dsc_1191.jpg
dsc_1341.jpg
dsc_1287.jpg
dsc_1274.jpg
img_1479.jpg
img_1543.jpg
img_9312.jpg
img_9308.jpg
img_9281.jpg
img_9280.jpg
img_9252.jpg
img_9239.jpg
img_9236.jpg
img_9225.jpg
2.jpg
1.jpg
img_9312.jpg
img_9312_0.jpg
dsc_1134.jpg
dsc_1123.jpg
dsc_1192.jpg
dsc_1189.jpg
dsc_1236.jpg
dsc_1211.jpg
dsc_1269.jpg
dsc_1266.jpg
dsc_1245.jpg
dsc_1280.jpg
dsc_1274.jpg
dsc_1299.jpg
dsc_1289.jpg
dsc_1319.jpg
dsc_1314.jpg
dsc_1353.jpg
dsc_1340.jpg
dsc_1335.jpg
dsc_0979.jpg
picture-7.png
 
 
Info

Panitia Penyelenggara AAS 2009 dapat dihubungi melalui telepon 021-72789833 atau melalui email di aas@maverick.co.id

KomunitasSudah jadi anggota?
Login
Login dengan Facebook:
Pengunjung terakhir
Powered by Sociable!

Berlangganan info AAS

Ketik alamat email Anda:

Delivered by FeedBurner

Shout!



Konglomerasi Media Ancaman Serius bagi Kebebasan Pers 10/03/10 Comments (0)

Belakangan ini, santer kita dengar banyaknya kasus pemutusan hubungan kerja yang dilakukan oleh sebagian perusahaan media terhadap wartawan. Paling tidak, ada tiga kasus yang menjadi obrolan hangat diantara rekan-rekan jurnalis: PHK massal yang terjadi pada para jurnalis di Berita Kota setelah kelompok Kompas Gramedia Group, melalui PT Metrogema Media Nusantara, membeli brand surat kabar perkotaan itu pada akhir Januari lalu, PHK di sejumlah media massa yang berada di bawah bendera Group Lippo: Suara Pembaruan, Investor Daily, dan Jakarta Globe, serta PHK di Indosiar yang jumlahnya mencapai ratusan.

Apa yang sebenarnya sedang terjadi? Apakah ini berarti bangkrutnya sebagian perusahaan media di Indonesia?

Sebagian pihak ternyata memiliki pendapat lain. Menurut mereka, di Indonesia saat ini sedang terjadi ancaman serius bagi jurnalis dan kebebasan pers dari sebuah bentuk praktek yang dinamakan konglomerasi media. Pendapat tersebut menyeruak dalam sebuah diskusi yang diselenggarakan oleh Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Jakarta pada tanggal 3 Maret 2010 lalu bertempat di gedung Dewan Pers dengan tajuk: “Konglomerasi Media: Ancaman atau Peluang bagi Kebebasan Pers?”

Hadir sebagai pembicara dalam diskusi tersebut Bambang Harymurti (Anggota Dewan Pers), Ignatius Haryanto (Direktur Eksekutif Lembaga Studi Pers dan Pembangunan), dan Abdul Manan (Ketua Federasi Serikat Pekerja Media Independen).

Ignatius berpendapat dampak dari praktek tersebut adalah terdistorsinya informasi bagi publik. Media massa kerap dijadikan corong penguasa, baik atas kepentingan ekonomi maupun politik. “Tidak banyak media yang hadir untuk membela kepentingan publik. Kebanyakan terjebak pada sensasionalisme dan komersialisme yang membabi buta,” ujar Ignatius.

media-as-pillar-of-democracyKonsentrasi kepemilikan media juga kerap memicu maraknya pemutusan hubungan kerja. Dalih yang seringkali dikemukakan adalah masalah efisiensi, konvergensi dan sinergi. “Wartawan bekerja lebih banyak dengan upah yang sebisa mungkin ditekan. Soal kualitas informasi? “Maaf itu bukan bahasannya,” kata Ignatius.

