Archives

Archive for April, 2009

  • Jurnalisme Sastrawi, dimanakah gerangan dirimu?

    April 30, 2009

    Oleh: Dody

    Kemarin, saya membaca sebuah artikel di Kompas mengenai perlunya diwacanakan kembali penyelenggaraan Hari Sastra Nasional (HSN) guna menghidupkan karya sastra di tanah air. Apakah memang karya sastra dalam negeri sedang tidak bergairah sehingga perlu dihidupkan? Seingat saya sih justru belakangan ini makin banyak buku-buku sastra, baik itu novel, puisi, ataupun prosa, yang diterbitkan. Dan, yang menggembirakan lagi, makin banyak pula penulis-penulis baru yang bermunculan. Namun, mohon maaf kalau ingatan saya salah.

    Kompas, Hari Sastra Nasional

    Lalu, saya ngobrol-ngobrol sama teman saya yang kebetulan anggota salah satu komunitas pecinta puisi di Jakarta mengenai hal ini. Tanpa kami sadari, obrolan berlanjut menyoal jurnalisme sastrawi. Apa lagi ini, pikir saya. Jurnalisme sastrawi, menurut teman saya, secara sederhana adalah penulisan yang mendalam mengenai suatu hal atau kasus menggunakan pendekatan bahasa sastra. Dulu sempat ada beberapa media yang menggunakan gaya penulisan ini, tapi sekarang sudah jarang sekali.

    Lalu mengapa tidak ada lagi media yang mau menulis dengan gaya jurnalisme sastrawi? Di salah satu edisi online majalah Pantau, ditulis bahwa berbeda dengan reportasi harian, penulisan gaya jurnalisme sastrawi layaknya seseorang menuturkan cerita adegan demi adegan dengan sangat detil. Hal ini dimungkinkan karena penulis biasanya membutuhkan waktu lama, bisa berbulan-bulan dengan riset yang tidak main-main. Mungkin saja media sudah lama meninggalkan gaya penulisan seperti ini agar berita yang disajikan tidak basi. Atau juga karena kesibukan wartawan yang amat banyak tidak mungkin untuk menugaskan satu atau dua orang hanya untuk menulis satu berita dalam waktu yang sangat lama. Tapi, mungkin, akan menyenangkan juga jika sesekali kita masih bisa membaca berita dengan gaya cerita. Selain memberi rasa baru, hal itu juga membuat kita merasa memiliki sesuatu yang dibanggakan sebagai bangsa Indonesia yang kaya akan karya sastra buatan tangan anak bangsa.

    Bagaimana menurut rekan-rekan?

  • Apakah Media Cetak dapat Bertahan?

    April 28, 2009

    Oleh Dody.

    Sirkulasi Surat Kabar Terus Turun”, sebuah judul artikel di Kompas hari ini (28/4), menceritakan kemerosotan jumlah sirkulasi harian rata-rata surat kabar di Amerika sebesar 7,1 persen pada Oktober 2008-Maret 2009 dibandingkan periode yang sama tahun 2007-2008. Penyebab utamanya adalah krisis finansial yang membuat pemasangan iklan di surat kabar menurun serta menurunnya jumlah pembaca media cetak karena mulai beralih ke media online. (more…)

  • Kesederhanaan Warnai Ulang Tahun ke-26 The Jakarta Post

    Today, The Jakarta Post marks its 26th anniversary. There are no celebrations – not even a reception that we usually have to express our thanks to our readers. Last year we celebrated our Silver Jubilee in grand style. This year we mark our anniversary in times of a financial crisis. So, instead of a reception, we wish to reflect on this day by sharing a few thoughts with readers.

