- Anugerah Adiwarta Sampoerna - on Menyiasati Perkembangan Media Online Dengan KompasPhone
- Anugerah Adiwarta Sampoerna - on Waktunya Serius Menggarap Pasar Online?
- Anugerah Adiwarta Sampoerna - on Apakah Media Cetak dapat Bertahan?
- Jurnalis Televisi: Adakah Pesan Anda Tersampaikan? « kata adis… on Marselli Sumarno Bicara Soal TV dan Antasari Azhar
- Anugerah Adiwarta Sampoerna - on Marselli Sumarno Bicara Soal TV dan Antasari Azhar
- Adhi Kusumaputra
- Algooth
- Andi Muhyidin
- Andrew Greene
- Anugerah “Nugie” Perkasa
- Asep Setiawan
- Bagja Hidayat
- Eddy Mesakh
- Ika Maya
- Jarar Siahaan
- Jurnalis NTT
- Kelik M. Nugroho
- Manda La Mendol
- Marwan Azis
- Merry Magdalena
- Okky P. Madasari
- Pepih Nugraha
- Ratna “Atta” Ariyanti
- Samiaji Bintang
- Taufik Hidayat
- Wienda Parwitasari
- Zaky Yamani
- Zeynitta Gibbons
Oleh: Waraney
Rekan wartawan, apakah Anda punya account di Twitter? Kalau punya, apakah Anda menggunakannya hanya untuk kepentingan pribadi, atau juga untuk membantu pekerjaan Anda sebagai wartawan?
Serangan teroris di Mumbai, India, dan demonstrasi-demonstrasi yang dipicu dugaan kecurangan pemilihan umum di Iran hanyalah sedikit dari sekian banyak contoh kasus yang menunjukkan bahwa ada saat-saat tertentu dimana social media dapat mengisi kekosongan yang ditinggalkan oleh media-media konvensional.
Dalam krisis politik di Iran, dengan semakin ketatnya kontrol pemerintah terhadap akses informasi dari dalam dan keluar negeri, serta semakin terbatasnya gerak-gerik wartawan dalam dan luar negeri, satu-satunya sumber dan saluran informasi bagi publik dan media massa adalah social media.
Oleh: Waraney
Hari Minggu (28/6) lalu, Jakob Oetama menulis tajuk rencana “Refleksi 44 Tahun Harian Kompas” untuk menyambut hari ulang tahun ke-44 surat kabar yang dipimpinnya itu. Dalam tulisannya, Oetama membahas perubahan-perubahan yang saat ini sedang terjadi dalam kehidupan pembacanya, yang pada akhirnya juga mempengaruhi media massa. Menurutnya, “Perubahan yang berlaku dalam media dewasa ini amat mendasar, komprehensif, dan menantang. Perubahan itu bukan saja menyentuh peran media, tetapi juga menggugat eksistensi berbagai media itu sendiri.”
Oetama menyadari bahwa perubahan tersebut antara lain berwujud dengan kemunculan dan meningkatnya peran media elektronik, dan ia mempertanyakan apakah hal ini bukan hanya akan mengakibatkan turun-naiknya perkembangan media cetak, tapi juga akan menggugat dan mengakibatkan berakhirnya media cetak. Ia bertanya, “…apakah mungkin orang tidak lagi memerlukan membaca karena kebutuhannya cukup dipenuhi dengan nonton. Lebih lunak posisi pertanyaan, apakah orang tetap membaca, tetapi lewat media elektronik belaka?”
Perubahan-perubahan yang terjadi di masyarakat kita, juga di dunia secara umumnya, sudah sering dibahas dimana-mana. Blog ini sebelumnya juga sudah pernah membahas tentang kesulitan-kesulitan yang saat ini sedang dihadapi oleh industri media massa, terutama di Amerika Serikat, akibat gempuran krisis ekonomi global serta perubahan-perubahan yang terjadi dalam masyarakat pembacanya. Menurunnya jumlah pelanggan, anjloknya pemasukan iklan, serta meningkatnya kecenderungan pembaca untuk mengkonsumsi berita melalui internet, hanya sebagian dari sekian banyak faktor-faktor penggempur industri media massa.
