, lho! Jangan lupa untuk mengirimkan aplikasi Anda tepat waktu, ya!
Oh ya, bagi teman-teman jurnalis yang ingin mengirimkan aplikasi lewat e-mail ke aas@maverick.co.id, berikut ini kami sediakan formulir pendaftaran dalam bentuk Microsoft Word, agar lebih mudah untuk diisi dan dikirimkan kembali kepada kami.
Formulir tersebut dapat diunduh dari sini (klik pada tulisan berwarna merah di bawah ini; pilih kategori Anda, apakah untuk Cetak/Online atau untuk televisi):
formulirpendaftaran-cetakdanonline-2009
formulirpendaftaran-televisi-2009
Kami tunggu aplikasinya, ya. Jangan sampai terlewat deadline, lho!
PEMILIHAN UMUM LEGISLATIF BARU SAJA USAI. Ada sebuah fenomena baru yang muncul di pemilihan umum tahun ini. Banyak wartawan yang (ikut-ikutan) jadi caleg. Fenomena ini sebenarnya sudah mulai dibahas sejak tahun lalu. Di sebuah acara diskusi yang diadakan National Press Club Indonesia (NPCI) bertajuk “Wartawan Menuju Senayan”, 10 Oktober 2008, salah satu calon legislatif dari partai Golkar yang berwajah manis dan sudah tidak asing lagi di mata penonton televisi, Meutia Hafidz, hadir sebagai pembicara. Meutia Hafidz, yang juga pembawa berita Metro TV, dipinang oleh partai Golkar untuk daerah pemilihan Propinsi Sumatera Utara I dengan nomor urut dua.
Meutia tidak sendirian. Dari Daftar Calon Tetap (DCT) yang dikeluarkan oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU), tercatat lebih dari 100 rekan-rekan kita dari media maju sebagai calon anggota legislatif dalam Pemilu 2009, dan 70-80% diantaranya masih aktif sebagai wartawan dan tersebar di seluruh Indonesia. Mereka maju dengan latar belakang yang beda-beda. Ada yang terdorong untuk merubah kondisi Indonesia, tapi banyak juga yang tidak malu-malu bilang bahwa mereka jadi caleg karena ingin meningkatkan kesejahteraan. Manusiawi sekali.
Bagi mereka yang positive thinking alias optimis, mendukung langkah rekan-rekan untuk maju ke ranah politik. Menurut mereka, integritas dan kapasitas seorang jurnalis dapat mengubah kondisi politik kita yang sudah carut marut gak karuan. Caleg wartawan (harusnya) memiliki pemahaman etika politik yang baik sehingga diharapkan mampu menularkan budaya politik yang baik pula di kalangan para elite politik kita yang selama ini terkenal dengan budaya politiknya yang masih dibawah rata-rata.
Ada juga sih yang melihat hal tersebut dengan skeptis. Politik tetap saja politik. Mau wartawan dengan kualitas mental sebaik apapun, kalau sudah masuk pentas politik, mereka akan menjadi sama saja dengan yang lainnya. Apalagi selama masa kampanye kemarin, mereka sudah mengeluarkan dana yang pastinya tidak kecil. Dikhawatirkan, jika mereka terpilih, mereka akan tergoda untuk melakukan korupsi demi mengganti dana kampanye. Hal itu didukung juga oleh kenyataan bahwa nantinya, wewenang mereka akan cukup besar dalam menentukan kebijakan anggaran dana negara.
Kontroversi memang senantiasa mengikuti sesuatu perkembangan baru dimana ada pihak yang setuju dan ada yang tidak. Lumrah. Yang perlu kita lakukan adalah sama-sama menjadi dewasa dan tetap positive thinking menyikapi hal ini. Kalau mengutip teman saya, “Ini kan semua proses” ketika kami berdiskusi mengenai banyaknya calon legislatif yang memasang poster dan spanduk wajah mereka di sepanjang jalan ibukota dan tentunya akan membuat bingung pemilih (hal ini terbukti dengan tingginya angka golput). Yup, mudah-mudahan banyaknya caleg yang berasal dari kalangan wartawan akan memberikan kontribusi positif terhadap proses perubahan kondisi di tanah air. Selamat berjuang, rekan-rekan.
Tenang dan menyenangkan, itulah kesan yang pertama kali didapat ketika bertemu dengan pria kelahiran 8 Juni ini. Obrolan santai dibumbui beberapa lelucon langsung meluncur begitu saja dari mulutnya, menghilangkan kesan serius yang biasanya melekat pada seorang ahli keuangan dan perbankan yang setiap harinya harus berhadapan pada angka-angka yang rumit.
Elvyn G. Masassya, kolumnis di berbagai media massa nasional serta pembicara di berbagai talk show dan seminar, dikenal memiliki integritas yang tinggi di bidangnya. Itulah sebabnya, dia senantiasa dipercaya untuk menempati posisi-posisi penting di negara ini. Setelah menjadi petinggi di dua bank nasional ternama, Elvyn kini menjabat sebagai Direktur Investasi PT Jamsostek.
Dan di tengah-tengah kesibukannya yang sangat padat, dia setuju untuk membantu penjurian semi final pada Anugerah Adiwarta Sampoerna 2009 untuk kategori karya tulisan bidang ekonomi/bisnis. Lalu, apa kiatnya untuk mencapai kehidupan yang seimbang?