Salah satu anggota Dewan Pers Bambang Harymurti segendang-sepenarian dengan Ignatius. Menurut dia, pelembagaan prinsip kebebasan pers hanya mungkin ditegakkan dengan sejumlah prasyarat. Beberapa diantaranya adalah penciptaan iklim persaingan usaha yang sehat, keberadaan media publik yang independen, transparansi kepemilikan, keberimbangan posisi pemilik dan pengelola, pemisahan penyedia infrastruktur dengan penyedia konten dan keberagaman pers. “Kondisi tersebut saat ini masih jauh dari harapan,” ujarnya.

Suatu sore di rapat juri televisi AAS 25/02/10 Comments (0)

Hari Rabu sore kemarin berlangung rapat juri untuk kategori televisi AAS. Perwakilan dari dewan juri televisi yang hadir adalah Arswendo Atmowiloto, Marselli Sumarno, dan Niken Rahmad, sekaligus perwakilan dari Sampoerna. Sayangnya, dua juri lainnya, George Kamarullah dan Bambang Harimurty berhalangan hadir. Sementara dari Sampoerna yang hadir sore hari itu selain ibu Niken Rahmad adalah Meta Rostianawati dan Dimas Novriandi.

Meskipun hanya dua juri yang hadir, namun rapat sore hari itu berlangsung sangat efektif, tentunya sambil diselingi guyonan-guyonan khas Mas Wendo yang selalu membuat rapat menjadi lebih segar. Banyak hal yang dibahas serta diputuskan, termasuk diantaranya AAS akan membuat pengkategorian yang lebih jelas untuk liputan investigatif dan dokumenter agar semakin memudahkan jurnalis televisi yang akan mengirimkan karya mereka kemudian juga kemungkinan untuk membuat tema besar untuk setiap pelaksanaan AAS khusus bagi kategori televisi.

Sebenarnya, masih banyak lagi hal-hal yang diputuskan sore kemarin dan pastinya akan semakin membuat ajang AAS ini lebih menarik dari tahun-tahun sebelumnya. Penasaran? Tunggu tanggal mainnya ya…

rapat-juri-televisi11

rapat-juri-televisi2

RPM Konten: SIUPP Online? 24/02/10 Comments (0)

rpm-konten4Belakangan ini, dunia maya dan jurnalistik tanah air kembali dibuat heboh oleh munculnya Rancangan Peraturan Menteri tentang Konten Multimedia atau yang disingkat RPM Konten. Tidak hanya mereka yang selama ini menggunakan dunia maya sebagai ruang kegiatan mereka sehari-hari, media konvensional pun cukup kritis dalam menyikapi hal ini. Beberapa melihat RPM Konten ini sebagai bentuk baru sensor pemerintah dan semakin mengancam kebebasan berekspresi setelah sebelumnya muncul UU ITE, kemudian RUU Kerahasiaan Negara, dan kini RPM Konten.

Sesudah dirilis ke publik tanggal 11 Februari lalu, RPM Konten mendapat reaksi penolakan dari masyarakat. Di dunia maya, penolakan tersebut keras disuarakan lewat situs jejaring sosial Facebook dan Twitter, serta di situs seperti Politikana dan Tentukan.com. Di Tentukan.com, polling atas Penolakan RPM Konten adalah yang paling populer saat ini.

Di antara pasal-pasal dalam RPM Konten, ada beberapa yang dianggap paling kontroversial, yaitu pasal 7, 9, dan pasal 18. Di bawah ini adalah pasal-pasal tersebut:picture-21 Baca selengkapnya …

Rapat Juri Sepakat Adanya Perubahan untuk AAS 2010 18/02/10 Comments (0)

Minggu lalu, tanggal 12 Februari 2010 bertempat di kantor PT HM Sampoerna Tbk., berlangsung rapat juri semi final dan final untuk kategori cetak dan online. Hadir pada malam itu Yosep Adi Prasetyo, atau yang lebih dikenal dengan Stanley, Rocky Gerung, Effendi Gazali, Seno Gumira, Ade Armando, Veven SP Wardhana, Atal Depari, dan Indria Samego. Dari Sampoerna yang hadir pada malam itu adalah Meta Rostiawati, Dimas Novriandi, dan Mochammad Yoso.