Oleh: Dody
Berkualitas belum tentu meraih popularitas. Inilah salah satu kesimpulan yang bisa ditarik dari hasil rating publik IV yang diselenggarakan Yayasan Sains dan Estetika (SET), Yayasan TIFA, Ikatan Jurnalis Televisi Indonesia, dan Komunitas Pemerhati Televisi. Survei ini melibatkan 212 responden dan berlangsung selama April-Mei 2009 di 11 kota di Indonesia.
Oleh: Dody
Nama besar dan reputasi yang terhormat kadang tidak cukup untuk memastikan terpenuhinya standar-standar jurnalistik. Upaya mempertahankan, dan bahkan meningkatkan standar jurnalistik ini harus dilakukan secara rutin dan terus-menerus, karena tanpa kontrol yang ketat dari dalam maupun luar industri media, kualitas karya jurnalistik dapat menurun. Misalnya yang terjadi pada surat kabar The Wall Street Journal (WSJ). Surat kabar tersebut baru-baru ini menurunkan artikel “Jobs Had Liver Transplant” oleh Yukari Iwatani Kane dan Joann S. Lublin yang menyatakan bahwa Steve Jobs, CEO Apple yang sejak Januari 2009 lalu mengambil cuti sakit, telah menjalani operasi pencangkokan hati di Tennesse dua bulan lalu.
Oleh: Dody
Pemilihan umum di Iran yang dimenangkan Presiden Mahmoud Ahmadinejad mengundang gelombang protes dan demonstrasi. Pemerintah Iran pun bereaksi, antara lain dengan mengencangkan kontrol terhadap informasi yang keluar dari negara itu ke dunia luar dan membatasi akses internet. Tak kehabisan akal, segala cara digunakan oleh pihak opisisi untuk memberitakan perlawanan mereka ke dunia luar, antara lain dengan menggunakan new media.
Pewarta foto Newsha Tavakolian menjalankan tugasnya di tengah-tengah segala kericuhan dan hiruk-pikuk politik tersebut. Perempuan 28 tahun yang lahir dan besar di Teheran, Iran, ini selama sebulan terakhir berkeliling dengan mengendarai sepeda motor untuk mendapatkan foto-foto bagus bagi Polaris Images, tempatnya bekerja sejak tahun 2001. Selain di Polaris Images, ia juga bekerja freelance untuk The New York Times sejak 2004.
Oleh: Dody
Hari Rabu (10/06), Panitia Anugerah Adiwarta Sampoerna (AAS) kembali mengadakan acara Media Luncheon untuk media televisi. Perwakilan dewan juri yang hadir siang itu adalah Bambang Harymurti dan George Kamarullah, sementara media diwakili oleh M. Rahmani dari ANTV dan Surya Munandar dari TV Bekasi. Tak lupa, Sampoerna sebagai penggagas dari AAS juga hadir diwakili oleh Niken Rahmad, Elvira Lianita dan Dimas.
Oleh: Waraney
Karakteristik pembaca media online memang lebih sulit diduga dibandingkan dengan pembaca media konvensional. Asumsi yang dibuat tentang pembaca saat ini mungkin tidak berlaku lagi tiga bulan yang akan datang. Walaupun pembaca media online, terutama yang perorangan, terbiasa mengonsumsi berita secara gratisan, bukan berarti mereka tak bersedia membayar biaya ekstra untuk berita yang mereka butuhkan. Menurut The Economist, media harus bisa mengkombinasikan free content, pemasukan dari skema berlangganan khusus, dan pemasukan dari iklan.
Di Indonesia, sebagian media online mulai bersiap-siap meniadakan biaya berlangganan, dan sepenuhnya bergantung pada iklan. Paling tidak menurut artikel di Bisnis Indonesia, 3 Juni lalu. Menurut Ahmad Mukhlis Yusuf, Presiden Direktur Perum Lembaga Kantor Berita Nasional (LKBN) Antara, pemasukan dari biaya berlangganan hanya memberikan kontribusi kurang dari 10%. Untuk memaksimalkan pendapatan dari iklan, media online harus menentukan target segmen pembaca dan kemudian mencari pengiklan yang cocok dengan segmen tersebut.