Ternyata, ia selalu mempertahankan hobinya, yaitu bermain musik dan menyanyi. Kecintaannya pada dunia musik yang telah dirintisnya sejak sekolah, dibuktikan dengan dibangunnya sebuah studio digital di rumahnya. Tak banyak orang yang tahu juga bahwa Elvyn telah membuat album lagu-lagu ciptaan sendiri yang sebagian besar bernuansa melankolis. “Dalam waktu dekat ini saya akan merilis album saya yang keempat. Di album Romantic jazzy collection yang bertajuk Sisi Lain ini saya greedy. Saya yang melakukan semuanya, mulai dari menciptakan dan menyanyikan lagu-lagunya sampai-sampai saya juga yang menjadi produsernya,” ujarnya sambil berseloroh.
Di balik itu semua, terungkap pula bahwa Elvyn memiliki rasa sosial yang tinggi. Semua hasil penjualan dari album-albumnya akan diserahkan ke sebuah klinik di daerah Tangerang sehingga orang-orang yang ingin berobat hanya membayar Rp. 5.000 sudah termasuk pemeriksaan dan obat-obatan. Serasa lengkap sudah kehidupan yang dimiliki oleh ahli keuangan kita yang melankolis ini…
Hai,
Untuk mengingatkan rekan-rekan semua, penutupan periode pertama ajang kompetisi jurnalistik Anugerah Adiwarta Sampoerna (AAS) 2009 tinggal tujuh (7) hari lagi, lho!
Karya-karya jurnalistik dalam bidang liputan investigatif, liputan kemanusiaan, maupun foto berita yang telah dipublikasikan selama periode 2 Oktober 2008 - 31 Maret 2009 harus sudah diterima Panitia AAS pada 20 April 2009 (cap pos).
Periode kedua AAS 2009 akan menerima karya-karya jurnalistik yang telah dan akan dipublikasikan selama periode 1 April 2009 - 15 September 2009, dan akan ditutup pada 30 September 2009 (cap pos).
Sedangkan untuk media televisi tanggal publikasi karya adalah antara tanggal 2 Oktober 2008 hingga 15 September 2009. Panitia menerima paling lambat tanggal 30 September 2009 (cap pos).
Kami tunggu karya Anda! Jangan sampai terlewat tenggat waktu periode pertama ini!
Sangat menarik! Itu adalah kata yang pertama kali muncul di benak saya ketika mendengarkan beberapa kalimat pembuka dari Toriq Hadad, pemimpin redaksi MajalahTempo ketika sedang menjelaskan pandangannya menyoal netralitas media. Kalimat pembuka dan pembicaraan menarik selanjutnya terjadi pada sebuah diskusi bertema “Netralitas Media dalam Pemilu 2009″ yang diselenggarakan pada Selasa, 31 Maret lalu oleh Panitia Anugerah Adiwarta Sampoerna 2009), sebagai bagian dari peluncuran dimulainya program AAS 2009.
Gak disangka-sangka kalau pagi menjelang siang itu, 5 orang pemimpin redaksi dari media-media besar nasional bisa kumpul bareng di satu ruangan. Ada Rikard Bagun dari Kompas, Toriq Hadad dari Tempo, Elman Saragih dari Metro TV, Ahmad Djauhar dari Bisnis Indonesia, dan Rohman Budijanto dari Jawa Pos. Acara diskusi itu sendiri dipandu oleh Effendi Gazali, pengamat komunikasi yang juga anggota juri AAS. Walaupun jumlah undangan yang hadir tidak terlalu banyak (sangat mungkin disebabkan oleh kemacetan jalanan Jakarta akibat kampanye), namun acara diskusi berjalan dengan baik. Bukan hanya pembicara, namun dari beberapa undangan yang notabene adalah juga tokoh-tokoh terkenal tanah air, diantaranya Prof. Indria Samego, Prof. Andrianus Meliala, dan Abdullah Alamudi dari Dewan Pers saling memberikan sentilan-sentilan sindiran membuat suasana diskusi menjadi hidup.
Siaran Pers : Netralitas Media dalam Pemilu 2009: Peran Media dalam Membentuk Opini Publik demi Menciptakan Pemilihan Umum yang Netral, Bersih, dan Konsekuen
Jakarta, 1 April 2009 - Peran media menjelang pelaksanaan pemilihan umum 2009 menjadi sangat penting karena media merupakan medium yang paling efektif dalam penyebaran informasi kepada masyarakat luas. Hal ini membuat netralitas media dalam memberikan informasi seputar pelaksanaan pemilihan umum menjadi sebuah isu penting untuk dibahas dalam kaitannya dengan pelaksanaan sebuah proses demokrasi yang lancar dan aman. Pelaksanaan pemilu yang aman, tentunya, akan membawa dampak positif bagi seluruh aspek, termasuk aspek ekonomi dan bisnis.
Menyadari pentingnya peran media dalam mendukung kondisi perekonomian yang kondusif, dan berkaitan dengan peluncuran Anugerah Adiwarta Sampoerna 2009 (AAS 2009), PT HM Sampoerna Tbk. selaku penggagas ajang kompetisi karya jurnalistik bergengsi ini menyelenggarakan sebuah acara diskusi pada Selasa 31 Maret 2009, dengan topik: Netralitas Media dalam Pemilu 2009. Diskusi yang melibatkan pemimpin redaksi media nasional ini membahas berbagai sudut pandang media dalam menjalankan peran mereka di pesta demokrasi terbesar di Indonesia ini. Baca selengkapnya …