Perdebatan seru berlangsung ketika rapat sampai ke pembahasan apakah perlu adanya perubahan untuk AAS 2010. Dan jawabannya: PERLU. Seluruh juri sepakat bahwa untuk membuat AAS ke depan sebagai ajang yang lebih berkualitas, perlu dilakukan beberapa perubahan, termasuk dari sisi kategori dan bidang yang akan dilombakan.

Mau tau perubahan-perubahan apa saja yang akan terjadi di AAS 2010? Tunggu tanggal mainnya…

Anugerah PFI, Semarakkan Ajang Penghargaan bagi Jurnalis 17/02/10 Comments (0)

Setelah kesuksesan beberapa ajang penghargaan yang ditujukan bagi perkembangan dunia jurnalistik tanah air, seperti misalnya Anugerah Adiwarta Sampoerna yang tahun ini memasuki penyelenggaraannya yang kelima, satu lagi ajang penghargaan bagi jurnalis muncul ke permukaan. Namanya Anugerah Pewarta Foto Indonesia (PFI).

Di tahun pertama penyelenggaraannya, ajang ini diminati oleh tak kurang dari 300 fotografer dari beragam media di seluruh Indonesia. Tak kurang dari 10.000 karya foto, baik yang telah dipublikasikan di media mereka masing-masing maupun yang belum, masuk ke meja panitia yang seluruhnya adalah anggota Pewarta Foto Indonesia.

Hadiah yang diperebutkan tak kalah menariknya. Trophi dan uang tunai sebesar Rp. 7 juta untuk pemenang pertama, Rp. 6 juta untuk pemenang kedua, dan Rp. 5 juta untuk pemenang ketiga siap untuk digondol oleh pemenang, diluar satu hadiah khusus yaitu Foto Terbaik yang akan mendapatkan satu buah kamera digital lengkap.

Galeri Nasional pun menjadi saksi malam penganugerahan Anugerah PFI pada tanggal 13 Februari silam. Total ada 8 kategori yang dilombakan, yaitu Seni & Budaya, Sosial, Olahraga, Hukum, Ekonomi, Politik, Foto Esai, serta Foto Terbaik.

pfi

Baca selengkapnya …

Hari Pers Nasional di Mata Jurnalis 09/02/10 Comments (0)

Hari ini, 9 Februari diperingati sebagai Hari Pers Nasional yang peringatannya dipusatkan di Palembang, Sumatera Selatan. Serangkaian agenda telah disiapkan untuk program tahun ini, diantaranya penandatanganan ratifikasi perusahaan pers, standar kompetensi wartawan, kode etik jurnalistik, dan standar perlindungan wartawan.

Organisasi jurnalistik yang terdiri dari Persatuan Wartawan Indonesia (PWI), Aliansi Jurnalis Independen (AJI), serta kalangan masyarakat pers lainnya berharap bahwa dengan penandatanganan ratifikasi perusahaan pers tersebut, perusahaan-perusahaan pers akan semakin profesional. Selain itu, publik juga akan lebih mudah mengenal media mana saja yang memenuhi standar dan mana yang tidak.

