Oleh: Dody
Kemarin, saya membaca sebuah artikel di Kompas mengenai perlunya diwacanakan kembali penyelenggaraan Hari Sastra Nasional (HSN) guna menghidupkan karya sastra di tanah air. Apakah memang karya sastra dalam negeri sedang tidak bergairah sehingga perlu dihidupkan? Seingat saya sih justru belakangan ini makin banyak buku-buku sastra, baik itu novel, puisi, ataupun prosa, yang diterbitkan. Dan, yang menggembirakan lagi, makin banyak pula penulis-penulis baru yang bermunculan. Namun, mohon maaf kalau ingatan saya salah.
Lalu, saya ngobrol-ngobrol sama teman saya yang kebetulan anggota salah satu komunitas pecinta puisi di Jakarta mengenai hal ini. Tanpa kami sadari, obrolan berlanjut menyoal jurnalisme sastrawi. Apa lagi ini, pikir saya. Jurnalisme sastrawi, menurut teman saya, secara sederhana adalah penulisan yang mendalam mengenai suatu hal atau kasus menggunakan pendekatan bahasa sastra. Dulu sempat ada beberapa media yang menggunakan gaya penulisan ini, tapi sekarang sudah jarang sekali.
Lalu mengapa tidak ada lagi media yang mau menulis dengan gaya jurnalisme sastrawi? Di salah satu edisi online majalah Pantau, ditulis bahwa berbeda dengan reportasi harian, penulisan gaya jurnalisme sastrawi layaknya seseorang menuturkan cerita adegan demi adegan dengan sangat detil. Hal ini dimungkinkan karena penulis biasanya membutuhkan waktu lama, bisa berbulan-bulan dengan riset yang tidak main-main. Mungkin saja media sudah lama meninggalkan gaya penulisan seperti ini agar berita yang disajikan tidak basi. Atau juga karena kesibukan wartawan yang amat banyak tidak mungkin untuk menugaskan satu atau dua orang hanya untuk menulis satu berita dalam waktu yang sangat lama. Tapi, mungkin, akan menyenangkan juga jika sesekali kita masih bisa membaca berita dengan gaya cerita. Selain memberi rasa baru, hal itu juga membuat kita merasa memiliki sesuatu yang dibanggakan sebagai bangsa Indonesia yang kaya akan karya sastra buatan tangan anak bangsa.
Bagaimana menurut rekan-rekan?