Oleh: Dody
Beberapa waktu yang lalu, blog Anugerah Adiwarta Sampoerna pernah memuat tulisan mengenai turunnya “pamor” media cetak di seluruh dunia, ditandai dengan bangkrutnya media-media cetak besar di Amerika Serikat. Alasan utamanya adalah krisis finansial global yang mengakibatkan naiknya harga bahan-bahan percetakan dan kertas menyebabkan beberapa perusahaan media harus membanting setir ke dunia online. Beberapa media lain yang kurang beruntung dari sisi finansial, akhirnya harus menutup usahanya. Ada beberapa dari media tersebut usianya bahkan sudah puluhan tahun dan dipandang sebagai salah satu media terlama di negeri Paman Sam. Lalu bagaimana dengan media yang ada di Indonesia?
Perlu diakui bahwa peralihan dari media cetak ke online adalah salah satu alternatif terbaik bagi sebuah media untuk dapat bertahan dari gilasan tingginya harga-harga. Namun, perlu dipertimbangkan pula bahwa, berbeda dengan di luar negeri, di sini pemanfaatan media online sebagai medium yang kuat dan efektif untuk menjual produk dan pelayanan perusahaan-perusahaan lalu lintasnya belum bisa dikatakan tinggi. Sungguh dilematis memang pemandangan di depan para pemimpin perusahaan media cetak.
Oleh: Dody
Rabu (20/5) kemarin, Panitia Anugerah Adiwarta Sampoerna mengadakan acara media luncheon untuk sosialisasi penyelenggaraan AAS kepada media cetak dan online. Awalnya, panitia mendapatkan konfirmasi 6 media yang akan hadir pada siang itu, namun sayang karena adanya penugasan mendadak dari media ditambah dengan macetnya jalanan akibat hujan yang mengguyur deras, hanya 1 jurnalis yang hadir yaitu Hendri Firzani, Redaktur Hukum dan Olahraga Gatra.
Tetapi, memang bukan AAS namanya kalau diskusi tidak bisa berjalan dengan seru. Dihadiri oleh Mas Yosep Adi Prasetyo (Stanley) sebagai perwakilan dari dewan juri semifinal media cetak dan online AAS 2009 dan Ibu Niken Rahmad, Direktur Komunikasi PT HM Sampoerna Tbk., siang itu kita membicarakan banyak hal menarik. Baca selengkapnya …
Oleh: Dody
Tiga minggu lalu Kompas menurunkan artikel, “Sirkulasi Surat Kabar Terus Turun“, mengutip data Biro Audit Sirkulasi Amerika Serikat yang menyatakan bahwa sirkulasi harian rata-rata surat kabar (di Amerika Serikat) turun 7,1 persen pada Oktober 2008-Maret 2009 dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun 2007-2008. Minggu ini, The Economist menurunkan artikel tentang topik yang sama, bisnis media massa (cetak, TV, dan radi0) di Amerika Serikat (serta beberapa negara lain) yang mengalami penurunan, baik dalam hal readership/audience, staf yang dipekerjakan, maupun pemasukan iklan. Baca selengkapnya …
Oleh: Adis
“Sebuah tayangan televisi bercerita melalui gambar dan suara. Proses pengambilan gambar dan pengemasan akhir gambar tersebut akan menentukan apakah konsep cerita anda tersampaikan atau tidak,” demikian komentar Arswendo Atmowiloto mengenai penilaian karya jurnalistik televisi dalam ajang Anugerah Adiwarta Sampoerna (AAS) 2009, saat berbincang santai dengan beberapa rekan jurnalis televisi. “packaging dari sebuah tayangan televisi mau tidak mau menjadi pertimbangan utama dalam penilaian selain tentunya jalan cerita yang menarik,” tambahnya. Baca selengkapnya …
Panitia Anugerah Adiwarta Sampoerna hari Rabu kemarin (13/05), mengadakan acara media luncheon di King’s Palace, One Pacific Place, Jakarta. Acara ini dihadiri oleh dua orang anggota Dewan Juri AAS, Arswendo Atmowiloto dan Marselli Sumarno, serta Niken Rahmad (Director of Communications, PT HM Sampoerna, Tbk), Elvira Lianita (External Communication Manager, PT HM Sampoerna, Tbk), Dimas Novriandi (External Communication Executive, PT HM Sampoerna, Tbk), Tyas Sumarto, Abbas Yahya (News Producer, SCTV), Edi (Producer, SCTV), Ramdan Malik (Executive Producer, TPI), Imam Rismanto (Producer, Trans TV), dan Yudha Baster (Megaswara TV).