Agenda lain sebagai rangkaian acara peringatan adalah pembukaan Sekolah Jurnalistik Indonesia di Jakarta, Semarang, Makasar, Samarinda, Palembang, dan Pekanbaru. Sekolah jurnalistik ini juga dibuat dalam rangka meningkatkan standar kompetensi wartawan seluruh Indonesia.

picture-12

Terkait dengan peringatan Hari Pers Nasional, kami menanyakan beberapa rekan jurnalis mengenai pendapat mereka. Dan inilah hasil perbincangan kami:

BAGJA HIDAYAT (TEMPO)

Apakah Mas tahu hari ini hari pers nasional?
Tahu. Cuma kalau menurut saya, perlu ada koreksi. Tanggal 9 Februari itu ditetapkan sebagai Hari Pers Nasional (HPN) kan karena bertepatan dengan deklarasi Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) (PWI didirikan pada tanggal 9 Februari 1946 dan HPN pertama kali dirayakan pada tanggal 9 Februari 1985 – red). Seharusnya, HPN itu dirayakan bertepatan dengan lahirnya koran Medan Prijaji, sebagai koran pertama yang diterbitkan oleh pribumi di Indonesia. Itu kayaknya yang sekarang lagi diperjuangkan sama AJI yaitu buat mengkoreksi tanggal peringatan HPN. (Medan Prijaji adalah surat kabar yang terbit di Bandung tahun 1907. Medan Prijaji dianggap sebagai surat kabar pertama Indonesia, sebab mulai dari pengasuhnya, percetakan, penerbitan dan wartawannya adalah pribumi Indonesia asli. Surat kabar ini didirikan oleh Tirto Adhi Soerjo. Medan Prijaji menjadi koran pertama dikelola pribumi dengan uang dan perusahaan sendiri. Medan Prijaji berbahasa Melayu, terbit pertama kali pada Januari 1907 – wikipedia)

Apakah arti Hari Pers Nasional buat Mas?
Secara pribadi nggak ada ya. Cuma ya kayak hari-hari peringatan pada umumnya aja, kayak hari Sumpah Pemuda, 17 Agustus, Pendidikan Nasional. Di kantor juga gak ada perayaan apa-apa tuh. Biasa aja kok semuanya..hehehe.

Bagaimana menurut pendapat Mas kondisi pers saat ini?
Menurut saya, pers saat ini sedang bergerak ke arah yang lebih baik. Dengan meningkatnya persaingan diantara media, bisa menjadi introspeksi tersendiri terhadap media masing-masing. Ajang-ajang perlombaan, seperti Anugerah Adiwarta Sampoerna (AAS) juga penting keberadaannya untuk meningkatkan persaingan diantara jurnalis dan media. Dengan adanya persaingan, maka kualitas jurnalis dan media dalam menyajikan berita akan semakin baik. Yang beruntung dalam hal ini adalah publik. Publik menerima persaingan ini dalam bentuk semakin membaiknya kualitas pemberitaan yang mereka terima.
Apa harapan Mas terhadap pers Indonesia di masa mendatang?
Agar kualitas pers lebih baik sehingga mampu menyajikan liputan yang mendalam serta berita yang baik.

HENDRI FIRZANI (GATRA)

Apakah Mas tahu hari ini hari pers nasional?
Tahu.

Apakah arti Hari Pers Nasional buat Mas?
Secara pribadi gak ada. Di kantor juga gak pernah ada perayaan apa-apa. Mungkin karena gak banyak juga teman-teman yang tahu sejarah pers kita jadi tidak merasa terlibat

Bagaimana menurut pendapat Mas kondisi pers saat ini?
Pers sekarang semakin bebas, lebih bebas dari tahun-tahun sebelumnya. Sekarang ini, represi yang dialami oleh media justru bukan dalam bentuk fisik, tapi dalam bentuk ekonomi. Kayak misalnya represi dari pemilik media dan pemasang iklan.

Apa harapan Mas terhadap pers Indonesia di masa mendatang?
Harapan saya agar perusahaan media lebih memperhatikan kesejahteraan wartawan karena saat ini, tidak banyak perusahaan yang bisa memenuhi kebutuhan hidup wartawan. Dengan meningkatnya kesejahteraan wartawan, maka kita juga dapat bekerja dengan lebih baik lagi.

