Makna Berita (dulu berita itu upacara, kini emosinya) oleh Arswendo Atmowiloto

Pada 20 Juli 2008 lalu, artikel Arswendo Atmowiloto yang merupakan salah satu anggota Dewan Juri Televisi AAS 2008 dimuat di harian Seputar Indonesia (SINDO).

20-07-08-seputar-indonesia.jpg

Dalam artikelnya ini, Arswendo mengemukakan pendapatnya mengenai perubahan cara menyampaikan berita, terutama dalam dunia pertelevisian.

“Pada era Orde Baru, yang disebut berita adalah upacara. Ada pengguntingan pita, jabat tangan, lalu kutipan kata pembangunan… Kini. lebih memanjakan emosi–dengan kamera tersembunyi, gerak kamera zoom in-out dengan narasi pada satu sisi.”

Artikel lengkapnya, dapat Anda baca berikut ini:

MAKNA BERITA (dulu berita itu upacara, kini emosinya) 

Dalam seminggu ini kita mendengar, membaca, dan melihat beberapa berita. Sebuah radio menyiarkan wawancara penerima bantuan tunai langsung (BLT) di Blitar, Jawa Timur, berupa keluhan warga penerima yang merasa susah karena rumahnya jauh dan harus antre. Beberapa harian dan beberapa stasiun televisi menyiarkan bahwa polisi lalai menjaga Ayin yang bisa berhubungan telepon dengan seorang jaksa, ketika keduanya berada dalam tahanan yang berbeda atau juga berita menjelang pelaksanaan hukuman mati bagi terpidana mati di Tangerang dan Surabaya, lengkap dengan wawancara dan keinginan terakhir. Beberapa media–lebih sedikit lagi–memberitakan pemberian anugerah  Mochtar Lubis Award.

Semuanya baik dan benar dari segi kaidah jurnalistik. Beritanya cukup menukik dan berisik (bahasa Thukul Arwana untuk berisi), tapi agak salah bidik karena meniadakan gambaran yang menyeluruh, yang bisa memberi makna berita yang disajikan untuk menjadi peristiwa. Misalnya, kenapa memanjakan penerima BLT, bukankah mereka justru disadarkan telah mendapatkan perhatian istimewa. Kenapa diungkapkan rumahnya jauh dari tempat penerimaan–kalau dekat, lebih tak masuk akal menerima atau juga keluhan harus antre–memangnya ia sendiri yang dianggap miskin?

Dengan sedikit kecerdasan dan keluasan wawasan, wartawan sebaiknya menempatkan gambaran yang berimbang. Misal yang lain, penjelasan polisi lali sehingga ada tahanan yang bisa berkomunikasi melalui ponsel. Ini mengaburkan masalah seolah hanya saat itu terjadi. Gambaran yang sebenarnya adalah semua tahanan, napi–tentu yang “berdasi” atau berduit–bisa melakukan itu, baik diselundupkan atau dibawa petugas maupun pinjam sebentar.  Penggambaran ini akan memungkinkan pelarangan secara menyeluruh, pengawasan, dan bukan lalai sesaat. Misal yang lain, pemanjaan para terpidana mati, hanya dengan kilasan sedikit kenapa sampai ia atau mereka dijatuhi hukuman mati.

Dalam bahasa infotainment yang bebal dan dihafal, setiap ada perceraian selalu dengan pertanyaan: siapa orang ketiga. Agaknya, perubahan cara menyampaikan berita telah bergeser. Pada era Orde Baru, yang disebut berita adalah upacara. Ada pengguntingan pita, jabat tangan, lalu kutipan kata pembangunan. Upacara seremonial dilengkapi dengan gambar, penyampaian, dan kutipan pejabat–karena yang meresmikan memang pejabat dan bukan rakyat. Kini, lebih memanjakan emosi–dengan kamera tersembunyi, gerak kamera zoom in-out, dengan narasi pada satu sisi. Kegenitan ini tidak sepenuhnya salah, namun kalau terhenti di sini dan tak menuju ke arah tertentu, jadinya memang hanya terhenti siapa genit atau siapa yang vokal bersuara berkelit.

Syukurlah, di tengah arus pemanjaan emosi ini ada Mochtar Lubis Awards yang digagas oleh Lembaga Studi Pers dan Pembangunan untuk mengkaji peran wartawan dari sisi profesionalitas, etika, semangat penuh keberanian, dan keadilan. Syukur lagi karena ada lembaga lain yang melakukan ini dan kini masih berjalan. Ada Anugerah Adiwarta Sampoerna (AAS) yang akan memberi penghargaan hadiah dalam bidang jurnalistik, baik media cetak maupun karya televisi. AAS 2008 ini bisa diakses ke aas@maverick.co.id, juga memberi kesempatan kepada peserta “independen” sehingga tidak harus yang sudah “direstui” melalui penerbitnya. Ini juga menjadi terobosan dari tata krama yang selama ini ada.

Kalau saja penyertaan penilaian untuk memberi penghargaan kepada wartawan atau calon wartawan berkelanjutan, bisa masih menemukan pengharapan bahwa karya jurnalistik yang berkualitas juga bisa berkuantitas. Bukan hanya pada satu atau dua orang saja, melainkan yang lebih penting, menjadi pegangan dan perbandingan ketika karya-karya pemenang disosialisasikan. Dalam pengertian, juga untuk komunitas yang bukan komunitas pers sehingga lebih paham tugas utama wartawan dan peran jurnalistik di Indonesia. Bukan malah sebaliknya, koran yang meliput lengkap dan berimbang malah jadi salah dan kalah digugat di pengadilan.

Jurnalisme yang memihak pada keberanian dan memperjuangkan keadilan pada dasarnya juga memberi makna atas suatu peristiwa. Memberi gambaran yang lebih menyeluruh dan lebih utuh tentang suatu kejadian yang diolah dan kemudian disajikan. Dari sinilah kita bisa belajar dan maju, mengenai apa yang kita dengar, kita lihat, kita baca. Apakah itu tentang penerima BLT, penggunaan telepon atau crane yang memacetkan jalanan utama, atau anggota DPR berselingkuh dengan tersenyum di depan kamera, atau membaca kutipan kata-kata mutiara, juga dari media online yang demikian banyak. Sebenarnya, untuk tidak mengatakan seharusnya, membuat kita lebih bijak.(*)

Aug 12th, 2008 211 views

No Comments! Be The First!

Leave a Reply

:) :( :d :"> :(( \:d/ :x 8-| /:) :o :-? :-" :-w ;) [-( :)>- more »