    Di atas adalah paragraf pertama dari tajuk rencana The Jakarta Post yang memberitahukan para pembacanya bahwa koran berbahasa Inggris itu tidak akan menggelar perhelatan apapun dalam merayakan ulang tahunnya yang ke-26. Berbeda dengan perayaan tahun lalu (kebetulan saya datang atas undangan teman), perayaan ulang tahun perak salah satu media milik Gramedia ini dirayakan dengan sangat meriah, dengan panggung berisi musisi jazz kenamaan dalam dan luar negeri, free flow minuman, serta undangan yang begitu banyak sehingga membuat sesak ballroom salah satu hotel papan atas di kawasan Mega Kuningan. Tapi, tahun ini, The Jakarta Post merayakan ulang tahunnya hanya dengan “berbagi ide dan pemikiran” kepada pembaca.

    Tapi itulah hidup. Pante rei, menurut filsafat Yunani, yang artinya bahwa segalanya bergerak, segalanya mengalir, dan segalanya berubah karena perubahan merupakan tanda kehidupan. Sah-sah saja.

    (more…)

  • Periode I AAS 2009 Ditutup, Periode II Dibuka!

    April 23, 2009

    Terima kasih untuk partisipasi rekan-rekan semua yang sudah mengirimkan karyanya di periode I AAS 2009!

    Periode pertama ajang AAS 2009 untuk kategori cetak dan online resmi ditutup. Meskipun tahun ini aplikasi dibatasi hanya 2 karya per jurnalis, per kategori, per periode, ternyata karya-karya yang masuk cukup banyak. Untuk periode pertama ini saja Panitia sudah menerima sekitar 300 karya. Ini pun masih bisa bertambah lagi, karena masih ada tumpukan karya yang baru akan direkap Panitia minggu ini.

    Anda mulai bisa mendaftarkan karya Anda yang dipublikasikan sejak 1 April 2009 – 15 September 2009, dan karya-karya ini paling lambat harus sudah diterima Panitia pada 30 September 2009 (cap pos). Untuk media televisi, daftarkan karya Anda yang dipublikasikan antara 2 Oktober 2008 – 15 september 2009. Jangan lupa, untuk karya berupa artikel, Anda juga diminta menyertakan naskah yang sudah diketik di Ms.Word dalam bentuk soft copy (bukan print out).

    Bagi rekan-rekan yang “ketinggalan” periode pertama AAS 2009, jangan kuatir, karena periode kedua sudah dibuka. Kami tunggu karya-karyanya ya!

  • PEMENANG AJANG PENGHARGAAN JURNALISTIK AS DIUMUMKAN

    April 22, 2009

    Mengambil tempat di Columbia University, nama-nama penerima penghargaan Pulitzer telah diumumkan Senin siang 20 April lalu.  Tak dinyana, surat kabar yang tengah dilanda dampak krisis global, The New York Times, mampu meraih lima Pulitzer sekaligus!

    Tahun ini, penghargaan paling bergengsi di dunia jurnalistik AS ini diberikan bagi 14 kategori karya jurnalistik, dan untuk pertama kalinya, lembaga berita online diperbolehkan untuk ikut serta berkompetisi.  Memang sudah waktunya, mengingat menjamurnya situs berita online yang dipicu oleh kebutuhan pembaca akan informasi berita yang dapat diakses dimana saja secara real time. Anugerah Adiwarta Sampoerna sendiri telah mempersilakan lembaga berita online untuk ikut berkompetisi sejak pertama kali diselenggarakan tahun 2006.

    Yang menarik, prosedur penjurian Pulitzer memungkinkan penilaian ‘no prize’ atau tidak ada pemenang untuk kategori tertentu. Dewan Juri Pulitzer juga dapat mengganti nominasi dari tiap-tiap kategori, dan bahkan memilih kandidat yang tidak dinominasikan sebelumnya. Ini dapat terjadi apabila tiga-perempat suara di Dewan Juri menyetujui keputusan tersebut. Keputusan ‘no prize’ antara lain muncul di tahun 1965 untuk kategori musik, dan di tahun 1993 untuk kategori editorial writing.

    Daftar pemenang Pulitzer Prize dapat dilihat di http://www.pulitzer.org/awards/2009.