EDY CAN (KONTAN)

Apakah Mas tahu hari ini hari pers nasional?
Tahu

Apakah arti Hari Pers Nasional buat Mas?
Biasa saja. Di kantor juga tidak pernah ada perayaan apa-apa.

Bagaimana menurut pendapat Mas kondisi pers saat ini?
Semakin membaik. Memang belum sempurna, tapi semakin membaik.

Apa harapan Mas terhadap pers Indonesia di masa mendatang?
Lebih baik kualitasnya dan juga pemerintah jangan alergi kalo dikritik.

DAHONO FITRIANTO (KOMPAS)

Apakah Mas tahu hari ini hari pers nasional?
Tahu, cuma saya khawatir hari pers nasional, sama seperti hari-hari peringatan nasional pada umumnya, semakin kehilangan maknanya.

Apakah arti Hari Pers Nasional buat Mas?
Biasa saja ya, dalam artian tidak memberi dampak yang signifikan. Di kantor juga tidak ada perayaan apa-apa.

Bagaimana menurut pendapat Mas kondisi pers saat ini?
Pers saat ini sedang berada di simpang jalan terutama terkait dengan berkembangnya media baru di bidang internet, televisi, kemudian ada yang namanya citizen journalism. Masih banyak informasi-informasi yang pers belum ketahui dengan baik seperti arti kebebasan pers itu apa, kemudian beda antara jurnalis dengan infotainment. Kalau menurut saya jelas, kuncinya ada di etika jurnalisme. Pers itu harus tahu dan paham akan etika jurnalisme, sementara kalo yang lainnya itu mereka dalam menjalankan tugasnya tidak menggunakan etika jurnalisme. Contohnya, citizen jurnalisme. Mereka kan dalam melaksanakan kegiatannya tidak menggunakan etika-etika jurnalisme, yang penting tanya kemudian tulis aja.

Apa harapan Mas terhadap pers Indonesia di masa mendatang?
Semakin banyak penghargaan-penghargaan terhadap profesi wartawan. Rendahnya penghargaan terhadap wartawan dapat menjadi pemicu masalah-masalah ketidakprofesionalan wartawan.

Lalu, buat rekan-rekan yang lain, apakah arti Hari Pers Nasional buat Anda sendiri?

Hari Pers Nasional 2010 Yang Penuh Harapan Comments (0)

Hari ini, Selasa, 9 Februari 2010, Indonesia kembali memperingati hari Pers Nasional ke-64. Tahun ini peringatan hari Pers Nasional rasanya lebih penuh dengan harapan, dan mengusung tema “Kemerdekaan Pers Dari dan Untuk Rakyat”.

Pada bulan lalu, beberapa orang pemimpin organisasi media serta korporasi media sudah mengadakan audiensi dengan Presiden SBY, menyampaikan berbagai rencana berkaitan dengan peringatan hari Pers Nasional 2010.

Margiono, Ketua Umum PWI, menyatakan bahwa perayaan hari Pers Nasional 2010 ini akan lebih berusaha lagi meningkatkan kualitas pers dan jurnalistik di Indonesia. Salah satu programnya adalah dengan mendirikan sekolah Jurnalistik Indonesia di enam propinsi di Indonesia, yaitu Jakarta, Semarang, Makassar, Samarinda, Palembang dan Riau. Menurut Margiono, pendirian sekolah jurnalistik ini akan dilakukan sepanjang tahun 2010 dan akan melibatkan kerja sama dengan pers, Depdiknas, UNESCO, Pemda setempat, dan kalangan perguruan tinggi.

Berbeda dengan tahun lalu yang diadakan di Jakarta, perayaan puncak hari Pers Nasional 2010 akan diadakan di kota Palembang. Presiden SBY juga menghadiri perhelatan di kota pempek ini, dan akan menyampaikan pidatonya di depan para pengusaha media, jurnalis, kalangan akademisi, serta unsur pemerintah daerah.