Sambil menunggu undangan yang lain datang, kami sempat mewawancarai Marselli Sumarno, dan pendapatnya tentang karya jurnalistik TV yang baik dan liputan TV tentang kasus Antasari Azhar dapat dilihat dalam video berikut ini:
Oleh: Dody
Perdebatan apakah blogger bisa disebut jurnalis atau bukan mungkin hampir sama dengan perdebatan antara ayam dengan telur. Walaupun banyak yang menganggap perdebatan sudah tidak lagi relevan, banyak juga yang menganggap masih.
Menurut Wikipedia, perdebatan apakah blogger itu jurnalis atau bukan dapat dikatakan berbarengan dengan perkembangan blog di Amerika Serikat tahun 1999. Saat itu, aktivis asal Seattle melakukan demonstrasi terhadap pertemuan WTO yang sedang berlangsung di kota itu. Para aktivis tahu bahwa satu-satunya cara aksi mereka dapat diketahui orang banyak dan diliput oleh media adalah dengan memblokir jalan. Berita yang muncul kemudian adalah para aktivis dipaksa untuk menyingkir, namun tidak ada satupun berita yang memuat alasan mereka melakukan hal semacam itu. Dari situlah, para aktivis kemudian mencari alternatif media lain. Nah, sejak saat itu, penyebaran informasi dan berita yang dilakukan oleh “masyarakat biasa” mulai berkembang dengan bantuan internet, diantaranya melalui blog, chatroom, dan message boards.
Kemudian, di Korea Selatan, OhmyNews dengan motonya “Setiap Warganegara adalah Jurnalis” menjadi terkenal dan sukses setelah menjalankan konsep citizen journalism. Didirikan pada tanggal 22 Pebruari 2000 oleh Oh Yeon-ho, OhmyNews memiliki pegawai lebih kurang 40 orang yang bekerja sebagai reporter dan editor, atau 20% dari total jumlah pegawai seluruhnya. Sisa pegawainya adalah kontributor-kontributor lepasan yang sebagian besar adalah masyarakat biasa. OhmyNews saat ini memiliki sekitar 50.000 kontributor dan mendapatkan pengakuan sebagai media yang mampu merubah kondisi politik Korea Selatan yang sebelumnya konservatif.
Oleh: Dody
Ada sebuah artikel menarik hari ini (Jum’at, 08 Mei 2009) di Kompas yang ditulis oleh Seno Gumira Ajidarma, salah seorang juri AAS, menyoal pentingnya penghargaan terhadap hasil karya jurnalistik agar setiap tulisan memiliki kedalaman makna.
Oleh: Adis
Di tahun 2008, dunia jurnalistik Indonesia dipenuhi oleh kehadiran 1.008 perusahaan media cetak, 150 perusahaan media televisi, dan 2.000 perusahaan radio. Data tersebut disampaikan oleh Wakil Ketua Dewan Pers, Leo Batubara, dalam diskusi memperingati 10 Tahun Kebebasan Pers, Selasa (5/5).
Pertumbuhan perusahaan-perusahaan media ini seharusnya bisa menjadi pembuktian dari pengaplikasian UU Pokok Pers Nomor 40 Tahun 1999, dimana kebebasan pers menjadi sesuatu yang bisa diwujudkan di Indonesia. Sayangnya, pertumbuhan tersebut tidak dibarengi dengan persiapan yang matang. Kehadiran pemain-pemain baru dalam dunia jurnalistik kita agaknya tidak diperkuat dengan kemampuan untuk mempertahankan diri dalam kompetisi bisnis yang semakin ketat. Belum lagi jika ditinjau dari angka perolehan iklan yang signifikan, dimana kebanyakan media-media ini tidak memenuhi syarat.
Dewan Pers pun akhirnya mengklaim bahwa hanya sekitar 30 persen dari jumlah perusahaan media tersebut yang berada dalam kondisi ’sehat bisnis’.