Selain di Palembang, perayaan hari Pers Nasional ini juga diadakan di kota-kota lain, seperti Solo dan Bali. Bentuk perayaan ini bermacam-macam, di Bali, misalnya, Ketua Dewan Kehormatan PWI Cabang Bali, Djesna Winada, memilih untuk mengungkapkan perspektif dan harapannya ke depan atas kondisi pers di Indonesia yang dianggapnya mampu memberangus ketidakadilan. Rekan PWI di Surakarta memilih untuk melakukan tirakatan pada hari Senin, 8 Februari, kemarin.

Apakah yang rekan-rekan lakukan untuk merayakan hari Pers Nasional?

Selamat kepada anggota baru Dewan Pers! 12/01/10 Comments (0)

Minggu lalu, pada hari Kamis, 7 Januari 2010, Badan Pekerja Pemilihan Anggota Dewan Pers memilih 9 orang yang menjadi anggota Dewan Pers periode 2010-2013. Setelah melalui proses pemilihan selama kurang lebih sebulan, sejak akhir tahun 2009, kesembilan orang tersebut pun dipilih. Sembilan orang tersebut mewakili 3 unsur, yaitu jurnalis, pengusaha media, dan masyarakat umum.

Tiga orang yang terpilih mewakili pengusaha media adalah Bambang Harymurti, Margiono, dan Bekti Nugroho. Dari perwakilan masyarakat umum yang terpilih adalah Bagir Manan, Agus Sudibyo dan Wina Armada Sukardi. Sementara itu dari perwakilan pengusaha media ada ABG Satria Naradha, M. Ridlo Eisy, dan Zulfiana Lubis.

picture-91

Para anggota Dewan Pers berharap agar anggota yang baru terpilih ini dapat semakin membawa aspirasi pers ke arah yang lebih baik. Hadirnya Bagir Manan yang juga adalah mantan Ketua Mahkamah Agung turut memberikan harapan agar konflik yang berhubungan dengan pers tidak diproses secara hukum pidana, tetapi dengan berdasarkan pada UU Pers.

Atas terpilihnya kesembilan orang anggota baru Dewan Pers, Anugerah Adiwarta Sampoerna mengucapkan selamat! Semoga pers di Indonesia akan terus meningkat kualitasnya.

Kekerasan terhadap Pers Meningkat Drastis 06/01/10 Comments (0)

Menyedihkan. Itu kalimat pertama yang muncul di benak saya ketika membaca catatan akhir tahun 2009 Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Pers di Jakarta, Rabu (30/12/2009) yang menyatakan telah terjadinya peningkatan drastis pada jumlah tindakan kekerasan terhadap pers di tahun 2009 dibandingkan tahun sebelumnya.

Direktur Eksekutif LBH Pers Hendrayana menyatakan bahwa sepanjang tahun 2008, tercatat bentuk kekerasan fisik terhadap jurnalis sebanyak 10 kasus dan nonfisik sebanyak 7 kasus. Sementara pada 2009, bentuk kekerasan fisik yang menimpa jurnalis

Beberapa kejadian tekanan baik secara fisik maupun nonfisik terhadap pers yang masih kita ingat diantaranya adalah kasus wartawan Makassar, Upi Asmaradhana, yang terancam masuk penjara setelah melakukan kritik terhadap pernyataan yang dilontarkan oleh pejabat kepolisian setempat.

Kemudian, juga ada kasus penganiayaan jurnalis Sinar Harapan di Papua, Odeo Data Julia Vanduk ketika sedang menjalankan tugas jurnalistiknya. Tindakan kekerasan terhadap pers yang paling tragis justru terjadi di awal tahun 2009 ketika wartawan Radar Bali, AA Narendra Prabangsa, terungkap dibunuh terkait dengan pemberitaannya atas sejumlah proyek di Dinas Pendidikan Kabupaten Bangli.

Baca selengkapnya …

Selamat Tahun Baru 2010 04/01/10 Comments (0)

Waktu terus berlalu, lembaran demi lembaran telah dilalui. Coretan demi coretan telah memenuhi, kadang bergitu berarti, kadang tanpa makna, atau hanya sedikit makna.

Semoga di tahun ini setiap lembaran memiliki makna, dan setiap lembaran bermanfaat.

Selamat tahun baru 2010. Semoga tahun ini membawa lebih banyak sukses untuk kita semua.

picture-9

Garis Abu-Abu Bernama “Infotainment” 28/12/09 Comments (0)

Perdebatan menyoal apakah infotainment dapat disebut sebagai pekerjaan jurnalistik atau bukan sebenarnya sudah ada sejak lama. Pada tanggal 21 November 2005, Dewan Pers bersama Program the European Initiative for Democracy and Human Right (EIDHR) European Commission sempat membuat diskusi dengan pertanyaan utama “Apakah infotainment termasuk jurnalistik atau bukan?”. Setahun kemudian, Universitas Paramadina Jakarta menggelar seminar dengan tema serupa.

Langkah drastis langsung diambil oleh Persatuan Wartawan Indonesia (PWI). Hanya dalam kurun waktu beberapa bulan setelah serangkaian diskusi tersebut, pada akhir Desember 2005, PWI mengakui bahwa infotainment masuk sebagai kategori pekerjaan jurnalistik, sehingga PWI mengakomodasi jurnalis infotainment yang mendaftarkan diri ke dalam organisasi ini dan masuk menjadi bagian dari Departemen Infotainment.

Pengakuan pekerja infotainment sebagai bagian dari pekerjaan jurnalistik oleh PWI tidak semerta-merta menyelesaikan perdebatan. Disana-sini, baik dalam bentuk diskusi formal maupun lewat tulisan di beragam medium, pertanyaan apakah infotainment dapat dikategorikan sebagai pekerjaan jurnalistik masih terus menjadi wacana luas.

Setelah tenang untuk beberapa saat, kasus tersebut kini kembali mencuat ke permukaan menyusul peristiwa marah-marahnya Luna Maya di sebuah situs jejaring sosial bernama Twitter akibat ketidaksukaannya secara pribadi atas sikap pekerja infotainment. Sontak, peristiwa tersebut kembali memancing perdebatan yang hangat antara beragam pihak hingga salah satu akibatnya membawa Luna Maya pada kasus hukum.

picture-41

Baca selengkapnya …

Malam Anugerah Adiwarta Sampoerna 2009 di TV One 10/12/09 Comments (0)

Jangan lupa saksikan Malam Penganugerahan Anugerah Adiwarta Sampoerna 2009 pada hari Sabtu, 12 Desember 2009, pukul 19.30 WIB di TV One

Foto-foto Penjurian Final dan Malam Anugerah Adiwarta Sampoerna 2009 Comments (0)

Suasana penjurian final Anugerah Adiwarta Sampoerna 2009 -

img_9236

img_9229

Baca selengkapnya …

Sekilas Malam Penganugerahan Anugerah Adiwarta Sampoerna 2009 08/12/09 Comments (0)

Hai rekan-rekan sekalian!

Sambil menunggu foto lengkap dari acara Malam Penganugerahan Anugerah Adiwarta Sampoerna 2009, coba dilihat apakah wajah Anda atau rekan Anda ada di bawah ini? ;)

dsc_0031w

dsc_0023w

dsc_0019w

Video: Testimoni Pemenang Anugerah Adiwarta Sampoerna 2009 04/12/09 Comments (1)

Berikut ini adalah testimoni dari sebagian rekan-rekan jurnalis yang berhasil meraih penghargaan Anugerah Adiwarta Sampoerna 2009.

Selamat, dan sampai jumpa tahun depan!

Next Page »